Share Info

Showing posts with label Sekitar Puasa. Show all posts
Showing posts with label Sekitar Puasa. Show all posts

9 April 2020

Tradisi Puasa di Berbagai Negara

Ilustrasi orang berdoa
Ramadan akan tiba beberapa hari lagi. Di Indonesia, tradisi masyarakat dalam menyambut dan mengisi Ramadan berbeda-beda tiap daerah. Bagaimana masyarakat di negara-negara lain dalam menyambut dan mengisi kegiatan maupun adat selain puasa di bulan Ramadan?

Melansir Egypttoday berikut tradisi yang terjadi di beberapa negara dalam menyambut maupun mengisi bulan Ramadan.

Arab Saudi

Tradisi puasa di Mekkah
Saat Ramadan, Arab Saudi dipenuhi para peziarah dari dalam maupun luar negeri yang hendak melakukan umrah. Umrah di bulan Ramadan diyakini sebagai pembersihan spiritual.

Bagi orang asing yang ingin mengunjungi Arab Saudi selama bulan Ramadan, mereka harus mengikuti beberapa aturan misalnya tidak merokok dan tidak makan dan minum apalagi di tempat umum. Aturan ini diharapkan untuk menghormati umat muslim yang sedang berpuasa. Siwak atau miswak banyak digunakan oleh masyarakat Arab Saudi selama Ramadan dan menggunakannya sebagai alternatif menggantikan sikat gigi menghilangkan bau mulut.


Mesir

Tradisi puasa di Mesir
Di Mesir, umat muslim menyambut Ramadan dengan lentera berwarna-warni yang berliku-liku yang melambangkan persatuan dan sukacita. Tradisi penerangan in diyakini telah digunakan untuk menerangi jalan Khalifah Moezz Eddin di Kairo pada tahun 969 Masehi.

Pakistan

Tradisi puasa di Pakistan
Pada hari-hari terakhir Ramadan, perempuan dan laki-laki Pakistan berlatih Chaand Raat, sebuah tradisi dimana para perempuang mengenakan pakaian terbaik mereka dan pergi ke pasar untuk membeli gelang dan sepatu yang bagus. Para laki-laki, juga dengan pakaian terbaik mereka, melemparkan kertas ke perempuan-perempuan dengan nomor telepon mereka tertulis di dalamnya. Keluarga muslim di Pakistan juga berkumpul untuk membuat pesta dan menikmati makanan bersama seperti kurma.

Turki

Tradisi puasa di Turki
Selama Ramadan, masyarakat Turki biasanya memasak makanan tradisional dengan bahan rempah-rempah asli Turki seperti gullac dan pastirma. Namun, buka puasa masyarakat Turki biasanya dimulai dengan sedikit zaitun, kurma, keju Turki, roti pilihan yang biasa disebut pide dan kopi Turki hangat.

Menjelang sahur, 2000 penabuh genderang mengenakan pakaian Ottoman akan menyebar menggunakan Davul di seluruh kota Turki untuk membangunkan para muslim yang hendak berpuasa.

Iran

Orang-orang utara Iran menyambut Ramadan dengan berpuasa tiga hari sebelum puasa dimulai. Mereka juga memastikan untuk mempraktikkan sebuah tradisi Khatme Al-Anam dimana mereka memastikan membaca surat Al-An’am sebelum makan sahur.

Azerbaijan

Tradisi puasa di Azerbaijan
Di Azerbaijan Timur, pada Jumat terakhir Ramadan, para wanita dan gadis berkumpul untuk menjahit tas untuk keluarga mereka. Mereka memasukkan sejumlah uang ke dalam tas dan menutupnya hingga Ramadan berikutnya. Mereka percaya bahwa tas itu akan melindungi mereka dari kemiskinan.

Adapun orang-orang Selatan Shiraz, pada Jumat terakhir Ramadan, mereka akan pergi ke masjid untuk berdoa. Doa biasanya dihadiri oleh gadis-gadis yang ingin menikah, pasangan yang sudah menikah tetapi belum memiliki anak, dan wanita hamil yang ingin membawa keberuntungan dan kebahagiaan bagi bayi mereka.

Uni Emirat Arab

Tradisi puasa di Uni Emirat Arab
Melansir dari Musafir, dua minggu sebelum Ramadan, masyarakat Uni Emirat Arab biasanya merayakan Haq Laila, yaitu anak-anak berkeliling lingkungan mengumpulkan permen dan kacang-kacangan dalam tas jinjing yang disebut Kharyta.

Kuwait

Tradisi puasa di Kuwait
Hampir sama dengan Uni Emirat Arab, di Kuwait bel pintu akan berdering pada dua minggu sebelum Ramadan dan perayaan tiga hari dimana anak-anak akan mengetuk pintu rumah tetangga dan bernyanyi serta diberi imbalan permen dan coklat.

Maldives

Di negeri kepulauan ini, Ramadan disebut sebagai Roadha Mas. Tradisi yang paling menonjol saat Ramadhan yaitu setelah berbuka puasa dimana seorang penyair diminta untuk membacakan Raivari atau puisi terkait Ramadan.

Lebanon

Tradisi puasa di Libanon
Di Lebanon, sebuah meriam akan ditembakkan setiap hari selama bulan Ramadan menandai waktu berbuka puasa. Tradisi ini dikenal sebagai Midfa Al-Iftar.

Albania

Tradisi puasa di Albania 
Anggota komunitas muslim Roma dari kekaisaran Ottoman ini mengumumkan awal dan akhir puasa dengan lagu-lagu tradisional. Setiap hari selama bulan Ramadan, orang-orang Albania akan berbaris naik turun di jalan-jalan memainkan lodra, drum silinder buatan sendiri yang dilapisi kulit domba atau kambing. Keluarga muslim akan sering mengundang mereka ke dalam rumah mereka untuk memainkan balada tradisiona merayakan awal puasa.

Maroko

Tradisi puasa di Maroko
Saat Ramadan, seorang penjaga kota yang dikenal sebagai nafar akan berkeliling di sekitaran Maroko menggunakan pakaian tradisional gondola, sandal, dan topi. Nafar dipilih oleh penduduk kota untuk menyusuri jalan sambil meniup klakson membangunkan orang untuk sahur.

[Source : www.egypttoday.com]

2 July 2015

Tempat-Tempat Terlama dan Terpendek Durasi Puasanya

Puasa di Eropa Utara mencapai 22 jam

Umat muslim di Skandinavia, wilayah dekat Kutub Utara, serta seluruh area Inggris Raya, mengalami waktu puasa terpanjang di dunia, karena Ramadan kali ini tiba saat musim panas. Sesuai aturan berpuasa dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari, maka warga Eropa sisi utara ini harus menahan lapar dan haus sepanjang 22 jam.

Di Inggris, subuh dimulai pada pukul 02.18 waktu setempat. Sementara maghrib baru tiba pukul 21.22.



Ya, itulah tempat-tempat di dunia dengan durasi puasa terpanjang, terpendek. Di manapun kita berada, tetap lah harus menjaga puasa agar tidak batal seraya senantiasa memohon tambahan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semoga Dia mempermudah ibadah Ramadhan kita semua. Amin ya Rabbal 'alamin.


Waktu dan Jadwal Shalat

Jika kita meneliti maksud Ayat-ayat Suci akan kita ketahui bahwa dalam menentukan waktu Shalat dan Puasa bukanlah harus didasarkan pada terbit dan terbenamnya Surya dipandang dari daerah kediaman manusia, tetapi hendaklah didasarkan atas rotasi Bumi di sumbunya yang menjadikan daerah tertentu pada suatu garis bujur dari utara ke selatan memiliki Legal Time, Waktu Setempat atau Standard Time yang bersamaan.

