Share Info

Showing posts with label Enterpreneur. Show all posts
Showing posts with label Enterpreneur. Show all posts

11 February 2015

Pendiri Coca-Cola yang Malah Mati Miskin

Coca cola
Siapa yang menyangka bahwa penemu Coca Cola adalah seorang ahli farmasi. John Stith Pemberton seorang ahli farmasi tersebut, karena Pemberton sering membuat farmasi dan membuat beberapa obat-obatan yang manjur untuk masyarakat. Tapi karena ingin berbisnis, Pemberton akhirnya membuat minuman alkohol dengan campuran biji kola. Karena alkohol dilarang, Pemberton hanya membuat campuran biji kola dengan ramuan yang kini masih menjadi rahasia tersebut.
Itulah sedikit gambaran dari Pemberton yang menjadikan Coca-Cola menjadi minuman ringan nomor satu didunia. Bahkan Coca-Cola pernah menjadi brand paling berpengaruh pada tahun 2011. Sekarang simak kisah Pemberton dalan membaut Coca-Cola.

Seorang ahli farmasi

Pemberton yang lahir pada tahun 1831 di Georgia, Amerika Serikat merupakan lulusan dari Universitas Philadelphia dan mendapatkan gelar kedokteran di bidang farmasi. Setelah itu hari-hari Pemberton diisi dengan meracik obat-obatan. Selain bekerja sebagai ahli farmasi, dia pernah menjadi tentara karena di Amerika Serikat pada saat itu terjadi perang saudara. Pemberton sempat berpindah tempat, sebelum akhirnya menetap di Georgia kembali.

Hikmah luka perang

Ternyata, Pemberton luka dalam perang. Bahkan, dia harus menderita karena mengalami pendarahan di perut yang cukup hebat. Setelah kembali ke Georgia, Pemberton harus menggantungkan hidupnya dengan pain killer, yaitu morfin. Dasar tukang farmasi, Pemberton tidak mau terus-terusan mengkomsumsi morfin yang berharga mahal. Dia akhirnya membuat ‘pain killer’ sendiri yaitu yang dibuatnya dari kokain dan biji kola. Minuman bikinannya tersebut dinamakan French Wine Cola. Jadi, kalau Pemberton tidak terkena luka dalam perang, mungkin Coca-Cola tidak pernah ada.

Mulai menjual cola

Karena semakin merebaknya kokain, Amerika Serikat mengharamkan kokain. Akhirnya Pemberton menghilangkan unsur kokain dan bereksperimen lain. Menurut sejarah dari Coca-cola sendiri, Pemberton secara tidak sengaja mencampurkan sirup bersoda kedalam larutan biji kola tersebut. Ternyata rasa yang dihasilkan lebih enak dan dia mulai berpikir untuk menjual produknya dibandingkan menjadi obat.
Bersama partnernya waktu itu adalah Frank Mason Robinson menjual secara masal. Mereka berdua meracik manual dengan biji kola, gula, asam sitrat dan sirup soda. Mereka berusaha menjual keliling Georgia, bahkan mereka harus menjual secara gratis, tetepi penjualannya tidak meningkat. Setelah satu tahun, Pemberton berpikir bahwa dia tidak ahli dalam menjual barang, tetapi produknya harus bisa dinikmati oleh masyarakat diseluruh dunia.
Pendiri Coca Cola yang Malah Mati Miskin best people berita bisnis  studentpreneur

Menjual resep

Jika Pemberton mengetahui Coca-Cola sudah sebesar sekarang mungkin dia tidak akan melakukan ini. Ya, Pemberton menjual resepnya kepada seorang pedagang kaya raya bernama Asa Candler seharga 2.300 dolar. Yang dilakukan Candler pertama kali adalah, memberikan kemasan.
Coca-Cola dijual pertama kali disebuah kedai dengan tulisan besar bertuliskan ‘Coca-Cola’ yang menarik pengunjung. Hanya dalam beberapa jam, minuman tersebut habis. Pada tahun 1892, akhirnya Candler membuat perusahaan Coca-Cola Company sampai sekarang. Lalu bagaimana nasib Pemberton, dia meninggal pada tahun 1888, dengan keadaan miskin dan ketagihan morfin.
Keputusan Pemberton untuk menjual resep Coca-Cola memang sangat bersiko. Tetapi Pemberton ingin resepnya terus dapat digunakan hingga masa mendatang. Karena sudah sangat bangkrut dan membutuhkan uang, Pemberton pun menjualnya.

23 December 2014

Memelihara Karier, Memelihara Masa Depan

Karir yang menanjak - ilustrasi
Kehilangan motivasi dalam bekerja bisa mengancam masa depan karier kita. Simak kiat berikut agar bisa menjaga motivasi untuk menggapai prestasi puncak.

Layaknya pepohonan, ada pohon yang tumbuh liar, ada pula yang harus dirawat. Ada yang punya buah bermanfaat, ada pula yang menumbuhkan duri tajam, bahkan racun pada buahnya. Analogi ini sebenarnya berlaku juga berlaku pada dunia kerja. Ada orang yang mampu tumbuh lebih cepat dari orang lain. Ada yang tumbuh menjadi benalu atau parasit sehingga cenderung menghambat karier. Ada pula yang begitu-begitu saja, namun bila ia tak ada, banyak orang di kantor kelabakan karena butuh asistensinya.

Lantas, seperti pohon apakah karier yang kita bina selama ini? Sudah tentu, kita ingin menjadi pohon yang tumbuh rindang, berbuah lebat penuh manfaat, dan mampu menjulang tinggi sehingga selalu bisa memberi arti bagi sekelilingnya. Jika ini berhasil dicapai, masa depan gemilang pun bukan hanya impian.

Untuk itu, salah satu yang harus dilakukan adalah dengan mampu menjaga dan memelihara motivasi kerja. Mengapa? Sebab, dengan motivasi menggebu, sadar bahwa kita punya hak untuk sukses, dan mau serta mampu terus berjuang, akan menjadikan kita pohon yang mampu memberi manfaat bagi banyak orang.

Jika Motivasi Sedang di Level Minus...

Namun, sudah jadi rahasia umum, bahwa motivasi sering kali tak selalu berada di puncak. Kesadaran hak akan sukses pun kadang hanya membuat kita berangan-angan. Akibatnya, saat bekerja pun sering kali kurang maksimal. Jika sikap semacam ini terus dipelihara, niscaya “pohon” karier kita pun akan layu. Lantas, apa yang harus dilakukan saat motivasi sedang berada pada level negatif atau bahkan minus? Berikut beberapa hal yang disarankan oleh Annemarie Cross, seorang konsultan karier yang menyebut dirinya sebagai personal branding strategist.

• Jangan terjebak pada satu masalah. Segeralah cari kegiatan lain atau beristirahatlah.
Kadang kala, tanpa disadari, kita terbebani dan akhirnya mengalami degradasi moral dan mental akibat dari permasalahan yang tak kunjung henti. Saat satu masalah atau pekerjaan di kantor belum selesai, pekerjaan lain segera menimpali. Jangan jadikan hal itu sebagai beban. Sadari bahwa itu adalah kondisi yang manusiawi dan semua orang bisa mengalaminya.

Maka, jika hal  itu dirasa sudah sangat membebani pikiran, tak ada salahnya untuk beristirahat sejenak. Cuti atau liburan dengan meninggalkan pekerjaan, serta mengambil jarak dari masalah sering kali bisa membuka banyak perspektif berpikir sehingga solusi terbaik bisa didapatkan. Jika pikiran sudah kembali segar, segeralah untuk mencari cara terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan satu per satu.

• Maksimalkan potensi, bagikan pekerjaan.
Berbagi beban pekerjaan adalah hal yang wajar, sepanjang masih ada kesalingpengertian dengan sesama rekan kerja. Karena itu, jika ada pekerjaan yang menumpuk, cobalah bagi pekerjaan sesuai dengan potensi terbaik yang kita miliki. Misalnya kita jago membuat konsep namun lemah dalam eksekusi, cobalah cari rekan kerja yang lebih jago di lapangan. Berbagilah tugas sehingga tugas bisa selesai dengan lebih maksimal. Namun, dalam hal ini, komunikasi yang seimbang harus dikembangkan. Jangan sampai, saat berbagi tugas, muncul kesan saling melempar tanggung jawab.

