Share Info

Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

23 June 2015

Kisah Nyata: Anak Hafal Al-Qur'an Bangunkan Ayahnya yang Koma

Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi para pembaca, khususnya mereka yang memiliki anak-anak yang sedang tumbuh berkembang, agar mereka dididik menjadi zuriat yang sholeh dan sholehah, keturunan yang menjadi cahaya mata.

Ilustrasi
Kisah ini diceritakan seorang ibu rumah tangga di salah satu kota kecil di Arab Saudi. Tentang bagaimana anak yang sholeh merupakan keberkahan bagi kedua orangtuanya.

Sang ibu bercerita bahwa ia memiliki seorang anak perempuan bernama Asma, Ia seorang gadis kecil yang cerdas, dan hafal al-Qur'an.

Sejak kecil, suami ibu tersebut terbaring koma di rumah sakit. Kejadian itu bermula ketika pada tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H (sekitar tahun 1975 M), mobil ayah Asma mengalami kecelakaan, mobil yang ditumpanginya terbalik saat pulang dari tempat kerja di Timur Saudi menuju Riyadh. Kecelakaan itu begitu hebat hingga membuatnya langsung koma. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Tim dokter spesialis yang menanganinya mengatakan, sang suami mengalami kelumpuhan otak. 95 persen otaknya telah mati.

Asma tidak mengerti kondisi tersebut. Setiap kali Asma bertanya ke mana ayahnya, sang ibu sealu selalu merahasiakannya.



Sang ibu bercerita:

Ketika Asma bertanya ke mana ayahnya, ku hanya menjawab ayahnya suatu saat nanti akan kembali.

Tapi, kini Asmaa sudah berusia 15 tahun. Ia juga sudah hafal Al Qur’an dan terlihat lebih dewasa dari usianya. Maka kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Sementara sang suami, ia masih terbaring koma. Aku terus menungguinya. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Ujian kesetiaan datang, ketika lima tahun berlalu dan suamiku belum juga sadarkan diri. Sebagian orang menyarankan aku menikah lagi dengan didukung oleh rekomendasi seorang Syaikh.

“Tidak,” jawabku saat itu. “Selama suamiku belum dikubur, aku akan tetap menjadi istrinya.”

Aku pun kemudian berkonsentrasi untuk mendidik Asma, di samping bergantian dengan keluarga menunggui suami di rumah sakit. Aku kemudian memasukkan Asma ke sekolah tahfidz hingga jadilah ia hafal Qur’an.

Sejak tahu ayahnya koma di rumah sakit, Asma selalu bersama denganku ke sana. Ia mendoakan dan membacakan ayat-ayat ruqyah untuk ayahnya, ia juga bersedekah untuk ayahnya.

Hingga suatu hari pada tahun 1410 (tahun 1990), Asma meminta izin menginap di rumah sakit. “Aku ingin menunggui ayah malam ini” pintanya dengan nada mengiba. Aku tak bisa mencegah.

Malam itu, Asmaa duduk di samping ayahnya. Ia membaca surat Al-Baqarah di sana. Dan begitu selesai ayat terakhirnya, rasa kantuk menyergapnya. Ia tertidur di dekat ayahnya yang masih koma. Tak berapa lama kemudian, Asma terbangun. Ada ketenangan dalam tidur singkatnya itu. lalu, ia pun berwudhu dan menunaikan shalat malam.

Selesai shalat beberapa raka’at, rasa kantuk kembali menyergap Asma. Tetapi, kantuk itu segera hilang ketika Asmaa merasa ada suara yang memanggilnya, antara tidur dan terjaga.