Penentuan jadwal Shalat pada zaman sebelum topan Nuh buat seperlunya sudah dibicarakan, kini marilah kita perbincangkan pula jadwalnya yang harus berlaku kini. Pertama kali hendaklah kita ketahui pembahagian daerah muka Bumi sehubungan dengan keadaan yang ditimbulkan oleh adanya lenggang zigzag Bumi ke utara dan ke selatan garis ekliptik, akibat dari berlakunya topan besar di zaman Nabi Nuh, dan kini disebut orang dengan pergantian musim. Sehubungan dengan musim itu dan sosial ekonomi umumnya, maka para ilmuwan telah membagi daerah geografis Bumi ini jadi:

1. Frigid Zone yaitu daerah dingin, meluas sejauh 23½ derajat dari masing-masing kutub Bumi di utara dan di selatan. Di daerah ini pergantian siang malam sangat lama, maksimal 6 bulan siang, dan 6 bulan malam di kutub utara mulai dari tanggal 22 September sampai dengan 20 Maret setiap tahun, waktu mana berlaku siang yang lama dikutub selatan.

2. Torrid Zone yaitu daerah panas, meluas sejauh 23½ derajat ke utara dan ke selatan garis ekuator Bumi. Di daerah ini lama waktu pergantian siang malam hampir sama panjang. Surya tepat berada di atas garis ekuator pada tanggal 21 Maret dan 21 September setiap tahun.

3.Temperature Zone yaitu daerah musim di luar kedua daerah di atas tadi, masing-masingnya seluas 43 derajat di belahan utara Bumi dan 43 derajat di belahan selatan. Daerah musim belahan utara mengalami waktu siang lebih panjang mulai tanggal 21 Maret sampai dengan 21 September setiap tahun, dan di belahan selatan mulai tanggal 22 September sampai dengan 20 Maret.

climatic zones
A. North Frigid Zone
B. North Temperate Zone
C. Torrid Zone
D. South Temperate Zone
E. South Frigid Zone

Tetapi pergantian musim berlangsung semakin pendek sebanding dengan berkurangnya lenggang Bumi ke utara dan ke selatan garis ekliptik keliling Surya, maka yang dicatatkan tadi ialah kejadian yang berlaku pada abad 15 Hijriah. Jika orang melihat Surya condong ke utara atau ke selatan sewaktu terbit dan terbenamnya, maka itu hanyalah tersebab gerakan zigzag dan Bumi ketika berkitar mengelilingi Surya.

Kejadian yang dilihat ialah sebagai berikut:

Pada tanggal 21 Maret, Surya tepat berada di atas garis ekuator sambil bergerak ke arah utara, dan tanggal 21 Juni Surya mencapai titik 23½ derajat dari ekuator, titik pada garis keliling yang dinamakan dengan Tropic of Cancer. Ketika itu berlaku siang terpanjang di belahan utara, sebaliknya malam terpanjang di belahan selatan. Dari tanggal 21 Juni Surya mulai bergerak kembali ke arah ekuator dan tepat berada di atas garis ekuator pada tanggal 21 September.

Pada tanggal 22 September Surya terus bergerak dari garis ekuator ke arah selatan dan sampai di garis yang dinamakan Tropic of Capricorn yaitu pada titik 23½ derajat dari ekuator keliling Bumi. Ketika itu tercatat tanggal 22 Desember waktu mana berlaku siang terpanjang di belahan selatan dan malam terpanjang di belahan utara. Selanjutnya Surya bergerak kembali ke arah ekuator Bumi dan sampai pada tanggal 20 Maret untuk pergantian musim selanjutnya. 

Dengan gerakan Surya yang tampak dari Bumi demikian, timbullah tiga lingkungan daerah tadi, baik di belahan utara maupun di belahan selatan yang lama waktu siangnya berlainan, begitu pula lama waktu malamnya. Disebabkan itu pula adanya empat pergantian musim di Temperature Zone yaitu yang dinamakan musim semi, panas, gugur, dan musim dingin. Perpindahan posisi Surya itu juga menimbulkan waktu subuh, maghrib, dan sebagainya tidak pernah tetap di suatu daerah. Kadang-kadang lebih cepat dari biasanya dan kadang-kadang lebih lambat.



Misalnya pada bulan Juni, penduduk Eropa Utara mengalami waktu subuh pada jam 03.00 menurut jam setempat, dan waktu maghrib pada jam 21.00. Tetapi pada bulan Desember, waktu subuh di sana berlaku pada jam 09.00 dan waktu maghrib pada jam 15.00. Sementara itu pada kedua bulan tersebut, penduduk Australia mengalami waktu subuh dan maghrib sebaliknya.


Dari catatan perkembangan sejarah semenjak abad ketujuh Masehi dapat diketahui bahwa masyarakat Islam senantiasa menentukan waktu Shalat dan Puasa berdasarkan terbit dan terbenamnya Surya dipandang dari daerah kediaman masing-masing. Pada pokoknya hal ini dilakukan menurut pengertian yang mereka peroleh dari Ayat 2/187 dan atas kepatuhan melaksanakan ibadah menurut contoh-contoh yang berlaku tanpa penganalisaan lebih teliti pada ketentuan ALLAH yang termuat pada Ayat Suci lainnya dalam Alquran. Padahal cara demikian dibeberapa daerah permukaan Bumi tidak praktis bahkan tidak mungkin dipakai.


Tidak praktis dalam daerah Temperature Zone dan tidak mungkin dipakai di Frigid Zone di mana waktu terbit dan terbenamnya Surya terlalu lama, bahwa siang dan malamnya mencapai waktu 6 bulan bergantian.
Bagaimana pula kedua macam ibadah itu dapat dilaksanakan didaerah kutub Bumi menurut waktu terbit dan terbenamnya Surya tampak di sana, padahal di daerah tersebut pergantian siang malam hanya satu kali dalam setahun. Hal inilah di antara sekian sebab yang menjadi halangan bagi setengah penduduk Bumi untuk menerima dan mematuhi ajaran Islam yang disampaikan kepada mereka.


Kini jelaslah bahwa cara menentukan waktu yang dipakai selama ini telah gagal untuk seluruh permukaan Bumi, sebagai suatu pertanda atas salah pengertian tentang ketentuan sebenarnya yang terkandung dalam Alquran, sementara ALLAH menyatakan hukum-NYA praktis logis, tak pernah bertantangan antara sesamanya, begitupun dengan keadaan dan kewajiban yang berlaku disemua tempat di seluruh zaman.


Penyelesaian dalam hal ini ialah dengan memperhatikan maksud Ayat-ayat Suci
 

Jika kita meneliti maksud Ayat-ayat Suci akan kita ketahui bahwa dalam menentukan waktu Shalat dan Puasa bukanlah harus didasarkan pada terbit dan terbenamnya Surya dipandang dari daerah kediaman manusia, tetapi hendaklah didasarkan atas rotasi Bumi di sumbunya yang menjadikan daerah tertentu pada suatu garis bujur dari utara ke selatan memiliki Legal Time, Waktu Setempat atau Standard Time yang bersamaan.

Semua Ayat Suci tersebut memberikan keterangan adakalanya Surya condong ke selatan hingga penduduk belahan utara Bumi jadi kegelapan. begitu pula sebaliknya. Walaupun dalam keadaan demikian, kegelapan ditimpakan atas daerah siang, tetapi bukanlah berarti melenyapkan waktu siang, 36/40. Bukanlah malam mendahului siang walaupun cuaca mulai gelap, sebaliknya juga bukanlah siang mendahului malam sekalipun Surya tampak terbit lebih cepat daripada biasanya. Panjang waktu siang dan malam senantiasa bersamaan setiap hari di sepanjang zaman, harus didasarkan atas waktu daerah ekuator pada garis bujur tertentu.



Condongnya Surya ke arah selatan atau ke utara dari daerah ekuator sebagai dinyatakan oleh Ayat 16/40 dan 21/31 adalah disebabkan lenggang Bumi ke utara dan ke selatan garis ekliptik sewaktu mengorbit keliling Surya. Keadaan itu tidak stabil dan tidak tetap, bahkan semakin berkurang panjang waktunya dari abad ke abad, dan akhirnya akan habis waktu mana tidak ada lagi pergantian musim, terbit dan terbenamnya Surya akan berlaku pada waktu bersamaan sepanjang tahun di suatu daerah tertentu. Masa depan begini akan mengulangi tahun tanpa musim seperti pada manusia purbakala.


