Share Info

Showing posts with label Pendidikan dan Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan dan Keluarga. Show all posts

16 January 2020

Kenapa Anak Perempuan Lebih Dekat dengan Ayahnya

Ilustrasi anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya
Tanpa disadari, biasanya seorang anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya. Bukan berarti tidak cinta dengan ibu, hanya saja porsi pada ayah lebih besar karena beberapa hal.

Apa saja? Ini dia alasan-alasan yang membuat anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya:

1. Sosok Superhero
Bagi seorang perempuan, sang ayah adalah pahlawan. Kepada ayahlah biasanya seorang anak perempuan meminta perlindungan. Secara fisik pun, ayah dapat lebih diandalkan daripada ibu saat menghadapi permasalahan yang mengandalkan fisik.

2. Tidak mengekang
Seorang ayah kebanyakan bersikap easy going. Sifat ayah yang memberikan kebebasan pada anaknya serta tak banyak aturan membuat anak perempuan dekat dengan ayahnya. Padahal, anak perempuan tak sadar bahwa seorang ayah juga memiliki kepedulian yang tinggi. Terlebih ketika si anak perempuan telah memiliki kekasih.

3. Lebih lembut pada anak perempuan
Berkebalikan dengan sifat seorang ayah yang keras pada anak lelaki, pada anak perempuan justru sikapnya lebih lembut. Hal ini dikarenakan anggapan bahwa anak perempuan harus dilindungi dan tak boleh dikasari. Sedangkan seorang ibu justru menuntut anak perempuan mesti bisa memasak, mengurus rumah, dan hal lainnya. Hal inilah yang membuat anak perempuan jadi lebih dekat pada sang ayah.

4. Lebih mengandalkan logika ketimbang emosi
Perbedaan mendasar antara pria dan wanita adalah pria lebih mengutamakan logika dalam mengambil keputusan. Hal ini membuat anak perempuan memiliki opsi lain saat mencari jalan keluar akan masalah yang ia hadapi.

5. Mengajarkan mandiri
Kedudukan seorang ayah sebagai kepala keluarga membuat ia biasa bekerja keras. Secara tidak langsung, hal inilah yang membuat seorang anak perempuan kagum pada ayahnya dan menjadikannya lebih dekat pada sang ayah. Kerja keras dan kemandirian tersebut secara tidak langsung akan dirasakan oleh sang anak ketika ia dewasa.

6.Bisa jadi teman curhat yang asyik
Saat membahas masalah percintaan, seorang ayah akan memberikan pandangannya dari sudut pandang seorang pria. Hal ini berbeda dari ibu yang lebih mengutamakan bagaimana seharusnya perempuan bersikap.

Source :[kaskus.co.id]

21 October 2013

Manfaat Anak Bermain dengan Teman Beda Usia

Karakter anak juga ditentukan dari aktivitas bermain yang dilakukan bersama teman-temannya. Perbedaan usia anak dengan teman sepermainan bisa memberikan pelajaran yang baru bagi si kecil.

Bermain dengan teman beda usia

"Berbeda usia teman, berbeda pula yang bisa dipelajari olehnya," ujar psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani atau biasa disapa Nina.

Nina menjelaskan, saat bermain bersama anak yang usianya lebih tua darinya, anak akan belajar banyak hal baru. Ini karena pengalaman temannya umumnya lebih banyak sehingga secara tidak langsung anak dapat belajar hal-hal yang sebelumnya belum dia ketahui.

Selain itu, anak pun mampu belajar untuk lebih patuh. Ini karena umumnya anak yang usianya lebih tua memiliki pengaruh yang lebih dominan sehingga diharapkan anak mampu belajar untuk menghargai aturan dan menekan egonya.

Sebaliknya, bermain dengan teman yang usianya lebih muda bukan berarti tidak ada hal yang dapayt dipelajari. Menurut Nina, anak bisa belajar memimpin dan mengayomi saat teman sepermainannya berusia lebih muda darinya.

Sementara itu, lanjut Nina, bermain dengan teman yang usianya sebaya membuat anak mampu menyeimbangkan perannya. Tidak hanya selalu patuh, tapi juga bisa menjadi pemimpin.

Bisa didampingi

Bermain dengan teman-teman memang bisa memberikan pelajaran berharga bagi anak. Namun menurut Nina, bukan berarti orangtua lantas membiarkannya begitu saja.

"Melibatkan diri dalam aktivitas bermain anak juga terkadang perlu dilakukan," ujar psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Hanya saja, tuturnya, bila ada konflik di dalam komunitas permainannya, orangtua sebaiknya hanya memberikan pendampingan bukan mengatur apa yang harus dilakukan. Ini agar anak belajar menentukan sikap dan memecahkan konflik yang membentuk karakternya.

Biarkan Anak Belajar dari Kesalahannya

Kesalahan merupakan hal yang wajar dilakukan siapa saja. Yang penting adalah bagaimana kita belajar dari kesehatan itu dan tidak mengulanginya lagi pada kemudian hari.
 
Ilustrasi
Hal ini ternyata berlaku juga bagi si kecil. Menurut psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, meski masih sangat belia, anak harus sudah diajarkan belajar dari kesalahan yang dia perbuat.

"Cara mengajarkannya, yaitu dengan membiarkan anak bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya," katanya saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Nina, sapaannya, mencontohkan, misalnya saat anak menumpahkan minumannya, seharusnya anak diminta untuk membersihkan kotoran yang diakibatkannya. Menurut Nina, memarahi anak atas kesalahannya tidak terlalu memberikan efek pembelajaran.

Namun, imbuhnya, saat meminta anak bertanggung jawab atas kesalahannya, orangtua juga perlu memberikan bimbingan. Caranya ialah dengan mendampinginya seraya mengajaknya berpikir apa kesalahannya.

"Dengan begitu, anak bisa mengerti kesalahannya dan berusaha tidak menguranginya lagi. Anak juga lebih mengerti apa yang perlu dia lakukan supaya tidak mengulangi kesalahan itu," jelas psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Lebih lanjut, Nina menuturkan, setelah anak bertanggung jawab atas kesalahannya, orangtua sebaiknya juga memberikan pujian. Pujian ini diperlukan agar anak mengerti apa yang dilakukannya sudah benar.

Pujian, kata Nina, akan membuat anak lebih percaya diri. Ini juga dibutuhkan untuk menghindari rasa minder setelah melakukan kesalahan dan dimarahi.

"Kesalahan bisa diperbaiki, intinya anak harus mengerti konsep itu," pungkasnya.

22 November 2012

Ayah, Peganglah Tanganku

Di alam liar, anak-anak dapat belajar banyak hal secara langsung tanpa membuat mereka bosan. Bahkan pelajaran-pelajaran tersebut umumnya tak ditemuinya di sekolah, namun sangat penting di dalam kelangsungan hidupnya kelak. Dan, tak hanya anak-anak saja yang bisa memetik pelajaran, orang tua juga banyak belajar hal-hal penting dalam hidupnya, lewat hal-hal kecil yang mungkin sering dilewatkannya dalam keseharian. Seperti cerita, berikut ini...

Suatu hari, seorang ayah mengajak anaknya bermain ke alam liar tak jauh dekat rumahnya. Dengan membawa bekal secukupnya, mereka berencana bermain di sebuah sungai indah yang airnya sangat jernih.

Uniknya, di sana banyak batang-batang dan akar-akar pohon yang menjuntai di atas air. Menjadikannya sebuah tempat yang sangat unik dan menarik. Di bawahnya, berlarian ikan-ikan kecil berwarna-warni. "Ini adalah sebuah pelajaran yang tepat sekaligus hiburan untukmu, anakku," ungkap ayahnya. Si kecil, Dewy-pun berlarian ceria di pinggir sungai itu.

"Ayah, mari kita menyusuri sungai ini. Di seberang sana banyak bunga-bunga indah. Aku ingin memetiknya untuk ibu," kata Dewy. Sang ayah mengangguk, "sebentar coba ayah lihat dulu apakah benar pohon ini kuat menahan kita berdua.." sang ayahpun kembali, menyetujui saran Dewy dan mengajaknya menyeberang sungai.

"De, coba pegang tangan ayah agar kamu tidak jatuh,"

"Tidak ayah. Kaulah yang seharusnya memegang tanganku,"

"Lho, apa bedanya?"

"Beda ayah. Jika aku yang memegang tanganmu, bila sesuatu terjadi padaku, maka tanganku bisa terlepas. Tetapi, bila kau memegang tanganku, aku percaya kau tak akan melepaskan aku sampai kapanpun, tak peduli apapun yang terjadi padaku..."

Dan begitulah, setiap anak-anak percaya bahwa setiap orang tuanya akan menjaga dan melindunginya setiap waktu. Menaruh harapan yang besar sekalipun mungkin suatu hal buruk mungkin saja terjadi pada mereka berdua. Tetapi, anak-anak tak pernah peduli akan hal itu. Selama ada orang tuanya, selama tangannya tetap digenggam, ia tetap akan merasa terlindungi.

Sudahkah Anda memberikan pelukan dan ciuman untuk anak Anda hari ini? Mari membuat mereka merasa dilindungi dan dicintai.



[Source : inertseven.info]

3 August 2012

Ragu

Ragu adalah penyakit yang sering menghantui banyak orang. Karena keraguannya, tidak sedikit manusia yang celaka lantaran tidak memiliki pegangan hidup yang jelas. Orang seperti ini bisa dikata melewati kehidupannya dengan kebingungan.

Membiasakan membiarkan keraguan datang, hanya menambah kerugian. Sebab hidup butuh kepastian dan keyakinan. Ragu untuk hal-hal yang belum pasti boleh saja, tetapi jangan untuk permasalahan yang sudah jelas. Apalagi yang menyangkut nasib dunia akhirat, termasuk di dalamnya pemilihan jalan dan sikap hidup.

Orang yang tak memiliki keyakinan gampang sekali diombang-ambingkan keadaan. Ketika orang lain ramai-ramai ke utara, ia dengan mudah ikut ke utara. Demikian juga ketika angin bertiup ke selatan, ia menurutinya tanpa banyak pertimbangan. Halal atau haram, baik atau buruk, tidak menjadi dasar keputusannya, karena ia sendiri tidak yakin bahwa yang halal akan membawa berkah dan kebaikan.

