Share Info

Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

21 December 2011

In Memory Of Kim Jong-Il: Dear Leader, G.O.A.T.


The world has lost not only a despotic leader who hovered his finger over the launch button for a giant nuclear arsenal. It has, apparently, lost one of the greatest athletes of all time.

North Korea’s Supreme Leader Kim Jong-Il died at the age of 69 on Saturday, bringing to an end a long reign that took his nation into increasing isolation from all but a few Communist-leaning allies, established a remarkable cult of personality that saw him deified by his citizens, and, if the Party propaganda machine is to be believed, compiled an extraordinary record of athletic achievements.

This writer and countless other sports correspondents around the world can only lament the fact that the long-standing enmity between the West and North Korea meant we could not be in attendance on that magical day in 1994 when Kim marched onto the golf course for the very first time.

Despite the minor obstacle of, you know, zero coaching or course experience, Kim used his divine powers -- he was, after all, officially known as both the Glorious General Who Descended From Heaven and the Ever-Victorious Iron-Willed Commander -- to piece together an exquisite round of 38 for 18 holes at Pyongyang’s 7,700-yard championship course.

We will never share your email address. You can unsubscribe anytime. The feat included five magnificent holes-in-one and it appears that Kim subsequently decided his 31-under-par achievement was enough to solidify his legacy and rarely played afterwards. Perhaps for the sake of our perception of golf’s legend, it is just as well. Jack Nicklaus’ career hole-in-one tally of 20 seems humble by comparison, and had Kim continued at his early pace, he would have surpassed the Golden Bear within a week.

Ten-pin bowling was another pursuit that Kim, believed to stand just over five feet but clearly a physical specimen of unmatched grace, turned to with equal aplomb. Again, it took just one attempt to solidify his reputation as a world class performer, with a perfect 300 game in the mid-1990s.

Fans of Kim must have been disappointed that, in his later years, the sporting prowess slowed down and tales of his exploits were few and far between. However, it must be remembered that as he was by then a severely ill and largely bed-ridden man in his mid-60s. A continuation of his glorious efforts would have been simply unrealistic.

Follow us on Facebook and Twitter to read them first!
By then his appetite for sports was largely restricted to coaching and his ailing physical condition could not prevent that razor-sharp mind from being put to good use in the service of his nation. During the soccer World Cup in 2010, Kim, by then so rarely seen in public that false reports of his death -- presumably leaked by those rascals in the West -- combined technology with tactical savvy to deliver messages to North Korea head coach Kim Jong-Hun.

The advice was sent via invisible telephone, which the Highest Incarnation of the Revolutionary Comradely Love (another delightful official moniker) had himself had invented, with the coach telling ESPN: "I get regular information ... using mobile phones not visible to the naked eye."



North Korea’s misfortune (or a dastardly Western plot) at being placed in the infamous Group of Death alongside Brazil, Portugal and the Ivory Coast meant there was little that could be done to prevent them from conceding 12 lucky goals and losing all three games, much to the disappointment of the thousand-plus Chinese fans who were rented to cheer them on in South Africa.

Undeterred, Kim again used his soccer knowledge to the benefit of North Korea during the Women’s World Cup earlier this year. More sound hints were sent to the coaching staff, only for the side to be eliminated from group play after struggling to recover from being struck by lightning, which may have also resulted in five players testing positive for steroids.

Even in the months before his death, Kim was said to have retained a keen interest in watching sports. A huge basketball fan -- he was presented with a signed Michael Jordan ball by then Secretary of State Madeleine Albright more than a decade ago -- he must have been disappointed by the recent NBA lockout.
The Jordan memento was said to occupy pride of place in one of Kim’s 17 luxurious palaces and was a fitting tribute from one sports legend to another.

[Source : thepostgame.com]

13 October 2011

Steve Jobs Ternyata Berasal dari Garis Keturunan Nabi Muhammad


Asal usul mendiang bos Apple, Steve Jobs, terus jadi bahan berita. Setelah diketahui ia ternyata punya darah Suriah, dari ayahnya, Abdul Fattah John Jandali, ada satu lagi temuan yang unik.



Setelah dirunut-runut, riwayat keluarga Jandali ternyata salah satu keluarga terkemuka di Homs, Suriah. Sepupu Steve Jobs, Bassma Al Jandali, menegaskan trah Jandali punya garis keturunan langsung dengan Nabi Muhammad SAW!

“Ayah Steve, Paman saya, Abdul Fattah John Jandali datang dari Homs. Keluarga Jandali adalah keluarga yang punya hubungan darah dengan keluarga Nabi Muhammad SAW,” kata Bassma, seperti dikutip dari Gulf News. Basma adalah seorang jurnalis di Timur Tengah.

Steve Jobs Jandali pun ternyata punya nama Arab. Nama Arabnya adalah Abdul Lateef Jandali. Ketika ia lahir dan diadopsi oleh keluarga yang memberinya nama Steve Jobs.

Bassma bercerita, ketika kecil ibunya Bushra Jandali Rifa’e kerap mengatakan ada keturunan Jandali yang hidup di AS. Itu adalah pamannya, Abdul Fattah Jandali, yang juga ayah Steve Jobs.

Belakangan, paman Bassma lainnya Abdul Wahid, bercerita kalau Abdul Fattah Jandali akhirnya punya anak di luar nikah dengan Joanne. Anak itu akhirnya diadopsi oleh keluarga lain. Abdul Fattah memilih tak pulang ke Suriah karena malu akan skandalnya. Tapi akhirnya ia tetap menikahi Joanne dan punya puteri (adik Steve Jobs) bernama Mona Jandali Simpson.