“Bangunlah… bagaimana mungkin engkau tidur sementara waktu ini adalah waktu mustajab untuk berdoa? Allah tidak akan menolak doa hamba di waktu ini”

Asma pun kemudian mengangkat tangannya dan berdoa. “Yaa Rabbi, Yaa Hayyu…Yaa ‘Adziim… Yaa Jabbaar… Yaa Kabiir… Yaa Mut’aal… Yaa Rahmaan… Yaa Rahiim… ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada di bawah kehendak-Mu dan kasih sayang-Mu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya… Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim… sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…




Ya Allah… sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh… Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”
Sebelum Subuh, rasa kantuk datang lagi. Dan Asma pun tertidur.

“Siapa engkau, mengapa kau ada di sini?” suara itu membangunkan Asma. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari sumber suara. Tak ada orang.

Asma terkejut! Subhanallah... Betapa bahagia dirinya, ternyata suara itu adalah suara ayahnya. Ia sadar dari koma panjangnya. Begitu bahagianya Asma, ia pun memeluk ayahnya yang masih terbaring. Sang ayah kaget.

“Takutlah kepada Allah. Engkau tidak halal bagiku” kata sang ayah.

“Aku ini putrimu ayah. Aku Asma” tak menghiraukan keheranan sang ayah, Asma segera menghubungi dokter dan mengatakan apa yang terjadi.

Para dokter yang piket pada pagi itu hanya bisa mengucapkan “Masya Allah”. Mereka hampir tak percaya dengan peristiwa menakjubkan ini. Bagaimana mungkin otak yang telah mati kini kembali? Ini benar-benar kekuasaan Allah.

Sementara sang ayah Asma juga heran mengapa dirinya berada di situ. Ketika Asma dan ibunya menceritakan bahwa ia telah koma selama tujuh tahun, ia hanya bertasbih dan memuji Allah. “Sungguh Allah Maha Baik. Dialah yang menjaga hamba-hambaNya” simpulnya.



[Source : putramelayu.web.id]

26 July 2014

Mangkuk Malapetaka Hiu

Ilustrasi
 “Taplak meja yang terlihat bersih di akhir jamuan makan China menandakan tidak cukup hidangan untuk semua tamu,” ujar Tjong Tjay atau Benny Oei, putra bungsu pengusaha gula Oei Tiong Ham kepada wartawan-cum-penulis James Michener. 

Tulisan Michener, “Chinese Success Story”, yang dimuat majalah Life, 31 Desember 1951, melukiskan kegembiraan Tjong Tjay mentraktir teman-temannya bersantap di restoran Kam Leng di Glodok. Dia biasa memesan tujuh hingga delapan menu umum dengan tambahan menu istimewa seperti sup sirip hiu. “Tak ada yang lebih menyenangkan hati Tjong Tjay selain melihat teman-temannya melahap dan menyendok sajian dengan tumpahan di sana-sini,” tulis Michener.

Bagi komunitas China, hidangan sirip hiu adalah wujud penghormatan tuan rumah kepada para tamu. Keberadaan sirip hiu sebagai jamuan istimewa dipercaya telah berlangsung sejak masa Dinasti Sung. Artikel “The History of Imperial Chinese Cuisines” dalam http://www.china.org.cn/english/imperial/25995.ht menyebutkan, sirip hiu dan sarang burung walet tersaji dalam perjamuan mewah kekaisaran setelah perjalanan besar armada Cheng Ho ke Asia Tenggara pada masa Dinasti Ming. Ia terus menjadi menu kekaisaran hingga masa Dinasti Qing.

Hubungan dagang dengan bangsa lain, termasuk Eropa, memperkuat tradisi kuliner itu. Sirip hiu menjadi komoditas yang mempererat relasi perdagangan dengan China. Kongsi Dagang Belanda (VOC) mengirimnya dalam rangka perdagangan teh secara langsung dengan China sejak abad ke-18. “Selain membayar dengan perak batangan, pejabat VOC di Batavia mengirim benda-benda mahal yang memiliki pasaran di China untuk kekaisaran seperti trepang, sirip hiu dari Hindia Timur, debu mutiara dari Ceylon, dan tekstil celup dari India,” tulis Liu Yong dalam The Dutch East Indie Company Tea Trade with China, 1757-1781.

