Share Info

Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

13 June 2014

Keharusan Revolusi Mental


by : Yudi Latif
Ilustrasi

”Merdekakan dirimu dari perbudakan mental,” seru penyanyi reggae legendaris Bob Marley. Kolonialisme dan otoritarianisme boleh berlalu, tetapi perbudakan dan penindasan tidak dengan sendirinya berakhir.

Warisan terburuk dari kolonialisme dan otoritarianisme tidaklah terletak pada besaran kekayaan yang dirampas, penderitaan yang ditimbulkan, dan nyawa yang melayang, tetapi pada pewarisan nilai-nilai koruptif, penindasan, dan perbudakan yang tertanam dalam mental bangsa. Para pendiri bangsa menyadari benar perjuangan kemerdekaan masih jauh dari tuntas.

Proklamasi kemerdekaan hanya jembatan emas untuk meraih kemerdekaan sejati. Sebagai jembatan emas, proklamasi kemerdekaan hanyalah titik keberangkatan untuk meraih cita-cita masyarakat adil dan makmur melalui serangkaian perjuangan secara persisten (istikamah). Pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956, Bung Karno menjelaskan tiga fase revolusi bangsa.

Dua fase telah dilalui secara berhasil dan satu fase lagi menghadang sebagai tantangan. Indonesia telah melewati taraf physical revolution (1945-1949) dan taraf survival (1950-1955). Lantas ia menandaskan, ”Sekarang kita berada pada taraf investment, yaitu taraf menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas-luasnya: investment of human skill, material investment, dan mental investment.”

Dalam pandangannya, investasi keterampilan dan material amat penting. Namun, yang paling penting investasi mental. Investasi keterampilan dan material tak bisa jadi dasar persatuan dan kemakmuran bersama tanpa didasari investasi mental. Tanpa kekayaan mental, upaya-upaya pemupukan keterampilan dan material hanya akan melanggengkan perbudakan.

Dikatakannya, ”Lebih baik kita membuka hutan kita dan menggaruk tanah kita dengan jari sepuluh dan kuku kita ini daripada menjual serambut pun daripada kemerdekaan kita ini untuk dollar, untuk rubel.” Ditambahkan, ”Mental kita harus mengangkat diri kita di atas kekecilan jiwa yang membuat kita suka geger dan eker-ekeran mempertentangkan urusan tetek bengek yang tidak penting.”

Itulah sebabnya Bung Karno sangat menekankan program nation and character building. Dalam pandangannya, Indonesia adalah bangsa besar, tetapi sering kali memberi nilai terlalu rendah pada bangsanya alias bermental kecil, masih belum terbebas dari mentalitas kaum terjajah yang sering mengidap perasaan rendah diri (minderwaardigheidscomplex).

Bung Karno menyadari bahwa sebagai akibat penjajahan dan feodalisme selama ratusan tahun, terbentuklah karakter rakyat yang disebut ”abdikrat”, meminjam istilah Verhaar dalam bukunya Identitas Manusia. Akibatnya, terbentuklah mentalitas pecundang dengan penuh perasaan tak berdaya dan tidak memiliki kepercayaan diri (self-confidence). Memasuki alam kemerdekaan, Bung Karno menyerukan agar watak demikian harus dikikis habis. Rakyat harus berjiwa merdeka dan berani berkata ”ini dadaku, mana dadamu”, berani mandiri dan menghargai diri sendiri.

Hingga taraf tertentu, usaha nation and character building di masa Soekarno itu berhasil. Rakyat dari Sabang sampai Merauke mulai merasa terikat dalam suatu negara bangsa dan merasa bangga sebagai bangsa Indonesia. Kepercayaan diri bangsa ini juga meningkat berkat kepeloporan Indonesia dalam berbagai isu internasional. Rakyat berani menolak bantuan yang merendahkan bangsa sendiri dengan seruan, ”go to hell with your aid!”

Perbudakan mental
Pemerintah Orde Baru bangkit dengan kebijakan yang memprioritaskan investasi material (material investment). Kebijakan investasi manusia (human investment) lebih menekankan hal-hal yang bersifat kuantitatif dengan memprioritaskan pemacuan pendidikan dasar lewat apa yang dikenal sebagai ”sekolah inpres”.

Investasi mental memang diberikan, tetapi bersifat permukaan. Penataran Pancasila digalakkan, tetapi miskin kreativitas, terlalu menekankan dimensi kognitif (hafalan), serta kurang menyentuh aspek afektif dan dorongan untuk bertindak. Akibatnya, di balik gebyar fisik modernitas kehidupan bangsa, mental bangsa tetap terbelakang.

Orde Reformasi hadir sebagai kulminasi dari paradoks antara kemajuan material dan keterbelakangan mental dengan segala krisis yang menyertainya. Setelah 14 tahun Reformasi tak kunjung mendekati janji-janji kesejahteraan, keadilan, kepastian hukum, serta pemerintahan yang baik dan bersih, mestinya timbul fajar budi kesadaran baru.

Bahwa perbudakan mental merupakan pangkal terdalam yang membuat kekayaan bangsa ini terus dipersembahkan bagi seluas-luasnya kemakmuran asing dan bahwa mental yang terkorupsi (corrupted mind) adalah akar tunjang dari merajalelanya praktik korupsi. Penjelasan tentang hal ini diberikan oleh Plato. Menurut Plato, jiwa manusia terdiri dari tiga unsur: mental (mind), ambisi (spirit), dan selera kesenangan (appetite). Kebaikan hidup tercapai manakala mental yang sehat memimpin atas ambisi dan kesenangan.
Apa yang kita saksikan pada kehidupan bangsa saat ini adalah banjir bandang kesenangan dan ambisi.

Ledakan tuntutan selera dan gaya hidup bangsa ini menjadikannya salah satu pengimpor terbesar di dunia, mulai dari garam hingga barang mewah. Luapan ambisi kuasa membuat banyak orang meninggalkan tanggung jawab profesinya untuk merebut jabatan politik, bahkan menghalalkan segala cara termasuk kampanye hitam untuk meraih kekuasaan.

Dorongan selera pasar dan ambisi perseorangan itu juga sering harus dibayar mahal dengan mengorbankan kemandirian dan kedaulatan negara. Dalam situasi seperti itu, mental tak mampu menunjukkan kepemimpinannya, terpojok oleh warisan sejarah perbudakan mental serta cengkeraman selera dan ambisi. Sebuah politik tanpa kepemimpinan mental yang sehat tidak memiliki landasan perwujudan kebajikan kolektif. Perkembangan politik mengikuti logika terbalik: mempertahankan yang buruk dan membuang yang baik.

Untuk bisa bangkit dari keterpurukan, bangsa ini harus kembali ke trayek sejarah yang tercegat: melanjutkan revolusi mental. Inti dari revolusi ini adalah perubahan besar dalam struktur mental manusia Indonesia melalui proses nation and character building. Usaha pembangunan karakter ini harus mempertautkan antara proses penempaan pribadi yang berkarakter dan kolektivitas bangsa yang berkarakter. Bahwa kebaikan dan kekuatan karakter individual hanya bisa memperoleh kepenuhan manfaatnya jika terintegrasi ke dalam kebaikan dan kekuatan karakter bangsa secara kolektif.

Faktanya, negeri ini masih cukup memiliki pribadi-pribadi yang bermental karakter baik. Namun, sungguh defisit dalam kolektivitas yang berkarakter baik. Apa pun yang bersifat kolektif, mulai dari partai politik, parlemen, birokrasi, hingga ormas keagamaan, cenderung sakit. Pada titik ini Indonesia adalah bangsa yang belum selesai yang masih memerlukan penguatan kebersamaan dalam nilai, perilaku, cipta, rasa, dan karsa kolektif.