Maka untuk menentukan waktu Shalat yang lima kali sehari, begitupun untuk menentukan waktu imsak dan berbuka puasa, hendaklah dipakai Waktu yang ditimbulkan rotasi Bumi sendiri atau Standard Time seperti pada zaman Purbakala sebelum topan Nuh, bukan waktu yang dirubah oleh adanya pergantian musim. Jika waktu yang ditimbulkan pergantian musim ini dipakai akan terdapatlah perlantungan dan ketidakadilan di antara penduduk Bumi, bahkan juga bertantangan dengan maksud Firman ALLAH yang semestinya dijadikan sumber ketentuan hukum.


Karena itu pakailah waktu daerah tertentu di Ekuator keliling Bumi menurut keadaan yang berlaku pada tanggal 21 Maret atau 22 September waktu mana Surya tepat berada 90 derajat di atas daerah itu. Itulah Standard Time yang dipakai bagi daerah yang ada pada garis bujurnya di belahan selatan dan utara tanpa menghiraukan apakah Surya sudah terbit atau sudah terbenam dipandang dari daerah itu. Standard Time tidak pernah dirusak oleh adanya pergantian musim, itulah waktu yang sebenarnya adil untuk dipakai tanpa merugikan penduduk belahan utara atau selatan, dan itulah sebenarnya Waktu Tengah yang dimaksud dalam Ayat 2/143.


Banyak sekali yang dapat dipahami dari istilah Ummat Tengah di atas ini seperti mengenai politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya, namun diantaranya adalah mengenai Waktu untuk jadwal Shalat serta imsak dan berbuka puasa. Ayat 2/143 tidaklah bertantangan dengan maksud Ayat 2/187 yang nanti akan kita bicarakan pada Bab berikutnya, tetapi fajar dan malam yang tercantum pada Ayat 2/187 adalah fajar dan malam yang dimaksudkan pada Ayat 2/143 atas dasar Waktu Tengah. Waktu ini ialah Waktu yang berlaku pada ekuator Bumi sebagai biasanya disebut dengan Standard Time.



Orang tidak boleh memakai waktu yang ditimbulkan pergantian musim di daerah kediaman di sembarang tempat dari mana Surya kelihatan terbit di timur dan terbenam di barat pada waktu-waktu yang selalu berubah terutama sekali di daerah kutub Bumi. Pemakaian waktu demikian bukan saja keliru tetapi juga menjuruskan alam pikiran kepada menyatakan hukum Islam tidak praktis dan akhirnya menimbulkan penantangan terhadap perintah ALLAH. Sebagai contoh di bawah ini dikutipkan catatan perbedaan waktu terbit dan terbenamnya Surya dibandingkan dengan Standard Time kota Oslo di Norway pada tahun 1973 Masehi. Standard Time di sini ialah Waktu Tengah yaitu waktu yang berlaku pada Ekuator pada garis bujur yang sama dari utara ke selatan permukaan Bumi.


Code:
Perbedaan posisi Surya dipandang dari Oslo tahun 1973.

 Tanggal:             Surya terbit,         Surya terbenam,
                          Pada jam:             pada jam:

20 January         08.40                 15.43
20 February       07.25                 17.03
20 March          06.02                 18.15
20 April             04.30                 19.30
20 May             03.12                 20.43
20 June             02.35                 21.27
20 July              03.14                 20.58
20 August         04.26                 19.39
20 September   05.39                 18.07
20 October       06.51                 16.38
20 November   08.10                 15.21
20 December    09.01                 14.54
Kota Oslo terletak pada 11° garis bujur dan 60° lintang utara dimana Surya tampak terbit dan terbenam pada jam yang senantiasa berbeda sepanjang tahun. Kalau kebetulan orang berpuasa di sana pada tanggal 20 Juni maka dia harus mulai imsak pada kira-kira jam 01.20 malam karena waktu itulah fajar di sana tampak terbit di ufuk timur, dan berbuka puasa atau Shalat Maghrib pada jam 21.27 malam karena ketika itulah Surya terbenam di barat. Jadi orang itu hanya dapat makan minum selama 3 jam kurang yaitu dari jam 21.27 sampai dengan jam 01.20. Hal ini sangat menyusahkan hidupnya, maka tradisi mengenai jadwal Shalat selama ini nyata tidak praktis di Oslo karena didasarkan atas terbit dan terbenamnya Surya tampak di sana.

Sebaliknya kalau penduduk di Oslo itu kebetulan berpuasa pada tanggal 20 Desember, maka dia memulai imsak pada jam 07.46 pagi karena waktu itulah fajar menyingsing di ufuk timur, dan dia akan berbuka puasa pada jam 14.54 begitupun melakukan Shalat Maghrib karena waktu itu Surya terbenam di ufuk: barat. Jadi pada hari itu dia berpuasa hanya selama 7 jam 8 menit saja yaitu perbedaan yang menyolok dibanding waktu puasanya pada bulan Juni selama 21 jam.


Tegasnya, jadwal Shalat ditentukan oleh gerak putaran Bumi dari barat ke timur yang menyebabkan Surya terbit di timur dan terbenam di barat dengan mana daerah yang ada di suatu garis bujur mempunyai waktu yang sama dan selatan ke utara. Bukanlah jadwal Shalat ditentukan oleh lenggang Bumi ke utara dan ke selatan garis ekliptik hingga menimbulkan waktu siang dan malam berlainan lamanya sepanjang tahun. Maka orang yang kebetulan berada di kutub utara atau di kutub selatan di mana pergantian siang malam hanya sekali dalam setahun disebabkan oleh lenggang Bumi tadi, hendaklah memakai Waktu Standar tertentu di mana satu hari berlaku 24 jam sebagai yang berlaku di Torrid Zone dan di Temperature Zone. Dan dalam satu hari itu dia wajib mendirikan Shalat yang lima kali menurut jadwalnya.

Shalat Zuhur berlaku sesudah Surya berada di titik Zenith di daerah Ekuator garis bujur tertentu. Shalat 'Ashar sesudah Surya mencapi titik 135 derajat di ufuk barat. Shalat Maghrib sesudah Surya selesai terbenam di barat. Shalat Isya berlaku sesudah syafak atau sinar Surya hilang di ufuk barat, dan Shalat Subuh berlaku sesudah fajar tampak menyingsing di ufuk timur dipandang dari daerah Ekuator itu.

Ketentuan jadwal Shalat demikian juga harus berlaku di permukaan planet lain yang masing-masing lama harinya berlainan, sebanding dengan kecepatan rotasi planet itu sendiri di sumbunya. Jika benarlah Jupiter berotasi selama 9 jam 50 menit maka satu hari di planet itu adalah 9 jam 50 menit waktu mana Shalat lima kali sehari wajib dilakukan. Jadwal Shalat seperti pada penduduk Bumi tadi juga berlaku bagi penduduk Jupiter atau bagi pendatang baru dari planet lain. Demikian pula hukum hidup sebagaimana ditentukan ALLAH dalam Alquran, harus berlaku di semua tempat, di planet mana pun, di segala zaman. Kini peningkatan ilmu sedang bergerak maju pada mana ketentuan hukum yang ada dalam Alquran memberikan petunjuk logis dan akan nyata kebenarannya pada masa tertentu sesuai dengan pembukaan yang diizinkan ALLAH:

Sebagai tambahan perlu rasanya disampaikan bahwa kalau diperhatikan susunan angka-angka yang ditunjuk jarum jam dalam pemakaian sehari-hari akan tampaklah ketimpangan yang selama ini jarang sekali diperhatikan orang. Ketimpangan itu ialah perbedaan antara angka yang ditunjuk jam untuk menentukan waktu, dan posisi Surya ketika itu jika dipandang dari daerah tertentu. Orang menyatakan Surya terbit pada jam 6, sementara jarum jam juga menunjuk pada angka 6, kemudian berpindah menunjuk kepada angka 7, 8, 9, 10, 11, 12. Seterusnya jarum menunjuk pada angka 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 waktu mana Surya terbenam di barat. Demikian jarum jam menunjuk pada angka 12 di waktu tengah malam dan pertengahan siang, dan menunjuk angka 6 di waktu Surya terbit dan terbenam. Jadi siang hari dimulai dari jam 6 diakhiri dengan jam 5, begitu pula permulaan dan akhir malam. Itulah ketimpangan yang sebenarnya tidak perlu berlaku.