• Kenali waktu terbaik dari diri kita.
Adalah hal yang wajar jika seseorang bekerja berdasarkan mood. Namun, jangan sampai pula kita tergantung sepenuhnya pada kondisi mood yang harus selalu ditunggu. Karena itu, cobalah ciptakan suasana yang bisa memicu mood kita keluar dengan cepat dan maksimal. Salah satunya, adalah mengenali jam dan kondisi yang paling sering membuat mood kita keluar dengan mudahnya. Misalnya, kita terbiasa bekerja di malam hari saat sepi, cobalah untuk benar-benar memaksimalkan waktu itu untuk pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat. Dengan begitu, beban kerja tak akan menumpuk dan mengganggu motivasi kerja.

• Mengelompokkan tugas yang hampir sama.
Biasanya ada beberapa tugas yang paling kita senangi atau justru sebaliknya, kurang disukai. Cobalah kelompokkan pekerjaan tersebut menjadi satu bagian. Lantas, misalkan kita lebih cenderung menyukai mengerjakan yang sulit dulu baru yang lebih mudah, cobalah selesaikan kelompok pekerjaan yang kurang kita sukai dulu. Begitu juga sebaliknya. Dengan cara itu, kita akan menghemat banyak waktu sehingga motivasi kita pun bisa kita pelihara karena pekerjaan bisa terselesaikan lebih cepat.

• Tingkatkan konsentrasi
Cobalah kenali hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian kita pada pekerjaan utama. Yang paling sering saat ini barangkali adalah godaan masuknya email yang berkedip di komputer atau layanan panggilan chatting dari rekanan kita. Bila memang bisa dialihkan atau belum sangat penting untuk dibalas, kalau perlu hilangkan fasilitas tersebut dari layar komputer utama. Dengan begitu, konsentrasi kerja bisa lebih maksimal dan pekerjaan pun segera selesai, sehingga motivasi pun terus terjaga.

• Jangan lupa beri penghargaan pada diri sendiri.
Sekali lagi, penghargaan pada diri sendiri adalah hal yang juga utama untuk kita perhatikan dalam menjaga motivasi kerja. Karena itu, dalam setahun, setidaknya jadwalkan liburan ke tempat impian atau hadiahkan barang yang kita suka. Dengan begitu, kita akan selalu termotivasi dan bahagia, terutama saat menerima “hadiah” dari prestasi kerja yang telah kita hasilkan.


[Source : andriewongso]

25 June 2014

Jangan Ucapkan Kata Terlarang Ini di Kantor!

Bisa diterima menjadi karyawan di perusahaan dan terpilih dari sekian banyak pelamar kerja lainnya tentu merupakan prestasi tersendiri. Lalu, apa yang harus dilakukan setelah Anda resmi menjadi bagian dari perusahaan? Bekerja sesuai target dari kantor mungkin tak cukup. Anda juga harus menjaga perilaku dan ucapan supaya terhindar dari masalah dan membuat Anda dipecat . Untuk itu, hindari mengucapkan kata-kata terlarang ini di kantor .
 
Jangan ucapkan kata-kata ini dikantor

"Ini tidak adil"
Keadilan adalah segala-galanya. Namun, tak semua situasi sehari-hari di kantor bisa berjalan adil seperti yang Anda mau. Bila ada hal yang Anda rasa tak adil, jangan langsung bertindak vokal dan melaporkan kepada atasan. Lebih baik Anda lakukan analisis, di mana letak ketidakadilan perusahaan lalu pikirkan cara terbaik menyampaikannya. Persiapkan juga argumen yang akan Anda kemukakan karena kebanyakan perusahaan lebih mementingkan reputasi, nama baik, dan citra perusahaan ketimbang keadilan.

"Akan saya coba"
Banyak orang beranggapan bahwa kata "coba" mengandung makna yang lebih sopan untuk merespon tanggung jawab baru. Nyatanya, kata "coba" justru mengindikasikan kurangnya rasa percaya akan kemampuan Anda sendiri. Bila Anda merespon dengan kalimat, "akan saya coba," untuk setiap permintaan atasan, Anda seakan memberi ruang pada kemungkinan adanya kegagalan. Saran dari website Adviceguide , lakukan saja perintah atasan dengan maksimal kemudian minta maaf bila Anda tidak berhasil melakukannya.

"Terserah"
Menjawab atasan dengan kata "terserah" merupakan penghinaan. Pada dasarnya, kata "terserah" mencerminkan kejengkelan kepada lawan bicara saat diucapkan. "Terserah" dalam tingkat retoris juga bisa berarti merendahkan atasan dan pihak lain. Lebih baik Anda berikan jawaban tegas seperti "iya" atau "tidak" untuk memberi kesan teguh pendirian.

"Lihat nanti saja, ya!"
Kalimat ini mengindikasikan penundaan keputusan tanpa batasan waktu yang jelas. Selain itu, kalimat di atas juga kerap digunakan sebagai kalimat pengganti rasa penyesalan akan keputusan yang telah dibuat namun tidak disepakati bersama.

"Tidak bisa" atau "Tak mungkin" atau "Mustahil"
Kalimat senada sangat tidak pantas diucapkan dalam lingkungan kerja. Seluruh kalimat tersebut bernada keputusasaan dan memberi kesan Anda sudah kehabisan ide untuk berpikir dan tak berusaha mencari solusi lain.

[Source : http://www.tabloidnova.com]

21 August 2013

Langkah Meningkatkan Wibawa

Saat mendengar kata “berwibawa”, apa yang ada di benak Anda? Pasti terlintas kata-kata profesional, pekerja keras, cerdas, dikagumi, dan berada di posisi atas. Kata “berwibawa” biasanya mengacu pada seseorang yang penting, yang segala tindak-tanduk dan ucapannya dianggap penting di kantor. Namun sesungguhnya orang yang dianggap berwibawa tidak selalu harus atasan. Anda yang masih tergolong karyawan biasa pun bisa meningkatkan wibawa dengan mengikuti 7 hal ini. Berikut 7 Langkah Meningkatkan Wibawa, yaitu :

1. Berpakaian Profesional
Meski lekat dengan istilah “Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan luar saja,” dalam dunia profesional istilah ini tidak berlaku. Penampilan dihitung dalam penilaian. Ada beberapa tingkatan ekspektasi saat seseorang melihat penampilan orang lain di tempat kerja. Kita tentu memiliki ekspektasi tinggi terhadap penampilan seorang eksekutif. Berpakaianlah seperti seorang eksekutif jika ingin dipandang seperti mereka.

2. Pilih Tatanan Rambut Terbaik
Frances Cole Jones, penulis buku The Wow Factor: The 33 Things You Must (and Must Not) Do to Guarantee Your Edge in Today's Business World, menyarankan agar membersihkan wajah dari rambut. “Rambut yang menutupi wajah akan selalu membuat Anda terlihat lebih muda dan kurang berpengaruh,” kata Jones. Untuk para wanita, potongan rambut berponi sebaiknya dihindari karena akan membuat wajah Anda kekanak-kanakan dan kurang dewasa. Sementara pria disarankan tidak memanjangkan rambut dan menatanya dengan rapi.

3. Mencatat Hasil Rapat
“Mencatat semua isi penting di rapat merupakan cara tercepat menciptakan persahabatan dengan para staf senior,” catat Jones. “Cara ini membantu mereka merasa santai saat rapat karena melihat Anda secara fisik mencatat dan (kemungkinan) memahami poin penting yang diutarakan.”

4. Tidak Bicara Sembarangan
Seorang eksekutif bicara dengan efektif, tepat sasaran, dan tidak bertele-tele. Perlu diketahui, terlalu banyak bicara, bebelit-belit, dan latah adalah penyakit dalam berkomunikasi yang harus dihindari.

5. Jangan Jadi Objek Ejekan Di Kantor
Memang sulit dipungkiri, dalam satu lingkungan pasti ada objek yang dijadikan bahan ejekan dan candaan. Tapi perlu diingat, seorang objek ejekan tentulah seseorang yang dinilai kawan-kawannya punya banyak kelemahan, kurang berwibawa, dan tidak disegani.

6. Jangan Ungkapkan Masalah Pribadi
Apakah pembayaran kartu kredit sudah jatuh tempo? Baru putus dengan pacar? Bermasalah dengan teman? Jangan bawa masalah-masalah itu dalam obrolan di kantor.

7. Ruang Kerja Bukan Kamar Tidur
Seberapa sibuk pekerjaan Anda, seberapa lama durasi Anda bekerja, jaga selalu meja atau ruang kerja agar senantiasa rapi. Meja dan ruang kerja yang berantakan mencerminkan kepribadian pemalas, santai, dan tidak profesional. 


8. Jaga perilaku di dunia maya
Jangan sembarangan mengunggah foto, menulis komentar vulgar, kata-kata kasar, mencemooh orang, juga SARA. Ingat, bagaimana perilaku Anda di dunia maya berpengaruh pada reputasi diri.