Karakter bukan saja menentukan eksistensi dan kemajuan seseorang, melainkan juga eksistensi dan kemajuan sekelompok orang seperti sebuah bangsa. Ibarat individu, pada hakikatnya setiap bangsa memiliki karakternya tersendiri yang tumbuh dari pengalaman bersama. Pengertian bangsa (nation) yang terkenal dari Otto Bauer: bangsa adalah satu persamaan, satu persatuan karakter, watak, yang persatuan karakter atau watak ini tumbuh, lahir, terjadi karena persatuan pengalaman.

Perhatian terhadap variabel budaya, terutama karakter, sebagai bagian yang menentukan bagi perkembangan ekonomi dan politik masyarakat-bangsa pernah mengalami musim seminya pada 1940-an dan 1950-an. Para pesohor pengkaji budaya periode ini, seperti Margareth Mead, Ruth Benedict, David McClelland, Gabriel Almond, Sidney Verba, Lucian Pye, dan Seymour Martin Lipset, memunculkan prasyarat nilai dan etos yang diperlukan untuk mengejar kemajuan bagi negara-negara yang terpuruk pasca Perang Dunia II. Namun, seiring gemuruh laju developmentalisme yang menekankan pembangunan material, pengkajian budaya mengalami musim kemarau pada 1960-an dan 1970-an.

Kegagalan pembangunan di sejumlah negara, setelah melewati pelbagai perubahan ekonomi dan politik, menghidupkan kembali minat dalam studi budaya sejak 1980-an. Pentingnya variabel mental-budaya bagi perkembangan ekonomi dan politik suatu bangsa dapat dilihat dari serangkaian hasil riset yang dilaporkan dalam karya Lawrence Horrison (1985), Robert Putnam (1993), dan Ronald Inglehart (2000). Alhasil, di tengah intensifikasi globalisasi, kesadaran akan pentingnya penguatan karakter bangsa sebagai tumpuan daya saing justru mengalami gelombang pasang.

Mandiri dan berdikari
Bagi bangsa Indonesia, basis nilai sebagai tumpuan karakter kolektif yang dapat menopang kemajuan peradaban bangsa itu tiada lain adalah Pancasila. Inti nilai Pancasila, bagaimana menumbuhkan semangat persatuan dalam keragaman dengan cara mengatasi mentalitas mementingkan diri sendiri (self-preservasion and self-centeredness), melalui penguatan mentalitas gotong royong berlandaskan semangat ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, permusyawaratan, dan keadilan sosial. Dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur sebagai tujuan akhir dari revolusi Indonesia, semangat gotong royong itu diarahkan untuk mengembangkan mentalitas-karakter bangsa yang berani berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Berdikari dan mandiri tak berarti harus menyendiri. Berdikari adalah sikap mental untuk berani menentukan pilihan sendiri yang dapat membebaskan ketergantungan ekonomi pada pihak-pihak asing. Berdikari tidak berarti anti asing, tidak pula mengurangi, malahan memperluas, kerja sama internasional berlandaskan semangat kesederajatan kemanusiaan yang saling menguntungkan. Jalan menuju kemandirian ekonomi ini bisa ditempuh setidaknya melalui penguatan semangat ekonomi kooperatif dan efektivitas peran negara dalam penguasaan kekayaan alam dan cabang-cabang produksi yang penting bagi kemakmuran rakyat; daya saing perekonomian dengan meningkatkan nilai tambah dari keunggulan potensi sumber daya yang dimiliki; kedaulatan pangan dan energi disertai pengutamaan pembelian produk dalam negeri.

Kedaulatan politik berdimensi eksternal dan internal. Kedaulatan ke luar adalah kesanggupan bangsa untuk menyejajarkan diri dengan bangsa lain dan bebas mengatur pertaliannya dengan bangsa-bangsa lain berlandaskan prinsip kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan. Dan untuk itu perlu penguatan mentalitas kosmopolitan. Kedaulatan ke dalam diarahkan untuk memberikan perlindungan dan pengawasan pada putra-putri negeri dengan memberikan jaminan hak dasar setiap warga dan keselamatan wilayah, keadilan dan kepastian hukum, serta ketertiban dan kedisiplinan aparatur negara dan warga negara. Kesemuanya itu mensyaratkan proses pendalaman dan perluasan demokrasi berkarakter Pancasila.

Kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik hanya bisa tumbuh apabila bangsa ini memiliki kepribadian dalam kebudayaan. Berisi kematangan mental untuk percaya diri dalam mengekspresikan daya cipta, rasa, dan karsa bangsa ini sebagai keistimewaan khusus dari semesta dalam semangat saling mengisi dan menyempurnakan keadaban dunia. Usaha menumbuhkan kepribadian dalam kebudayaan ini bisa dilakukan dengan cara memperkuat wawasan Nusantara dan penggemblengan mental-karakter bangsa; mengembangkan kearifan lokal dengan visi global; melakukan transformasi dari pembangunan berbasis ”modal natur” (sumber daya alam) menuju pembangunan berbasis ”modal kultural” (ilmu dan teknologi), dengan menggalakkan budaya baca dan meneliti serta kreativitas inovasi masyarakat.

Tidak ada perubahan besar dalam sejarah tanpa perubahan mental. Demi mewujudkan cita-cita nasional yang terbengkalai, setiap orang harus ambil bagian dalam gelombang revolusi mental. Pemerintahan baru, siapa pun yang terpilih, harus memenuhi panggilan sejarah ini.

11 February 2014

Pemilu dari Masa Ke Masa

 

Pemilu 1955

Peserta Pemilu tahun 1955

Pemilihan Umum Indonesia 1955 adalah pemilihan umum pertama di Indonesia setelah kemerdekaan tahun 1945. Inilah tonggak pertama masyarakat Indonesia belajar tentang demokrasi. Indonesia baru yang sangat muda terseok- seok dalam mempersiapkan pemilu. Situasi keamanan yang belum kondusif, kabinet yang penuh friksi, dan gagalnya pemerintahan baru menyiapkan perangkat Undang-Undang pemilu membuat pemungutan suara baru bisa dilaksanakan 10 tahun setelah kemerdekaan.

Dalam pemilu pertama ini masyarakat memilih anggota-anggota DPR dan Konstituante. Konstituante adalah lembaga negara yang ditugaskan untuk membentuk Undang-Undang Dasar baru menggantikan UUD sementara 1950. Anggota angkatan bersenjata dan polisi ikut berpartisipasi dalam pemungutan suara. 

Pemilu tahun 1955 diadakan dalam dua periode. Pada periode pertama tanggal 29 September 1955 masyarakat memilih anggota DPR. Lalu, pada periode kedua pada 15 Desember 1955 masyarakat memilih anggota Konstituante. Tak kurang dari 80 partai politik, organisasi massa, dan puluhan perorangan ikut serta mencalonkan diri. 

Pada Maret 1956 parlemen terbentuk dengan jumlah angggota sebanyak 272 orang. Ada 17 fraksi yang mewakili 28 partai peserta pemilu, organisasi, dan perkumpulan pemilih. Sedangkan anggota Konstituante berjumlah 542 orang. Mereka dilantik pada 10 November 1956. 