Orang yang ragu begitu gampang tersesat, ibarat orang berjalan tanpa petunjuk. Mana dan apa yang dituju tidak jelas, atau tidak tegas dijadikan acuan arah melangkah. Akhirnya di perjalanan terombang-ambing oleh arah telunjuk orang. Bila tak sampai, maka tidak bisa menyalahkan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

Karena tingkat bahayanya itu, Islam menuntun ummatnya supaya menghilangkan segala macam keraguan, utamanya dalam menentukan jalan hidup. Al-Qur'an menuliskan, di antaranya:

"Kebenaran itu dari Rabb-mu, maka janganlah kamu menjadi orang yang ragu-ragu." (Ali 'Imran: 60)

Islam menghendaki sikap totalitas dari ummatnya. Kalau muslim ya muslim, jangan kadang-kadang Islam kadang-kadang tidak. Yang 'kadang-kadang' ini dikatagorikan tetap sebagai bukan muslim. Penyerahan diri kepada Allah sebagai wujud pengakuan kehambaan, wajib dilakukan sepenuh hati. Tanpa itu tidak akan diterima sebab masih tersirat di sana penyerahan diri kepada selain Allah.

Manusia hidup memikul konsekuensi, apapun jalan yang dipilihnya. Dan akibat dari yang dilakukan seseorang, mutlak menjadi tanggung jawabnya sendiri di hadapan Allah. Karena itu sangat fatal bila semasa di dunia, seseorang tidak kunjung memiliki keyakinan hidup. Apa nanti yang akan dijadikannya pembela di pengadilan akhirat? Amalnya, tidak dilandasi niat yang pasti, karenanya dinyatakan batal. Ia sendiri juga tidak siap menghadapi kenyataan bahwa alam akhirat benar-benar ada, karena semasa di dunia ia kadang-kadang masih mengira bahwa hidup ini hanya sekali saja.

Yakinlah akan kebenaran Islam, karena hanya itu yang akan menyelamatkan manusia. Sama-sama belum pernah mati, alangkah baiknya bila kita mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Kepada yang masih ragu-ragu akan adanya hari akhirat, bukankah lebih baik meyakini keberadaannya sejak sekarang, ketimbang dikira tidak ada tetapi ternyata nanti setelah mati, benar-benar ada? Allah swt berfirman, "Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada percaya." (QS. Al-Mu'min: 59)

Islam mensyaratkan 6 hal untuk diyakini sebagai pondasi keimanan seseorang. Setelah percaya kepada Allah sebagai Rabb, percaya adanya malaikat Allah, percaya adanya kitabullah yang benar-benar diturunkan untuk manusia, percaya adanya hari akhirat, dan percaya kepada utusan-utusan Allah, manusia juga dituntut untuk percaya kepada ketentuan (taqdir) Allah. Kepercayaan ini wajib melekat dan benar-benar diyakini sepenuh hati. Sebab bila belum yakin bahwa Allah mengutus rasul di muka bumi, seseorang tidak akan bersedia mengikuti tuntunan Nabi. Bila belum percaya bahwa isi kitab Allah seluruhnya benar, tidak mungkin pula seseorang akan mengikuti petunjuk di dalamnya secara penuh.
Paling-paling hanya akan memilih yang enak-enak dan menghindari yang memberatkan. Orang demikian sama halnya dengan orang yang kafir, yang tegas-tegas seratus persen tidak percaya.

Sebagai penyakit, keraguan tergolong penyakit menular yang sangat mengganggu kesehatan ruhani. Banyak orang yang ragu akan kebenaran ini mewarnai kehidupan, kemudian menularkan keraguannya kepada yang lain. Akibatnya jumlah orang-orang yang ragu ini semakin banyak saja.

Ungkapan orang yang ragu dengan kehidupan akhirat sering indah dan memiliki daya tarik sangat kuat. Yang lebih berbahaya lagi kalau dilengkapi sejumlah bukti dan ayat untuk mengokohkan argumentasinya. Dengan kecenderungan manusia untuk mengejar kenikmatan dunia, menyebarkan keraguan akan akhirat menjadi lebih gampang. Manusia dibuat lupa, lewat berbagai kesibukan yang menghabiskan waktu dan tenaganya.

Kadang ungkapan itu terasa halus, namun tetap mengisyaratkan bahwa keraguan telah menjiwainya. Misalnya tentang perlunya keseimbangan dunia dengan akhirat. Penafsiran yang disodorkan tentang masalah ini, kadang cenderung tendensius dengan hanya mensyaratkan kaum muslimin hidup kaya di dunia agar bisa kaya di akhirat. Bahasa-bahasa yang sudah lazim terdengar, kita tidak boleh menjadi kelompok yang lemah sehingga akan dengan mudah dikalahkan musuh. Dengan kekayaan kita menjadi kuat.

Tentu saja pernyataan itu tidak keliru. Sebagai wujud tanggung jawab keummatan hal itu betul saja, apalagi Rasulullah melalui haditsnya juga lebih mencintai ummat yang kuat daripada yang lemah. Yang menjadi masalah adalah karena terlalu sedikitnya porsi hidangan yang mengantarkan kita kepada keyakinan tentang kehidupan yang abadi. Bahkan terkesan uraian-uraian yang ada menyangkut ke-akhiratan itu dibahas secara sambil lalu saja, seolah-olah masalah akhirat adalah masalah yang ringan dan bisa dilakukan secara sambilan.
Bukankah kita layak bersedih bila ancaman siksa kubur maupun kabar-kabar tentang hari akhirat ketika diceramahkan, malah diperlakukan seperti lelucon? Mengapa berita tantang adzab yang pedih ketika disampaikan kok jadi lucu? Mengapa tidak timbul rasa kekhawatiran dan kecemasan, justru yang muncul adalah tawa terbahak-bahak?

Bukankah di kalangan para sahabat, yang telah melakonkan agama ini pada periode awal, sekali mendengar kabar ini mereka menangis tersedu-sedu dan beristighfar, agar dijauhkan dari apa yang diancamkan? Pergeseran apa yang sedang terjadi dalam diri manusia? Tidak mungkin wahyunya yang keliru. Kebenaran wahyu sifatnya abadi sepanjang masa.
Ayat-ayat-Nya tetaplah suci dan mulia sampai akhir zaman. Yang perlu dilakukan peninjauan, adalah pada hati kita. Mungkin di sana telah bersarang berbagai jenis penyakit. Kita mulai tidak yakin akan ancaman siksa akhirat maupun pahala. Seakan-akan, karena selama di dunia kita senantiasa bisa hidup enak, di akhirat tidak akan ada lagi kesusahan.

Keseimbangan unsur dunia dengan akhirat tidak hanya diukur dari 'kesejahteraan'. Manusia dituntut untuk berupaya memenuhi tuntutan hidupnya semasa di dunia, tetapi jangan sampai melanggar aturan yang akan menyebabkannya celaka di akhirat. Manusia juga tidak boleh menelantarkan hidupnya hanya dengan alasan ingin mendapatkan akhirat, karena hal ini justru bertentangan dengan ketentuan Allah swt.

Bahaya munafik.

Pada awalnya, kelompok orang-orang yang ragu ini diketuai oleh Abdullah bin Ubay pada zaman Rasulullah. Kelompok mereka kemudian dikenal sebagai kaum munafik. Karena tidak punya pendirian, mereka juga disebut sebagai kelompok plin-plan. Menyatakan sebagai kafir tidak, tetapi membela kaum muslimin juga tidak, karena tidak yakin akan kemenangan maupun janji akhirat. Akhirnya, kelompok Abdullah bin Ubay menjadi pangkal perselisihan antar ummat Islam karena hembusan fitnah dan analisisnya atas hal-hal yang tidak diketahuinya secara pasti.

Tidak mustahil penyakit seperti itu juga menimpa diri kita. Sifat-sifat manusia yang serba pelupa, sombong, gemar pamrih sekalipun dhaif, memang sangat rentan terhadap penyakit keraguan dan (akhirnya) kekhawatiran. Karena informasi yang tendensius, seseorang bisa berubah fikiran dan menjadi ragu-ragu. Jangan-jangan... jangan-jangan.., begitu pertimbangan-pertimbangan yang muncul.

"(Ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, 'Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya.'"(QS Al-Anfaal: 49)

Mungkin secara terus-terang kita tidak pernah mengungkapkan 'pelecehan' seperti ini. Akan tetapi ungkapan yang bernada 'tidak akan beruntung kalau menekuni agama selalu' ini mengandung makna tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan oleh orang-orang munafik dan orang-orang berpenyakit hati dalam ayat di atas. Ini suatu kekeliruan yang hendaknya diluruskan.

"Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan sendau-gurau dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia." (QS Al-An'aam: 70)

Mari tinggalkan keraguan. Kita geluti dan seriusi agama Allah sebagai jalan satu-satunya menuju keselamatan dunia akhirat. Ingatlah di majelis pengadilan oleh para malaikat nanti, tidak akan ditanyakan warna apakah pakaian kita, pada pemilu memilih gambar apa, apakah kita sudah pernah mencicipi nasi kebuli atau belum, dan sebagainya. Yang harus kita pertaruhkan nantinya adalah nurani kita sendiri, yang didukung oleh sikap hidup dan konsistensi kita.

