Share Info

10 February 2011

Sidik Jari Bisa Kenali Bakat dan Kemampuan Anak?

Kecerdasan anak bisa dibentuk dengan memberikan stimulus yang tepat sasaran bersumber pada pengenalan bakat dan gaya belajar. Pertanyaannya, sejauh mana orang tua mengenal bakat dan gaya belajar si kecil?

Pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dwi Putro Widodo mengatakan stimulus diperlukan si kecil guna menghadirkan pertumbuhan dan perkembangan jaringan otaknya.

“Pada usia dua tahun, anak memiliki dua proses penting. Pertama, pertumbuhan sel otak dan kedua, pendewasaan sel otak,” tukasnya saat berbicara dalam acara Analis Sidik Jari Cerdas Frisian Flag di Jakarta, Kamis (26/5).

Dwi menyebut dalam dua tahun itum komposisi otak anak meningkat secara drastis. Paska kelahiran, volume otak si kecil mencapai 200 gram dan naik pesat menjadi 1000 gram pada usia dua tahun. Sementara, volume otak pada usia remaja hingga dewasa mencapai 1200 gram.

Peningkatan volume otak ini merupakan fase dimana otak butuh stimulus untuk mendapatkan optimalisasi kemampuan kinerja otak si kecil. Dwi menuturkan, apabila momen pertambahan volume otak tidak diberikan stimulus memadai maka perkembangan kinerja sel saraf dan sinanpsi (jaringan penghubung saraf) tidaklah berfungsi maksimal.

Penurunan daya ingat ini, kata Dwi, akan berdampak pada kemampuan anak untuk menyerap pengetahuan dan pengalaman. Akibatnya anak bakal mengelami kesulitan untuk berkembang .”Anak yang makin sering distimulus jaringan sinapsisnya akan kuat dan bertahan lama. Semakin cerdas anak maka makin kuat kemampuan mengingatnya,” tukasnya.

Ia menambahkan, proses belajar berdasarkan pengulangan dapat terbentuk memori jangka pendek maupun jangka panjang. Setiap perkembangan dipengaruhi oleh tahap perkembangan sebelumnya dan mempengaruhi tahap perkembangan berikutnya.

Orangtua disarankan, memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk belajar dengan menyediakan rangsangan motorik pada usia satu tahun pertama. “Otak adalah ciptaan tuhan dan kecerdasan ciptaan kita sendiri melalui pemberian stimulasi nutrisi dan non nutrisi,” pungkasnya.

Metode Pengukuran

Sejatinya pengenalan bakat dan minat anak telah dikenal dalam dunia psikologi. Salah satunya melalui tes penelusuran minat dan bakat atau yang dikenal dengan nama psikotes. Kini, psikotes bukanlah satu-satunya metode yang digunakan untuk menelusuri minat dan bakat anak. Metode lain itu adalah metode sidik jari atau finger prints analysis.

Metode sidik jari adalah metode pengukuran dengan pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang paling dominan dalam kaitannya dengan potensi bakat, motivasi, karakter dan gaya belajar anak. Analisa sidik jari didasari penelitian dan metode yang ilmiah yang bersifat analisis deskriptif atau perkiraan potensi bakat yang dimiliki seseorang dan pengembangannya di masa depan.

Pakar bidang ilmu dermatologi dan neuroanatomi telah menemukan fakta penelitian bahwa pola sidik jari bersifat genetis dan telah muncul ketika janin dalam kandungan berusia 13-24 minggu.

Pola guratan-guratan kulit pada sidik jari ternyata diketahui memiliki keterkaitan dengan sistem hormon pertumbuhan sel pada otak. Kerena itu, para pakar berasumsi adanya bukti ilmiah yang menunjukan keterkaitan antara sidik jari dengan kualitas, bakat dan gaya seseorang.

“Penggunaan metode sidik jari dimaksudkan untuk membantu para orangtua lebih mudah dalam memahami potensi tersebut. Dengan mengenali bakat anak lebih dini, orangtua lebih mudah dalam memberikan stimulus dan pengarahan yang tepat," kata pakar psikologi, Efnie Indrianie.

Ia menjelaskan, saat ini banyak orangtua dan guru yang kesulitan berinteraksi dengan anak sehingga meminta anak untuk belajar bukanlah hal yang mudah. Tak jarang pula orangtua memaksakan anaknya mengikuti kegiatan les yang tidak diminati anak.

"Dengan memahami potensi bakat anak, orangtua dapat mengetahui cara terbaik yang dapat dilakukan anak dalam belajar. Selain itu, bakat anak yang menonjol juga dapat dikembangkan dengan tenaga dan biaya, serta dalam waktu yang lebih efisien," papar Efnie.

Selain metode analisis sidik jari, ada beberapa metode lain untuk mengukur kepribadian seseorang, yakni metode psikometri yang mengukur kondisi psikologis seseorang dari aspek perilaku yang dimunculkan. Misalnya, tes IQ, tes bakat minat, tes kepribadian, grafologi, dan tes gambar.

By : Ririn Sjafriani

0 Comment:

Post a Comment

Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month