Kalau orang konsekuen dan menyesuaikan angka penunjuk jarum jam dengan keadaan sehari-hari, tentulah dia menyatakan Surya terbit pada jam 1 sebagai angka permulaan sesuai dengan permulaan siang, dan diakhiri dengan angka 12, begitu pula untuk permulaan dan akhir malam, atau tepatnya bermula dari jam 00.01 dan berakhir pada jam 12.00, hingga satu kali siang atau malam masing-masingnya berlangsung selama dua belas jam sesuai dengan keadaan dan penyebutan.

Dalam Alquran tidak disebutkan angka-angka jam karena hal itu hanyalah persoalan teknik yang harus disusun manusia, tetapi sering dinyatakan adanya pergantian siang malam yang ditimbulkan oleh rotasi Bumi 360 derajat disebut dengan HARI, maka hendaklah masing-masingnya dimulai dengan angka 1 sebagai angka permulaan, dan tidaklah tepat jika dikatakan malam dimulai dengan angka 06.01 dan disudahi dengan angka 06.00.

Namun semua itu bukanlah hukum yang harus berlaku dalam masyarakat. Yang kita kemukakan hanyalah ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan tradisi, dan cara bagaimana memperbaikinya hingga penunjukan jarum jam sesuai dengan keadaan wajar. Ketimpangan demikian adalah satu dari pengaruh Bani Israil yang semenjak lama menyusup ke dalam semua lapisan masyarakat hingga menjadi tradisi tanpa kewajaran. Demikianlah pula penamaan hari yang 7 dalam seminggu yaitu Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at sesuai dengan ajaran Islam, tetapi hari ke-7 dinamakan Saptu yang artinya "istirahat" sesuai dengan kebiasaan Yahudi dengan kemarahan ALLAH.

Begitu pula penanggalan tahunan yang menurut Ayat 9/36 harus didasarkan pada orbit Bulan, tetapi karena adanya pengaruh Bani Israil, tanpa kesadaran, orang-orang Islam banyak sekali yang memakai penanggalan musim yang dinyatakan ALLAH pada Ayat 9/37 sebagai hal yang menambah pada kekafiran. Mereka berbulan baru, padahal Bulan di angkasa tampak purnama yang seharusnya dinyatakan pertengahan bulan dalam penanggalan.

Mereka berbulan baru tanpa dasar dan alasan, kecuali penyebutan tradisional sebagai penyimpangan dari kewajaran. Begitu pula dalam bertahun baru menurut penanggalan musim atau Solar Year yang umumnya disebut tahun Masehi, mereka tidak memiliki dasar dan bukti. Jika penanggalan itu benar-benar cocok dengan pergantian musim yang menjadi dasar penyusunannya, maka permulaan tahun atau tahun barunya bukanlah pada 1`Januari tetapi 23 Desember yaitu tanggal permulaan Surya tampak bergerak dari Tropic of Capricorn di belahan selatan Bumi ke arah Tropic of Cancer di belahan utara.




Kalau misalnya penanggalan itu didasarkan pada orbit Bumi keliling Surya, maka tahun barunya juga tidak tepat di sepanjang zaman, karena orbit Bumi 360˚ keliling Surya bukanlah berlaku selama 365˚¼ hari pada abad 15 Hijriah, tetapi 370 hari dengan bukti bahwa posisi bintang-bintang di angkasa setiap tanggal 1 Januari dari tahun ke tahun senantiasa terlambat 4˚ 48'. Jadi pada setiap tahun barunya ternyata Bumi bukan berada permulaan orbitnya, bukan dimulai dari waktu Bumi berada di titik Prihelion orbitnya, dan bukan pula dimulai waktu Bumi berada pada derajat permulaan geraknya keliling Surya. Hal ini akan kita perbincangkan berikut di belakang ini. 


Kesimpulan yang dapat diambil dari semua pembicaraan tadi ialah bahwa penanggalan yang benar adalah penanggalan Lunar Year atau Qamariah sesuai dengan petunjuk dan keredhaan ALLAH. Penamaan hari ke-7 setiap minggu seharusnya bukan Sabtu atau "Istirahat" yang dibenci ALLAH tersebut pada Ayat 2/65 dan 4/47 tetapi hendaklah bernama Sab'u atau Sabi'. Satu hari ialah satu kali putaran Bumi di sumbunya 360˚ selama 24 jam waktu mana setiap orang wajib melakukan Shalat Fajar, Zuhur, 'Ashar, Maghrib dan Isya walaupun sewaktu berada di kutub Bumi di mana pergantian siang malam hanya sekali dalam satu tahun.

Perbedaan waktu terbit dan terbenamnya Surya tampak di suatu daerah bukanlah tersebab perubahan kecepatan rotasi Bumi tetapi terjadi karena ditimbulkan oleh gerak zigzag Bumi dalam orbitnya keliling Surya yang menyebabkan adanya pergantian musim, maka jadwal Shalat yang berlaku pada daerah suatu garis bujur dari utara ke selatan haruslah didasarkan pada Standard Time atau jadwal Shalat yang berlaku di Equatornya.


Dengan begitu selesailah jawaban atas tantangan yang ditujukan kepada Ulama Islam selama ini mengenai jadwal Shalat serta imsak dan berpuasa di luar daerah Ekuator Bumi.

Sumur Zam-zam Pernah Menghilang

Lokasi Sumur Zam-zam
Sumur Zam-zam pernah lenyap dari kota Mekah, dan tanda-tandanya hilang dengan berlalunya hari dan bergantinya malam. Yaqut Al-Hamawi berkata, "Dengan bergantinya hari, sehingga banjir dan hujan membuat telaga Zam-zam lenyap, dan tidak ada tanda-tanda untuk mengetahuinya lagi.".

Sumur Zam-zam rupanya ditimbun dan dihilangkan tanda-tandanya oleh suku Jurhum disaat mereka akan meninggalkan Mekah. Namun, Abdul Muthalib menggali kembali sumur Zam-zam. Ia menggalinya saat ia memangku jabatan sebagai pemberi makan dan minum jamaah Haji. 

Suatu ketika ia didatangi seseorang di dalam tidurnya, lalu orang tersebut berkata, "Galilah Thayyibah (Sumber Kebaikan)". Abdul Muthalib bertanya, "Apa itu Thayyibah?". 
Keesokan harinya ia didatangi lagi dan orang itu berkata, "Galilah Barrah! (Sumber Manfaat).". Abdul Muthalib berkata, "Apa itu Barrah?", keesokan harinya ia didatangi lagi dan orang itu berkata, "Galilah Al-Madhnunnah (Sesuatu yang dikikirkan)?". Abdul Mutholib berkata, "Apa itu Al-Madhnunah?". Lalu orang tersebut berkata, "Galilah Zam-zam!". 
 "Yaitu sumur yang tak pernah kering airnya, dan tak pernah habis, engkau akan dapat memberi minum berapa pun jumlah jamaah haji. Terletak di antara kotoran dan darah (tempat penyembelihan hewan untuk sesajian Ka'bah). Tepatnya di mana seekor gagak yang bersayap putih mematuk (hewan sesajian). Telaga ini nantinya menjadi kebanggaanmu dan anak keturunannya.