[Source : http://amier4exs.blogspot.com]

2 August 2012

Langkah Menjadi yang Terbaik di Kantor

Ini adalah tips singkat dan sederhana bagi anda yang ingin meraih sukses di kantor anda, sukses menjadi pimpinan, sukses merintis karir dan tentunya sukses meraih penghasilan yang banyak. Tidak perduli anda memulai karir anda dari level paling bawah, jika anda disiplin melakukan seperti yang saya sarankan berikut anda pasti akan BERHASIL.  ips ini berdasarkan pengalaman pribadi dan dijamin 98% akan berhasil juga pada anda, loh kok 98% ?? ya.. yang 2 persen itu saya dstribusikan pada Takdir Tuhan 1 % dan kesungguhan anda 1 %, Tidak bisa dipungkiri hasil akhirnya adalah Tuhan yang menentukan, saya tidak perduli agama anda apa, tapi kalau anda beragama pasti akan meyakini ini toh pun anda tidak bertuhan saya yakin anda percaya pada keberuntungan yang dalam hal inipun saya anggap keberuntungan adalah Tuhan anda . kesungguhan ?? ya 1 persen aja cukup..., Nah Silahkan simak dan buktikan

1. Tidak Perlu Menjadi Ahli
Ya anda tidak perlu menjadi ahli dalam semua hal, bahkan untuk hal-hal penting dalam bidang kerja andapun tidak perlu anda kuasai semua, bukankah ada staf khusus atau tenaga teknis yang tau lebih detail nantinya. Sikap mental seperti itu yang perlu anda pupuk terlebih dahulu. Trus bagaimana? Ingat ini... kalo perlu CATAT, yang perlu anda sering lakukan dengan konsisten (inipun anda g usah terlalu ahli) adalah mencatat dan mempelajari ritme kerja anda, perhatikan hal-hal detail yang ada, bahkan hal2 detail yang belum ada dan perlu ada dalam bidang kerja anda "harus" anda catat. catatan adalah hal yang abadi dan gampang kita ingat (ya iyalah... klo lupa tinggal buka dan baca aja ), syukur - syukur catatan anda terarsip dengan baik, suatu saat itu akan jadi kitab suci keberhasilan anda. Jadi catat semua, mulai kebiasaan anda, kebiasaan staff anda (klo ada... kn masih belum naik jabatan) dan kebiasaan boss anda, sekali lagi disini adalah kebiasaan dalam ritme kerja, klo kebiasaan lain yng diluar ranah kerja anda anggap juga perlu di catat... ya silahkan saja. Saran saya, Gunakan setengah dari waktu istirahat anda untuk mencatat.

2. Lakukan Dengan Hati
Inilah hal kedua yang menjadi rahasia anda untuk mencapai tingkat tertinggi dalam Karir anda. Logika sederhana, dalam bisnis, usaha atau perusahaan manapun pemilik usaha pastilah orang yang memiliki semangat atau keinginan paling besar agar perusahaan menjadi sesuatu yang menguntungkan, (kalo karyaman biasanya cuek aja.. yang penting gajian ), pun demikian juga sebaliknya pengusaha adalah orang yng paling takut untuk perusahaannya jadi bangkrut..., Jadi lakukan dengan sungguh-sungguh dari hati, jadilah orang yang paling ingin perusahaan anda untung meski anda hanya memiliki jabatan paling rendah di perusahaan. jadilah orang yang paling takut perusahaan merugi meski anda berada pada level jabatan paling rendah di perusahaan anda, saya yakin 101% kalo ini anda laksanakan anda akan jadi karyawan teladan secara instan.

3. Tahu Lebih Banyak

Sebenarnya hal ini hanyalah sebuah prosa filosofis, karena sebenarnya ini akan secara otomatis ada pada diri anda kalo anda secara disiplin mengikuti tips dari saya dari awal (hehehe... lah wong catatannya udah banyak masa taunya cuma sedikit, baca lagi poin 1 kalo belum paham) tapi tetap saya masukkan supaya anda lebih menghargai yang namanya pengetahuan, saya kira tidak perlu panjang lebar saya jelaskan tapi kita pasti sepakat satu hal bahwa seseorang akan lebih dihargai kalau dia memiliki pengetahuan yang lebih.

4. Bekerja Lebih Banyak

Pada poin inilah anda akan merasakan dampak dari apa yang saya sebut diatas tentang 'tau lebih banyak', secara otomtis anda akan mampu melakukan sesuatu yang benar ketika anda mengetahui ilmunya. Anda akan mengerjakan dengan benar apa-apa yang menjadi job desc anda dan anda juga punya peluang yang besar untuk melakukan dengan benar apa2 yang bukan menjadi job desc anda. cuma untuk hal yang kedua ini diperlukan keikhlasan untuk benar-benar anda mau mengerjakannya. saya tidak akan serta merta menyuruh anda mengerjakan sesuatu yang diluar bidang kerja anda, setidaknya... memberikan bantuan bagi teman untuk melakukan hal yang 'lebih benar' akan membuat anda bersinar di kantor anda.

5. Berharap Lebih Sedikit

Bekerja banyak dengan pendapatan yang banyak adalah hal yang wajar pun demikian sebaliknya. Saya tidak menyarankan anda menyombongkan diri dengan meminta gaji anda dipotong dengan semua pekerjaan ekstra yang sudah anda lakukan, tapi akan lebih bijaksana jika anda 'sudah merasa cukup' dengan apa2 yang selama ini anda terima. Berhentilah berharap mendapatkan sesuatu yang lebih setelah anda melakukan semua yang saya sarankan diatas, karena kalo ini terlintas saja di pikiran anda, saya jamin anda tidak akan pernah meraih kedudukan yang anda impikan. Saya yakin setiap perusahaan punya mekanisme penilain atas kinerja karyawannya, kalaupun hal ini tidak ada pada perusahaan anda, saya sarankan anda memilih perusahaan lain yang bisa menghargai kinerja karyawannya.

6. Berusahalah Untuk Gagal

Suatu yang hampir mustahil suatu inovasi akan sukses dan berhasil tanpa membentur kegagalan. Apple sebuah perusahaan pembuat gadget paling inovatif tidak akan sebesar sekarang seandainya Steve Jobs tidak pernah gagal, pun demikian dengan Bill Gate dengan Microsoft-nya tidak akan pernah menguasai pasar seandainya tidak ada inovasi untuk mengembangkan operating sistem yang pada awalnya sudah digagas oleh Apple. Jadi kata kuncinya adalah INOVASI dan anda harus jadi orang yang pertama gagal dalam inovasi anda, agar anda segera mengetahui kelemahannya untuk segera anda benahi dan sempurnakan.

7. Jangan Berhenti Berharap

setelah semua dilakukan secara benar, runtut sesuai dengan apa yang ditulis mulai dari atas, maka inilah langkah terakhir yang wajib... saya bilang syarat paling wajib yang anda harus ketahui, Karena tidak ada kekuatan apapun yang sebesar kekuatan harapan yang tertanam di dada setiap anak manusia, jangan sekali-kali kehilangan harapan atas apa-apa yang kita impikan meski kita sudah di ujung kegagalan.

[Source : http://bukucatatan-part1.blogspot.com]

23 July 2012

5 Penyesalan Terbesar dalam Hidup

Bronnie Ware adalah penyanyi dan penulis lagu asal Australia yang beberapa tahun belakangan ini banting setir menjadi perawat bagi orang-orang tua yang mendekati ajalnya. Selama merawat, dia berinteraksi dengan para pasiennya dan menemukan lima penyesalan terbesar orang-orang di akhir hidup mereka.

Namanya sebuah penyesalan pasti muncul belakangan. Hampir semua kita tentu tidak mau merasakan sesal di kemudian hari, apalagi jika kita tidak punya banyak waktu lagi untuk memperbaiki atau mengulanginya. Kelima penyesalan terbesar yang berhasil disimpulkan Bronnie Ware dari hasil interaksi dengan pasien-pasiennya, bersifat umum dan mungkin di antara kita ada yang sudah merasakan salah satu penyesalan itu.

Karena itu sebelum rasa penyesalan ini bertambah besar dan benar-benar terlambat untuk diperbaiki atau diubah, mari kita tilik apa sajakah lima penyesalan terbesar orang-orang ketika sedang sekarat. Diharapkan pengetahuan ini bisa sedikit-banyak membantu kita dalam menjalani hidup ini dengan lebih baik lagi agar di kemudian hari kita tak memiliki penyesalan dalam hidup.

bonnie

1. Andai dulu saya berani menjalani hidup sesuai dengan keinginan sendiri, bukan hidup yang diharapkan orang lain untuk saya jalani.


Penyesalan ini memang terdengar paling umum. Ketika orang menyadari hidup mereka tidak lama lagi dan menengok ke belakang ke masa lalu mereka, sangat mudah untuk melihat ada begitu banyak impian yang belum terpenuhi. Kebanyakan orang bahkan tidak bisa mencapai separuh dari mimpi mereka, dan itu disebabkan karena pilihan atau ketidakberanian mengambil pilihan yang ada.

2. Andai dulu saya tidak bekerja terlalu keras.

Penyesalan yang satu ini terlontar dari hampir semua pasien laki-laki yang dirawat Bronnie Ware. Mereka kehilangan masa muda anak-anak mereka dan persahabatan dengan sang istri. Pasien wanita juga memiliki rasa sesal yang sama. Tapi memang jumlahnya tidak sebanyak kaum pria karena pasien Bronnie berasal dari generasi yang lebih tua dan kebanyakan pasien wanitanya kala itu bukanlah pencari nafkah utama keluarga. Pasien laki-laki yang dirawatnya sangat menyesali banyak waktu hidupnya dihabiskan di tempat kerja.

Dengan cara menyederhanakan gaya hidup kita dan membuat pilihan-pilihan yang lebih dipertimbangkan dengan masak, kita tentu tidak butuh pendapatan sebesar yang kita pikir kita perlukan. Dan dengan menciptakan lebih banyak waktu dalam hidup, kita tentu akan menjadi lebih bahagia dan lebih terbuka terhadap peluang-peluang baru, yang lebih sesuai dengan gaya hidup kita yang baru.

3. Andai dulu saya berani mengungkapkan perasaan saya.

Banyak orang menahan/menyembunyikan perasaan mereka agar tidak menimbulkan pertengkaran dengan orang lain. Akibatnya, mereka tidak pernah menjadi diri mereka sesuai dengan kapasitas mereka yang sesungguhnya. Banyak juga yang malah menderita sakit-penyakit karena menahan perasaan itu dan berkembang menjadi kebencian.

Kita tidak bisa mengendalikan reaksi orang lain. Namun meski orang-orang memberikan reaksi tertentu ketika kita berbicara secara jujur, pada akhirnya hal ini akan meningkatkan hubungan ke level baru yang lebih sehat lagi. Ini juga bisa menghilangkan hubungan yang tidak sehat dalam hidup kita.

buku

4. Andai dulu saya tetap menjaga tali silaturahmi dengan teman-teman.
Sering kali orang-orang tidak benar-benar menyadari arti penting membina hubungan dengan teman-teman lama sampai di akhir-akhir hari terakhir mereka. Dan mereka tidak selalu bisa melacak keberadaan teman-teman lamanya. Banyak di antara mereka begitu sibuk dengan kehidupannnya sehingga melupakan pertemanannya seiring berjalannya waktu. Banyak juga yang menyesal karena tidak memberikan waktu dan kasih yang cukup kepada teman-teman. Setiap orang akan merindukan teman-teman mereka ketika sedang sekarat. Terbukti bahwa cinta kasih dan hubungan yang menjadi hal teramat penting di akhir-akhir hidup mereka.