Selanjutnya, kondisi politik Indonesia pasca pemilu 1955 sarat dengan berbagai konflik. Akibatnya, pemilu berikutnya yang dijadwalkan pada tahun 1960 tidak dapat terselenggara. Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit pada 5 Juli 1959 yang membubarkan DPR dan Konstituante hasil pemilu 1955 serta menyatakan kembali ke UUD 1945. Soekarno secara sepihak membentuk DPR-Gotong Royong (DPR-GR) dan MPR Sementara (MPRS) yang semua anggotanya diangkat oleh presiden. 
  
Pemilu 1971



Gonjang-gonjang politik pasca pemilu 1955 berujung pada huru-hara gerakan 30 september Partai Komunis Indonesia pada tahun 1966. Presiden Soekarno yang memimpin Indonesia sejak tahun 1945 akhirnya lengser satu tahun kemudian. Pada tahun 1968 Soeharto ditetapkan oleh MPR Sementara sebagai Presiden Indonesia. Era kepemimpinan Soeharto selanjutnya disebut sebagai zaman orde baru, untuk membedakan dengan zaman Soekarno yang disebut sebagai orde lama.

Tiga tahun memerintah Indonesia, Soeharto akhirnya menggelar pemilu kedua yang tertunda-tunda di negeri ini pada 5 Juli 1951. Ini adalah pemilu pertama setelah orde lama atau pemilu pertama di zaman orde baru.

Pemilu diikuti oleh 10 partai politik dari beragam aliran politik. Hal baru yang menarik pada pemilu tahun ini adalah ketentuan yang mengharuskan semua pejabat negara bersikap netral. Ini berbeda dengan pemilu tahun 1955 di mana para pejabat negara yang berasal dari partai ikut menjadi calon partai secara formal. Namun, dalam prakteknya, para pejabat negara berpihak ke salah satu peserta pemilu yaitu Golongan Karya. "Rekayasa politik" orde baru yang berlangsung hingga 1998 di mulai pada tahun ini. Sejumlah kebijakan ditelurkan demi menguntungkan Golongan Karya.
  
Pemilu Orde Baru  (1977-1997)



Pasca pemilu 1971 ada lima pemilu yang diselenggarakan di bawah rezim orde baru, yaitu pemilu tahun 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Lima pemilu itu berlangsung "seragam" dan diikuti oleh dua partai yaitu, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) serta satu Golongan Karya (Golkar). Pemilu selalu dimenangkan oleh Golongan Karya dan MPR selalu menunjuk Soeharto sebagai Presiden.

Setelah pemilu 1971 yang diikuti 10 konstestan, terbitlah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar. Undang-Undang baru ini mengatur soal penggabungan partai politik. Sembilan partai politik yang ada diciutkan menjadi hanya dua. Partai-partai beraliran islam bergabung dalam satu wadah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sementara, partai-partai di luar islam bergabung dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Kedua partai itu bertarung dengan Golongan Karya dalam setiap pemilu di masa orde baru.

Selama periode orde baru masyarakat Indonesia memilih partai dalam setiap pemilu. Lalu partai menentukan siapa yang menjadi wakil rakyat di Dewan Permusyarawatan Rakyat (DPR). Semua anggota DPR adalah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. Selain anggota DPR, anggota MPR berisikan utusan golongan. MPR bermusyawarah untuk menunjuk presiden.

Pemilu 1977    : 2 Mei
Pemilu 1982    : 4 Mei
Pemilu 1987    : 23 April
Pemilu 1992    : 9 Juni
Pemilu 1997    : 29 Mei

  
Pemilu 1999


Pemilu 1999 merupakan tonggak baru demokrasi Indonesia. Penguasa Orde Baru Soeharto mundur dari kekuasaan pada 20 Mei 1998 karena desakan masyarakat. BJ Habibie yang semula adalah wakil presiden naik menjadi Presiden menggantikan Soeharto. Roh demokrasi yang semasa rezim orde baru dipasung hidup kembali. Ratusan partai politik terbentuk dan mendaftarkan diri sebagai peserta pemilu. Komisi Pemilihan Umum melakukan seleksi dan meloloskan 48 partai politik. Golkar yang semula bukan partai di tahun ini berubah menjadi partai politik. Lima besar partai pemenang pemilu adalah:


No PartaiSuara Persen Kursi DPR
1 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 35.689.073 33,74 153
2 Partai Golkar  23.741.749 22,44 120
3 Partai Persatuan Pembangunan 11.329.905 10,71 58
4 Partai Kebangkitan Bangsa 13.336.982 12,61 51
5 Partai Amanat Nasional 7.528.956 7,12 34

Walaupun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menjadi partai pemenang, namun ketua umum partainya, Megawati Soekarnoputri, gagal menjadi presiden. Di zaman ini presiden masih dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Musyawarah di MPR memutuskan mengangkat Abdurrahman Wahid dari Partai Kebangkitan Bangsa sebagai presiden dengan Megawati sebagai wakil presiden.

Pemilu 2004



Pemilu 2004 menjadi catatan sangat penting dalam sejarah pemilu di Indonesia. Pada tahun ini untuk pertama kali rakyat Indonesia memilih langsung wakilnya di parlemen dan pasangan presiden dan wakil presiden. Sebelumnya, presiden dan wakil presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Oleh karena itu pelaksanaan pemilu dibagi menjadi dua yaitu pemilu legislatif dan pemilu presiden.


Pemilu legislatif
Pemilu legislatif digelar sebagai rangkaian pertama pada 5 April 2004 dan diikuti 24 partai politik. Partai-partai politik yang memperoleh suara lebih besar atau sama dengan tiga persen dapat mencalonkan pasangan calonnya untuk maju pada pemilihan Presiden.
Hasil lima besar pemilu legislatif 2004


No Partai Suara Persen Kursi DPR
1 Partai Golongan Karya 24.480.757 21,58 128
2 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 21.026.629 18,53 109
3 Partai Kebangkitan Bangsa 11.989.564 10,57 52
4 Partai Persatuan Pembangunan 9.248.764 8,15 58
5 Partai Demokrat 8.455.225 7,45 57


Pemilu Presiden
Pemilu presiden tahun 2004 diikuti lima pasang calon yaitu,

  1. Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla
  2. Megawati Soekarnoputri – Hasyim Muzadi
  3. Wiranto - Solahuddin Wahid
  4. Amien Rais – Siswono YudoHusodo
  5. Hamzah Haz – Agum Gumelar
Hasil pemilu presiden putaran pertama 5 April 2004

Ranking Pasangan Capres Suara Persen
1 Susilo B.Y. - J. Kalla 36.070.622 33.58 %
2 Megawati - Hasyim M. 28.186.780 26.24 %
3 Wiranto-Sallahudin W. 23.827.512 22.19 %
4 AmienRais - Siswono Y.H. 16.042.105 14.94 %
5 Hamzah H. - Agum G. 3.276.001 3.05 %
Jumlah Suara 107.403.020 100%
Sumber data : KPU

Karena tidak ada yang memperoleh suara 50 persen plus satu, maka diselenggarakan putaran kedua yang diikuti oleh dua besar yaitu pasangan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla dan Megawati Soekarno putri - Hasyim Muzadi.

Hasil pemilu presiden putaran kedua 5 Juli 2004
  
Pemilu 2009


Pemilu Legislatif 2009 digelar pada 9 April 2009 dan diikuti 38 partai politik. Ribuan calon anggota legislatif memperebutkan 560 kursi DPR, 132 kursi DPD, dan banyak kursi di DPRD tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Untuk pertama kalinya, sistem sistem proporsional terbuka diterapkan pada Pileg 2009. Melalui sistem ini, pemilih tak lagi memilih partai politik, melainkan caleg. Penetapan calon terpilih pada suatu daerah pemilihan dilakukan berdasarkan perolehan suara terbanyak, bukan nomor urut.