9. Jangan segan bicara dengan atasan 
Biasanya kita enggan berhadapan dengan bos besar di perusahaan. Mulai sekarang buang rasa enggan. Ketahuilah, para bos besar lebih sering berinteraksi dengan orang-orang dengan jabatan tinggi. Begitulah Anda di mata orang lain (memiliki jabatan tinggi) jika sering berinteraksi dengan bos besar.

10. Jangan pelit berkontribusi 
Tunjukkan Anda serius berkarier dan memiliki visi misi memajukan perusahaan. “Para manajer kelas atas pasti lebih menyadari keberadaan orang-orang yang berkontribusi tinggi bahkan di luar jam kerja,” ungkap Jones.

[Source : http://onthespot7langka.blogspot.com]

20 August 2013

Meningkatkan Hubungan dengan Atasan

Hubungan atasan dengan bawahan
Sangatlah penting bagi Anda, seorang karyawan,  untuk menjaga dan mengembangkan hubungan kerja yang kuat dengan atasan. Ikuti tips berikut ini untuk memastikan Anda mendapat "ruang" di hati atasan.

Langkah 1
Bekerjalah secara sistematis. Jangan abaikan pekerjaan kecil. Terbiasa menyelesaikan pekerjaan atau masalah kecil akan membantu Anda mengerjakan pekerjaan atau menyelesaikan masalah yang lebih besar. Bekerjalah tepat waktu, gunakan waktu Anda dengan baik, lakukan bagian Anda untuk menjaga kantor bersih dan terorganisir, serta jangan mengeluh.

Langkah 2
Sering melakukan komunikasi tatap muka. Anda boleh saja mengirimkan laporan hasil rapat melalui email, tapi komunikasi langsung jangan diabaikan. Jika ruangan Anda dan atasan berbeda, tak ada salahnya mampir ke ruangannya untuk sekadar menyapa.  Tak perlu terlibat dalam percakapan panjang, tapi itu bagus dilakukan untuk mengakui bahwa atasan Anda merupakan bagian penting dan menunjukkan bahwa Anda memiliki sikap positif terhadap pekerjaan Anda.

Langkah 3
Berikan Pujian. Ingat, bos juga manusia dan mereka perlu tahu bahwa mereka sudah bekerja keras dan memberikan kontribusi dalam memajukan perusahaan.

Langkah 4
Bersifat langsung. Ketika atasan melakukan sesuatu yang membingungkan, jangan berusaha mengintepretasikan sendiri. Tapi, tanyakan langsung apa maksud pernyataannya. Ini untuk menghindari kesalahpahaman.

Langkah 5
Tidak ikut-ikut arus dari kelompok yang tidak menyukai atasan. Meskipun ia brengsek, bukan berarti Anda harus berpartisipasi di dalamnya. Bekerjalah secara profesional.

Langkah 6
Jauhkan masalah pribadi. Anda ingin memiliki lebih banyak waktu dengan keluarga. Bahkan, belakangan ini bermimpi ingin membuka bisnis sendiri. Jangan langsung memutuskan untuk keluar. Tidak ada salahnya membicarakan ini dengan atasan. Minta agar ia memberikan keleluasaan dalam Anda menjalankan bisnis di waktu luang.

Langkah 7
Bersahabatlah dengan rekan kerja Anda. Jarang sekali sebuah hubungan kerja menjelma menjadi persahabatan. Hubungan kerja memang tidak diatur oleh aturan yang sama seperti persahabatan, jadi jangan merasa buruk jika bos Anda tidak ingin berbasa-basi atau tidak hangat kepada Anda. Anda berdua dapat memiliki hubungan kerja yang luar biasa tanpa harus bersahabat.

Langkah 8
Jika bos Anda memiliki karakter yang sering membuat Anda tak nyaman, bahkan sampai depresi, ada baiknya Anda mulai memikirkan untuk keluar dari perusahaan itu.

[Source : tabloidnova.com]

19 August 2013

Bila si Bos Jauh Lebih Muda

DINAMIKA dunia profesional bisa saja membawa kita pada kondisi bekerja pada atasan yang usianya jauh lebih muda. Bagaimana kita harus bersikap bila seseorang yang sebaya dengan keponakan atau anak kita memberi tugas dan perintah?

Stop Stereotyping!
Menurut Paul Bernard, executive coach & career advisor, salah satu hambatan terbesar untuk mendapatkan hubungan mulus dengan atasan yang lebih muda adalah bila kita sudah terlebih dulu menerapkan stereotyping. “Ah, fresh graduate kan cuma tahu teori, belum pernah merasakan dunia nyata di luar sana!” atau “Masih muda dan lulusan luar negeri, pasti lagaknya selangit, padahal belum tentu bisa kerja,” adalah beberapa kalimat yang mungkin terbersit di benak kita saat pertama kali menemui si bos muda. Buang jauh-jauh pikiran seperti itu sebelum benar-benar mengenalnya.


Like Any Other Bosses
Siapapun atasan kita—tua, muda, pria, wanita, dan sebagainya—dia adalah atasan yang harus kita hormati. Selalu tanamkan hal tersebut dalam diri kita. Meski usianya lebih muda, bos memiliki hak dan wewenang untuk memberikan perintah maupun tugas pekerjaan pada kita. Kerjakan dengan profesional. Hindari membawa perasaan atau emosi, yang membuat kita merasa disuruh-suruh oleh ‘anak kecil’. Age is just numbers, anyway.


It’s Your Boss, NOT Your Child
Sebagai orang yang usianya lebih tua, mungkin memang kita memiliki lebih banyak pengalaman daripada si bos muda. Tapi jangan pernah menempatkan diri kita layaknya ayah atau ibu baginya. “When I was your age, ….” merupakan contoh kalimat menggurui yang sebaiknya dihindari. Memberikan bimbingan atau arahan memang baik, tapi pilih cara yang paling halus sehingga tak terkesan kalau kita sedang menunjukkan diri lebih baik daripada si bos. Jadilah mentor yang bisa jadi andalan si bos saat dirinya butuh saran maupun ide-ide segar.


Be Authentic But Updated
Beradaptasi dengan atasan yang usianya jauh lebih muda bukan berarti kita harus berubah menjadi orang lain supaya bisa ‘fit in’ dengannya. “If you’re 50 years old, dress smart and professionally, don’t start sporting skinny jeans just because they’re what all the 25-year-olds are wearing,” tegas Paul Bernard. Jadi kita nggak perlu meniru gaya bicara anak gaul masa kini, hanya untuk membuat si bos muda terkesan. Meski demikian, kita juga perlu melek dan updated dalam berbagai hal. Jangan sampai, kita hanya menguasai tentang pemasangan iklan billboard dan brosur, sementara si bos mau menerapkan digital marketing.

Bahagia di Tempat Kerja

Akhir tahun banyak resolusi yang dibuat seputar dunia kerja. Mulai dari mencari pekerjaan baru, mendapat promosi dan tentu saja lebih mencintai pekerjaan. Sebenarnya, bisakah kita bekerja dan merasa bahagia secara bersamaan? Simak penjelasan dari psikolog Clara Handayani dari Ahmada Consulting berikut.

Ilustrasi
Apakah Anda bekerja dengan bahagia sekarang? Bekerja merupakan kegiatan yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan kita. Orang bekerja untuk bertahan hidup, walaupun sebagai orang modern kita juga akan menggambarkan pekerjaan sebagai salah satu sarana aktualisasi diri kita, bahkan pada beberapa orang pekerjaan menunjukkan eksistensi diri. Perannya yang penting membuat bekerja menjadi aktivitas yang mendominasi hidup. Bisa dibayangkan bila jawaban dari pertanyaan pertama di tulisan ini adalah: tidak (selalu tertekan di hari Senin, menghitung kapan waktu istirahat dan jam pulang, bahkan menyusun alasan untuk lebih sering berada di luar kantor).

Menghadapi situasi yang tidak kita sukai dari waktu ke waktu dengan perasaan tidak bahagia tentu akan membuat kita tertekan. Tidak cuma itu, organisasi tempat kita bekerja pun tidak senang bila hal ini terjadi. Kita yang seharusnya menjadi sumber daya bagi pengembangan organisasi tidak dapat menjalankan fungsinya dengan maksimal, dan organisasi “merugi” karenanya. Tidak ada pihak yang senang dan diuntungkan bila hal ini terjadi.

A New Mantra, A New You
Bekerja itu penting, oleh karena itu bekerjalah sepenuh hati karena hanya dengan begitu kita bisa menghasilkan karya-karya terbaik dan mengaktualisasikan diri. Bersikaplah terbuka terhadap perubahan dan tuntutan pengembangan diri, sehingga tantangan tidak akan bisa menghambat kita untuk terus produktif. Jangan lupa untuk bersinergi dengan tim kerja, karena kerja besar lebih mudah dikerjakan bersama.