5. Andai dulu saya membuat hidup saya lebih bahagia
.

Perasaan ini juga sering kali diungkapkan dengan penuh sesal. Banyak orang tidak menyadari hingga di akhir hidup mereka bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Tapi mereka tetap saja terjebak dalam pola dan kebiasaan lama mereka. Inilah yang dinamakan "kenyamanan" akan kebiasaan-kebiasaan hidup kita. Sikap takut akan perubahan juga membuat mereka berpura-pura puas dan bahagia pada orang lain dan diri sendiri. Ketika kita mau meninggal, apa yang dipikirkan orang lain tidak lagi menjadi beban pikiran kita. Betapa menyenangkan jika kita mampu mengabaikan anggapan orang dan tersenyum kembali, jauh sebelum kita menderita.

Sadarilah bahwa hidup itu adalah sebuah pilihan. Ini adalah HIDUP KITA. Pilihlah dengan bijak dan jujur. Pilihlah untuk menjadi bahagia.

12 July 2012

Buah Alpukat Bikin Perempuan Subur


Alpukat
Bila Anda pasangan muda yang sedang berupaya mendapatkan kehamilan, disarankan untuk lebih memperhatikan asupan gizi dan makanan. Dengan asupan nutrisi dan gizi yang baik, kesuburan pun akan meningkat. Peluang untuk memperoleh kehamilan pun semakin besar.

Salah satu rekomendasi yang patut dipertimbangkan dalam meningkatkan kesuburan, khususnya pada kaum wanita, adalah mengonsumsi buah alpukat. Penelitian menunjukkan, konsumsi alpukat dan salad dengan campuran minyak zaitun dapat membantu wanita mendapatkan keturunan. Hal ini berlaku khususnya bagi mereka yang tengah menjalani program bayi tabung atau in-vitro fertilization (IVF).

Peneliti berpendapat, lemak tak jenuh tunggal yang banyak ditemukan dalam minyak zaitun, minyak bunga matahari, kacang-kacangan, dan biji lebih baik ketimbang jenis lemak lain untuk calon ibu. Mereka yang mendapatkan asupan lemak tak jenuh paling tinggi memiliki peluang kehamilan 3,4 kali lebih besar setelah IVF ketimbang yang mengonsumsi dalam jumlah terendah.

Sebaliknya, pada wanita yang mengonsumsi lemak jenuh terlalu banyak—umumnya ditemukan dalam mentega dan daging merah, produksi sel telur mereka cenderung lebih sedikit sehingga memengaruhi keberhasilan program IVF.

Para ilmuwan percaya bahwa lemak tak jenuh tunggal—yang sudah dikenal baik untuk jantung—dapat meningkatkan kesuburan dengan menurunkan peradangan dalam tubuh. Hasil riset ini akan dipresentasikan dalam European Society of Human Reproduction and Embryology di Istanbul.

"Jenis makanan yang paling baik untuk dimakan adalah alpukat, yang tinggi kandungan lemak tak jenuh tunggal dan minyak zaitun," kata Profesor Jorge Chavarro, pemimpin riset ini.

"Ini adalah pertama kalinya untuk pengetahuan kita bahwa lemak makanan berkaitan dengan hasil pengobatan pada bayi tabung," katanya.

Prof Chavarro meneliti 147 wanita yang menjalani program bayi tabung di Massachusetts General Hospital Fertility Center. Dalam kajiannya, ia menemukan hubungan antara tingginya kandungan lemak tak jenuh tunggal dan angka kelahiran hidup. Asupan tinggi lemak tak jenuh tunggal terkait dengan peluang kehamilan yang lebih tinggi 3,4 kali lipat dibandingkan mereka yang hanya mendapat sedikit asupan lemak tak jenuh tunggal.

"Berbagai jenis lemak diketahui memiliki efek yang berbeda pada proses biologi yang dapat memengaruhi hasil reproduksi, seperti tingkat peradangan atau sensitivitas insulin," kata Chavarro, yang menambahkan bahwa ikan tetap merupakan sumber terbaik asam lemak omega 3, meskipun dalam penelitian ini tidak dijabarkan kontribusinya.

[Source : dailymail.co.uk]

16 March 2012

Mempererat Tali Persaudaraan

Kebanyakan orang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengetahui siapa saja sanak keluarga atau kerabat jauh mereka. Bukan melulu karena tak peduli, tetapi lebih karena mereka tak tahu bagaimana harus memulai mencari dan mengenalkan diri.

Simak ulasan berikut, beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk lebih dekat kepada keluarga jauh.

1. Kenali silsilah.
Hal pertama yang Anda ingin lakukan, jika Anda belum pernah melakukannya, adalah menemukan kerabat mana yang Anda paling ingin lebih dekat. Dengan silsilah, Anda dapat mengetahui kerabat yang Anda miliki dan juga tahu saudara darimana mereka berasal. Misalnya, saudara ayah atau ibu

2. Tetap berhubungan dengan keluarga jauh.
Jaga hubungan baik dengan tetap menelepon atau mengirim email padanya. Manfaatkan teknologi yang ada untuk tetap berusaha berhubungan satu sama lain. Misalnya, Anda dapat menggunakan webcam untuk berkomunikasi dengan keluarga di luar kota

3. Buat tradisi.
Berhubungan dengan menggunakan teknologi saja tidak cukup untuk tetap mempererat tali kekerabatan Anda. Karena itu, buatlah tradisi untuk berkumpul. Semacam agenda mingguan yang bisa Anda dan kerabat lakukan, saling mengunjugi satu sama lain di rumah masing-masing. Atau bisa juga membuat sebuah acara atau memanfaatkan moment tertentu untuk berkumpul dan bertuksr pikiran atau cerita.

4. Jalan-jalan keluarga.
Ini merupakan hal yang paling penting dalam menjaga hubungan dengan kerabat jauh Anda. Lakukan perjalanan untuk mengunjungi sanak keluarga Anda setiap kali Anda punya waktu liburan. Atau Anda bisa mengumpulkan seluruh kerabat Anda dan mengadakan sebuah acara jalan-jalan bersama, menginap di sebuah villa misalnya, membuat acara barbekyu dan sebagainya.

Nah, sebuah masalah baru timbul saat Anda berusaha untuk mengenal keluarga atau kerabat jauh Anda. Apa yang harus dibicarakan?

Ada beberapa cara untuk berkomunikasi dengan orang yang tidak Anda kenal dengan baik. Anda bisa bertanya tentang pekerjaan, kehidupan atau kegiatan mereka. baik sekolah, kampus atau pun kantor.

Tanyakan kepada mereka tentang teman-teman mereka, anak-anak, atau kehidupan sosial mereka. Intinya sesuatu yang membuat mereka tertarik, inilah yang merupakan awal bahan pembicaraan. Ketika Anda sudah menemukan obrolan yang asyik, maka topik tersebut bisa merambah ke obrolan yang makin panjang.

Anda bisa tanyakan tentang hobi mereka. Ada banyak aspek yang menarik untuk dieksplorasi pada setiap orang. Namun semuanya tergantung pertanyaan apa yang Anda ajukan. Jangan sampai Anda justru terkesan menginterogasi dan menanyai mereka seperti seorang tersangka. siapa pun tak akan senang digurui seperti itu.

27 December 2011

Berbicara Seks dengan Anak

SAAT anak-anak bertumbuh dan mulai dapat berinteraksi secara lebih luas dengan lingkungannya, banyak informasi yang akan dia dapatkan. Ini termasuk soal informasi darimana datangnya bayi. Saat anak-anak telah siap dengan rasa penasaran di kepalanya soal seks, pastikan Anda dapat memberikan jawaban yang tepat dan sesuai usia.

Sheknows merangkum pendapat dari para ahli untuk Anda.

Memahami pertanyaan

Langkah pertama untuk menjawab pertanyaan adalah memastikan bahwa Anda memahami apa yang ditanyakan. Saat anak mulai bertanya tentang sesuatu, seperti darimana dia berasal, atau bertanya tentang informasi yang dia dengar di luar rumah, jangan langsung memberinya jawaban. Ajukan satu atau dua pertanyaan sederhana, sebelum Anda benar-benar menjawabnya. Seperti pertanyaan sededrhana, “Apa yang membuat kamu berpikir begitu?”.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini akan membantu Anda mengetahui seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki anak dan darimana dia mendapatkannya. Pertanyaan juga dapat mengorek informasi-informasi kurang akurat apa saja yang dia ketahui. Dengan memahami pertanyaan dan pengetahuan yang dimiliki anak, maka Anda bisa memberikan jawaban yang lebih tepat dan sesuai dengan yang dibutuhkannya.

Gunakan bahasa sesuai usia

Untuk memberikan jawaban kepada anak-anak berusia muda, hindarkan penggunaan bahasa yang terlalu spesifik. Seperti saat anak menanyakan darimana datangnya bayi, jawaban berikut tepat untuk Anda pakai, “Ketika ibu dan ayah saling mencintai, lalu mereka berbaring sangat dekat bersama-sama dan mereka membuat bayi,"

Penjelasan yang terlalu spesifik, seperti, “Ibu memiliki Miss V, dan ayah memiliki Mr P, lalu ayah menempatkan Mr P di dalam Miss V ibu, dan mereka membuat bayi”, hanya akan membuat anak terkejut bahkan merasa jijik.

Anda juga perlu membuat perjanjian dengan anak bahwa dia tidak harus berbagi informasi yang dia tahu dari orangtuanya, kepada siapa pun. Ini untuk menghindarkan anak mendapat penjelasan yang berbeda dari orang lain, membuatnya semakin bingung dan penasaran.

Yang tidak perlu dikatakan
Tak perlu memberikan jawaban terang-terangan atas pertanyaan anak. Seperti ketika Anda memberitahu anak bahwa bayi tumbuh dalam perut mama. Anak mungkin akan menjadi khawatir bahwa sewaktu-waktu bisa mendapati kondisi serupa pada dirinya. Jelaskan saja bahwa bayi tumbuh di tempat khusus yang hanya terdapat pada anak perempuan yang telah dewasa.