Dan Memang burung gagak bersayap putih selalu mematuk hewan sesajian di tempat darah dan kotoran. Lalu keesokan harinya Abdul Muthalib membawa cangkul dan berlindung. Ia berangkat bersama anaknya Al-Harits. Di hari itu anaknya, mereka terus bertakbir dan berkata: "Ini Sumur Ismail".
Orang-orang Quraisy berkata, "Ikutkan kami menguasainya!". Abdul Muthalib berkata, "Aku tidak akan melakukannya, ini khusus untukku. Kalau kalian tidak puas, carilah orang untuk mengadili kita!".


Mereka berkata, "Wanita tukang tenung di bani Sa'ad. "Lalu mereka berangkat menuju wanita tersebut. Di tengah perjalanan mereka dilanda kehausan yang sangat dan mereka nyaris mati.
Maka Abdul Muthalib berkata, "Demi Allah! Sikap pasrah ini kelemahan, kenapa kita tidak berusaha mencari air? Semoga Allah memberi kita Air. Merekapun bersiap-siap berpencar mencari air, dan Abdul Muthalib mulai menunggang kendaraannya. Ketika Ontanya bergerak, terpancar dari bawah kuku ontanya air tawar, sekonyong-konyong Abdul Muthalib bertakbir, dan para sahabatnya ikut bertakbir lalu mereka semuanya meminum air tersebut."

Dan mereka berkata kepada Abdul Muthalib, "Orang yang menginformasikan tentang sumur Zam-zam telah memutuskan perkara kita, Demi Allah! Selama-lamanya kami tidak akan menghujatmu." Lalu mereka kembali dan merelakan Zam-zam dikuasai oleh Abdul Muthalib.    

23 June 2015

Kisah Nyata: Anak Hafal Al-Qur'an Bangunkan Ayahnya yang Koma

Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi para pembaca, khususnya mereka yang memiliki anak-anak yang sedang tumbuh berkembang, agar mereka dididik menjadi zuriat yang sholeh dan sholehah, keturunan yang menjadi cahaya mata.

Ilustrasi
Kisah ini diceritakan seorang ibu rumah tangga di salah satu kota kecil di Arab Saudi. Tentang bagaimana anak yang sholeh merupakan keberkahan bagi kedua orangtuanya.

Sang ibu bercerita bahwa ia memiliki seorang anak perempuan bernama Asma, Ia seorang gadis kecil yang cerdas, dan hafal al-Qur'an.

Sejak kecil, suami ibu tersebut terbaring koma di rumah sakit. Kejadian itu bermula ketika pada tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H (sekitar tahun 1975 M), mobil ayah Asma mengalami kecelakaan, mobil yang ditumpanginya terbalik saat pulang dari tempat kerja di Timur Saudi menuju Riyadh. Kecelakaan itu begitu hebat hingga membuatnya langsung koma. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Tim dokter spesialis yang menanganinya mengatakan, sang suami mengalami kelumpuhan otak. 95 persen otaknya telah mati.

Asma tidak mengerti kondisi tersebut. Setiap kali Asma bertanya ke mana ayahnya, sang ibu sealu selalu merahasiakannya.



Sang ibu bercerita:

Ketika Asma bertanya ke mana ayahnya, ku hanya menjawab ayahnya suatu saat nanti akan kembali.

Tapi, kini Asmaa sudah berusia 15 tahun. Ia juga sudah hafal Al Qur’an dan terlihat lebih dewasa dari usianya. Maka kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Sementara sang suami, ia masih terbaring koma. Aku terus menungguinya. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Ujian kesetiaan datang, ketika lima tahun berlalu dan suamiku belum juga sadarkan diri. Sebagian orang menyarankan aku menikah lagi dengan didukung oleh rekomendasi seorang Syaikh.

“Tidak,” jawabku saat itu. “Selama suamiku belum dikubur, aku akan tetap menjadi istrinya.”

Aku pun kemudian berkonsentrasi untuk mendidik Asma, di samping bergantian dengan keluarga menunggui suami di rumah sakit. Aku kemudian memasukkan Asma ke sekolah tahfidz hingga jadilah ia hafal Qur’an.

Sejak tahu ayahnya koma di rumah sakit, Asma selalu bersama denganku ke sana. Ia mendoakan dan membacakan ayat-ayat ruqyah untuk ayahnya, ia juga bersedekah untuk ayahnya.

Hingga suatu hari pada tahun 1410 (tahun 1990), Asma meminta izin menginap di rumah sakit. “Aku ingin menunggui ayah malam ini” pintanya dengan nada mengiba. Aku tak bisa mencegah.

Malam itu, Asmaa duduk di samping ayahnya. Ia membaca surat Al-Baqarah di sana. Dan begitu selesai ayat terakhirnya, rasa kantuk menyergapnya. Ia tertidur di dekat ayahnya yang masih koma. Tak berapa lama kemudian, Asma terbangun. Ada ketenangan dalam tidur singkatnya itu. lalu, ia pun berwudhu dan menunaikan shalat malam.

Selesai shalat beberapa raka’at, rasa kantuk kembali menyergap Asma. Tetapi, kantuk itu segera hilang ketika Asmaa merasa ada suara yang memanggilnya, antara tidur dan terjaga.

“Bangunlah… bagaimana mungkin engkau tidur sementara waktu ini adalah waktu mustajab untuk berdoa? Allah tidak akan menolak doa hamba di waktu ini”

Asma pun kemudian mengangkat tangannya dan berdoa. “Yaa Rabbi, Yaa Hayyu…Yaa ‘Adziim… Yaa Jabbaar… Yaa Kabiir… Yaa Mut’aal… Yaa Rahmaan… Yaa Rahiim… ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada di bawah kehendak-Mu dan kasih sayang-Mu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya… Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim… sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…




Ya Allah… sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh… Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”
Sebelum Subuh, rasa kantuk datang lagi. Dan Asma pun tertidur.

“Siapa engkau, mengapa kau ada di sini?” suara itu membangunkan Asma. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari sumber suara. Tak ada orang.

Asma terkejut! Subhanallah... Betapa bahagia dirinya, ternyata suara itu adalah suara ayahnya. Ia sadar dari koma panjangnya. Begitu bahagianya Asma, ia pun memeluk ayahnya yang masih terbaring. Sang ayah kaget.

“Takutlah kepada Allah. Engkau tidak halal bagiku” kata sang ayah.

“Aku ini putrimu ayah. Aku Asma” tak menghiraukan keheranan sang ayah, Asma segera menghubungi dokter dan mengatakan apa yang terjadi.

Para dokter yang piket pada pagi itu hanya bisa mengucapkan “Masya Allah”. Mereka hampir tak percaya dengan peristiwa menakjubkan ini. Bagaimana mungkin otak yang telah mati kini kembali? Ini benar-benar kekuasaan Allah.

Sementara sang ayah Asma juga heran mengapa dirinya berada di situ. Ketika Asma dan ibunya menceritakan bahwa ia telah koma selama tujuh tahun, ia hanya bertasbih dan memuji Allah. “Sungguh Allah Maha Baik. Dialah yang menjaga hamba-hambaNya” simpulnya.



[Source : putramelayu.web.id]

19 June 2015

Matahari Bersinar 24 Jam, Muslim di Kutub Utara Siapkan Aturan Baru di Bulan Puasa

Matahari Bersinar 24 Jam, Muslim di Kutub Utara Siapkan Aturan Baru di Bulan Puasa
Umat Muslim di kawasan Artik akan mendapatkan aturan baru selama bulan Ramadhan. Aturan baru bakal diterbitkan karena matahari negara-negara di kawasan itu akan bersinar selama 24 jam.

Salah satu asosiasi umar Muslim Swedia mengungkapkan aturan baru sedang digarap untuk menyambut bulan puasa yang akan dimulai tanggal 18 Juni. Seperti umat Muslim di belahan dunia lainnya,  umat Muslim di wilayah sekitar kutub utara sejatinya juga diwajibkan menahan tidak makan sampai magrib.

Namun, hanya tiga hari setelah hari pertama puasa, wilayah tersebut akan mengalami siang paling panjang dalam setahun. Pada hari itu, matahari akan terus bersinar sepanjang hari dan hanya terbenam sebentar di selatan.