Cara untuk tetap bahagia di tempat kerja lainnya? Be a happy person. Jangan lupa juga untuk memerhatikan aspek-aspek lain dalam hidup kita. Perhatikan kehidupan pribadi, peran di dalam keluarga dan lingkungan sosial—jalani semua peran itu dengan maksimal. Bicarakan keterbatasan yang kita miliki karena kondisi pekerjaan dan diskusikan bersama jalan keluarnya. Jangan hanya meminta mereka memahami dan menunggu karena ada banyak hal tidak bisa menunggu kita punya waktu untuk diselesaikan. Keluarga adalah supporting system yang kita miliki, yang akan mendukung kita dalam saat-saat sulit.

Perhatikan juga kesehatan fisik dan jiwa kita. Peliharalah kesehatan tubuh, dengan makan makanan yang bergizi, berisitirahat yang cukup, serta berolahraga secara teratur. Hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk memelihara kesehatan. Pelihara kesehatan jiwa dengan tetap melakukan hal-hal yang kita sukai. Mulai dari menjalankan hobi, membaca buku dari pengarag favorit, kursus keterampilan atau bahasa, dan lain sebagainya. Kesenangan ini dapat menjadi pelipur lara ketika kita mengalami masa-masa sulit dalam pekerjaan. Pilihlah kegiatan yang sesuai dengan keadaan kita sehingga kita dapat menikmatinya tanpa mendatangkan masalah baru. Lastly, bersyukurlah atas semua yang sudah kita capai dan sadari bahwa ada banyak hal terjadi di luar kendali kita.

Bekerja dan memenuhi kebutuhan pribadi kita sama pentingnya dan harus dilakukan secara seimbang. Pilihannya ada pada kita apakah kita ingin kedua hal itu berjalan dengan seimbang atau tidak, dan tentu saja kita selalu dapat mengatakan: saya memilih bekerja dan bahagia.

[Source : dailysylvia.com]

Berpikir 25 Kali sebelum Pamit

Berpikir 25 kali sebelum Pamit
Boleh jadi kita merasa heran atau penasaran terhadap rekan kerja kita yang kurang bersemangat, tidak betahan dan mudah pindah kerja, padahal menurut kita di kantor kita oke-oke saja, sangat nyaman dan tak ada masalah. Yakinlah bahwa karyawan resign adalah suatu kondisi yang wajar dan mudah-mudahan telah melalui proses/pertimbangan yang matang.
Kata betah erat hubungannya dengan kesetiaan, loyalitas, kecocokan ataupun kepuasan. Dari keragaman peserta training yang mempunyai masa kerja 6 bulan s.d 20 tahun, hal-hal/faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan (puas dan tidak puas) dengan sedikit ilustrasi adalah sbb: 
1. Gaji. Ini sering menjadi alasan utama keluarnya karyawan, tanggung jawab pekerjaan ringan dengan gaji besar yang menggiurkan tentulah yang diharapkan.
2. Kondisi fisik pekerjaan. Senangnya “jalan-jalan” dikasih pekerjaan di divisi procurement, dan sering melaksanakan FAT (Factory Acceptance Test) ke manca negara; senangnya “bergaul” ditempatkan di bagian Marketing; dll … berarti cocok!
3. Hubungan kerja karyawan dan perusahaan. Kebanyakan karyawan menginginkan ikatan permanen dari pada temporer (karyawan kontrak), namun di masa lalu banyak yang senang ikatan kontrak, karena gajinya lebih besar dan lowongan pekerjaan masih banyak.
4. Atasan langsung. Tentu lebih menyenangkan bila mempunyai atasan yang bisa menjadi teladan dan memberi motivasi/spirit kepada anak buahnya. Apalagi kebetulan mempunyai hobi yang sama dan suka ngasih fulus.
5. Rekan kerja. Biasanya sih mengharapkan rekan kerja yang baik-baik, penuh pengertian, bisa saling membantu dan … bisa jadi sambatan kalau kondisi finansial sedang krisis, hehehe.
6. Jam kerja. Ada yang menyukai jam kerja biasa, yang memungkinkan masih adanya interaksi dengan keluarga di luar jam kerja. Ada perusahaan yang menerapkan flexitime, yaitu bisa mengatur jam kedatangan dan pulang kerja sesuai dengan keinginan, dalam rangka mempertimbangkan kondisi perjalanan dan keperluan mengantar anak sekolah.
7. Suasana kerja. Inginnya suasana kerja yang agak rileks, tidak terlalu formil tetapi progress pekerjaan tetap menjadi prioritas. Beberapa perusahaan bahkan membolehkan karyawan menggunakan pakaian casual.
8. Kebebasan memilih metoda kerja. Menyenangkan bila atasan menghargai metoda kerja kreasi sendiri, tidak memaksakan metoda yang sudah given, yang kadang out of date, menyulitkan dan malah memperlambat pekerjaan.
9. Penghargaan perusahaan terhadap kinerja karyawan. Ini biasanya diujudkan dalam bentuk sloting/grade kepangkatan dan pemberian jabatan yang bisa berkorelasi dengan salary atau pendapatan. Makin tinggi grade-nya makin besar salary-nya.
10. Lokasi kantor. Lebih menyenangkan/ menguntungkan bila dekat tempat tinggal karyawan dan tidak melewati Three in one atau jalur-jalur kemacetan. Karena rumah tinggalnya kejauhan, ada yang terpaksa kos di belakang kantor.
11. Cara karyawan dimanajeriali/diawasi. Inginnya pengawasan longgar, tidak ditunggui saat bekerja di depan komputer, toleransi tinggi terhadap kesalahan, nir-sangsi, dll.
12. Perhatian terhadap gagasan karyawan. Usul ini itu disetujui atasan … tentu lebih membesarkan hati.
13. Variasi pekerjaan. Kebanyakan karyawan lebih senang bila bisa berganti jenis pekerjaan, apalagi sudah mulai bosan dengan satu pekerjaan yang dianggap monoton, atau bisa pindah tempat kerja misal di HO/home office, field office, luar negeri, dll.
14. Jenjang Karir. Kesempatan untuk mendapatkan promosi/karir memungkinkan/ada; aman dari “penjegalan”, jauh dari diskriminasi/membedakan SARA, dll
15. Adil/Sama rata sama rasa, grade sama perbedaan salary-nya tidak terlalu menyolok, tidak ada istilah like and dislike, diskriminasi dari atasan/pemilik perusahaan. (Sedikit perbedaan, biasanya di kontraktor EPC sih yang lanyah bahasa inggris, karirnya akan cepat menanjak).
16. Kesempatan untuk menggunakan kemampuan dan menyalurkan bakat. Sangat menyenangkan bila kantor menyediakan alat musik, sarana olahraga, fittness, dll yang sesuai dengan hobinya, apalagi sering mengadakan malam kesenian sebagai ajang pendeklarasian eksistensi dan kemampuan diri.
17. Jangka waktu. Adanya keyakinan bahwa perusahaan akan berumur panjang, tidak kawatir di PHK ditengah jalan, syukur-syukur yang bisa menjamin sampai pensiun dan setelah pensiun. Faktor ini (biasanya perusahaan Jepang) bisa berpengaruh terhadap loyalitas dan integritas karyawan.
18. Tanggung jawab yang diberikan. Karyawan umumnya sih ingin tanggung jawab ringan dengan salary yang besar. Namun bagi karyawan spesial justru mencari tantangan dengan tidak menolak setiap penugasan/tanggung jawab dari atasan.
19. Keamanan dan keselamatan kerja. Dengan sistem prosedur kerja yang baik dan jelas, dukungan security dan property division yang handal tentu lebih menentramkan dalam bekerja.
20. Menambah pengalaman/pengetahuan. Sangat senang bila banyak senior yang profesional dan tidak pelit membagi ilmu, kebebasan penggunaan internet, perpustakaan dll.
21. Bisa memungkinkan mendapatkan pasangan hidup bagi yang masih bujangan/single. Yang ini nggak perlu penjelasan, sudah banyak contoh di kantor kami, mungkin juga di kantor pembaca.
22. Pendapatan lainnya selain gaji pokok, misalnya: bonus, tunjangan kesehatan, tunjangan perumahan, tunjangan jabatan, tunjangan HP/pulsa, dll.
23. Nama besar perusahaan. Terasa membanggakan dan menyenangkan bila orang mengetahui kalau kita bekerja di suatu perusahaan yang besar atau terkenal, karyawan sering masih tetap loyal meski salary kurang memuaskan.
24. Anak buah, kalau didukung anak buah yang capable dan cukup jumlahnya, bisa beres dan nyaman dalam bekerja. Jika tidak, harus pintar-pintarnya mengatur strategi dan perlu siap mental jika mendapatkan komplain atasan atau rekan kerja, akibat pekerjaan yang tidak beres.
25. Kesempatan berjumpa dengan orang terkenal/ ngetop yang di-“kagumi” yang kebetulan berada di kantor itu, yang diharap akan mempengaruhi, memberi inspirasi atau memperluas wawasannya.
******
Mungkin pembaca bisa menambah atau mengurangi dan tidak ada salahnya memberikan masukan sehingga judul tulisan inipun bisa berubah, saran penulis jangan banyak-banyak, karena kebanyakan berpikir … bisa jadi nggak resign-resign! Hehehe….
Dari 25 faktor di atas masing-masing bisa ditentukan bobotnya, tentu saja bobot satu faktor berbeda untuk karyawan satu dengan yang lainnya. Kalau secara general kita samakan, maka bilamana Anda banyak puasnya, katakanlah masing-masing 70%, saya sarankan untuk tidak perlu resign meninggalkan perusahaan, cukup pamit cuti saja; tetapi bila rata-rata 40% puas, maka tidak ada salahnya tiap hari memelototi lowongan pekerjaan di koran atau internet.
TETAPI bila satu faktor saja tidak puas 100% (mutlak), ini sudah cukup membuat karyawan hengkang, misal: inginnya di divisi procurement namun ditempatkan di divisi engineering, inginnya permanen namun masih kontrak terus, pinginnya di ‘lapangan’ namun ditempatkan di HO yang jarang ada uang lemburnya, dll.
KHUSUS untuk faktor no 1: Gaji, bilamana Anda kurang puas, dan ingin resign, terlebih dahulu bandingkan gaji perusahaan yang akan dimasuki (GB=Gaji baru) dengan gaji sekarang (GL=Gaji Lama), rumusnya sbb: (rumus ini hadiah dari instruktur training di atas yaitu Bp Bambang Haryanto)
1. GB=1,5 kali total take home pay per year GL, jangan diambil!
2. GB=2 kali total take home pay per year GL, pikir-pikir!
3. GB=2,5 kali total take home pay per year GL, ambil!
4. GB=3 kali total take home pay per year GL, sabet!
Mengapa batasannya 2,5 kali, hal ini sebagai “allowance” bila urusan administrasi dengan tempat kerja lama belum clear (mungkin masih punya utang) dan KOMPENSASI terhadap faktor-faktor lainnya di tempat kerja baru yang tidak sesuai harapan, misalnya ketemu atasan yang otoriter, ketemu rekan kerja yang “kurang bersahabat”, kerja selalu diawasi, tidak ada kesempatan promosi, permanen dll. 
Jadi, sebelum say goodbye, bisa berpikir 25 kali!