Pemerintahan komunis pada pertengahan 1900-an, yang menganggap sirip hiu sebagai bagian gaya hidup mewah, sempat menekan konsumsinya di China. Namun anggapan ini tak berlaku bagi para imigran China di berbagai belahan dunia. Mereka membawa selera “imperial” sirip hiu ke tanah baru. Kritikus makanan Amerika pada 1848, Samuel Williams, seperti dikutip Soup Through the Ages karya Victoria R. Rumble, mencatat hiu dan pari dalam daftar bahan makanan komunitas imigran China di Amerika.

Gelombang kedatangan imigran China ke Singapura, dan pertumbuhan ekonomi yang pesat, menjadikan koloni Inggris tersebut sebagai pasar terbesar sirip hiu di Asia Tenggara awal 1900-an. Terbitan berkala Algemeen Landbouwweekblad van Nederlandsch-Indie pada 1930 mencatat ekspedisi kapal uap penangkap hiu dengan sponsor Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran, ke Pulau Lingga, Riau. Ekspedisi ini bertujuan mengeksplorasi potensi bisnis dan kualitas sirip, kulit, dan daging hiu di perairan Hindia Belanda. “Kulit hiu akan dikirim ke Eropa, sementara daging (kering dan asin) dan siripnya ke Singapura,” tulis Manon Osseweijer, “The Toothy Tale”, dalam Peter Boomgaard, A World of Water: Rain, Rivers and Seas in Southeast Asian Histories.

Potensi bisnis hiu, lanjut Osseweijer, membuat penasehat perikanan Belanda, Johan Poortman, menambahkan penangkapan hiu dalam aspek pengamatan untuk pengembangan kerangka kerja perikanan Hindia Belanda. 

Singapura terus menjadi pasar utama ekspor sirip hiu hingga kemunculan Hongkong di pertengahan 1980-an. Dalam waktu singkat, Hongkong meroketkan volume ekspor dan harga sirip hiu di banyak negara, termasuk Indonesia. Debra A. Rose dalam An Overview of World Trade in Sharks and Other Cartilaginous Fishes mencatat lonjakan volume ekspor sirip hiu dari Indonesia ke berbagai negara, termasuk Hongkong: dari 429 ton pada 1986 menjadi 547 ton pada 1987, dengan total nilai dari sekitar 1 juta menjadi lebih dari 2.6 juta USD.

Lonjakan keuntungan bisnis sirip hiu juga mempengaruhi pola hidup nelayan. Menurut penelitian Natasha Stacey dalam Boats to Burn: Bajo Fishing Activity in the Australian Fishing Zone, perpindahan nelayan Suku Bajo ke Pepela, Rote, antara 1989-1994, terdorong oleh perkembangan bisnis sirip hiu. Kehadiran perwakilan bisnis Hongkong dan Ujung Pandang di Pepela, yang bekerjasama dengan pengusaha lokal untuk penyewaan dan kredit perahu serta modal perlengkapan, memberi harapan perbaikan ekonomi sehingga sekelompok nelayan Bajo memutuskan pindah tempat.

Eksploitasi penangkapan hiu terjadi hampir di seluruh perairan di dunia. Situs CNN.com edisi 1 Februari 2011 memperkirakan 73 juta hiu tewas diburu setiap tahunnya. Artikel yang sama menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor hiu terbesar, bersama India, Spanyol, dan Taiwan.

Praktik “penyiripan” dalam penangkapan hiu menyulut kemarahan internasional. Nelayan kerap memotong sirip hiu dalam keadaan hidup lalu melempar tubuh sekaratnya ke laut. Target memenuhi muatan kapal kerap mendorong nelayan melakukan metode “penyiripan”. 