Dr Bartell merekomendasikan Anda untuk mengajukan banyak pertanyaan. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan pemahaman Anak. Lakukan percakapan dengan ritme perlahan dan berhentilah saat rasa ingin tahu anak terpuaskan. Tidak ada alasan untuk menggunakan kata "seks", kecuali si anak meminta.

[Source : okezone]

26 September 2011

Hindari Kejahatan di Angkot, Proteksi Diri Penting!


Setelah pernyataan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo beberapa waktu lalu dinilai menyudutkan kaum perempuan, banyak pihak mulai berkomentar terkait hal tersebut. Para pemerhati perempuan pun ikut angkat bicara mengenai hal ini.

"Saya setuju dengan yang diucapkan oleh Pak Fauzi. Gubernur tidak menyalahkan korban, tetapi mengedukasi kepada orangtua agar melindungi anak-anaknya dari tindak kejahatan," kata Shahnaz Haque, saat dihubungi wartawan.

Menurut Shahnaz, perlindungan keamanan bukan hanya tanggung jawab pemerintah provinsi, melainkan harus ada proteksi dari diri sendiri dan keluarga. Memang, mengenakan rok mini atau tidak tetap saja membuka kemungkinan pemerkosaan di ruang publik.

"Itu memang bukan penyebab utamanya karena laki-laki yang sakit kalau melihat wanita berjilbab pun akan berlaku tidak baik," ujarnya.

Shahnaz pun menyarankan, ada baiknya agar perempuan menggunakan celana. Hal ini dinilai lebih nyaman saat duduk dan, jika terjadi sesuatu, antisipasi untuk lari dan membela diri lebih cepat dan praktis.

Saat ini, tindak kejahatan bukan hanya menimpa perempuan dewasa, melainkan juga anak-anak di bawah umur. Untuk itu, anak-anak perlu dibekali pengetahuan agar tidak memancing orang bertindak jahat. Salah satunya dengan berpakaian sopan dan tidak menggunakan perhiasan mencolok di tempat umum.

Selain itu, sudah semestinya anak-anak diajarkan untuk waspada. Salah satunya dengan hati-hati berbicara dengan orang asing dan melakukan perlawanan saat terjadi bahaya, seperti menendang atau berteriak.

"Sebagai seorang ibu, saya perlu mengajarkan kepada anak-anak saya agar bisa menjaga diri mereka. Terlebih saat berada di angkutan umum agar tidak menjadi korban," kata istri pemain drum Gilang Ramadhan ini.

[Source : kompas.com]

Seandainya Anak Kita ...........

by : Kristi Poerwandari

Menyusul berita mengenai pemerkosaan dan pembunuhan perempuan muda di angkot, ramai berlangsung perdebatan dan banyak juga yang mempersalahkan korbannya.

Jika kita membayangkan anak perempuan kita yang menjadi korbannya, apakah kita masih melihat dengan cara yang sama?

Yang punya uang dapat mempekerjakan sopir atau membiarkan remaja perempuannya menyetir sendiri dan berada dalam kondisi relatif lebih aman. Atau, setidaknya anak gadisnya dapat naik taksi dan juga berada dalam kondisi relatif lebih aman. Relatif karena memang banyak juga ancaman keselamatan bagi warga meski telah duduk di taksi atau mobil pribadi yang nyaman terkunci.

Yang lain tidak seberuntung itu, harus menghitung pengeluaran harian secara ketat, misal transpor Rp 20.000 per hari. Meski macet total, harus berdiri berimpitan dalam bus, atau telah larut dan sulit mencari kendaraan, tetap berupaya maksimal agar pengeluaran tidak melebihi anggaran.

Ada yang mempertanyakan mengapa harus pulang malam atau menyalahkan korban karena busana yang dikenakan. Katanya, kejahatan terjadi karena adanya kesempatan. Jadi, jangan memberi kesempatan orang untuk berbuat jahat. Jika mungkin, mayoritas kita, apalagi perempuan, lebih suka memilih menekuni kegiatan yang lebih memberikan jaminan rasa aman. Tidak harus lembur atau kuliah pada sore hari dan pulang malam. Tidak harus mencari nafkah sampai larut. Akan tetapi, lagi-lagi tidak semua perempuan dalam kondisi ekonomi seberuntung itu.

Ada sebagian remaja perempuan yang memang suka dugem, barangkali jenuh dengan pertengkaran orangtua, bingung dan gelisah mencari-cari makna hidup di luar rumah. Sungguh ngeri jika gadis-gadis ini kemudian menjadi korban kekerasan seksual dan dipersalahkan, sementara pelaku kriminalnya sendiri dianggap wajar-wajar saja melakukan kejahatan (karena ada kesempatan?).

Tingkat penjelasan

Di tingkat individual, manusia melakukan langkah-langkah sendiri—dalam kapasitasnya—untuk memaksimalkan perlindungan diri. Seorang perempuan yang cemas karena harus bekerja shift malam mungkin menasihati diri.

”Kalau bisa jangan pulang terlalu larut, menunggu kendaraan di tempat terang, dan pakai baju yang tidak membuat orang berpikir macam-macam sekaligus memudahkan bergerak bebas, kalau-kalau ada keadaan darurat dan harus berlari cepat....”

Ketika ia tidak (mampu) melakukan yang dinasihatkan sendiri dan mengalami kemalangan, sangat mungkin ia akan menyesali dan menyalahkan diri. ”Seandainya saja saya tadi menolak diajak ngobrol atasan, langsung cepat pulang, dan memakai celana panjang, saya mungkin selamat.”

Orang lain juga mungkin menyalahkannya, mengapa pulang malam, naik angkot, pakai rok bukan pakai celana panjang, dan seterusnya. Akan tetapi, sesungguhnya ia tidak bersalah. Yang bersalah, ya, tetap pelaku tindak kejahatannya. Jika ia dinilai bersalah karena memberi kesempatan orang melakukan kejahatan, apakah orang yang dirampok juga bersalah karena memberi kesempatan orang lain untuk merampok? Yang ditipu bersalah karena percaya saja kepada sang penipu?

Di tingkat pejabat publik, penjelasan prevensi dan intervensi persoalan sosial perlu beranjak jauh melampaui penjelasan individual. Tanggung jawab pejabat publik adalah menyediakan infrastruktur, sarana-prasarana yang menjamin keamanan dan rasa aman warga, serta memastikan penegakan hukum yang melindungi warganya. Karena itu, perspektif yang harus dibangun adalah perspektif sejauh mana negara atau pemerintah telah menyediakan sarana-prasarana, infrastruktur yang memadai, yang dapat diakses dengan mudah oleh warga, siapa pun mereka?

Pejabat publik perlu berpikir mewakili semua warganya, yang perempuan, laki-laki, anak, dewasa, tua, kaya, miskin, terdidik ataupun tidak; tinggal di rumah mewah atau di kolong jembatan; berkulit hitam, putih, atau kecoklatan; dari suku mana saja; menikah atau tidak menikah; beragama atau berkeyakinan yang berbeda-beda; apa pun pekerjaannya. Mewakili semua warga berarti juga menempatkan diri, berempati pada posisi warga yang berbeda-beda itu, dan memenuhi kepentingan warga, yang boleh jadi sangat berbeda dan tidak seberuntung diri dan keluarganya. Penjelasan individual menjadi tidak memadai dan tidak relevan lagi.

Tanggung jawab negara

Mempersalahkan korban memang jauh lebih mudah, tetapi itu berarti memindahkan tanggung jawab yang seharusnya diemban masyarakat, pemerintah, dan negara untuk menjaga keamanan bersama. Bahkan, orang yang telah sangat berhati-hati berkendara pun masih bisa ditabrak pengendara lain.

Perlu pula disadari, perempuan yang telah berpakaian tertutup rapat pun masih bisa jadi korban kekerasan seksual. Jadi, persoalannya terutama adalah pada ”kehendak” pelaku untuk berbuat jahat dan komitmen pejabat negara untuk menindak kejahatan. Sangat memprihatinkan apabila penipuan, perampokan, pemerkosaan, penculikan, pengedaran napza, dan korupsi hanya ditanggapi dengan ulasan ”itu wajar terjadi karena ada kesempatan”.

Sudah menjadi korban, masih pula disalahkan, itu sangat menyakitkan. Semoga kita tidak perlu harus menjadi miskin, anak gadis kita mengalami pemerkosaan, anggota keluarga menjadi korban penganiayaan, atau tertipu uang palsu untuk mampu berpikir bahwa ini bukan masalah perorangan, melainkan masalah bersama.

Sungguh kita mendamba kehidupan yang aman dan terlindungi di negara kita. Dan, itu pertama-tama merupakan tanggung jawab yang harus diupayakan maksimal oleh negara melalui kepedulian nyata para pejabat publik dan jajarannya.

[Source : kompas.com]

3 June 2011

Menjauhkan Anak dari Kekerasan

Anak adalah dambaan hidup, kehadirannya senantiasa dinantikan dan didambakan oleh setiap orangtua. Fitrahnya, seyogianya setiap orangtua benar-benar menjalankan tanggungjawab terhadap anak-anaknya.

Namun, bermacam permasalahan muncul, seperti masalah ekonomi (economic problem), masalah mental-fisikologi (physicology problem) yang berakibat tidak terwujudnya tanggungjawab dan kasih sayang terhadap anak-anak secara baik. Akhirnya, terjadi eksploitasi terhadap anak-anak dan juga kekerasan terhadap anak-anak.

Tidak jarang kita temukan hari ini, anak-anak yang mendapatkan perlakuan kasar dari orangtua. Juga dijumpai anak-anak yang dibiarkan begitu saja oleh ibunya karena ayahnya lari dari tanggungjawab. Akhirnya, anak menjadi tersia-sia karena ibunya malu membesarkan anak dari benih orang yang meninggalkannya.

Di persimpangan jalan atau lampu merah tidak sedikit anak-anak yang harus bermandi keringat karena kepanasan dan basah kuyup karena kehujanan, padahal usianya masih cukup belia (5-10 tahun) menjadi pengamen jalanan, peminta-minta karena himpitan ekonomi dan juga paksaan orang tua yang tidak bisa menjalankan kewajibannya secara sempurna. Padahal anak-anak di usia mereka masih harus lebih banyak diberikan kasih sayang dan pendidikan.