18 July 2013

Alasan Pengusaha Sukses Bangun Lebih Pagi

Saat menjalankan bisnis, waktu yang Anda miliki setiap hari sepertinya tak pernah cukup dan cenderung kurang. Memanfaatkan kekuatan di pagi hari dapat menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas Anda, khususnya dalam berbisnis.

Bahkan seperti dilansir dari Entrepreneur.com, Presiden Starbucks Michelle Gaas selama 15 tahun menjalani hidup teratur guna meningkatkan produktivitas pribadi sekaligus bisnis yang dikembangkannya.

Dia diketahui selalu mengatur alarm agar bangun jam 04:30 untuk berolahraga dan menyegarkan pikiran. Pada pukul 6:00 pagi, dia bekerja untuk bisnisnya selama satu jam sebelum keluarganya bangun.

Ahli manajemen waktu Laura Vanderkam menyoroti beberapa alasan yang bisa membuat pagi hari menjadi waktu special bagi para pengusaha. Menurut penulis buku Most Succesful People Do Before Breakfast ini, berikut tiga alasan yang membuat para pengusaha sukses bangun pagi-pagi:

1. Bangun pagi memberi peluang untuk melakukan banyak hal penting
Hari-hari seorang pengusaha cenderung berlalu dengan cepat. Jika Anda menunggu hingga siang atau sore hari untuk melakukan sesuatu yang bermakna bagi bisnis Anda, maka Anda akan kehilangan banyak peluang.

Membaca sebelum memulai aktivitas juga dapat membantu Anda menambah informasi dan pengetahuan bisnis. Melakukannya di pagi hari dapat sangat mendorong bisnis Anda.

2. Bangun pagi memberi dorongan yang lebih kuat untuk beraktivitas
Bangun pagi bisa memberikan lebih banyak motivasi dalam menjalankan usaha, meski Anda bukan tipe orang yang sulit bangun pagi.

Dengan motivasi dan kemauan yang kuat karena tak terburu-buru di pagi hari, Anda mampu mengatasi berbagai kegiatan bisnis seharian. Bertemu rekan bisnis, membuat keputusan penting dan lainnya akan menguras energi Anda. Namun bangun pagi bisa menjaga energi Anda stabil hingga selesai bekerja.

3. Bangun pagi bisa menjaga mood kerja Anda seharian
Terlambat bangun dan tergesa-gesa menyiapkan keperluan kantor akan membuat mood Anda menurun seharian. Hal ini dapat mengganggu produktivitas Anda saat menjalankan usaha.

Bangun pagi bisa membuat Anda memulai hari dengan lebih menyenangkan. Dengan begitu, menjalankan bisnis akan terasa lebih ringan.

[Source : enterpreneur.com]

26 January 2013

Wanita Sukses Jarang Memperhatikan Kesehatan

Wanita Karir
Apakah wanita yang sukses merupakan wanita super. Rasanya wanita sukses cenderung kurang memperhatikan kesehatannya.


Wanita sering berpikir tentang kesuksesan dalam hal karir. Sukses sering dikaitkan dengan stres, dan penelitian menunjukkan  kalau wanita pada umumnya cenderung memiliki konsekuensi psikologis stres dibandingkan dengan laki-laki.


Seperti dilansir Sheknows, Kamis (10/1/2013) wanita paling sering menunjukkan tanda-tanda stres. Ketika dihadapkan dengan tantangan hidup, kehidupan kerja dan rumah, seperti ada tingkatan stres.

Ketika stres, coba pikirkan tentang selebriti perempuan dan bagaimana mereka menggambarkan kesuksesannya.


Lihat pekerjaan orang lain yang membuat bersyukur dan berkontribusi bagi keberhasilan karir. Perhatikan pengasuh anak, koki, jasa pembersih, atau mungkin manajer yang ada di sekitar Anda.


Yang paling penting untuk setiap wanita sukses adalah menjaga kesehatannya. Jika memang masalah yang Anda miliki tidak bisa diselesaikan, biarkan diri Anda untuk berpikir di ruang, sendiri.


Sekedar duduk dan membaca buku atau bermeditasi. Ketika menghabiskan waktu sendirian, biasanya wanita tidak terfokus untuk menjadi siapa pun kecuali diri sendiri. Berikan waktu untuk diri sendiri setidaknya 5 hingga 15 menit.


Wanita yang sukses dalam karir, bisa jadi karena mereka termotivasi dan sering membandingkan diri dengan pekerjaan kepada orang lain.


Jaga hubungan baik di kantor dan habiskan waktu sesekali untuk bersenang-senang. Apakah itu dengan keluarga atau teman-teman. Pastikan untuk tertawa dan memiliki waktu yang baik dengan teman atau keluarga.


Menghabiskan waktu dengan orang yang dicintai adalah cara yang tepat untuk mengurangi stres.

Banyak perempuan yang berorientasi pada karier dan menunggu untuk memulai sebuah keluarga. Hal ini dapat membuat stres dan mempengaruhi kesehatan pribadi juga.


Anda yang memiliki tujuan karir dan membuat resolusi di tahun 2013, harus berfokus pada tujuan pribadi Anda serta tujuan karir Anda.


Anda dapat menciptakan keseimbangan lebih antara kehidupan yang membutuhkan waktu dan perhatian terhadap orang di sekeliling Anda. Buat diri Anda menjadi pribadi yang sukses dan sehat hingga bisa berkarya hingga bertahun-tahun ke depan.

[Source : Sheknows]

13 September 2012

Cara Berpikir Orang Kaya

Di Australia, salah seorang wanita terkaya di dunia, Gina Rinehart menciptakan kontroversi dengan tulisannya yang mengecam warga Australia lainnya yang dianggapnya kurang bekerja keras. "Tidak ada monopoli untuk menjadi miliuner." tulis Rinehart dalam salah satu majalah Investasi di Australia. "Bila Anda iri dengan orang-orang yang memiliki banyak uang, jangan duduk dan mengeluh saja. Lakukan sesuatu untuk mendapatkan uang -  habiskan waktu lebih sedikit untuk minum-minum di pub, merokok dan ataupun ngobrol. Kerja lebih banyak."