"Kami mendapatkan dua pertanyaan yang sulit, bukan hanya kapan waktu untuk berbuka puasa di belahan utara ini, tapi juga kapan kami harus memulai puasa (sahur)," kata Mohammed Kharraki, juru bicara Asosiasi Islam Swedia, seperti yang dilansir situs Daily Mail.

"Kami seharusnya mulai puasa sebelum matahari terbit saat subuh. Tapi tidak ada subuh sesungguhnya selama bulan-bulan musim panas di Stockholm," dia menambahkan.

Pada tahun-tahun sebelumnya, umat Muslim di wilayah sub-Artik seperti Kiruna disarankan untuk berbuka puasa pada jam yang sama dengan orang-orang di wilayah selatan. Namun sebuah pertemuan imam-imam Swedia dan Eropa di Swedia bagian utara mnggu ini merekomendasikan pendekatan yang baru.

"Sekarang kami harus mengacu pada saat-saat terakhir matahari betul-betul terbit dan terbenam (sebelum puasa)," kata Kharraki. Ia menambahkan, panduan detil tentang aturan baru tersebut sedang dikerjakan dan ada kemungkinan aturan itu termasuk buka puasa lebih dini di sore hari bersamaan dengan umat Muslim di wilayah lain di muka bumi.

Muslim di Rusia Benar-Benar Diuji, Matahari Tak Tenggelam, Puasa pun 21-22 Jam

Muslim Rusia
Keyakinan penduduk muslim St Petersburg, Rusia, benar-benar diuji setiap bulan Ramadan tiba. Bagaimana tidak, mereka harus berpuasa selama 22 jam setiap harinya. Selama Juni ini, matahari di St Petersburg tidak kunjung tenggelam. Penduduk setempat menyebut bulan ini sebagai white night atau malam yang terang. Sebab, matahari terus bersinar.   
 
"Di St Petersburg, penduduk muslim melihat hal ini sebagai ujian. Warga muslim yang berpuasa harus menunggu 21-22 jam untuk berbuka. Mereka hanya punya waktu makan selama tiga jam," ujar salah seorang staf di Pusat Kerohanian Muslim St Petersburg dan Regional Barat Laut Rusia yang tidak disebutkan namanya. 


Dia menegaskan, bagi seorang muslim, berpuasa sudah menjadi kebiasaan. Ibaratnya seperti bangun tidur dan menggosok gigi. "Islam adalah cara hidup kami," tambahnya Kamis (19/6).

White night di St Petersburg ini biasanya berlangsung mulai akhir Mei hingga awal Juli. Kondisi tergelap di St Petersburg hanya berupa senja. Tidak pernah ada data resmi jumlah penduduk muslim di kota ini. 

Namun, pada Idul Fitri tahun lalu, Kementerian Dalam Negeri Rusia menyebutkan ada 42 ribu warga muslim yang melakukan salat Id di dua masjid besar di kota ini.

Setiap penduduk muslim di St Petersburg mendapatkan jadwal buka puasa dan sahur. Beberapa penduduk imigran muslim yang bekerja di kota ini memilih tidak berpuasa demi keselamatan mereka. Sebab, mayoritas merupakan pekerja kasar. Sejatinya penduduk St Petersburg tidak perlu berpuasa selama itu. 

Sebab, beberapa literatur menyebutkan bahwa waktu puasa penduduk di kutub bisa merujuk pada terbit dan tenggelamnya matahari di Makkah ataupun di kota maupun negara muslim terdekat.

"Saya memiliki pekerjaan yang berat sehingga saya tidak bisa berpuasa. Siang terlalu panjang," ujar Shakir, salah seorang pekerja di perusahaan baja asal Tajikistan Shakir.

St Petersburg bukan satu-satunya kota yang memiliki siang terpanjang. Penduduk muslim di Kota Reykjavik, Islandia, juga harus berpuasa selama 22 jam. Sementara itu, kota yang waktu puasanya paling pendek adalah Punta Arenas, Cile. Di kota tersebut, waktu puasa hari pertama kemarin hanya 9 jam 43 menit.

Di London, Inggris, waktu puasa menjadi perdebatan. Di kota ini, penduduk harus menahan lapar sekitar 19-20 jam. Akademisi muslim London dari kelompok antiekstremis Quillian Foundation Usama Hasan mengeluarkan fatwa bahwa waktu puasa diperpendek dengan mengacu ke Makkah. Yaitu, sekitar 12 jam saja.


[Source : The Guardian]

16 June 2015

Di Negara Ini Matahari Bersinar 24 Jam, Bagaimana Puasa-nya?

Ilustrasi
Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba. Umat muslim di seluruh dunia akan melaksaakan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Mereka tidak makan dan minum sejak matahari terbit sampai matahari tenggelam.

Namun kondisi ini menimbulkan masalah untuk warga yang tinggal di negara-negara Lingkar Arktik. Pasalnya, pada bulan ramadhan tahun ini matahari akan bersinar sepanjang hari di wilayah mereka. Waktu matahari tenggelam hanya dua jam saja.

Seperti dilansir dari Dailymail, Jumat (12/06) di Swedia misalnya, negara yang berada di kawasan Lingkar Arktik, asosiasi Muslim di Swedia  kini tengah berupaya mencari solusi untuk itu. Menurut Juru bicara Asosiasi Islam Swedia, Mohammed Kharraki, tiga hari memasuki ramadhan Swedia akan memasuki musim panas, artinya matahari akan bersinar selama 22 jam per hari.

“Saat itu, ada dua pertanyaan sulit yakni kapan Anda boleh berbuka puasa di bagian utara dan kapan waktunya Anda memulai puasa,” kata Kharraki.

Masih menurut Kharraki, di tahun-tahun sebelumnya umat Muslim di kota-kota sub-Arktik seperti Kiruna disarankan untuk berbuka puasa di waktu yang sama seperti warga yang tinggal di area selatan Arktik. Namun baru-baru ini dalam pertemuan para Imam Swedia dan negara Eropa lainnya, di bagian utara Swedia membuat pendekatan yang berbeda.

Kharraki mengatakan, aturan baru tengah disusun oleh asosiasi negara pan Eropa dan Dewan Eropa untuk Fatwa dan Penelitian. Dalam panduan itu akan mengatur waktu untuk berbuka puasa lebih awal di malam hari, agar sesuai dengan waktu berpuasa umat Muslim di belahan dunia lainnya.

Selain itu, terdapat bagaimana cara memberlakukan aturan baru dan saran bagaimana umat Muslim bisa berpuasa untuk menghindari jatuh pingsan akibat kekurangan makanan dan minum.

30 July 2013

Tingkatan Puasa Menurut Imam Ghazali

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan tingkatan dalam berpuasa.Shaumul umumshaumul khushus, danshaumul khushusil khushus. Ketiganya bagaikan tangga yang selalu menarik siapapun untuk menaikinya agar sampai di tempat yang lebih tinggi. 

Sudah separoh lebih perjalnan kita di bulan suci ini. Sudahkah kita meningkatkan ketaqwaan kita kepada-Nya? demikianlah seharusnya. Bukankah taqwa itu sendiri yang menjadi tujuan diwajibkannya puasa bagi umat muslim. Taqwa yang lebih mengutamakan penghindaran diri dari berbagai larangannya, bukan hanya sekedar menta’ati perintahnya. Oleh karena itu capaian nilai tqwa dalam puasa berada dalam satu rumpun dengan kesabaran. Karena pada hakikatnya bertaqwa adalah bersabar terhadap segala ujian.  

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin mengatakan bahwa posisi ibadah puasa adalah seperempat bagian dari iman. Artinya barang siapa yang tidak puasa maka imannya kurang sepermpat. Hal ini merupakan kesimpulan dari dua sabda Rasulullah saw yang pertama berbunyi “ الصوم نصف الصبر” puasa merupakan setengah dari kesabaran. Dan hadits kedua berbunyai “ الصبر نصف الإيمان ” sabar adalah setengah dari iman. Oleh karena itulah Imam Ghazali menyimpulkan bahwa puasa adalah seperembpat bagian dari iman.  