Saat ini, jumlah spesies hiu dengan status terancam punah dialami lebih dari 200 dari sekitar 350 spesies yang terdata. Padahal, seperti pohon oak, gajah, dan manusia, hiu memiliki fitur K-seleksi sejarah hidup (strategi reproduksi dan kelangsungan hidup), dengan ciri antara lain: puncak kematangan seksual yang lama, jumlah keturunan yang terbatas, dan usia kehidupan yang panjang. Karenanya, regenerasi hiu memerlukan waktu. Eksploitasi, penangkapan, dan konsumsi terus-menerus akan menutup kesempatan hiu beregenerasi, lalu mengakhiri eksistensinya.

Kepunahan hiu, yang merupakan predator teratas jaringan makanan, berdampak terhadap keberlangsungan hidup satwa lainnya. Penelitian Stevens, J.D et.al. dalam “The effects of fishing on sharks, rays, and chimaeras (chondrichthyans), and the implications for marine ecosystems” yang dimuat di ICES Journal of Marine Science (2000) memprediksi beberapa skenario akibat kepunahan spesies hiu tertentu. Hilangnya spesies hiu macan (Galeocerdo cuvier) dalam perairan karang terumbu di Hawaii, misalnya, diperkirakan membuat populasi burung laut meningkat, yang kemudian menyebabkan populasi tuna berkurang, dan akibatnya menambah populasi ikan-ikan kecil di dasar laut.

Ironisnya, sirip hiu masih tersaji sebagai menu istimewa hingga abad ke-21. Walaupun mitos seputar kandungan gizi sirip hiu berkembang, kenaikan permintaan pasar lebih disebabkan anggapan dan nilai budayanya sebagai makanan tradisional berkelas yang mencerminkan penghormatan bagi tamu. Harga semangkuk sup sirip hiu di beberapa restoran bergengsi di Hongkong mencapai 100 USD. Sebuah kemenangan bagi hiu terjadi pada Juni 2005 ketika organisasi-organisasi pelindung satwa berhasil mendesak Disneyland Hongkong menghapus sup sirip hiu dari paket menu jamuan makan pernikahan beberapa bulan sebelum pembukaannya.

Perubahan sikap juga dilakukan Fuchsia Dunlop, seorang chef Inggris dengan spesialisasi masakan China, satu-satunya orang Eropa yang mengikuti pendidikan di Sichuan Institute of Higher Cuisine di Chengdu, Sichuan. Dia penulis beberapa buku mengenai masakan China, termasuk memoar Shark′s Fin and Sichuan Pepper: A Sweet-Sour Memoir of Eating in China. Dalam artikelnya di BBC online pada 21 Januari 2010, Dunlop membagikan pengalaman pertamanya menghindari sirip hiu dalam sebuah jamuan makan.

Ketika penyelenggara menegurnya karena tak menyantap sirip hiu, Dunlop sempat resah. Dia tak ingin tuan rumah merasa tersinggung karena dia menolak hidangan yang melambangkan rasa hormat mereka.

“Namun saya sadar, meski menolak sirip hiu mungkin sebuah usaha sia-sia, setidaknya saya dapat mulai berbincang dengan beberapa chef China mengenai batasan moral dan kesadaran lingkungan dalam mengkonsumsi. Saya memutuskan untuk menyampaikan apa yang saya ketahui mengenai sirip hiu dan kegelisahan saya menyantap spesies yang akan punah. Kemudian, terjadi momen senyap penuh kekakuan. Mereka tak pernah mendengar pernyataan seperti ini sebelumnya...”

Di luar dugaan, penyelenggara jamuan memuji kejujuran Dunlop dan mengajaknya berdiskusi lebih lanjut. “Bicara mungkin hanyalah kata-kata, namun bagaimana kita dapat melakukan sesuatu jika tak mulai berbincang bersama?” ujar Dunlop di akhir artikel.

