Share Info

19 November 2010

Obat Penyakit Hati

Bagi orang kebanyakan seperti kita, akan mengalami kesulitan ketika berusaha memahami perlikau konglomerat yang tida ada henti-hentinya mengumpulkan kekayaan, bahkan dengan cara-cara yang tidak halal. Kita mengalami kesulitan untuk memahaminya karena ssesungguhnya kekayaan mereka sudah diluar batas kebutuhan maksimalnya. Dalam kalkulasi manusiawi, kekayaan yang telah dikuasainya tak akan pernah bisa dihabiskan, bahkan oleh tujuh turunannya.
Dalam kaitan ini kita bertanya-tanya, kenapa pada saat berbisnis mereka sangat konsisten menerapkan prinsip-prinsip ekonomi, sementara pada saat yang lain mereka berprilaku sangat tidak ekonomis?

Kesibukan mereka mengumpulkan harta kekayaan telah melalaikannya. Seolah-olah mereka mabuk. Mereka tak sadar untuk apa mereka banting tulang, peras keringat, dan mengrutkan dahi untuk berfikir, sementara harta mereka sudah melimpah. Mereka bekerja sekedar untuk bekerja. Seluruh waktunya habis untuk bekerja, seolah-olah ia diciptakan hanya untuk mengumpulkan harta benda. Perilaku mereka telah direkam secara baik dalam AlQuran: "Bermegah-megaha telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu, dan janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui." (Attakatsur : 1-4)

Kecenderungan dari orang kaya adalah sifatnya yang kikir. Lebih baik ia menyimpan kekayaannya daripada digunakan untuk membantu sesama. Semua harta yang dikeluarkannya harus memberi tambahan keuntungan. Jika harus menolong orang, maka pertolongan itu harus dikompensasi dengan keuntungan lain. Prinspnya tidak ada pemberian gratis di dunia ini. Bagi orang kikir, lebih baik memberli lukisan dengan harga yang sangat mahal daripada disumbangkan kepada fakir miskin. Atau dibelikan barang-barang antik. Koleksi lukisan dan barang-barang antiknya menumpuk di gudang , kadang tak sempat disentuh atau dilihatnya sama sekali. Jika demikian apa untungnya menyimpan lukisan dan barang-barang antik itu?

Dibalik perilaku mereka yang serakah dan kikir itu, ada dorongan yang kuat pada dirinya untuk bisa menjadi orang penting. Dengan kekayaannya yang melimpah, mereka mengira dapat menundukkan orang lain. Bukankah semua dapat dibereskan dengan uang? Begitulah kira-kira jalan pikirannya. Dengan uangnya ia menjadi sangat berkuasa. Dengan uangnya pula ia menjadi orang penting. Orang yang dibutuhkan.

Nafsu berkuasa itu selalu selalu ada dan tumbuh pada diri manusia. Setiap orang mempunyai keinginan untuk dilayani. Perintahnya dipatuhi dan kata-katanya didengar. Ketika seseorang merasa perintahnya dipatuhi orang dan kata-katanya didengar, maka kepuasan batinnya terpenuhi. Sebaliknya ia merasa sunyi. Hidup terasa tidak berarti.

Sesungguhnya, kegemaran orang kaya mengejar kekayaan yang lebih banyak lagi, banyak yang ditentukan oleh kebutuhan batin. Mereka berharap agar orang lain merasa butuh padanya, yang karenanya dipentingkan atau dijadikan orang penting. Mereka berharap orang lain tunduk pada perintahnya, yang karenanya mereka merasa menjadi berkuasa.

Jika demikian kenyataannya, maka sesungguhnya membayar zakat, infaq dan shadaqah itu merupakan tuntutan dan kebutuhan setiap manusia. Inilah solusi dan jalan keluar yang disiapkan oleh Allah. Siapa bilang zakat itu beban, sebab bagi mereka yang sadar, sesungguhnya zakat dan shadaqah itu merupakan rekreasi bagi orang-orang yang mampu. Dengan demikian, maka sesungguhnya orang kaya itu mempunyai kebutuhan untuk mengeluarkan zakatnya, sedangkan orang miskin butuh untuk menerimanya. Itulah yang menjadikan hidup menjadi harmonis dan berkah.

[tatahati.blogsomeDotcom]

0 Comment:

Post a Comment

Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month