Dua hadits tersebut sebenarnya tidaklah hanya menunjukkan bagian puasa dalam iman, tetapi juga menghubungkan puasa, kesabaran dan iman. Jika dicermati maka sesungguhnya ketiganya memiliki hubungan yang erat. Sabar adalah inti dari puasa. Kesabaran dalam menahan segala larangan dhahiriah yang dapat membatalkan puasa, dan larangan batiniyah yang mengurangi makna puasa. Keduanya  merupakan ujian yang berat. Sekaligus juga merupakan barometer kwalitas keimanan seseorang.
Mengukur barometer iman seseorang bukanlah hal yang sulit, meskipun iman adalah soal kepercayaan dan kepercayaan tersimpan rapat-rapat dalam dunia batin. Akan tetapi, iman itu membutuhkan aktualisasi diri dalam dunia kenyataan. Tidak mungkin seseorang mengaku iman dan cinta kepada Allah swt, tetapi ia menenggelamkan diri dalam selimut ketika Allah memanggilnya melalui adzan. Bukankah orang yang cinta akan segera menyambut panggilan yang dicintainya?

Begitulah kemudian Imam Ghazali mencoba mengklasifikasikan secara bertingkat model puasa manusai. Ia menerangkan bahwa puasa itu ada tiga tingkatan, pertama shaumul umum,  yang bisa diterjemahkan dengan puasa biasa-biasa saja (puasanya orang awam). Yaitu puasa dengan menahan lapar, dahaga dan syahwat, menjaga mulut dan alat kelamin dari hal-hal yang mebatalkan puasa. 

Kedua shaumul khushus, atau puasa spesial (puasanya orang khusus) yaitu puasa dengan menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badan dari dosa dan ma’shiyat. Dan ketiga shaumul khususil khusus, atau puasa istimewa (puasanya orang istimewa) yaitu puasa dengan menahan hati dari keraguan mengenai hal-hal keakhiratan, dan menahan pikiran untuk tidak memikirkan masalah kedunyawiyahan, serta menjaga diri dari berpikir selain Allah swt. 

Maka, standar ke-batal-an puasa istimewa ini adalah apabila telah terbersit dalam hati pikiran selain Allah, apalagi memikirkan harta kekayaan yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat kelak. Bahkan menurut kelompok ketiga puasa dapat terkurangi nilainya, dan dianggap batal apabila didalam hati tersirat keraguan atas kekuasaan-Nya. Misalkan dengan meniatkan diri untuk bekerja dan mencari penghidupan sepanjang siang hanya karena khawatir tidak bisa mendapat sesuatu yang dipakai berbuka puasa, sungguh hal ini sama artinya dengan tidak percaya kepada janji Allah, bahwa Allah Yang Maha Pemberi Riziqi itu sungguh-sungguh menghormati dan memuliakan orang yang berpuasa. Tidak mungkin ada orang berpuasa yang tidak berbuka. 

Jika selama dua minggu lebih ini kita berpuasa seperi puasanya orang yang biasa-biasa saja (shaumul umum) maka di sisa puasa yang ada marilah kita bersma-sama meningkatkan puasa kita menju tingkatan puasa spesial (shaumum khushus), dengan penuh harapan dan keyakinan akan mampu meraih puasa istimewa (shaumul khusushil khusus) itulah puasanya para nabi, shiddiqin, dan muqarrabin.

Tidak, tidak, janganlah kita pesimis setelah mendengar bahwa puasa tingkat ketiga adalah puasa para nabi, dengan membandingkan diri ini yang masih hina-dina tak mengerti persoalan agama, jangan. Jangan dulu psimis. Karena sesungguhnya tingakatan-tingkatan ini diciptakan sebagaimna tangga yang mempermudah manusia mendaki ke tempat yang lebih tinggi. Ketiga tingkatan ini harus menjadi pendorong diri kita menjadi individu dengan kadar puasa yang berkwalitas, seperti puasanya para nabi. 

Untuk itulah kemudian al-Ghazali dalam lanjutan keterangannya memberikan tratmen atau gaiden mendaki ketiga tingkatan itu, ia kemudian jelaskan bahwa puasa spesial (shaumul khusus) itu adalah puasanya shalihin. Yang dapat digapai dengan menyempurnakan enam hal, 

Pertama menjaga mata dan penglihatan dari segala hal yang dicela agama dan dibenci Allah swt, dan menghindarkan dari melihat segala hal yang akan melalaikan hati kita ingat dari Allah. Semisal menyibukkan mata dengan menonton film selama puasa, bermain game, memanjakan mata dengan pemandangan duniawi di seputar mall dan mini market yang yang menggiurkan dan seterusnya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw pernah bersabda: 


النظرة سهم من سهام إبليس من تركها خوفا من الله آتاه الله إيمانا يجد حلاوته في قلبه
Pandangan adalah saham bagian dari sahamnya iblis, barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberikannya iman dalam hati yang manis. 

Kedua, dengan menjaga lisan dari berbohong, menggunjing, berbicara jorok dan berbagai keburukan lisan lainnya, serta memperkerjakan lisan untuk dzikir kepada Allah swt dan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Inilah makna puasa bagi  lisan. 

Ketiga, mencegah pendengaran dari hal-hal yang dibenci Allahs swt. diantara perkara yang dilarang adalah mendengarkan peergunjingan. Baik yang menggunjing maupun yang mendengarkannya terkena hukum haram. Begitu buruknya perkerjaan mennggunjing dan mendengarkan gunjingan hingga Allah SWT berfirman. 


 سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram

Keempat, mencegah anggota badan yang lain seperti tangan, kaki, dan perut dari makanan-makanan syubhat ketika berpuasa. Puasa bukanlah menahan makanan halal dan berbuka dengan yang haram, tetapi menahan diri dari makanan yang haram. Diantara menjaga makanan haram adalah menghindarkan diri dari memakan daging manusia sesama saudaranya. Artinya, menghindarkan diri dari menggunjing orang lain. 

Kelima, menjaga diri untuk tidak berlebih-lebihan ketika berbuka puasa. Meskipun makanan itu sudah jelas halalnya. Karena diantara hal yang dibenci Allah swt adalah perut yang dipenuhi makanan halal. Hal ini dianggap menghambat diri memecahkan hawa nafsu. 

Keenam, hendaklah setelah berbuka puasa seseorang menjadi bermuhasabah, mengintrospeksi diri adakah puasa yang diakukannya hari ini diterima, atau ditolak? Sungguh hal ini akan menjadi pelajaran dan membawa seseorang lebih berhati-hati di hari kemudian. 


[Source : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com]

11 July 2013

Bahayanya Tidur Setelah Sahur

Tidur setelah sahur memang tidak haram. Namun, dari sisi ilmu gizi dan kesehatan tidur setelah makan sangat tidak dianjurkan bahkan dalam kategori dilarang karena dampak buruknya sangat banyak.

Pramono, ahli gizi dari Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin dalam tulisannya kepada Tribunnews.com mengatakan dampaknya antara lain perut akan jadi buncit karena saat tidur tubuh jadi hemat energi dan secara otomatis lemak akan mudah tertimbun di perut kita.

Juga akan terjadi refluks, karena makanan belum dicerna maka bisa berbalik dari lambung ke kerongkongan (atau biasa disebut refluks) karena pengaruh gravitasi akibat kita tidur.

"Jika terjadi refluks maka asam lambung akan naik dan melukai kerongkongan. Karena mengalami luka, kerongkongan akan terasa panas seperti terbakar, dan mulut pun terasa pahit," tulis Pramono.

Normalnya isi lambung/maag akan kosong kembali sekitar dua jam setelah kita makan, tapi kalau posisi tubuh kita berada pada posisi baring, maka proses pengosongan lambung/maag akan terhambat/terlambat. Hal ini akan mengakibatkan timbulnya gangguan pencernaan seperti mencret atau sembelit tergantung bahan makanan yang kita makan.