[Source : historia.co.id]

4 December 2012

Pengabdian Seorang Isteri

Cinta itu butuh kesabaran. Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???
Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita. Aku menjadi perempuan yang paling bahagia. Pernikahan kami sederhana namun meriah. Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.
Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan dan mapan pula.
Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya. Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu. Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci…
Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku. Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.
Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.
 Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku. Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA. Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu dan adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku.
Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka.
Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.
Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang dan malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.
Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.
Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.
Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yang lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.
Lalu Ibu nya berbicara denganku “Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut, aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Aku sibuk membersihkan dan mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.
Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang saja, ada
kami yang menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”
Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.
Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.
Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.
Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.
Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”
Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”
Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”
“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.
“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.
”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.
”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.
Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang dan cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.
Kemudian aku memutuskan agar ia saja yang pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.
Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.
Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.
Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.
Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.
Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..
Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.
Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..
Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..
Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…
Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.
Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.
Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.
Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yang aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.
Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yang buruk akhir-akhir ini.
Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.
Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..
Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.
Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.
Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yang bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.
Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?
Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku dan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.
Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yang keras. Suamiku telah berubah.
Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.
Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.
Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.
Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya dan menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.
Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.
Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.
“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.
“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.
“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.
Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.
Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”
Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.
Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yang dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.
Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku.
Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu dan adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..
Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.
Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yang berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.
Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.
Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.
“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.
”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..
Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.
Aku menangis, untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?
“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.”
Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.
Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.
Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“
MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..
Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau
kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.
“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.
Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.
”Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”
Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”
Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”
Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”
Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”
”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.
Tak tahan lagi, air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..
Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?
Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“
Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.
Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.
Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”
Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.
Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!“
“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.
Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.
Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.
Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.
Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? Sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”
Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.
“Apakah kamu sudah siap?”
Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :
“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.
Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”
Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar.
“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.
Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus air mataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.
Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.
Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tahu, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.
Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.
Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.
Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah membuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu’ menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.
Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.
Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.
Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.
Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.
Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?
Sementara itu  Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.
Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.
“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”
Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..
Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”
Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.
Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”
”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.
Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”
Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.
Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.“
Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.
Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.
Keesokan harinya…
Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.
Aku pun dilarikan ke rumah sakit. Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku. Aku merasakan tanganku basah. Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.
Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…”
Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?
Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”
“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”
Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku.  Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.
Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.
Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..
Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.
Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”
Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku? Aku dihina oleh mereka ayah. Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu? Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah. Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?
Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..
Aku diusir dari rumah sakit. Aku tak boleh merawat suamiku. Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku. Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.
Aku sangat marah. Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan ibunya..
Aku tak mau sakit hati lagi.
Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku. Engkau Maha Adil..
Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..
Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku. Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu. Aku kuat ayah dalam kesakitan ini. Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku. Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah.Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu. Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.
Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku. Aku harus sadar diri. Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu. Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?
Ayah.. aku masih tak rela. Tapi aku harus ikhlas menerimanya.
Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya. Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku. Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir. Sebelum ajal ini menjemputku.
Ayah.. aku kangen ayah..
Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda. Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.
Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur. Bunda akan selalu hidup dihati ayah.
Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah. Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya. Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda. Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui. Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..
Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.
Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.
Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana? Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?
Tunggulah Ayah disana...Bunda..
Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..
Ayah Sayang Bunda..

[Source : http://eritayuliastuti.wordpress.com]