Sebanyak 121.588.366 pemilih yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia berpartisipasi dalam pileg 2009. Partai Demokrat yang dipimpin oleh Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono berhasil memenangi pileg 2009 dengan meraup 21.703.137 suara atau sebanyak 20,85 persen. Selain itu, ada 8 partai lainnya yang lolos parliamentary threshold, yakni, Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Hanura, dan Partai Gerindra.


2 December 2013

Percayalah Saya Sedang Berbohong!

Ilustrasi
Judul di atas meminjam dari buku yang ditulis Ryan Holiday, Trust Me I’m Lying: Confessions of A Media Manipulator (Portfolio, 2012). Judul tersebut sangat tepat jika kita di Indonesia melihat fenomena berbagai survei politik yang belakangan ini dikeluarkan dan membuat pemberitaannya di media massa jadi marak.

Tak hanya marak, pemberitaan soal survei politik ini kerap membuat kita mengernyitkan dahi karena seorang politisi yang namanya mangkrak di level tengah elektabilitas menjelang Pemilu 2014, tiba-tiba saja
melejit dan memimpin elektabilitas pemilu dengan suara yang jauh di atas kandidat lain. Itu hasil survei menurut versi lembaga tersebut.

Kali lain lembaga berbeda mengumumkan hasil temuan lain ke media massa dan menampilkan sosok yang sama sekali berbeda yang memimpin elektabilitas menjelang pemilu tahun depan. Luar biasa, ada sejumlah lembaga survei dan tiba-tiba saja sejumlah politisi penting memimpin hasil survei, padahal hasil survei lembaga lain (lagi) menunjukkan kondisi yang berbeda. Lalu masyarakat mau percaya pada hasil survei yang mana? Bagaimana mau memahami fenomena yang berkembang saat ini?

Memanipulasi media

Dengan membolak-balik buku Ryan Holiday di atas kita akan menemukan pengakuan yang sangat dahsyat dari seorang yang memang sehari-hari ”bertugas untuk memanipulasi media”. Buku ini jangan dilihat secara ilmiah, tapi buku ini sungguh praktis dan membongkar cara- cara untuk melakukan manipulasi terhadap media di Amerika. Holiday mengaku ia memiliki puluhan akun e-mail palsu atau anonim, lalu ia mengelola sejumlah blog yang akan menyetor posting yang nantinya akan diikuti oleh pemberitaan di media massa lokal dulu, kemudian diikuti media massa nasional dan item berita yang hendak dipromosikan Holiday akhirnya menjadi bahan pembicaraan teratas pada waktu-waktu tertentu.

Manipulasi terhadap media, menurut pengakuan Holiday, tak semata-mata untuk mendongkrak berita jelek ataupun mempromosikan orang ataupun barang yang ia tangani. Terkadang ia pun melakukan manipulasi untuk suatu hal yang positif. Misalnya ia mengaku bahwa ia melakukan teknik yang sama untuk mendukung pengumpulan dana untuk kegiatan sosial, tetapi inti hal yang ia lakukan sama: ia menciptakan peristiwa yang kemudian diliput oleh media, menghasilkan banyak perhatian orang lain, dan orang kemudian berbuat sesuatu karenanya.

Holiday kemudian juga mengutip pernyataan dari Kurt Bardella, mantan sekretaris pers untuk anggota kongres kubu Republik, Darrell Issa: ”Banyak orang pers itu malas, semalas-malasnya. Ada masa di mana ketika saya memberikan masukan untuk laporan mereka, dan mereka menuliskannya dengan kata-kata yang persis sama saya buat. Hal ini sangat memalukan. Para wartawan ini hanya mencoba menyesuaikan kondisi di mana pers sekarang lebih membutuhkan jumlah (kuantitas) berita daripada mutu (kualitas) berita....”

Lebih lanjut Issa mengatakan: ”Kondisi ini menguntungkan saya karena mereka, para reporter, senang jika saya telah meramukan isi berita untuk mereka. Para reporter senang karena dengan demikian mereka mendapatkan berita dengan mudah dan bisa mencari berita lainnya. Para reporter ini dinilai dari berapa jumlah berita yang mereka setorkan per hari. Memang ini kondisi yang tak bagus, tetapi itulah kenyataannya.”

Membaca kutipan Issa di atas sangat menohok karena persis itulah kondisi yang juga terjadi di Indonesia. Berita-berita mudah diproduksi dan cepat didistribusikan, sensasi demi sensasi dihasilkan, tanpa suatu verifikasi lebih detail, tanpa pemeriksaan lebih teliti sebelum disiarkan. Justru karena para wartawan zaman sekarang dikejar untuk menghasilkan berita sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya, tak banyak dari berita itu sungguh sudah layak lolos ketika disiarkan.

Kepentingan pencitraan

Mereka yang didera pacuan menghasilkan berita banyak dan cepat kerap mudah dikendalikan oleh mereka yang memang punya kepentingan menghasilkan citra-citra tertentu dari pemberitaan yang ada. Kontroversi hasil survei begini, misalnya, bisa tampil karena wartawan tidak kritis pada sumber, tak mau bertanya lebih dalam (dan juga mencoba memahami lebih dalam) hal yang terkait dengan metodologi survei yang dilakukan oleh setiap lembaga. Kita pun ingat beberapa kasus yang disebut sebagai ”berita setting-an” yang menimpa beberapa pesohor dunia hiburan belakangan ini.

Mungkin banyak wartawan ataupun media yang menyiarkan berpikir, biarlah hal tentang ”kebenaran” (seberapa ambigu pun konsep ini) diserahkan kepada pembaca untuk memilih mana yang ia mau percaya atau tidak. Menurut saya sendiri, hal itu sungguh tidak bertanggung jawab karena wartawanlah yang harusnya memeriksa lebih dulu kadar kebenaran suatu peristiwa ataupun rilis, sebelum akhirnya dilempar kepada publik. Fungsi verifikasi wartawan, sebagaimana dikatakan Kovach & Rosenstiel (2010), adalah fungsi yang paling penting di masa ”informasi datang sangat melimpah” ini.

Kalau wartawan jadi terlalu malas, maka ia mudah jadi sasaran para manipulator media, apakah itu dalam rupa lembaga survei, lembaga kehumasan, ataupun para profesional tukang pelintir informasi yang ada. Bagaimanapun juga politik di Indonesia adalah juga suatu industri tersendiri yang telah menghasilkan pembagian kerja secara khusus pula, dan untuk itu media massa adalah salah satu sasaran untuk informasi yang dipelintir bisa disiarkan kepada masyarakat.

Di Indonesia, butuh kecerdasan ekstra dari para wartawan, media yang menyiarkan, serta khalayak yang mengonsumsi informasi untuk selalu bertanya ada apa di balik berita yang ditampilkan kepada publik ini? Apa pesan sesungguhnya yang mau disampaikan lewat peristiwa lain tadi. Sungguh tak mudah, tapi menjelang Pemilu 2014, mau tak mau khalayak memang harus kian cerdas membaca pesan-pesan yang ada dalam media.


[source : kompas.com]

18 December 2012

Pengorbanan Wanita agar terlihat Cantik di Depan Laki-laki


Inilah pengorbanan wanita agar terlihat cantik di depan laki-laki:



1. Memakai high heels yang tingginya bisa sampai 12 cm

Ini dia lakukan wanita untuk terlihat lebih seksi di mata para lelaki.. Selain itu bentuk kaki terlihat lebih indah.