Orang kaya lainnya di Australia Clive Palmer baru-baru ini membeberkan rencana untuk membangun kapal pesiar Titanic 2, yang akan dilengkapi dengan kasino dimana hanya penumpang di kelas satu saja yang boleh bermain di kasino tersebut. Kontroversi orang-orang kaya ini membuat  situs news.com.au mempertanyakan apakah memang cara berpikir orang kaya berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Apakah mereka pekerja keras, dan sifat apakah yang membuat mereka menjadi kaya. Inilah yang kemudian disarikan dari pengarang buku How Rich People Think (Bagaimana Pola Pikir Orang Kaya), Steve Siebold, yang mengatakan bahwa orang kaya dan orang kebanyakan memiliki cara pandang yang sangat berbeda.

1. Orang kaya menganggap egois adalah hal positif. Orang kebanyakan beranggapan membantu orang lain adalah hal yang mulia, dan itulah yang membuat mereka miskin. Orang kaya berperilaku bahwa kalau mereka tidak bisa membuat diri mereka kaya dulu, maka mereka tidak akan bisa nantinya membantu orang lain.

2. Orang kaya memiliki perilaku aksi. Anda tidak akan melihat orang kaya antre membeli lotere (bahkan sebelum mereka kaya). Orang kebanyakan selalu menunggu adanya orang lain yang akan membantu mereka menjadi kaya - Lotere, pemerintah, teman atau pasangan hidup - namun itulah yang membuat mereka tetap miskin. Orang kaya melakukan tindakan, dan menghabiskan waktu mereka menyelesaikan masalah yang ada.

3. Orang kaya mementingkan pengetahuan khusus, bukan sepotong ijazah. Orang kebanyakan mempercayai bahwa jalan menuju kaya adalah lewat pendidikan. Orang kaya pada umumnya berhasil karena mereka menjual pengetahuan khusus dan unik yang mereka sudah kuasai.

4. Orang kaya mimpi akan masa depan.  Orang kaya banyak menghabiskan waktu melihat ke depan, menentukan target yang ingin dicapai, dan semangat dengan tantangan yang ada. Orang kebanyakan lebih sering berpikir mengenai masa lalu, sehingga kemudian membuat mereka merasa tidak bahagia dan stres.

5. Orang kaya berpikir secara logis soal uang. Orang kebanyakan dan orang yang berpendidikan bisa masuk perangkap dengan berpikir mengenai uang secara emosional, dan ingin pensiun secukupnya. Orang kaya berpikir secara logis mengenai uang yang dianggap sebagai alat untuk mencetak lebih banyak kekayaan lagi.

6. Orang kaya mengikuti minat mereka. Ini pernyataan dari Oprah Winfrey -  ikuti minatmu dan lakukan apa yang senang kamu lakukan. Orang kaya menemukan cara mendapatkan pemasukan melakukan sesuatu yang mereka sukai, sementara orang kebanyakan mendapatkan uang melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai.

7. Orang kaya memiliki tujuan tinggi. Orang kebanyakan memasang target rendah karena takut kecewa, sementara orang kaya mengejar target tinggi, dan kemudian berusaha keras mewujudkan mimpi tersebut.

8. Orang kaya percaya kita harus menjadi "seseorang". Sementara orang kebanyakan percaya kita harus melakukan "sesuatu" untuk bisa kaya. Orang kaya terus menerus berusaha memperbaiki diri dan belajar dari sukses dan kegagalan.

9. Orang kaya menggunakan uang orang lain.  Orang kebanyakan percaya bahwa mereka harus menggunakan uang sendiri untuk menghasilkan, sementara orang kaya tidak memiliki masalah menggunakan uang orang lain.

10. Orang kaya hidup di bawah batas ambang. Ini terlihat bertentangan namun orang kaya berusaha terus kaya sehingga  mereka bisa hidup di bawah batas ambang mereka, sementara orang kebanyakan hidup di atas ambang kekayaan mereka.

11.Orang kaya mengajari anak mereka bagaimana menjadi kaya. Orang kebanyakan mengajar anak mereka bagaimana bertahan hidup, namun orang kaya mengajar anak mereka dari sejak dini mengenai orang kaya dan miskin.

12. Orang kaya tidak membiarkan uang membuat mereka jadi stress. Orang kebanyakan stress karena uang. Orang kaya merasa tenang dengan kekayaan mereka dan tahu bahwa mereka bisa menyelesaikan masalah dengan uang yang mereka miliki - dengan itu mereka bisa mencetak lebih banyak uang lagi. Orang kebanyakan melihat uang sebagai perjuangan melawan setan dan keburukan.

13.Orang kaya terus belajar, dan tidak sekedar mencari hiburan. Orang kebanyakan malah kebalikannya. Mereka membaca buku, tabloid atau menonton televisi, dan bukannya belajar lebih serius meskipun sudah selesai sekolah.

14. Orang kaya bergaul dengan orang yang berpikiran seperti mereka.  Orang kebanyakan melihat orang kaya sebagai snob, dan cenderung berperilaku negatif terhadap mereka. Orang kaya cenderung menghindari orang-orang yang berpikiran negatif.

15. Orang kaya mengfokuskan diri pada pendapatan.  Orang kebanyakan memfokuskan diri pada menabung dan kehilangan kesempatan besar karena takut mengambil risiko. Orang kaya terus menerus memfokuskan diri pada tujuan besar, dan bagaimana meraih pendapatan besar.

[Source : http://bukucatatan-part1.blogspot.com]

10 September 2012

4 Ways to Stop Making Excuses and Follow Your Passion

Remember waking up before dawn to jump into the lake at summer camp? The hardest part was the moment right before you jumped, when you knew the water would be freezing cold but didn't yet trust that you'd acclimate. For would-be entrepreneurs who want to follow their passion but haven't made the leap, the fears about starting a new business can feel just like staring at that frigid, early morning water.

Maile Ehlers, a graphic designer and founder of PGH Papercraft, felt torn between freedom and stability. "I was climbing up the corporate ladder (at a paper packaging company), but I really wasn't happy," she says.

She put off quitting for fear of stiff competition and unpredictable earnings, but after building a customer base in her spare time, she finally struck out on her own.

"New entrepreneurs are not confident about their own competencies, and thus aren't sure if it would be the right decision," says Hao Zhao, associate professor of management and entrepreneurship at Rensselaer Polytechnic Institute. "Such hesitation is normal."

Today, Ehlers' business is booming and she's branching into new markets. "Seeing that my business has been successful gives me the confidence to keep going and expand," she says.

If you find yourself making excuses about why your new venture should wait, these four tips can help you gain confidence and make a firm decision. 

 1. Decide if you're truly passionate. 

 "(Entrepreneurship) is not for everyone," Zhao says. It may sound like a sexy career, but the reality is that it takes self-motivation and fortitude. If it isn't for you, that's okay. "Be honest with yourself about whether you have the tenacity to be an entrepreneur," says Paula Caligiuri, a psychologist and author of Get a Life, Not a Job (FT Press, 2010). "You'll eventually need it to push yourself beyond your comfort zone and persevere when the tasks become challenging." 

Ultimately, passion drives that momentum. "Taking the successful leap requires both caution and passion," Zhao says.

2. Get to know your market. 

Before launching a new venture, scope out your competitors, get to know your customers, and meet entrepreneurs that you might emulate. "Success requires expertise with the product and market, as well as careful planning and execution," Zhao explains.

Ehlers launched her shop on Etsy before quitting her job, which helped her assess the demand. "When I saw (business) was consistent, I put my two weeks in," she says.

3. Create a safety net. 

If you're serious about starting your own business, save up the resources you'll need in order to succeed. "Lack of time and debt are the two greatest pitfalls that prevent people from starting a new gig," Caligiuri says.

At first, cut out TV time in favor of business planning and curb unnecessary spending. Ehlers didn't quit her job until she saved enough money to cover two months of costs, a precaution that helped reduce her pre-launch anxiety.

4. Turn to family and friends for support. 

The people closest to you can be a vital resource as you prepare to start a new venture. "Encouragement from trusted family members and friends will help build entrepreneurial self-efficacy," Zhao says.

They can also help you identify your strengths and weaknesses. "Many people cannot name their own natural talents," Caligiuri says. "Family and friends can help us see what we are good at and what our challenges might be as entrepreneurs."