“Kami memang tak pernah bertemu. Tapi kami semua di bawah trah Jandali tetap punya hubungan. Saya merasa seharusnya saya bertemu Steve. Seharusnya saya melepasnya, mengatakan sampai jumpa..,” kata Bassma.

[Source : forum.kompas.com ]

1 July 2010

Merindukan Figur Pak Hoegeng...


Heboh berita rekening gemuk milik para jenderal polisi menjelang Hari Bhayangkara, kita menjadi rindu dengan sosok sederhana Pak Hoegeng, mantan Kapolri yang mendapat tempat di hati rakyat.

Semasa dinas tidak pernah memiliki mobil pribadi sehingga ketika pensiun ke mana-mana harus naik bus kota. Saingannya adalah Bung Hatta, seusai mundur dari kursi wakil presiden di rekeningnya cuma ada Rp 200, sementara uang pensiunnya tidak mencukupi untuk membayar langganan listrik rumah tinggalnya.

Sampai akhirnya Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin harus turun tangan membantu mengatasi tagihan Pajak Bumi dan Bangunan rumah kedua tokoh bangsa itu. Kedua figur panutan itu mungkin hanya dilahirkan sekali dan miskin pengikut.

Tidak bekerjanya sistem meritokrasi dalam pemerintahan dan perekrutan politik yang kotor hampir mustahil orang yang jujur dan taat asas memiliki karier yang baik, malah senantiasa tersisih oleh mereka yang sanggup membeli jabatan.

Dari jabatan yang pernah diembannya, di keimigrasian, kepolisian, pajak, serta Bea dan Cukai, sesungguhnya terbuka peluang bagi Pak Hoegeng untuk memperkaya diri. Coba saja tengok kekayaan mantan Dirjen Pajak di zaman Orde Baru atau pegawai seperti Gayus.

Hubungan patronase antara pejabat dan pengusaha dalam bisnis bukan saja menimbulkan distorsi ekonomi, tetapi juga melahirkan rezim korupsi yang sulit diatasi karena merupakan perkawinan kekuasaan politik dan uang.

Dari cuplikan peristiwa yang saya baca dari kliping koran lawas, Pak Hoegeng memang anomali dari keadaan itu. Ketika menjabat Kadit Reserse Kriminal Kepolisian Sumut, beliau sudah mengusir seorang pengusaha yang menjadi ketua penyambutan dirinya yang menghadiahinya sebuah mobil dan peralatan rumah dinas.

Kapolri Hoegeng juga pernah meminta istrinya untuk mengembalikan satu peti peralatan rumah tangga modern dari seorang pengusaha yang sedang berperkara dan menutup kios bunga milik istrinya karena khawatir menimbulkan konflik kepentingan.

Semasa menjadi Menteri Iyuran Negara, beliau menolak proposal dari seorang kontraktor untuk merenovasi rumah tinggalnya yang dinilainya tidak layak. Di tangan Pak Hoegeng, semua pelaku kejahatan yang ditanganinya tidak berkutik.

Sekadar contoh, pengusaha Robby Tjahyadi, perwira polisi dan militer yang terlibat dalam penyelundupan mobil mewah terbesar saat itu, adalah satu jaringan kejahatan yang dibabatnya. Penyelundupan pada awal tahun 1970-an telah menjadi masalah yang pelik karena melibatkan aparat berwenang. Namun, keberanian Pak Hoegeng membongkar mafia penyelundupan itulah yang diisukan menjadi alasan pemberhentiannya di tengah jalan dari jabatan Kapolri oleh Presiden Soeharto.

Kelebihan Pak Hoegeng, beliau tidak bersih untuk dirinya sendiri, tetapi juga menebarkan inspirasi dan motivasi untuk melakukan perubahan di lingkungan tempat kerjanya. Beliau memprakarsai pertemuan-pertemuan dan lobi-lobi antikorupsi secara reguler, dengan melibatkan para pejabat sipil dan militer serta tokoh masyarakat.

Sesungguhnya, Pak Hoegeng saat itu telah menerapkan strategi good governance, yang sejak awal 1990-an menjadi ideologi global untuk melawan korupsi, yaitu diperlukan adanya aksi bersama dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat warga (civil society).

Pola hidup yang bersahaja, hampir apa adanya, barangkali yang membebaskan tokoh seperti Pak Hoegeng tidak terjebak dalam penyakit hedonisme seperti pejabat dan politisi saat ini yang menyeret mereka dalam gaya hidup yang menghalalkan segala cara, termasuk menanggalkan harga diri.

Pascareformasi, polisi memiliki kekuasaan yang sangat besar, mulai dari urusan pelayanan administrasi kendaraan bermotor, izin keramaian, hingga bergesekan dengan urusan dunia usaha, maka wajar godaannya juga sangat besar.

Kita patut acungkan jempol dengan reformasi dalam pelayanan administrasi kendaraan bermotor yang sudah memenuhi kaidah-kaidah pelayanan umum yang baik. Terbongkarnya keterlibatan polisi dalam mafia pajak, dan kini muncul lagi masalah rekening milik perwira tinggi yang mencurigakan, padahal beberapa tahun lalu PPATK juga pernah melaporkan 15 perwira yang memiliki puluhan rekening serupa, mengindikasikan ada persoalan besar menyangkut integritas aparat kepolisian kita.

Tentu ini tantangan bagi pimpinan Polri apakah atas nama solidaritas korps ingin mengubur dalam-dalam masalah ini, atau mengundang PPATK dan KPK untuk mengusut kebenaran rekening itu guna memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Presiden dan DPR barangkali harus menangkap gejala ini sebagai saat yang tepat untuk melakukan pembenahan kepemimpinan besar-besaran di tubuh Polri.

By : Teten Masduki, Sekjen Transparency International Indonesia

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month