21 November 2012

KEJUJURAN

Kejujuran
Kejujuran sangat menentukan kesuksesan hidup seseorang. Pengertian kejujuran yang paling sederhana adalah tidak berbohong. Tapi tidak hanya itu saja, arti atau makna kejujuran adalah kata-kata yang mengandung tiga unsur :
Kejujuran adalah apa yang Anda akan katakan adalah benar.
Kejujuran adalah apa yang akan Anda katakan adalah sesuatu yang baik.
Kejujuran adalah apa yang Anda ingin beritahukan adalah berguna.
Jadi pengertian atau makna kejujuran yang meyeluruh adalah jika apa yang anda beritahukan adalah hal yang benar, baik dan berguna.
Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi.
Ingat kisah sopir taksi yang mengembalikan uang penumpangnya?
Sia Ka Tian sangat terkejut saat menemukan kantong hitam berisi uang di kursi belakang taksinya, Senin (19/11/2012), setelah dia mengantar penumpangnya ke sebuah pusat perbelanjaan di Singapura.
"Saat saya melihat uang itu, saya berpikir, saya akan kena masalah. Saya yakin sedikitnya ada 200.000 dollar AS di dalam kantong itu," kata lelaki yang sudah 31 tahun mengemudikan taksi itu seperti dikutip harian The Straits Times.
Namun, saat dia membawa kantong berisi uang itu ke bagian barang hilang perusahaan taksinya, Comfort DelGro, betapa terkejutnya Tian dan kawannya setelah mengetahui jumlah uang itu.
"Uang itu tidak penting bagi saya. Itu bukan milik saya, jadi bagaimana bisa saya menggunakannya?" ujar Tian.
Pasangan wisatawan asal Thailand kemudian melaporkan kehilangan uang mereka ke perusahaan itu. Tian menunggu mereka saat wisatawan itu datang untuk mengambil uangnya yang sempat hilang itu.
Sebagai tanda terima kasih, Sia Ka Tian menerima sejumlah uang dari kedua turis itu yang tak ingin disebutkan namanya. Perusahaan juga berencana memberi penghargaan untuk Sia Ka Tian atas pelayanannya yang sangat baik itu.
"Menemukan hampir satu juta dollar AS tunai tak mungkin terjadi setiap hari dan kami bertanya-tanya berapa banyak orang yang tergoda untuk memilikinya," kata juru bicara perusahaan taksi Comfort DelGro, Tammy Tan.
"Kami sangat bangga kepadanya dan senang penumpang kami akhirnya menemukan uang mereka," lanjut Tammy.
Kejujuran, boleh jadi merupakan sebuah fenomena kehidupan yang luar biasa. Karena kejujuran sangat identik dengan kebersihan hati, kemurnian fikir, kegembiraan dalam menjalani kehidupan serta kejelasan dalan merancangkan masa depan. Kejujuran merupakan satu kebiasaan yang sangat langka, mungkin di dunia ini manusia jujur bakalan di awetkan, dido’akan panjang umur dan akan diberi banyak amanah.
Jujur, adalah sikap pribadi. Jujur diekspresikan dengan kata-kata atau sikap yang mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Tidak ditutupi atau bahkan tidak menipu. Jujur adalah energi positif. Menyatakan sesuatu dengan langsung, spontan, lugas, apa adanya akan menghemat waktu dan energi.

[Source : dari berbagai sumber]

6 November 2012

Ayah, Jangan Pukul Ibu lagi

Lingkungan kerja di kalangan kuli yang kasar juga sangat mempengaruhi otak dan psikologis Ayahku.

Kata-katanya sangat kasar dan tingkah lakunya pun tak berbeda jauh dari kata-kata kasarnya. Terlebih lagi dengan kondisi ekonomi keluarga kami yang kini sedang morat-marit membuat Ayahku semakin emosi.

Ayah yang dulu kukenal sebagai seorang figur yang lembut dan penyayang kini berubah menjadi seorang ayah yang keras. Raut wajahnya tak lagi menampakan wajah yang bijaksana setiap kali bertatap muka dengan beliau. 

Kini yang sering kulihat hanyalah guratan-guratan kemarahan dan angkara yang membuat kita anak-anaknya tak lagi berani menggaet tangannya untuk mengajaknya bercanda dan tertawa bersama.

Ibu yang kini lebih banyak diam mencoba menyembunyikan luka di hatinya. Luka lebam di badannya tak lagi seperih luka di hatinya. Mungkin aku bisa mengatakan bahwa Ayah bukanlah Ayahku yang dulu.

Entah mengapa beliau suka sekali memukul ibuku setiap kali pulang dari kerja. Kerja serabutan yang kini dijalani Ayah mungkin menjadi salah satu faktornya mengapa Ayah bisa bersikap demikian.