[Source : entrepreneur.com]

Tanda Harus Pindah Kerja

by:

Rata-rata jam kerja pegawai kantoran adalah 8 hingga 9 jam. Artinya, setiap hari, Anda menghabiskan sepertiga hidup Anda di kantor. Sia-sia sekali rasanya jika waktu sebanyak ini dihabiskan dengan mengeluh dan berbagai hal lain yang membuat Anda tak bahagia. Mungkin sudah saatnya Anda mengundurkan diri dan pindah kerja ke perusahaan lain, atau jadi pengusaha?

Jika Anda mengalami 10 hal berikut ini, tandanya Anda memang harus segera mengucap selamat tinggal pada rekan kerja.


1. Anda begitu membenci hari Senin
Merasa sedih saat weekend berakhir dan Senin kembali datang itu hal yang wajar. Tapi jika Anda membayangkan masuk kantor, bekerja, bertemu bos, bertemu rekan kerja, dan semua yang akan terjadi hari Senin, lalu Anda merasa muak, takut, bahkan stres, artinya Anda memang tak ingin berada di sana. Mungkin Anda hanya bertahan hanya demi punya pekerjaan? Tapi untuk apa menyiksa diri dan menghabiskan sepertiga hidup Anda di tempat yang Anda benci, sementara banyak orang lainnya yang menikmati pekerjaan mereka?

2. Anda bekerja tak dengan hati
Pekerjaan yang ideal adalah saat kita mengerjakan apa yang kita cintai. Memang tak semua orang seberuntung itu, tapi jika Anda mencintai pekerjaan Anda, melakukan aktivitas sehari-hari di kantor pun tak akan terasa berat. Bahkan jika pekerjaan Anda berat, Anda masih bisa bersenang-senang di kantor. Namun jika Anda mulai merasa terpaksa, atau bahkan benci, mengerjakan tugas di kantor, sampai Anda mencari-cari alasan untuk tak masuk kantor, untuk apa dilanjutkan?

3. Hubungan dengan bos tidak baik
Bos galak itu biasa. Yang harus diwaspadai adalah jika hubungan Anda dengan bos lebih buruk dibanding hubungan bos dengan rekan-rekan kerja Anda. Merupakan pertanda buruk pula jika Anda sampai harus menyelesaikan masalah Anda dengan bos lewat atasan bos Anda, atau lewat departemen SDM (HRD).

4. Kemampuan Anda tak dianggap
Anda lulusan S2 manajemen, namun di kantor ini Anda hanya diberi tugas mengerjakan hal-hal remeh. Berkali-kali Anda meminta naik jabatan atau diberi tanggung jawab lebih, namun permohonan itu tak pernah digubris. Jangan sia-siakan bakat dan potensi Anda untuk perusahaan yang tak menghargainya.

5. Masa depan perusahaan Anda tak jelas
Perusahaan Anda terlilit utang, beberapa departemen ditutup, sejumlah besar karyawan diberhentikan, gaji sudah tak dibayarkan selama dua bulan. Jika perusahaan diibaratkan perahu, segeralah Anda menyelamatkan diri sebelum ikut tenggelam.

6. Prinsip Anda dan perusahaan tak sejalan
Anda adalah orang yang sangat mencintai lingkungan, namun Anda bekerja di perusahaan yang dikenal suka mencemari lingkungan. Awalnya mungkin Anda masih bisa berkompromi, tapi jika hal ini tetap mengganggu Anda dan bahkan membuat Anda stres, carilah perusahaan lain yang sejalan dengan prinsip Anda.

7. Gaji Anda tak memadai
Biasanya fresh graduate alias yang baru lulus kuliah dan memiliki nol pengalaman masih mau menerima pekerjaan dengan gaji di bawah standar. Tapi itu pun seharusnya disertai catatan bahwa dalam setahun atau dua tahun akan ada kenaikan gaji. Jika usia Anda sudah lebih dari 27 tahun dan Anda masih digaji di bawah standar, padahal pekerjaan yang sama di perusahaan lain gajinya berkali lipat, saatnya Anda cari kesempatan lain. Tentu saja ini berlaku jika permintaan Anda untuk naik gaji tak pernah digubris.

8. Anda tak suka rekan-rekan kerja Anda
Pekerjaan yang berat akan terasa ringan dan menyenangkan jika dikerjakan bersama orang-orang yang Anda cintai. Bahkan rekan-rekan kerja bisa jadi alasan kita untuk bersemangat berangkat kerja di hari Senin. Tapi jika Anda tak punya teman dekat di kantor, atau sama sekali tak bergaul dengan mereka karena merasa tak cocok, makan siang selalu sendiri, rekan-rekan kerja memperlakukan Anda dengan tidak baik, dan Anda sering terlibat pertengkaran dengan rekan kerja, saatnya ucapkan selamat tinggal pada mereka.

9. Anda makan gaji buta
Yang Anda lakukan di kantor sebagian besar adalah browsing di internet yang tak berhubungan dengan pekerjaan, lalu nongkrong, lalu ngobrol-ngobrol dengan rekan kerja, dan tak mengerjakan apapun. Enak memang, karena Anda tetap digaji meskipun Anda tak berkontribusi. Tapi ini artinya Anda "tak dianggap" oleh perusahaan. Anda produktif atau tidak, perusahaan tak peduli. Bahkan mungkin Anda tak masuk kantor pun tak ada pengaruhnya bagi keseluruhan alur kerja perusahaan. Waspadalah, bisa-bisa Anda didepak dari perusahaan karena larut dalam perilaku "makan gaji buta" ini.

10. Anda masih mencari-cari lowongan pekerjaan di tempat lain
Tak ada salahnya mencari tahu peluang dan kesempatan apa yang ada di luar sana. Namun jika sebagian besar waktu Anda dihabiskan dengan mencari lowongan kerja di internet, atau setiap bertemu teman Anda selalu berkata, "Ada lowongan nggak, di kantormu?", artinya Anda memang benar-benar ingin keluar dari perusahaan Anda. Ikutilah kata hati itu.

Menentukan Gaji Sendiri saat Melamar Kerja

Oleh: Marmi Panti Hidayah

Ketika melamar kerja, kandidat karyawan akan menghadapi sesi wawancara. Ini bagian yang sangat menentukan, apakah bisa diterima atau tidak setelah mengetahui standar kualifikasinya. Negosiasi gaji ada pada sesi ini. Apa yang mesti dilakukan?

“Dalam proses wawancara, perusahaan akan mencari orang paling tepat atau paling mendekati sesuai ‘kebutuhan’ perusahaan. Seseorang diterima atau tidak bukan karena bodoh atau tidak bodoh, mampu atau tidak mampu. Paling utama adalah kandidat tersebut tepat atau tidak dengan kebutuhan perusahaan,” kata Ami Siamsidar, Konsultan Psikologi Senior pada Dr Sarlito & Co. Bisa jadi, ada kandidat sangat cerdas atau memiliki kemampuan lebih, tapi justru tidak diterima lantaran melebihi kualifikasi perusahaan.

Permintaan besarnya gaji juga menjadi pertimbangan apakah kandidat ini tepat atau tidak. “Sebab selain disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, penerimaan tenaga kerja juga disesuaikan dengan kemampuan perusahaan,” kata Ami.

Pembicaraan besaran gaji biasanya dilakukan di akhir wawancara. “Di sini biasanya perusahaan akan menanyakan gaji yang diminta kandidat. Tapi bisa juga luput dari pertanyaan. Atau, justru itu trik untuk tidak ditanyakan akibat saking tertariknya atau sebaliknya, tidak tertarik pada kandidat,” jelasnya.

Perihal gaji ini, kandidat boleh saja menanyakan langsung mengenai plafon perusahaan, kira-kira berapa imbalan yang akan diterimanya jika sudah bekerja. “Dengan bahasa standar, pertanyaan tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan bagi pewawancara. Jadi wajar saja menanyakan standardisasi gaji perusahaan,” katanya.

Justru dengan bertanya demikian, kandidat akan mudah mempertimbangkan nilai gaji yang diinginkan. Idealnya, lanjut Ami, seorang kandidat (berpengalaman kerja) telah memiliki standardisasi gaji. Semua dipertimbangkan sesuai kemampuan kerja dan referensi yang dimiliki, hingga bisa menentukan berapa minimal gaji yang seharusnya didapat.

“Kita harus punya kisaran gaji kira-kira berapa, dan bermainlah dalam kisaran tersebut. Jangan berspekulasi dan mencoba-coba menyampaikan permintaan gaji di atas atau di bawah kisaran,” ujar psikolog yang juga aktivis LSM ini.