Eksploitasi terhadap tenaga kerja yang masih di bawah umur kerap terjadi. Hal ini terjadi karena lingkaran masalah yang menghimpit kondisi orang tuanya. Kasus jual-beli anak juga muncul kepermukaan akibat pola penipuan pelaku dengan iming-iming kerja yang menghasilkan banyak uang atau memang orang tuanya sendiri yang menjual karena keterpaksaan ekonomi. Namun, tidak sedikit juga anak-anak korban bencana alam yang menjadi korban sindikat ini.

Menyedihkan juga terhadap anak-anak yang mengidap penyakit busung lapar, polio karena kondisi ekonomi orangtuanya tidak mampu memberikan mereka makanan yang bergizi dan membawanya berobat ke dokter/rumah sakit.

Tidak sedikit pula, orangtua yang memperlakukan anaknya secara kasar karena luapan emosional sesaat. Ada anak yang dibakar hidup-hidup oleh ibunya sendiri karena dibakar api cemburu terhadap suaminya. Ada anak yang dibunuh oleh ibunya karena takut tidak bisa memberikan kebahagiaan buat masa depan anak-anaknya.

Kewajiban Orang Tua

Bila semua orang tahu betapa pentingnya masa kanak-kanak, bahwa waktu itulah mereka mengecap kebahagiaan kini, dan dari sana dimulai perjalanan menuju hari depan yang penuh dengan harapan dan cita-cita, maka mereka tidak akan meremehkan arti yang sepenting ini, dan oleh karenanya tidak heran bila benar-benar diperlakukan dengan semestinya oleh Islam, dengan segenap perasaan lemah-lembut dan rasa tanggungjawab. Oleh Islam, anak-anak itu dilindungi dengan memasang kaedah pendidikan yang kokoh, bijak dan benar.

Kewajiban orangtua adalah hak untuk anak-anaknya. Ada beberapa hak anak yang perlu diperhatikan oleh para orangtua hari ini, antara lain adalah: Pertama, dalam ajaran Islam anak-anak memiliki hak kasih sayang yang harus diberikan oleh orangtuanya agar kelak ia menjadi anak yang sholeh dan berkualitas. Sehingga ia mampu meraih cita-citanya.

Ketika Rasulullah khawatir jika ada orang yang menyakiti hati Fathimah, maka dia mengumumkan kecintaannya kepada putrinya, dengan berkata : “Fathimah belahan nyawaku. Siapa yang menyakiti Fathimah, dia menyakitiku. Siapa yang membuat Fathimah murka, dia membuatku murka juga.” (H.R. Bukhari)

Kasih sayang yang telah dipraktikkan oleh Rasul menunjukkan bahwa di usia belia anak-anak perlu perhatian yang lebih terutama kasih sayang. Ini berarti orang tua tidak memaksakan kepada anak-anak untuk bekerja siang malam (eksploitasi) sementara mereka-orang tua enak-enakan menikmati jerih payah anak-anaknya.

Anak-anak bukan barang yang diperjualbelikan dengan seenaknya layaknya budak pada zaman pra-Islam, tetapi mereka adalah generasi emas ke depan yang harus dipersiapkan sejak dini dengan secara matang.

Kedua, hak untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan yang memadai menjadi modal penting buat anak-anak sekarang. Islam dengan bijaksana dan baik sekali telah mengarahkan pendidikan dan pengajaran dengan sebaik-baiknya.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Rafi’: “Kewajiban orangtua terhadap anak-anaknya ialah mengajarnya menulis, berenang dan memanah, dan janganlah anak itu diberi selain rizki yang halal.”

Dan menurut sebuah hadis riwayat Ibnu majah, dari Ibnu Abbas : “Dekatlah kamu pada anak-anakmu dan perbaikilah budi pekerti mereka.” Memberikan pendidikan kepada mereka dengan secara baik apakah lewat jalur formal ataupun non-formal serta mendidik mereka untuk membudayakan akhlakul karimah adalah kewajiban orangtua terhadap anak-anaknya.

Ketiga, hak untuk mendapatkan tempat yang baik. Ini maksudnya bahwa orangtua harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menjamin kelangsungan hidup anak-anaknya. Jangan sampai ia meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan lemah (dha’if). Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan anak cucu dibelakangnya dalam keadaan lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9)

Lemah dalam ayat ini bermakna sangat luas. Jangan sampai anak-anak yang kita tinggalkan adalah lemah: aqidah (keyakinan) artinya dangkal akan nilai-nilai agama, fisik (jasmaninya tidak sehat), ekonomi (malas berusaha/bekerja), pendidikan (tidak mengenyam bangku sekolahan). Zaman hari ini, bukan zamannya anak harus dipaksa untuk kerja membanting tulang (eksploitasi) demi memenuhi kebutuhan rumah tangga yang menjadikan ia lalai dari sekolahnya. Tapi, masa anak-anak adalah masa mereka merasakan dan mengenyam pendidikan untuk bekal masa depannya.

[Source : waspadamedan.com]

21 April 2011

Berbohong Tak Selalu Berefek Buruk

Banyak pria sering berbohong demi berbagai alasan. Mereka umumnya menutupi sejumlah fakta tentang diri atau perbuatannya yang dianggap merugikan. Tapi ingat, berbohong tak selalu jahat atau memiliki efek buruk. sebuah buku bertajuk ‘Liespotting: Proven Techniques to Detect Deception’ karya Pamela Meyer mengungkap fakta menarik tentang kebohongan seorang pria.

Ingin dipandang hebat
Rata-rata pria senang jika dipandang lebih hebat dari pria lain. Itulah mengapa sejumlah pria senang mengutarakan hal secara berlebihan demi terlihat lebih hebat. Hati-hati jika bertemu pria dengan segudang percakapan, siapa tahu isi percakapannya hanya bualan.

Menutupi perasaan
Berbohong bisa tumbuh sebagai suatu kebiasaan untuk menutupi kondisi yang sesungguhnya. Kaum pria yang enggan mengungkapkan perasaannya beranggapan bahwa berbohong adalah solusi terbaik untuk menutupi perasaan.

Menghindari konflik
Kebanyakan pria tak suka berargumen dan berdebat, apalagi dengan wanita. Itu sebabnya mereka mudah mengumbar janji-janji palsu. Semua dilakukan demi menghindari pertengkaran panjang seketika.

Melindungi diri
Pria berbohong untuk melindungi diri sendiri delapan kali lebih sering daripada berbohong untuk melindungi orang lain. Mereka lebih senang berada di posisi aman, daripada mengundang masalah gara-gara berkata jujur. Jangan heran jika sejumlah pria senang memutarbalikkan fakta.

[Source : perempuan.com]

16 April 2011

Nah...Ikut Gaya Cina atau Baratkah Model Pengasuhan Anda?

Anda pernah membaca buku Battle Hymn of the Tiger Mother? Karya Amy Chua ini merupakan best seller tengah yang menjadi perbincangan warga dunia. Dalam memoarnya, ibu dari Sophia (18 tahun) dan Louisa (14 tahun) itu menceritakan kesuksesan serta kesalahan yang dibuatnya dalam mengasuh anak dengan gaya tradisional Cina.

Orang tua Cina memang terkenal otoriter. Kedisiplinan dan kerja keras demi menggapai sukses mereka pertahankan di manapun berada. “Ini menjadi nilai yang diakui bersama oleh warga Cina,” jelas sosiolog Erna Karim.

Di satu sisi, Amy mendapat acungan jempol atas hasil pengasuhannya. Di usia 14 tahun, jemari si sulung, Sophia, lincah menari-nari di atas tuts piano di Carnegie Hall. Sedangkan, adiknya, Louisa memainkan biola tanpa sedikitpun nada sumbang. Seolah memenuhi tuntutan sang bunda, keduanya juga tampil sebagai jagoan akademik.

Kenyataan itu membuat banyak orang—terutama di Amerika—terusik. Standar kesuksesan anak Amy seolah menjadikan mereka sebagai orang tua yang gagal. Di samping itu, mereka menganggap profesor hukum dari Yale University kejam terhadap anak. Sebab, ibu yang menikah dengan pria Yahudi itu mengekang kedua putrinya dari kehidupan sosial. Mereka tak memiliki pengalaman menginap di rumah teman, pergi pesta, atau ikut pementasan drama.

Amy menuntut Sophia dan Louisa meraih nilai sempurna di semua mata pelajaran, kecuali olah raga dan drama. Masing-masing juga harus rutin berlatih alat musik yang dipilihkan sang bunda. Sebegitu kerasnya terhadap anak, Amy bahkan tidak mengizinkan Louisa istirahat sejenak untuk sekadar ke kamar kecil sampai gesekan biolanya merdu memainkan lagu Little White Donkey.

Erna mengatakan orang Cina memiliki alasan kuat ketika memberlakukan gaya pengasuhan otoriter pada anaknya. Kedisiplinan dan kegigihan adalah sikap yang mereka perlukan untuk dapat bertahan hidup. “Anak-anak Cina juga terbiasa tidak tergantung pada orang lain dan selalu berusaha meningkatkan kompetensi diri.”

Anak-anak Cina juga sejak kecil telah diperkenalkan pada falsafah hidup. Mereka akan berusaha untuk tidak mempermalukan keluarga. “Dengan didikan seperti itu, generasi muda Cina memang banyak yang sukses namun emosinya datar,” komentar psikolog A Kasandra Putranto.

Sementara itu, gaya pengasuhan ala Amerika juga ada plus-minusnya. Orang Amerika lebih permisif dan sangat memperhatikan faktor psikologis anak. “Pola asuh seperti itu memang membuat anak dapat menjalani hidup sesuai pilihannya namun mengkondisikan mereka menjadi anak yang besar kepala dan seenaknya,” cetus Kasandra yang menjabat sebagai wakil ketua Himpunan Psikologi Indonesia wilayah DKI Jakarta.

Bagaimana dengan Indonesia? Kasandra menyimpulkan orang tua Indonesia berada di antara dua kutub gaya pengasuhan Cina dan Amerika. “Lantaran tiap pola asuh memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri, kita tidak bisa mengatakan mana yang terbaik.”