2.Berdan-dan selama berjam-jam

Sangat sedikit laki-laki yang memikirkan betapa sulitnya berdan-dan. Untuk wanita yang tidak terlalu ahli dalam berdan-dan bisa membutuhkan waktu 2jam atau lebih karena membutuhkan ketelitian.. Belum lagi kalo berantakan, butuh waktu untuk membersihkan. dan taukah kalian bahwa fondation yg biasa d pakai dalam berdan-dan sebenarnya kurang bagus di pakai untuk kulit wajah karena memakai fondation menahan minyak dalam wajah tidak tampak. Belum lagi memakai maskara, kalau tiba-tiba mata gatal ga bisa d kucek-kucek (sangat menyiksa).



3. Operasi silikon
Beberapa wanita sering merasa banyak kekurangan dalam tubuhnya.. Entah payudaranya kurang besar atau, hidungnya kurang mancung, dll. wanita rela menghabiskan uang berjuta-juta untuk terlihat cantik di depan semua orang terutama laki-laki. Memasang silikon itu mengandung beberapa resiko, seperti kerusakan jaringan secara permanen.t


4. Memakai baju yang 'ribet'
Untuk terlihat cantik juga memerlukan pakaian yang indah.. Tapi pernah ga agan mikir kalau baju yang di kenakan itu membuat wanita ga nyaman. Mungkin terlalu ketat hingga membuatnya ga bisa napas..


5. Menata rambut

Untuk wanita sendiri memiliki selera masing-masing mengenai rambut. Ada yang suka mengecet rambut dengan warna yang mencolok. Rambut yang lurus. Rambut panjang dan bergelombang, dan lain-lain.

Banyak wanita mengalami kesulitan dengan rambutnya yang susah di tata dengan rapi. Untuk terlihat rapi mereka pergi ke salon untuk d blow, di catok. Ada juga yang dari malam sebelum tidur mereka sudah memakai gulungan rambut agar pagi-pagi saat mereka bangun dan melepas gulungan rambutnya, mendapatkan rambut yang indah bergelombang. Pengorbanan semalaman karena tidur yang tidak nyaman.


6. Menghabiskan uang

Ini adalah hal yang pasti.. Untuk terlihat cantik pasti membutuhkan biaya yang besar. Membeli baju, sepatu, make up, ke salon, dll. Karena itu jangan heran kalo cewe matre. Itu juga untuk kaum laki-laki.
[Source : http://ladang-hijau.blogspot.com]

17 April 2012

Presiden-presiden Indonesia dan Calon presiden

by : Mas Kamso

Aku sebenarnya orang awam di bidang politik, kurang tahu dan sebenernya juga kurang tertarik. Aku bukanlah simpatisan salah satu parpol atau pengikut salah satu presiden. Tapi ada uneg-uneg di hati yang seringkali minta untuk disalurkan. Dibawah adalah opini pribadi saya tentang presiden dan calon presiden yang mulai terdengar di mass media.

1. Presiden Soekarno, aku belum ada di jaman ini. Yang aku baca dari buku2 SD hingga SMA, Bapak ini adalah bapak proklamator, seorang orator ulung yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Seorang Don Juan yang diidolakan oleh banyak wanita serta doyan wanita-wanita muda. Dari mass media aku baca beliau terpeleset gara-gara PKI. Juga dikhianati oleh pembantunya yang bernama Soeharto yang akhirnya menjadi penggantinya. Tidak banyak detail yang aku ketahui dari Bapak proklamator ini.

2. Presiden Soeharto, aku cukup lama merasakan kepemimpinan beliau ini, dari lahir hingga 1997 saat ia jatuh. Saya lihat beliau adalah pemimpin yang punya visi dan misi. Target jangka pendek dan jangka panjangnya sangat jelas. Rakyat bisa hidup cukup enak dijamannya. Kontroversi seputar pengambil alihan kekuasannya dari Soekarno terus menimbulkan pro dan kontra. Sangat bagus kalau sebenarnya beliau mundur pada tahun 1980-an. Tapi karena manusia punya watak yang tamak, ia berusaha melanggengkan kekuasaannya dengan cara membikin orang2 dilingkaran kekuasaannya menjadi presiden2 kecil di departemennya yang bisa berbuat semaunya. Buntutnya korupsi menjadi tidak terkendali. Kekuasaannya hampir absolut, demokrasi hanya sebagai kedok. Anak-anaknya juga ikutan menjarah tanah air sendiri juga menghisap darah dan keringat rakyat. Pengusaha2 yang dekat dengannya juga ikutan menjarah harta rakyat. Lepas dari itu semua, beliau telah membikin Indonesia selangkah lebih maju dari jaman Soekarno.

3. BJ. Habibie, Beliau menjadi presiden bukan karena ia berkeinginan. Hanya karena kondisi sehingga ia jadi presiden. Orang yang cerdas tetapi terlalu lugu dalam politik. Karena ingin terlihat bagus, ia membuat blunder dalam masalah timor timur. Lepaslah salah satu provinsi yang dengan susah payah di kuasai dan telah mengorbankan banyak kusuma bangsa. Hmmm, no more comment.

4. Abdurrahman Wahid, Beliau ini awalnya memberikan banyak harapan untuk kemajuan Indonesia. Seolah bisa menjadi figur yang bisa diterima oleh berbagai kelompok didalam dan luar negeri. Tapi setelah menjadi presiden, bicaranya ngelantur tidak karu-karuan. Hari ini A, besok B lusa C. Sebagai rakyat aku sendiri ikut capai mikirin Negara di bawah Gus Dur ini. Orang seperti ini yang dianggap 1/2 wali oleh sebagian orang cukup berbahaya untuk memimpin bangsa. Beruntung MPR melengserkannya dari kursi presiden. Hmmm...mau nyalon lagi?? Sekarang ngomong dan mengkritik juga masih semau gue, tanpa ada rasa bersalah...."gitu aja kok repot".... adalah kata-kata saktinya.... sangat nggak masuk akal orang2 memaklumi tingkah polahnya yang sering kelihatan tidak bertanggung jawab dan kekanak-kanakan.

5. Megawati Soekarno Putri, Beliau ini sebenarnya mendapatkan simpati yang luar biasa dari rakyat Indonesia sejak PDI di obrak-abrik sama pemerintahan Soeharto. Ditambah posisinya sebagai anak proklamator sebenarnya legitimasinya sangat besar utk jadi pemimpin negeri. Dan setelah menjadi presiden menggantikan Gus Dur, tidak nampak jiwa kepemimpinan di dirinya. Diam berarti emas kata mass media! bagiku itu adalah sindiran untuknya.... Kemampuannya memimpin jauh dibawah kemampuan bapaknya. Tidak ada hal yang menonjol selama kepemimpinannya. Ini sekarang juga mau nyalon lagi.......hmmm tak tahu malu. Kalau dulu diam berarti emas, sekarang beliau banyak ngomong, merong-rong pemerintahan yang sekarang, tidak ada kata2 yang sifatnya membangun, semuanya jelek. Aku tertawa saat beliau bilang bahwa pemerintahannya jauh lebih baik dari pemerintahan SBY.... tidak berkaca. Juga sangat kekanak-kanakan.....ngambeg....Beliau ini secara politik masih jauh dari matang. Termasuk juga kader-kadernya.

6. Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau ini presiden pertama yang dipilih oleh rakyat. Orangnya mampu dan bisa menjadi presiden. Juga cukup bersih, kemajuan ekonomi dan stabilitas negara terlihat membaik. Sayang tidak mendapat dukungan yang kuat di Parlemen. Membuat beliau tidak leluasa mengambil keputusan karena harus mempertimbangkan dukungannya di parlemen. Apalagi untuk mengangkat kasus korupsi dari orang dengan back ground parpol besar, beliau keliahatan kesulitan. Sayang sekali saat Indonesia punya orang yang tepat untuk memimpin, parlemennya dipenuhi oleh begundal-begundal oportunis yang haus uang sogokan.

Para calon presiden:
1. Amin Rais, orangnya bersih, bisa dan mampu untuk menjadi presiden, back ground pendidikan dan pengalaman sangat mendukung. Tapi cara berbicaranya kurang simpatik. Juga kadang terkesan cukup extrem. Basis pemilihnya cuma muhammadiyah.

2. Wiranto, Mantan panglima TNI, bisa dan mampu untuk menjadi presiden. Tapi Soeharto jilid 2 bisa terjadi kalau terpilih. Ia besar dalam pemerintahan orba dan terlihat sangat menikmatinya. Tersandung dalam masalah HAM.

3. Sri Sultan HBX, Beliau cukup bagus khusus untuk DIY karena posisi beliau sebagai Raja. Belum terlihat track recordnya untuk skala nasional. Tampaknya pengetahuannya juga kurang mumpuni untuk menjadi presiden.

4. Hidayat Nur Wahid, Sosok yang bersih dan konsisten. Kemungkinan bisa menjadi presiden. Basis pemilihnya sangat terbatas dari PKS. Akan senasib dengan SBY kalau jadi presiden.

5. Prabowo Subiyanto, katanya orangnya pinter, katanya orangnya baik, katanya....katanya....katanya..... Tapi dalam pidato calon presiden dari golkar 5 tahun lalu, tidak mencerminkan seorang pemimpin masa kini. Penuh retorika.....hmmm no comment.

Hmmmm susah sekali mencari seorang figur calon presiden. Bangsa kita juga masih belum terlalu dewasa dalam berpolitik. Politisi hanya mengumbar janji untuk kepentingan kantongnya sendiri. Korupsi masih merajalela di semua sendi kehidupan negeri. Aku frustrasi!!!!!!!

Bagaimana menurut anda?

[Source : kompas]

9 January 2012

Kim Jong Un di Puji Genius


Sejak kematian pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il, media negeri serba misteri itu terus meluncurkan kampanye pengidolaan terhadap sang putra mahkota ahli waris rezim, Kim Jong Un, yang kini diberi gelar sebagai ”genius di antara para genius” strategi militer.

Gelar baru tersebut muncul dalam narasi sebuah film dokumenter berisi segala ”kebaikan” Jong Un, yang ditayangkan stasiun televisi pemerintah, Minggu (8/1), yang diyakini juga menjadi hari kelahirannya.

Dalam tayangan film dokumenter itu dicuplik aktivitas Jong Un saat mengendarai sebuah tank dan memberi perintah kepada para prajurit artileri, angkatan laut, dan angkatan udara.

”Kamerad Jong Un yang terhormat tampak benar-benar piawai dalam berbagai strategi militer dan sungguh-sungguh menunjukkan kemampuan yang sangat hebat dalam kepemimpinan militer,” puji narasi dalam film dokumenter tersebut.

Dalam tayangan itu juga digambarkan bagaimana sejumlah personel tentara melompat-lompat kegirangan melihat kunjungan lapangan yang dilakukan Jong Un itu.

Sebagai ”ahli waris takhta” Jong Un yang telah menyandang pangkat jenderal bintang empat di pundaknya itu membawahkan 1,2 juta personel militer negeri itu. Dia juga diketahui telah berjanji melanjutkan kebijakan sang ayah, yang terkenal dengan ideologi pengutamaan terhadap militer (Songun).

Sosok Jong Un relatif tidak dikenal sebelumnya. Namanya mulai muncul ketika sang ayah, Jong Il, menjadikannya calon ahli waris kekuasaan setelah terserang stroke pada tahun 2008.

Setelah kematian ayahnya akibat serangan jantung pada 17 Desember lalu, Jong Un praktis menjadi penerus kekuasaan di Korut.

Sejumlah kalangan meragukan kemampuannya mengingat usia Jong Un yang masih relatif muda, menjelang 30 tahun. Jong Un sama sekali tidak punya pengalaman, baik di pemerintahan maupun militer, apalagi menjalankan pemerintahan sebuah negara dengan total populasi mencapai sekitar 24 juta jiwa itu.

Langkah propaganda yang dilakukan secara bertubi-tubi oleh mesin pemerintahan komunis di sana saat ini tampak kuat menjadi upaya keras dan sistematis negeri itu mematahkan keraguan dan serangan dari luar terhadap pemimpin barunya tadi.

Dalam film dokumenter itu juga disebutkan, Kim Jong Un telah sukses menulis sebuah tesis pertamanya terkait strategi militer pada usia 16 tahun.

Tesis itu disebut-sebut diselesaikan setelah Kim Jong Un bekerja dengan sangat keras, tidur hanya tiga atau empat jam setiap hari dan kerap lupa makan.

”Jenderal besar kita Kim Jong Il menyebut dia (Jong Un) sebagai seseorang yang memiliki banyak bakat dan genius di antara banyak genius strategi militer,” papar narator dalam film dokumenter itu.

Selain itu, Jong Un juga dipuji sebagai sosok yang serupa benar dengan sang ayah dan kakeknya, Kim Il Sung, baik secara kepribadian maupun kepemimpinannya.

Sumpah hancurkan musuh

Lebih lanjut, dalam film dokumenter itu juga ditayangkan kunjungan Jong Un bersama mendiang ayahnya semasa masih hidup ke pusat komando satelit Korut pada April 2009, bersamaan dengan peluncuran percobaan peluru kendali balistik jarak jauh milik negeri itu.

Peluncuran tersebut menjadi insiden internasional yang sangat kontroversial lantaran Korut hanya menyebutnya sebagai program angkasa luar dengan misi damai. Mereka mengklaim hanya meluncurkan satelit Korut ke orbit bumi. Padahal baik Amerika Serikat maupun Korea Selatan, keduanya memastikan tak ada satu satelit Korut pun yang meluncur, apalagi mengorbit saat itu.

Dalam kunjungan digambarkan pula Jong Un mengeluarkan ancaman, dengan bersumpah akan menghancurkan kemungkinan-kemungkinan upaya serangan musuh terhadap roket yang sedang mereka luncurkan tadi.

Saat itu Jong Un memang dipercaya oleh ayahnya menjadi penanggung jawab operasi perlindungan peluncuran peluru kendali, yang akan mengantisipasi setiap serangan rudal musuh yang mencoba menghancurkan ”satelit” Korut tadi.

”Saya memutuskan akan langsung menggelar serangan untuk memerangi musuh-musuh jika mereka mencoba menembak jatuh roket ini,” ujar Kim Jong Un ketika itu.

[Source : AFP]

24 December 2011

Casey Anthony lawyers wants prosecutor held in contempt

Defense attorneys for Casey Anthony want former prosecutor Jeff Ashton to explain why he should not be held in contempt of court for including information from sealed depositions in his recently released book about the case.

Anthony’s defense attorney, Cheney Mason, filed the motion Wednesday. It asks Chief Judge Belvin Perry to compel Ashton to appear and tell the judge why he should not face contempt charges.