Menurut Ami, menentukan standar gaji bagi diri sendiri adalah lebih realistis dibanding berspekulasi atau bermain-main dengan nilai. Ukur besarnya gaji yang diminta sesuai kemampuan kerja. Jangan sembarang menetapkan nilai, tapi sampaikan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan pribadi: kemampuan kerja,  referensinya bagaimana, dengan memperbandingkan dari sejumlah informasi. “Itu jauh lebih mudah diterima,” tandasnya.

Kembali lagi, yang paling aman adalah menanyakan bujet yang ditawarkan untuk jabatan yang dilamar. “Di situ kita bisa melihat apakah ancer-ancer yang sudah kita persiapkan jauh di bawah standar atau di atas standar. Jadi kita bisa tahu peluangnya,” jelas Ami.

Dalam menyampaikan gaji sesuai keinginan, kita juga harus mempertimbangkan kebutuhan kita untuk transportasi dan uang makan. Berapa jumlah yang dibutuhkan di luar gaji pokok?

Untuk itu, Ami menuturkan, saat ada panggilan wawancara, segera perhitungkan ongkos transportasi dan makan. Jangan sampai salah hitung hingga belakangan baru kaget gajinya terlalu kecil, lalu baru sebulan memilih mundur.

“Itu tidak fair, karena perusahaan mencari tenaga dengan harapan bisa mendapatkan tenaga kerja jangka panjang,” jelasnya.

Selain besaran gaji, bisa juga ditanya dengan rileks soal tunjangan yang bakal didapat selama bekerja. Misalkan, tunjangan kesehatan. Untuk permintaan tunjangan ini, kandidat berpengalaman kerja bisa bercermin dari perusahaan sebelumnya. Sebaliknya bagi yang belum perpengalaman, bisa tanya-tanya dulu soal poin-poin tunjangan yang biasanya diberikan perusahaan tersebut apa saja.

“Jangan dipukul rata semua perusahaan bisa memberikan tunjangan-tunjangan demikian,” katanya.

Terkait permintaan gaji dan tunjangan ini, Kepala BSI Career Center, Kampus Bina Sarana Informatika (BSI) Heri Kuswara berpendapat, kandidat belum berpengalaman sebaiknya tidak menyampaikan nilai gaji yang diminta.

“Fresh graduate tidak puya nilai jual. Sebesar apapun kompetensinya, tetap saja belum pernah diimplementasikan di dunia kerja. Belum pernah diketahui berapa besar kontribusinya di dunia kerja. Jadi jangan sampai menyampaikan nilai gaji yang dinginkan,” kata Heri Kuswara.

Lalu bagaimana jika ada pertanyaan berapa gaji yang diminta? “Jawab saja: Saya yakin perusahaan akan memberikan yang terbaik kepada saya ketika saya memberikan kontribusi terbaik pada perusahaan,” ujar dosen di BSI ini.

Tetapi biasanya di sini kandidat terjebak karena dipaksa menyebutkan nilai gaji. Di sinilah kandidat perlu mengetahui standardisasi gaji di daerah. Misalnya untuk lulusan SMA di Jabodetabek Rp 1,3 juta ke atas (sesuai UMP), D-3 Rp 1,5 juta ke atas, dan S-1 adalah Rp 1,8 juta ke atas. “Boleh sebut angka minimum atau lebih sedikit di atasnya,” kata dosen yang mengelola lembaga persiapan dan penempatan karier mahasiswa/alumni Kampus BSI.

Kandidat juga perlu memahami profile company perusahaan, karena ada perusahaan yang memang memberikan gajitinggi dan ada yang memang standar gajinya kecil.

14 August 2012

Perempuan Muda, Cantik dan Kaya itu Bernama Merry Riana

Malam terasa begitu megah. Ribuan pendaran cahaya tampak begitu gemerlap menerangi langit. Di salah satu sudut bangunan tertinggi di Orchard Road, Singapore, tampak berdiri perempuan muda nan cantik asal Jakarta bernama Merry Riana.

Sambil menyaksikan pemandangan malam hari yang begitu indah, pandangannya menerawang jauh. Air matanya terlihat mulai menetes. Malam itu, di usianya yang baru menginjak 26 tahun, ia telah berhasil merengkuh impiannya menembus financial freedom : di-usia yang sangat muda itu, ia telah berhasil memperoleh penghasilan 1 juta dollar. Media terkemuka di Singapore menobatkannya sebagai the young female millionaire.

Padahal, beberapa tahun sebelumnya, perempuan yang besar di Pulomas, Jakarta itu harus setiap hari sarapan indomie rebus lantaran kekurangan biaya kuliah. Padahal beberapa tahun sebelumnya, ia terpaksa bekerja sebagai pelayan di hotel dan penjaga toko bunga untuk membiayai hidupnya.

Kisah tentang Merry Riana adalah kisah tentang impian besar, tentang keteguhan hati, dan tentang doa sepanjang hari yang terus dilantunkan.


Kisahnya berawal dari tragedi kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Karena pertimbangan keamanan, Riana yang lulus dari SMA Santa Ursula, Jakarta diminta orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di Nanyang Singapore Technology. Karena kurangnya biaya, ia terpaksa meminjam dana pendidikan dari bank di Singapore (pinjaman ini harus dikembalikan setelah lulus, bekerja dan memperoleh penghasilan).

Dari kisah biografisnya yang begitu menyentuh (judulnya Mimpi Sejuta Dollar, sebuah buku yang wajib dibaca terutama oleh para anak muda usia 20-an tahun), kita bisa memetik tiga pelajaran penting tentang keteguhan hati seorang Merry Riana.

Pelajaran pertama yang mungkin bisa kita petik adalah ini : Keberanian untuk memiliki BIG DREAM. Ia melakoni kuliah di Singapore dengan biaya yang amat terbatas. Acapkali ia hanya makan dua kali sehari (itupun hanya semangkuk mi rebus di pagi hari dan dua lembar roti di siang hari) lantaran minimnya dana. Ia sungguh ingin melewati masa kelam ini dengan sebuah impian besar : mencapai kebebasan finasial sebelum usia 30 tahun.
Dan dari pengamatannya, ia tahu impiannya itu rasanya akan sulit diraih jika ia memilih menjadi karyawan. Itulah kenapa sejak tingkat akhir, ia sudah bertekad untuk membangun usaha sendiri.

Ia kuliah di jurusan Teknik dan lulus dengan predikat terbaik kedua. Dengan bekal ini ia relatif mudah melamar pekerjaan. Namun begitulah, ketika lulus dan semua teman-temannya sibuk membincangkan akan melamar ke perusahaan apa, ia malah berpikir keras untuk segera memulai usaha sendiri.

Lantaran kurangnya modal, ia akhirnya merintis usaha di bidang penjualan produk-produk keuangan (berjualan produk asuransi, deposito, reksadana, dll). Mayoritas teman-teman kuliahnya heran dengan pilihan yang aneh ini. But the show must go on.

Pelajaran kedua : mimpi yang indah hanya akan berhasil jika ia segera disertai dengan TINDAKAN NYATA yang begitu keras, gigih dan tanpa mengenal batas. Dan perjuangan jeng Riana ini rasanya begitu menguras energi, emosi dan teramat melelahkan.

Agar mampu menjual produk keuangan yang ia pasarkan, ia bekerja 14 jam sehari, 7 hari seminggu, terus bergerak menelusuri setiap sudut kota Singapore. Ribuan kali ditolak, ribuan kali bangkit. Ratusan kali gagal, lalu terus mencari strategi baru yang lebih smart agar berhasil.

Dan perjuangan itu kadang begitu getir. Di sebuah dinihari yang senyap, ia tergolek tak berdaya di salah satu sudut peron stasiun KA. Letih, dan keputus-asaan membayangi wajahnya. Ia hanya bisa menangis lirih. Toh esok lusa, ia segera bergegas lagi. Terus bergerak lagi. Terus berjuang lagi. Kesulitan, ia bilang, akan terasa mudah jika kita terus tegar menghadapinya hingga tuntas.

Pelajaran terakhir yang bisa kita petik adalah : the POWER of PRAY. Merry Riana dibesarkan dalam keluarga yang sangat religius. Sejak kecil ia juga dilimpahi dengan doa-doa yang terus mengalir dari bunda tersayangnya. Dalam relung batinnya yang terdalam, ia selalu yakin Sang Pencipta akan selalu bersama dengan langkah-langkahnya.

Dalam setiap lekuk kesulitan yang acap ia temui, ia selalu ingat dengan cacatan kecil yang diberikan sang bunda saat melepas kepergiannya ke Singapore : raihlah tujuanmu selangkah demi selangkah. Dan libatkan selalu Yang Maha Kuasa dalam setiap jejak hidupmu.

[Source : http://strategimanajemen.net]

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month