Sementara itu, Erna memperhatikan masyarakat Indonesia sangat plural. Ragam etnik dan agama mempengaruhi nilai-nilai yang dipergunakan orang tua dalam mendidik anaknya. “Lantas, pola pengasuhan di desa juga berbeda dengan di perkotaan.”

Masyarakat desa, lanjut Erna, lebih permisif. Orang tua cenderung membiarkan anaknya berkembang tanpa pendampingan yang sesuai dengan tuntutan zaman. “Perhatian mereka terkuras untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi.”

Lalu, di perkotaan, orang tua tampak lebih akomodatif. Kebanyakan dari mereka mencoba menyediakan sarana yang memenuhi nilai-nilai moderenisasi. “Fokus mereka pada prestasi akademik dan persaingan masa depan,” papar Erna.

Itu sebabnya, orang tua perkotaan sibuk memasukkan anaknya ke berbagai kursus. Terutama, komputer dan bahasa Inggris. “Lalu, kebutuhan otak kanan yang mencakup bidang kesenian juga diakomodasi,” jelas Erna.

Bahan renungan

Untuk mengantarkan anaknya pada keberhasilan, Amy menentukan kegiatan anaknya. Ia berpendapat hingga berusia pra remaja, anak belum dapat secara objektif menilai. Otomatis, mereka harus mengikuti pilihan orang tua.

Terlepas dari kesuksesannya dalam membesarkan anak, Amy mengaku membuat sejumlah kesalahan sepanjang perjalanan. Ia gampang naik darah, kasar dalam perkataan, dan kurang memberikan keleluasaan memilih pada putrinya. Ia juga tak segan memberi hukuman.

Amy memang mengkritik pola asuh Barat yang cenderung lunak pada anak. Ketika anak kehilangan semangat belajar biola, orang tua Barat dengan cepat menawarkan alternatif alat musik lain yang lebih mudah dikuasai. Sebaliknya, Amy justru memberi dukungan agar putrinya makin giat berlatih supaya mahir.

Tidak semua anak Cina sukses diasuh dengan gaya otoriter. Beberapa anak klien keturunan Cina di biro Psychological Practice pimpinan Kasandra tertekan dengan pola asuh seperti itu. “Mereka memilih kabur dari rumah karena tidak tahan dengan kerasnya didikan orangtua.”

Akankah pencapaian Amy dijadikan barometer oleh sejumlah orang tua? Sosiolog Erna Karim mengatakan pengekor Amy adalah mereka yang tidak mampu mengonstruksi sendiri cara mendisiplinkan anak. “Orang yang terus mengikuti perkembangan zaman namun tak tahu cara pengasuhan lebih terpengaruh dengan buku-buku seperti Tiger Mom ini,” ungkap Erna.

Tantangan Masa Kini

Anak-anak Indonesia masa kini tumbuh dalam fasilitas yang nyaris serba ada. Dengan dukungan ekonomi keluarga yang lebih mapan, mereka mudah mengeksplorasi segala hal. “Dibandingkan dengan lima tahun lalu pun kondisinya sudah berbeda sekali,” ungkap guru Bimbingan Konseling SMP Labschool Kebayoran, Sinthya Bintarti.

Sementara itu, diperkenalkan oleh tayangan TV dan orang dewasa di lingkungan sekitarnya, anak-anak juga mengenal percintaan di usia yang sangat dini. Anak TK bahkan sudah dapat menyatakan kesukaannya pada lawan jenis. “Tentunya dengan presepsi sesuai usianya,” ujar Sinthya.

Dukungan fasilitas serta kondisi lingkungan seperti itu mendatangkan masalah tersendiri bagi anak. Kedekatan mereka dengan gadget dan akses internet membuat mereka teramat tergantung dengan teknologi. “Belum saatnya mereka terlalu mengandalkan gadget,” cetus Sinthya.

Pada usia sekolah, lanjut Sinthya, semestinya anak mencari informasi dari buku bacaan. Mereka harusnya membaca langsung dari sumber primer. Sedangkan, Wikipedia sebetulnya berisi keterangan dari sumber sekunder. ”Kebiasaan mengakses Wiki menurunkan minat baca mereka terhadap buku teks.”

Lantas, anak-anak sekarang juga berani memasuki dunia pergaulan di dunia maya. Padahal, mereka belum sepenuhnya bisa memilah. “Ada bahaya yang mungkin timbul dari pertemanan dengan orang asing di social media,” kata Sinthya.

Selain itu, anak juga terlampau sering terpapar dengan tontonan tidak sehat, seperti sinetron. Tayangan tersebut membuat mereka mudah berkata kasar. “Mereka menganggap berkata kasar merupakan bagian yang biasa dalam pergaulan,” ucap Sinthya.

Di lain sisi, ada komunikasi yang terputus antara orang tua dan anak. Sering kali, ekspektasi anak terhadap orang tuanya gagal tersampaikan secara utuh. “Anak belum selesai mengutarakan harapannya, ayah ibunya sudah keburu memotong,” kata Sinthya.

Ketika nilai ulangan jelek, misalnya, orang tua tidak mendengar sampai tuntas penyebab versi anak. Padahal, anak membutuhkan dukungan ayah bundanya. “Cobalah untuk menurunkan diri sedikit agar bisa merasakan masalah yang dialami anak,” saran Sinthya.

by : Reiny Dwinanda, wartawan Republika

[Source : republika.co.id]

4 April 2011

Bersikap Adil pada Anak

Jika orang tua memiliki 2 anak dengan karakter yang sangat bertolak belakang, orang tua tidak boleh menunjukkan kecondongan pada anak yang karakternya disukai. Apalagi menjadikannya anak kesayangan dan bersikap tidak adil pada anak yang lain. Anak yang merasa diperlakukan tidak adil akan menyimpan dendam –yang justru membuatnya semakin susah dikendalikan.

Bagaimana dengan anak kesayangan? Belum tentu ia merasa nyaman dengan perlakuan orang tua kepadanya. Mungkin saja sebenarnya ia merasa kasihan terhadap saudaranya yang selalu diperlakukan tidak adil. Bukan tidak mungkin ia akan mengabaikan orang tuanya juga. Berikut ini Tips bagaimana bersikap adil pada anak:

Jangan Membandingkan.
Kendati si pembangkan sering marah-marah, jangan sekali-kali membandingkannya dengan si penurut. Anda berharap pembandingan akan membuat si pembangkang jadi si penurut? Tidak. Tindakan ini hanya akan memperburuk keadaan.

Sediakan Waktu.
Naluri alamiah orang tua mungkin berkata, “Lebih nyaman bersama si penurut.” Tapi menurut naluri ini akan menyuburkan ketidakadilan terhadap si pembangkang. Sediakanlah waktu khusus yang sama jumlahnya untuk bermain dengan keduanya, setiap hari.

Lihat Kelebihan Setiap Anak.
Setiap anak punya kelebihan dan kekuarangan. Fokuskan perhatian Anda lada kelebihan anak, jangan pada kekurangannya. Jangan biarkan perilaku negative si pembangkang menghalangi Anda untuk melihat kelebihannya. Ajak ia berdiskusi tentang perilaku positif dan jelaskan bahwa perilaku positif itulah yang akan membuatnya disukai.

[Source : perempuan]

16 March 2011

Indahnya Hidup Bersahaja, Indahnya Dunia

Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri. Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. Jangan sampai kita tidak mempunyai diri kita sendiri. Jadi target awal dari pertemuan kita adalah membuat kita berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian?

Sebab seorang bapak tidak bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan mengharap memperbaiki keluarga kalau memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti diperbaiki.
Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak terperbaiki. Seorang ustad akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam bahasa Al-Qur’an, “Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata yang tidak diperbuatnya”.

Mudah-mudahan seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak suaminya. Seorang anak mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang berusaha memperbaiki diri diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka tersentuh. Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh.

Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya daya tahan rumah mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah membaik insyaAllah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.

Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang menyebutnya materialistis.

Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu banyak. Acara tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah materi. Pelan tapi pasti kita harus mulai mengatakan dunia ini tidak ada apa-apanya. Di dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu rumus ‘tukang parkir’. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan topeng yang dikenakannya. Nanti pelan-pelan akan
menjadi begitu.

Bukannya kita harus hidup miskin. Nanti akan terjadi suasana di rumah tidak goyah, lebih sabar, melihat dunia menjadi tidak ada apa-apanya dan tidak sombong. Lihat kembali rumus ‘tukang parkir’, ia punya mobil tidak sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu persatu sampai habis tidak sakit hati. Mengapa ? karena tukang parkir tidak merasa memiliki hanya tertitipi.

Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana kantor yang iri dan dengki jadi minimal.

Sobat,

Jadi visi kita terhadap dunia ini akan berbeda. Kita tidak bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik, tidak serakah. Hidup akan bersahaja dan proporsional.

Sekarang kita sedang krisis, masa ini dapat menjadi momentum karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini kesempatan kita buat berdakwah.

Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya.

Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus. Orang tua kita lahir tidak membawa apa-apa sampai saat ini masih makan terus, berpakaian, dan berteduh. Begitu pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat krisis begini kita harus lebih kreatif. Mustahil Allah menciptakan manusia tanpa rezekinya kita akan bingung menghadapi hidup. Semua orang sudah ada rezekinya.

Dan barangsiapa yang hatinya akrab dengan Allah dan yakin segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya selain Allah, kita milik Allah. Kita hanya mahluk dan yang membagi, menahan dan mengambil rezeki adalah Allah. Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi oleh Allah.

Jadi kecukupan kita bukan banyak uang, tetapi kecukupan kita itu bergantung dengan keyakinan kita terhadap Allah dan berbanding lurus dengan tingkat tawakal. Allah berjanji “Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku”. Jadi jangan panik. Allah penguasa semesta alam.

Ini kesempatan buat kita untuk mengevaluasi pola hidup kita. Yang membuat kita terjamin adalah ketawakalan. Jadi yang namanya musibah bukan kehilangan uang, bukan kena penyakit, musibah itu adalah hilangnya iman. Dan orang yang cacat adalah yang tidak punya iman, ia gagal dalam hidup karena tidak mengerti mau kemana.

Jadi kita tidak punya alasan untuk panik. Krisis seperti ini ada diman-mana, kita harus kemas agar berguna bagi kita. Kita tidak bisa mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita, tapi kita bisa kemas agar menjadi yang terbaik bagi diri kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang menghormati kita, tapi kita bisa membuat penghinaan orang menjadi yang terbaik bagi diri kita.