Ashton revealed details from those depositions in his book, but has said he was relying on his memory and notes to reference the material.

Ashton, now a former assistant state attorney, wrote about the depositions of two mental health experts — Dr. Jeffrey Danziger and Dr. William Weitz — in his book, "Imperfect Justice: Prosecuting Casey Anthony."

According to Ashton’s book, Danziger said that Anthony told him she "believed that her father drowned Caylee deliberately or drowned her while he was molesting her, even though she had no evidence that George (Anthony) had ever molested Caylee in the past."

Danziger also expressed concerns about becoming a "mouthpiece" for these "very, very serious allegations" that lacked real evidence, Ashton writes in the book.

Weitz, referring to the account Casey Anthony gave him, gave a similar version of events. He indicated Casey Anthony asserted "that Caylee could not have died by accident and that George had murdered her," according to the book.

Casey Anthony said her father yelled at her, "It’s your fault. It’s your fault. You’re a bad mother," according to the Weitz version.

Ashton wrote that both the prosecution and defense agreed not to have the depositions made public "because the allegations were so sensational."

Orange-Osceola Chief Judge Belvin Perry agreed and sealed the documents before the trial began.

In the latest motion, Mason acknowledged that he hasn’t read Ashton’s book, but references a motion filed by The Orlando Sentinel earlier this week, in which the news organization seeks to unseal those two key depositions.

"Mr. Ashton’s violation of this Court’s Order has now been used as a justification for a request to unseal materials that this Court has determined fits the legal criteria for nondisclosure," Mason’s motion said.

"This Court issued a clear directive (’sealed means sealed’). Mr. Ashton has now violated this Order twice; once based on the flawed justification that somehow revealing ’substantive information’ from the depositions was not a violation of the Order. The second violation was strictly for profit. Moreover, the continued dissemination of Mr. Ashton’s book is an ongoing violation of this Court’s Order."

The Sentinel seeks to unseal the depositions of Danziger and Weitz. Casey Anthony’s defense team in March wanted to use both as witnesses but neither Danziger nor Weitz ever was called.

Their depositions are significant because they recount how Casey Anthony explained the disappearance of her daughter Caylee Marie in the summer of 2008 to the two mental health experts.

Orlando Sentinel attorney Rachel Fugate argues in the motion that Ashton "authored a book in which he discussed the substance of the sealed depositions, which came from his memory and his notes."

"At this point in the proceedings, there is no basis to continue the sealing of these depositions," Fugate argues. "Any sealing order must be narrowly tailored to accomplish its purpose. A sealing order is no longer necessary to protect Ms. Anthony’s fair trial rights."

A hearing date has not yet been set.

Anthony, 25, was found not guilty in July of first-degree murder in the 2008 death of her daughter. Since then, she has repeatedly refused to answer questions about her daughter’s disappearance in two separate civil lawsuits filed against her.

The depositions offer another way to review one of her most recent versions of the account of her daughter’s disappearance.

During his opening statement in the criminal trial, Anthony defense lawyer Jose Baez told jurors Caylee died in a drowning in mid-June 2008 and also said George Anthony discovered the lifeless child and yelled at Casey. But many of the claims Baez made in his opening were left unsupported by the defense during the trial.

In the book, Ashton theorized that Baez wanted the two doctors to get Casey Anthony’s story in front of jurors without having her testify. They would also have provided an explanation for why she waited a month to report the child’s disappearance, Ashton wrote.

In the end, the defense pulled both psychologists from its witness list after the prosecution successfully argued to have its own expert examine Casey as well.

"We were surprised that Baez had not anticipated the request for our own expert evaluation and considered that before showing his hand like he had," Ashton wrote.

Mason’s motion also said that Ashton revealed the contents of the sealed depositions to George Anthony and that defense attorneys raised the issue with Perry during an "informal hearing."

The motion said Ashton justified his disclosure of details of the deposition by explaining that he relied on his memory and notes, and didn’t show the actual deposition to George Anthony.

"This is a distinction without a difference," Mason wrote.

At that time, Perry reserved ruling on whether or not Ashton should be held in contempt, the motion said.

[Source : bostonherald.com]

19 December 2011

Kim Jong Il, North Korea’s ‘Dear Leader’, Dead at 70


 North Korean dictator Kim Jong Il salutes during a military parade celebrating the 55th anniversary of the country at Kim Il Sung square in Pyongyang, Korea.

Kim Jong Il, the second-generation North Korean dictator who defied global condemnation to build nuclear weapons while his people starved, has died, state media reported. A government statement called on North Koreans to “loyally follow” his son, Kim Jong Un.

Kim, 70, died on Dec. 17 of exhaustion brought on by a sudden illness while on a domestic train trip, the official Korean Central News Agency said. Kim probably had a stroke in August 2008 and may have also contracted pancreatic cancer, according to South Korean news reports.

The son of Kim Il Sung, North Korea’s founder, Kim was a chain-smoking recluse who ruled for 17 years after coming to power in July 1994 and resisted opening up to the outside world in order to protect his regime. The likely succession of his little-known third son, Jong Un, threatens to trigger a dangerous period for the Korean peninsula, where 1.7 million troops from the two Koreas and the U.S. square off every day.

“Kim Jong Il inherited a genius for playing the weak hand and by keeping the major powers nervous, continuing his father’s tradition of turning Korea’s history of subservience on its head,” said Michael Breen, the Seoul-based author of “Kim Jong Il: North Korea’s Dear Leader,” a biography. “We have entered an uncertain moment with North Korea.”

Jong Un, is at the “forefront of the revolution,” KCNA said in its official statement of the elder Kim’s death.

Won, Stocks Fall

 North Korean dictator Kim Jong Il waves during a military parade in Pyongyang, Korea.

South Korea’s won declined as much as 1.6 percent to a two- month low of 1,177.35 per dollar and government bonds dropped after the news. The Kospi index lost 4 percent to 1,766.82 as of 12:07 p.m. in Seoul.

Lampooned by foreign cartoonists and filmmakers for his weight, his zippered jumpsuits, his aviator sunglasses and his bouffant hairdo, Kim cut a more serious figure in his rare dealings with world leaders outside the Communist bloc.

“If there’s no confrontation, there’s no significance to weapons,” he told Madeleine Albright, then U.S. secretary of state, in a 2000 meeting in Pyongyang.

Those words took on greater significance in 2009 as Kim defied threats of United Nations sanctions to test a second nuclear device and a ballistic missile, technically capable of striking Alaska.

The following year North Korea lashed out militarily, prompting stern warnings from the U.S. and South Korea. An international investigation blamed Kim’s regime for the March 2010 sinking of the South Korean naval vessel Cheonan that killed 46 sailors. Eight months later North Korea shelled a South Korean island, killing two soldiers, two civilians and setting homes ablaze. The act followed reports by an American scientist that the country had made “stunning” advances to its uranium-enrichment program.

[Source : bloomberg.com]

5 November 2011

Menteri Ini Berpose Seksi Demi Dapat Dukungan

Ada-ada saja cara politikus untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Salah satunya dilakukan oleh seorang menteri di Rumania. Ia berpose seksi mengenakan gaun karet ketat yang menampilkan belahan dadanya.

Menteri Pariwisata Rumania, Elena Udrea, berpose seksi untuk sampul majalah 'Tabu' edisi November 2011. Pada edisi bertemakan 'Powerful Women' tersebut, Udrea tidak lagi mengenakan setelan formal khas kementrian yang biasa ia pakai.