Meningkatnya resiko terkena stroke juga bisa saja terjadi kalau kita tidur setelah sahur. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa orang yang memiliki jeda paling lama antara makan dan tidur mempunyai risiko terendah untuk mengalami stroke.

Jika seandainya kita masih ingin tidur setelah makan sahur atur saja minimal 2 jam setelah makan sahur baru tidur.

Tak heran jika  banyak ulama berpendapat bahwa tidur setelah makan sahur sebaiknya tidak di lakukan .
Nabi Muhammad SAW telah memberika tuntunan bahwa makan sahur jangan ditinggalkan dan dianjurkan untuk diakhirkan waktunya jadi sampai menjelang subuh atau waktu imsyak sehingga secara logika maka setelah sahur maka langsung dilanjutkan ibadah Sholat Subuh dan jika setelah sholat subuh dilanjutkan dengan wirid yang cukup panjang maka matahari telah terbit dan sudah waktunya untuk bekerja.

Rasulullah SAW tidak langsung tidur setelah makan. Beliau beraktivitas terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah dicerna.

Caranya bisa juga dengan shalat. Rasulullah SAW bersabda,"Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah SWT dan shalat, serta janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras."(HR Abu Nu'aim dari Aisyah r.a.).

Nah, masih nekad tidur setelah sahur?

8 July 2013

Untuk Anda yang berjumpa Ramadhan

Wahai saudaraku ku tulis ini sebagai nasehat untukku dan untukmu tentang apa yang harus kita persiapkan atau kita lakukan bagi kita yang berjumpa di bulan Ramadhan ada beberapa pesan dan nasehat untuk kita semua dengan harapan kita melewati ramadhan ini lebih berarti.


Pesan pertama: Syukuri nikmat berjumpa dengan bulan Ramadhan

Diantara nikmat yang besar dimana Allah memberikan kesempatan kepada kita berjumpa di bulan ramadhan ini, bulan yang penuh berkah/kebaikan kesempatan kita untuk beramal, maka syukuri wahai para hamba Allah nikmat ini. Coba kita pikirkan siapa yang sudah tidak bersama kita lagi ada bulan ramadhan ini, namun Allah masih memanjangkan umur kita sehingga kita masih mempunyai kesempatan untuk bertaubat kepada Allah dan beramal shalih. Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:
  
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitungnya.” (an-Nahl:18)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Pergunakanlah yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. al-Hakim no 7846 – an-Nasa’i no 11832 dan dishahhihkan oleh syaikh Al-Albani di Shahih Al-Jami’ no 1077)

Wahai saudaraku siapa tahu ramadhan ini adalah ramadhan terakhir kita, bukankah ramadhan yang dulu ternyata ramadhan yang terakhir untuk si fulan atau si alan yang telah meninggal, atau belum tentu kalau kita berjumpa pada ramadhan yang akan datang kita dalam keadaan sehat, bisa menunaikan ibadah puasa, shalat terawih atau ibadah yang lainnya. Oleh karena itu perhatikanlah hal ini wahai saudaraku. Jangan engkau sia-siakan atau engkau biarkan ramadhan ini berlalu begitu saja.

Pesan kedua: Allah menciptakan kita hanya untuk beribadah kepada-Nya.

Marilah kita isi bulan ini dengan banyak beribadah kepada Allah, dengan melaksanakan puasa, shalat terawih, membaca al-Qur’an, memperbanyak shadaqah disamping ibadah-ibadah yang kita lakukan sehari-hari. Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat:56)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan kerena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no 38 dan Muslim no 1817)

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang mendirikan (shalat) malam pada bulan tramdhan kerena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no 37 dan Muslim no 1815)
Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم َحرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (al-Qur’an -ed) maka baginya satu kebaikkan, dan setiap satu kebaikkan dilipatgandakan sepuluh kali lipat kebaikkan yang sama dengannya, aku tidak mengatakan bahwa “alif lam min” satu huruf, akan tetapi “alif” satu huruf, “lam” satu huruf  dan mim “satu huruf” (HR. at-Tirmidzi no. 2910 dan dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam al-Miskaat : 2173 dari Abdullah bin Mas’ud)

Pesan Ketiga: Ibadah tidak diterima oleh Allah kecuali dengan memenuhi dua syarat, ikhlas dan mutaba’ah (sesuai dengan apa yang dicontohkan/dituntukan oleh Rasulullah).
Tentu seorang muslim mengingikan ketika menjalankan perintah Allah sesuai dengan apa yang Allah inginkan, sehingga amalannya terhitung sebagai amalan shalih yang kelak menjadi pemberat timbangan amalan kebaikannya. Amalan shalih tidak diterima kecuali memenuhi dua syarat.

Pertama : Ikhlas

Sesorang harus ikhlas dalam ibadahnya hanya mencari ridha Allah, mengharap pahala Allah.
Allah Subhanahu wata’aala berfirman:

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (Az-Zumar : 3)

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (Az-Zumar : 11)

Kedua : Mutaba’ah (sesuai dengan apa yang dicontohkan/dituntukan oleh Rasulullah).
Seseorang dalam melaksanakan ibadah kepada Allah harus sesuai dengan apa yang dicontohkan atau diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara yang baru didalam urusan (agama) kami ini apa yang tidak termasuk didalamnya maka amalannya tertolak “ (HR. Bukhari no 2697 dan Muslim no 4589)

Pesan Keempat: Mengilmui Tatacara Ibadah yang Ingin Kita Lakukan
Agar amal ibadah kita sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya inginkan adalah dengan menuntut ilmu, belajar bagaimana taca cara shalat yang benar, tata cara puasa yang sesuai dengan Rasulullah dan ibadah lainnya. Berkata Asy-Syaikh Al ‘Allamah Shaleh Al Fauzan Hafidazhullah: “Demikanlah seharusnya seorang muslim untuk mempelajari hukum shaum (puasa), dan berbuka, waktu dan sifatnya. Sehingga dapat melaksanakan puasa sesuai dengan apa yang disyariatkan, sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, sehingga puasanya benar dan diterima disisi Allah, maka yang demikian itu (mempelajari puasa –pent) termasuk perkara yang penting sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ” (Ahdzab : 21) (Al Mulakhos Al Fiqhi : 306)

Pesan Kelima: Bersemangat Untuk Menganjurkan/Mengarahkan Kepada Kaum Muslimin kepada kebaikan.
Antusias dan semangat kaum muslimin untuk melakukan kebaikan, ibadah dan ketaatan kepada Allah secara umum meningkat di bulan ramadhan, maka dari itu gunakan kesempatan ini untuk mengarahkan atau menganjurkan kepada mereka perkara-perkara kebaikan. Ajak mereka ngaji di pengajian yang membahas permasalahan agama dengan pemahaman yang benar, dakwahin mereka dengan cara memberi buku atau majalah yang membahas tentang ilmu syar’i atau cara yang lainnya.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengajak kepada pentunjuk (kebaikan –ed), maka dia selalu mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun” (HR. Muslim no. 6980)

Pesan Keenam: Meninggalkan Perkara-Perkara atau Majelis-Majelis yang Tidak Bermanfaat.
Majelis-majelis ghibah, mengadu domba, permainan-permaian sia-sia seperti amin karambol, catur atau yang lainnya. Sungguh bulan ramadhan adalah bulan dimana kita harus meningkatkan amal ibadah serta ketaatan kita kepada Allah. Bukan malah melewatkan dengan perkara yang haram atau sia-sia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

”Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan jelek dan perbuatan jelek tidak ada kebutuhan Allah bagi hambanya untuk meninggalkan makan dan minum “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu)

Itulah diantara perkara yang penting untuk saya ingatkan untuk diri saya sendiri dan kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita dan kaum muslimin untuk mengisi bulan ramadhan ini dengan berbagai  macam ibadah dan amalan kebaikan.

[Source : http://tauhiddansyirik.wordpress.com]

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month