Bukannya lebih mendekatkan diri dan bertawakal pada Tuhan agar diberi jalan keluar yang terbaik, Ayah malah jauh dari Tuhan. Kerjaannya hanya berkumpul dengan teman-teman sebayanya yang tak jelas itu.

Pernah suatu malam, aku dan adik-adiku dikejutkan dengan suara rebut di ruang dapur sederhana rumah kami. Tak salah lagi. Dan benar prediksiku. Ayah murka lagi.
Jika Ayah sudah murka, tak ada lagi kedamaian di rumah kami. Perabot rumah sudah sangat biasa menjadi sasarannya. Namun yang paling tidak bisa diterima adalah perlakuan kasar Ayah sangat menyengsarakan ibu.
Timpaan pukulan yang membabi buta tak henti-hentinya dilayangkan ke wajah ibu yang sudah memar.

Belum sembuh luka lebam akibat tamparan Ayah kemarin kini ditambah lagi pukulan yang keras yang tepat ditujukan ke wajah ibu.
Aku pun menangis melihatnya dan berusaha menghentikan Ayah yang kini nampaknya menjadi gila. Ternyata bantuanku tak membuahkan hasil.
Ibuku masih saja diperlakukan tidak manusiawi oleh Ayah. Cercaan dan makian yang diarahkan untuk ibuku kini terlontarkan dar mulut Ayahku.
Aku salut dengan kesabaran ibuku. Dengan luka lebam yang kini membekas di wajahnya tak memperlihatkan sedikit pun rasa benci untuk Ayah. Baginya Ayah tetaplah Ayah.
Ayah yang telah menemani hidupnya. Ayah sebagai pria yang sudah memberinya anak-anak seperti kami. Beberapa hari setelah kejadian itu, Ayah hanya diam di tempat tidurnya.

Ibu pun heran, setiap kali ibu menanyakan kabar Ayah, Ayah selalu diam tak merespon. Yang kami lihat hanyalah guratan kesedihan yang kini sedang menghinggapi Ayah.
Ternyata sehari setelah kejadian Ayah memukuli Ibu ayah tiba-tiba terhuyung dan jatuh seketika. Petugas puskesmas pun memvonis bahwa Ayah terkena stroke dan dinyatakan lumpuh total. Betapa kagetnya kami saat itu.

Kini keadaan Ayah sangat memprihatinkan. Beliau hanya bisa terbaring lemas tanpa daya karena semua anggota tubunhya lumpuh total. Ibuku sangat luar biasa.

Beliau sabar dan sangat ikhlas dengan kondisi Ayah yang tak berdaya itu. Dengan tulus ibu merawat ayah dengan penuh kasih sayang tanpa menghiraukan kekasaran-kekasaran yang dulu pernah dilakukan oleh Ayah.

Yang ada di benak ibu saat ini  hanyalah merawat Ayah dengan penuh cinta selama masih diberi kesempatan. Kini aku tahu apa cinta sejati itu sebenarnya. Cinta sejati adalah cinta yang tidak mengenal dendam.

2 November 2012

Cinta Itu Terluka

Ilustrasi
Cinta itu membuat hati kita terluka. Kita diuji oleh Allah melalui orang yang kita cintai dengan disakiti, dikhianati agar kita bisa menjadi orang yang kuat dan sabar dalam menjalani kehidupan. Itulah cinta yang membuat hidup kita terluka namun kita tetap tangguh, tidak peduli badai yang menimpa hidup ini. Ada seorang Ibu yang berkenan bershodaqoh di Rumah Amalia sebagai wujud tanda syukur kepada Allah yang telah mengembalikan keutuhan keluarganya, beliau bertutur bahwa awalnya ia dikhianati oleh suami yang juga seorang pengusaha sukses, cintanya kepada istrinya luntur karena tergoda oleh perempuan lain. keluarganya berakhir dengan perceraian dan suami meninggalkan ia serta anak-anaknya.