Ia justru tampil mengenakan gaun hitam bahan karet yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dan belahan dada, lengkap dengan sepatu boots hitam yang mengkilap dan aksesori sederhana yang menempel pada beberapa bagian tubuhnya.

Dalam artikel majalah tersebut, wanita 37 tahun ini mengungkapkan kisah suksesnya menjadi seorang wanita yang berkuasa. Ia mengakui memiliki tokoh inspirasional seperti Cleopatra, Jackie Kennedy, Margareth Thatcer, Eva Peron, dan Madonna. Tokoh-tokoh tersebutlah yang menginspirasi dirinya untuk berbusana seksi di sampul majalah tersebut sebagai refleksi dari The Powerful Woman.

Udrea menulis pengalamannya selama pemotretan dan menuliskannya di blog. "Ada beberapa wanita yang mampu menunjukkan bahwa mereka ingin menjadi lebih dari pekerja biasa. Saya mengarah kepada wanita ikonik yang mengubah cara berpolitik di dunia. Para wanita ini membuktikan bahwa mereka bisa lebih baik daripada pria dalam permainan yang mereka ciptakan."

Sebagai seorang yang sadar fashion, Udrea pernah melakukan sebuah aksi yang cukup unik. Dia mendatangi korban banjir, dan memberikan sumbangan berupa high heels kepada para wanita agar mereka kembali ceria dan merasa cantik.

Seorang kritikus politik tidak mendukung hal yang dilakukan menteri cantik tersebut dan berkomentar: "Sayang sekali, dalam memperlihatkan kebijakannya, dia tidak sepandai seperti saat dia memperlihatkan lekuk tubuhnya. Dia adalah politikus yang berbakat, sayang aksinya ini tidak akan membantu karirnya maupun wanita-wanita lain," seperti dikutip dari Dailymail.

25 October 2011

Murka dan Ancaman Putra Khadafi


Tripoli: Setelah berhari-hari menghilang, putra kesayangan mantan pemimpin Libia Muammar Khadafi, Saif Al-Islam akhirnya keluar dari persembunyiannya. Meski tengah menjadi buronan Pengadilan Pidana Internasional, Saif tak segan untuk menyampaikan pesan pada pendukungnya juga lawanya.

Pernyataan Saif disiarkan langsung oleh stasiun televisi lokal Al-Rai, Ahad (23/10).

Dalam rekaman yang kini juga telah tersebar di situs jejaring video YouTube, Saif mengungkapkan kemarahannya kepada pemberontak juga NATO yang telah memperlakukan sang ayah dengan tidak pantas. Saif juga berjanji akan meneruskan perjuangan ayahnya dan tidak akan mundur sampai Libia terbebas dari pengaruh dunia barat.

"Kami akan meneruskan perlawanan. Aku sampai saat ini masih di Libia, hidup bebas dan berniat untuk berjuang sampai akhir dan membalaskan dendam. Pergilah ke neraka kalian tikus-tikus, juga NATO yang ada di belakang kalian. Ini adalah negara kami. Kami hidup dan mati di sini," seru Saif.

Kemarahan tak hanya dirasakan oleh Saif. Adiknya, Saadi pun murka dengan tindakan keji yang dilakukan pemberontak terhadap ayah dan kakaknya. Saadi yang tengah menjadi tahanan rumah di Negeria juga berniat untuk membalaskan dendam. "Mereka yang melakukan eksekusi barbar dan mempertontonkan jenazah akan menerima akibatnya," ancam Saadi.

Khadafi memang telah menuliskan wasiat yang berisi permintaannya untuk dikuburkan sebagai muslim. Namun, sampai saat ini jenazah Khadafi juga belum dimakamkan. Setelah selesai diotopsi, jasadnya, bersama jasad putranya, Mutassim, serta mantan menteri pertahanannya, Abu Bakar Younis, masih dipamerkan di Misrata.

[Source : kompas.com]

12 October 2011

Republican debate: Winners and losers

The Bloomberg/Washington Post GOP debate is in the books, which means it's time to take a look at who had a good night - and who didn't. Below, our take on the winners and losers from Tuesday's economy-focused face-off:
Winners:
Mitt Romney: Another sterling debate performance from Romney, who once again looked far more presidential than anyone else onstage. During the portion of the debate in which the candidates asked each other questions, rivals like Herman Cain and Rick Perry took direct aim at him; Romney hit back hard at Perry, leaving him looking like a schoolboy with his hand caught in the candy jar, and suggested Cain's claim that Romney's economic plan was too complicated showed Cain didn't understand the complicated nature of the economy. When Romney asked his question, he directed a softball to Michele Bachmann - a show of strength in light of Bachmann's long odds at winning the nomination. Romney would be all too happy to see Bachmann stick around at least until to the Iowa caucuses, where she can split the conservative vote with Cain and Perry and give Romney the opening he needs to win the state.

Newt Gingrich: Former House Speaker Newt Gingrich almost certainly isn't going to be president. But if, as many assume, his presidential campaign is now largely about keeping his name in the headlines in order to further his personal brand, Gingrich had a good night. He was able to get in a lot of Gingrichisms - a personal favorite was "I was just swapping emails today with Andy von Eschenbach..." - that reinforced the notion that Gingrich is the Republican Party's ideas man. Whether he deserves the mantle as the GOP's preeminent intellectual is certainly up for debate, but there's no question that pushing the notion can't hurt book sales. Another idea that won't hurt book sales: Fire the unpopular Fed chair and imprison Barney Frank.

Ron Paul: The Texas Libertarian is another candidate who almost surely isn't going to make it to the White House. (Sorry, Paul fanatics.) But while many of the other candidates read like potentially-dissembling politicians, Paul had the aura of a truth teller - particularly when he called for the repeal of Sarbanes-Oxley, which "was done by the Republicans." Paul also got in a solid shot at Cain, noting that he had been director of the Kansas City Fed and opposed an audit of the Federal Reserve. Cain's claim that Paul misquoted him - "You've gotta be careful of the stuff you get off the Internet," Cain said, condescendingly - was quickly debunked by the Paul campaign.

Losers:
Herman Cain: Cain was on the defensive for the first time during the debate Wednesday, defending himself against moderators and rivals who afforded him increased scrutiny due to his increased standing in the polls. And while it wasn't a terrible performance by Cain by any means, he spent too much time harping on his 9-9-9 plan - missing an opportunity to put to rest concerns that he lacks the knowledge for the job.

(Concerns he himself has fed.)  Cain can only get by on 9-9-9 and personal magnetism for so long. If he wants to have staying power as a viable alternative to Romney - and attract the donors he needs to build an infrastructure to compete with both Romney and Perry - he needs to do better.

Rick Perry: Perry was virtually invisible for the first half of the debate, getting little attention from moderators - a demoralizing state of affairs for a man who just one month ago was seen as the frontrunner for the nomination. The Texas governor improved over the course of the debate, offering a strong closing statement, but there was no momentum-changing moment he could build off to reverse his slide in the polls. And his string of strange facial contortions in response to the other candidate's comments - look for the sure-to-be-forthcoming YouTube mashup - certainly didn't help the cause. He needed to score some points off Romney, but he spent much of the debate looking a little bit lost.

Rick Santorum, Jon Huntsman and Michele Bachmann: Perhaps it's unfair to put these three candidates in the "losers" column, since their performances met the (low) expectations that existed coming into Tuesday night. But all three need to do something to get out of the single digits in national polls - to offer up a performance or generate a moment that will resonate enough to get GOP primary voters to give them a second look. None did.

[Source : cbsnews.com]

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month