Hal pertama yang harus kita jadikan rahasia kecukupan kita adalah ketawakalan kita dan kedua adalah prasangka baik kepada Allah, yang ketiga adalah Lainsakartum laadziddanakum,”Barangsiapa yang pandai mensyukuri nikmat yang ada, Allah akan membuka nikmat lainnya. Jadi jangan takut dengan belum ada, karena yang belum ada itu mesti ada kalau pandai mensyukuri yang telah ada.

Jadi dari pada kita sibuk memikirkan harga barang yang naik lebih baik memikirkan bagaimana mensyukuri yang ada. Karena dengan mensyukuri nikmat yang ada akan menarik nikmat yang lainnya. Jadi nikmat itu sudah tersedia. Jangan berpikir nikmat itu uang. Uang bisa jadi fitnah. Ada orang yang dititipi uang oleh Allah malah bisa sengsara, karena ia jadi mudah berbuat maksiat. Yang namanya nikmat itu adalah sesuatu yang dapat membuat kita dekat dengan Allah. Jadi jangan takut soal besok/lusa, takutlah jika yang ada tidak kita syukuri.

Satu contoh hal yang disebut kurang syukur dalam hidup itu adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan, boros, dan bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang kepada merk itu adalah kufur nikmat. Mengapa? Karena setiap Allah memberi uang itu ada hitungannya. Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang kepada merk termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam dua puluh tahun. Harus siap-siap menderita karena akan mengeluarkan uang banyak utnuk mengejar kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk perawatannya.

Dia juga akan disiksa oleh kotor hati yaitu riya’. Makin mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu membutuhkan pikiran lebih, lelah dan tegang karena rampok akan berminat. Inginnya diperlihatkan tapi takut dirampok jadinya pening. Makin tinggi keinginan pamer makin orang lain menjadi iri/dengki. Pokoknya kalau kita terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman tidak terasa. Hal yang bagus itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup bersahaja atau proporsional. Kalau Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana, kalau seperti kita ini hidup bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.

Kalau kita terbiasa hidup bersahaja peluang riyanya kecil. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Bersahaja tidak membuat orang iri. Dan anehnya orang yang bersahaja itu punya daya pikat tersendiri. Pejabat yang bersahaja akan menjadi pembicaraan yang baik. Artis yang sholeh dan bersahaja selalu bikin decak kagum. Ulama yang bersahaja itu juga membuat simpati.

Juga harus hati-hati kita sudah capai-capai hidup glamor belum tentu dipuji bahkan saat sekarang ini akan dicurigai.Yang paling penting sekarang ini kita nikmati budaya syukur dengan hidup proporsional.

Jangan capai dengan gengsi, hal itu akan membuat kita binasa. Miliki kekayaan pada pribadi kita bukan pada topeng kita. Percayalah rekan-rekan sekalian kita akan menikmati hidup ini jika kita hidup proporsional.

Nabi Muhammad SAW tidak memiliki singgasana, istana bahkan tanda jasa sekalipun hanya memakai surban Tetapi tidak berkurang kemuliaanya sedikitpun sampai sekarang. Ada orang kaya dapat mempergunakan kekayaannya. Dia bisa beruntung jika ia rendah hati dan dermawan. Tapi ia bisa menjadi hina gara-gara pelit dan sombong. Ada orang sederhana ingin kelihatan kaya inilah yang akan menderita. Segala sesuatu dikenakan, segalanya dicicil, dikredit. Ada juga orang sederhana tapi dia menjadi mulai karena tidak meminta-minta, jadi terjaga harga dirinya. Dan ada orang yang mampu dan ia menahan dirinya ini akan menjadi mulia.

Mulai sekarang tidak perlu tergiur untuk membeli yang mahal-mahal, yang bermerk. Supermarket, mal dan sebagainya itu sebenarnya tidak menjual barang-barang primer. Allah Maha Menyaksikan.

Apa yang dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubadzir. Rasul SAW itu kalau makan sampai nasi yang terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah barokahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami. Memang kita enak saja rasanya tapi demi Allah itu pasti dituntut oleh Allah. Dan itu mempengaruhi struktur rezeki kita, karena kita sudah kufur nikmat. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita karena tidak ada yang kecil dimata Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh Allah.

Contohnya mandi, kalau bisa bersih dengan lima sampai tujuh gayung tapi mengapa harus dua puluh gayung. Kita mampu beli air tetapi bukan untuk boros. Ini penting kalau ingin barokah rezekinya, hematlah kuncinya.

Kalau merokok biaya yang kita keluarkan adalah besar hanya untuk membuang asap dari mulut kita. Jangan cari alasan. Seharusnya sudah saatnya berhenti merokok. Cobalah ingat ini uang milik Allah.

Kemudian sabun mandi, jangan memakai sesuka kita, takarlah atau kalau perlu pakai sabun batangan. Kenapa kalau kita bisa hemat tidak kita lakukan. Uang penghematan kita bisa gunakan untuk sedekah atau menolong orang yang lebih membutuhkan. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah dan bertambah.

Ini pelajaran supaya hidup kita dijamin oleh Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta/tabungan, kalau Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan. Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa terhalang. Aman itu justru kalau kita bisa dekat dengan Allah. Mati-matian kita jaga kesehatan, kalau Allah inginkan lain gampang saja. Semua harta tidak bisa kita nikmati, tetapi kalau Allah melindungi kita Insya Allah.

Marilah hidup hemat, tetapi hemat bukan berarti pelit. Proporsional atau adil adalah puncak dari ahlak Contohnya HP, kalau tidak terlalu perlu jual saja lagi. Janganlah dimiliki kalau hanya untuk gaya saja. Penghematan akan mengundang barokah inilah yang disebut syukur nikmat. Tujuan bukan mencari uangnya tetapi mempertanggung jawabkan setiap rupiah yang Allah titipkan.

Hal lain yang membuat barokah adalah jika kita dapat mendayagunakan semua barang-barang kita. Di gudang kita pasti banyak barang yang tidak kita pakai tetapi sayang untuk dibuang. Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama, begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah barang-barang yang tidak berharga tersebut.

Misalkan dirumah kita ada panci yang sudah rongsokan, jika kita keluarkan ternyata merupakan panci idaman bagi orang lain. Di rumah kita tidak terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah yang membuat kita terjamin.

Kalau kita ikhlas, demi Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak terpakai di rumah. Setiap barang-barang yang tidak bermanfaat tetapi bermanfaat bagi orang lain itulah pengundang rezeki kita. Bersihkan rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna. Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak dibiarkan di rumah, itu akan barokah rezekinya.

Ini kalau kita ingin terjamin, namanya teori barokah. Kita tidak akan terjamin dengan teori ekonomi manapun. Sudah berapa banyak sarjana ekonomi yang dihasilkan oleh universitas di negeri ini tetapi Indonesia masih saja babak belur.

Rumusnya pertama adalah bersahaja, kedua adalah total hemat, ketiga adalah keluarkan yang tidak bermanfaat, yang keempat adalah setiap kita mengeluarkan uang harus menolong orang lain atau manfaat.

Kalau mau belanja niatkan jangan hanya mencari barang tetapi juga menolong orang. Belilah barang di warung pengusaha kecil yang dapat menolong omzetnya. Hati-hati dengan menawar, pilihannya kalau itu merupakan hal yang adil. Jangan bangga kalau kita berhasil menawar. Nabi Muhammad SAW bahkan kalau beli barang dilebihkan uangnya dari harga barang yang sebenarnya. Tidak akan berkurang harta dengan menolong orang. Jangan memilih barang-barang yang bagus semua pilihlah yang jeleknya sebagian. Kita itu untung jika membuat sebanyak mungkin orang lain untung. Jangan jadi bangga ketika kita sendiri untung orang lain tidak.

Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya, ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga tidak timbul iri, yang ada adalah cinta. Cinta membuat kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Kalau kapitalis, pengusahanya bermewah-mewah ketika bawahannya menderita. Jadi timbul dendam dan iri setiap ada kesempatan akan marah seperti yang terjadi di Bandung kemarin. Tetapi kalau kita senang mensejahterakan mereka, anaknya kita sekolahkan. Dia merasa puas dan itulah namanya keuntungan.

Jadi mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap keluar harus multi manfaat bukan hanya dapat barang. Dengan membeli barang di warung kecil mungkin uangnya untuk menyekolahkan anaknya, membeli sejadah, membeli mukena, Subhanallah.

Sobat,

Jadi krisis seperti ini akan berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan baik. Nantinya ketika strategi rumah kita sudah bersahaja, kehidupan kita jadi efisien, anak-anak terbiasa hidup hemat, kita di rumah tidak mempunyai beban dengan banyaknya barang.

Barang yang ada di rumah harus ada nilai tambahnya, bukan biaya tambah. Setiap blender harus ada nilai produktifnya misalnya untuk membuat jus kemudian dijual, pasti barokah. Bukannya membuat biaya tambah karena harus diurus, dirawat dan membutuhkan pengamanan, barang yang seperti ini tidak boleh ada di rumah kita. Rezeki kita pasti ada tinggal kita kreatif saja. Tidak perlu panik Allah Maha Kaya.

Sebagai amalan lainnya, dalam situasi sesulit apapun tetaplah menolong orang lain karena setiap kita menolong orang lain kita pasti ditolong oleh Allah. Jika makin pahit, makin getir harus makin produktif bagi orang lain. Baik sukses maupun tidak tetap lakukan dimanapun kita berada. Ketika kita sedang berjalan kaki, kemudian ada mobil yang hendak parkir bisa kita beri aba-aba. Ketika kita menyetir mobil ada yang mau menyebrang, dahulukan saja, kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita esok hari. Ketika kita sedang mengantri ada orang yang memotong, berhentilah sebentar, dengan mengalah berhenti barang lima menit tetapi membuat banyak orang bahagia.

Jadi insya Allah kalau hati kita sudah berbenah baik, krisis ini akan lebih membuat hidup kita lurus. Hidup ini tidak akan kemana-mana kecuali menunggu mati. Latihlah supaya kita sadar bahwa kita pasti mati tidak membawa apa-apa. Kita hanya mampir sebentar di dunia ini.

[Source : mediamuslim.wordpress]

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month