Seiring waktu pengusaha ini ternyata menikah dengan seorang perempuan yang hanya ingin mendapatkan materi dan kekayaannya semata. Setahun kemudian kekayaannya terkuras habis, pertengkaran demi pertengkaran terjadi terus menerus. Konflik rumah tangga seolah tiada akhir dan membuatnya sakit keras dan masuk rumah sakit. Ditengah sakit, istrinya tidak mau merawat dan mengurus suaminya. Dalam kondisi sakit dan sendiri si pengusaha itu menghubungi mantan istrinya. Dia mencoba mengabarkan keadaan dirinya yang tengah terbaring di Rumah Sakit. ‘Aku sakit, Tolong aku Ma, aku menyesal dan minta maaf telah melukai hatimu.’ tuturnya. ‘Istrimu kemana?’ ‘Entahlah, kami sudah berpisah,’ jawabnya melemah.

Ibu itu menangis mendengar kabar mantan suaminya yang tengah terbaring di Rumah Sakit. Tanpa berpikir panjang Ia mengambil uang di buku tabungan. Anaknya sempat melarang, ‘Ma, untuk apa Mama peduli dengan ayah yang tidak bertanggungjawab, kita juga hidup susah Ma. Ayah telah membuat hidup kita menderita.’ Dengan berlinangan air mata sang ibu kemudian menjelaskan kepada anaknya. ‘Dek, Mama tahu adek menderita karena ayah. Ingatlah dek, Allah mengajarkan kita agar kita sebagai hambaNya membalas keburukan siapapun dengan kasih sayang.’ Anak dan ibu terlihat berdua menangis karena relung hatinya dipenuhi kasih sayang Allah.

Sang Ibu lalu bergegas ke Rumah Sakit untuk merawatnya, laki-laki yang pernah mengkhianati & melukai hatinya. Kesembuhannya membawa berkah. Menyadarkan untuk rujuk kembali bersama anak dan istrinya. Di Rumah Amalia bersama suami dan anaknya telah menemukan kebahagiaan kembali, wajahnya memancarkan kedamaian ditengah keluarga yang telah utuh kembali. Itulah cinta yang membahagiakan. Bila kita mengerti, kita tidak akan mengeluh menjalani kesulitan hidup ini. karena cinta Allah kepada kita senantiasa hadir dan menguatkan kita dalam menghadapi badai kehidupan.

‘Dan sungguh akan Kami beri cobaan kepadaMu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun’. (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.’ (QS. al-Baqarah : 155-157).

29 May 2012

Solusi yang Mengundang Masalah

Rumania terkenal sebagai koridor kejahatan ATM di Eropa. Maka itu, di salah satu kotanya, yaitu Timisoara, disediakan solusi yang diharapkan bisa bermanfaat bagi semua warga di kota tersebut. Namun, solusi ini bukannya memudahkan para nasabah bank, melainkan mempersulit dan bahkan cenderung menciptakan masalah baru.
 
Di kota tersebut, ada satu ATM yang letaknya sekitar 1,8 meter dari permukaan tanah. Jika kita ingin menggunakannya, kita perlu membawa tangga sendiri karena di tempat itu tidak disediakan tangga atau alat bantu apa pun.

Sementara itu, di seberang jalan tak jauh dari ATM "jangkung" itu terdapat sebuah ATM yang letaknya sangat rendah, sehingga kita harus berlutut bila ingin memakainya. Posisi ATM yang berbanding terbalik itu telah memicu kemarahan sekelompok konsumen di Rumania.

"ATM yang tinggi itu harusnya dilengkapi tangga ke atas tapi pihak bank lalai dalam perencanaannya. Sedangkan, pihak bank yang memasang ATM pendek itu beralasan mesin itu harus dipasang seperti itu karena mereka tercatat di gedung itu dan satu-satunya akses (untuk meletakkan ATM itu) adalah melalui sebuah jendela basement," ungkap seorang penasihat konsumen di Rumania.

atmpendek atmtinggi

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month