Share Info

12 August 2011

Air Mata Ramadhan

Wanita setengah baya itu kembali menyusut air mata disela hidangan tajil berbuka puasa. “Ramadhan to iuto watashi no namida ga ippai detekuru tsuki (Ramadhan adalah bulan air mata saya banyak keluar),” ungkap seorang mualaf Filipina, yang biasa dipanggil Aisyah-san. Terlihat sesekali matanya yang berkaca-kaca menerawang, seolah tengah membayangkan satu masa. Ramadhan kali ini adalah tahun ke-4 baginya, setelah memeluk Islam.

Terlahir sebagai penganut agama Katholik, menjadikannya penginjil yang taat. Setelah menikah dengan orang Jepang dan tinggal di Negeri Sakura, ia makin menikmati perannya sebagai penginjil di salah satu tempat ibadah.

Setiap minggu atau hari libur, ia memiliki tugas mengetuk pintu rumah-rumah untuk memberi seruan tentang ajaran agamanya. Hingga suatu hari, di tahun ke-12 pernikahannya, ia dikejutkan oleh berita bahwa kakak perempuannya telah memeluk agama Islam. Sebuah aib bagi keluarganya yang dikenal sebagai penginjil.

Berbekal rasa dendam dan kesal, ia segera memutuskan pulang ke Filipina untuk mengajak sang kakak agar kembali mempercayai ajaran agamanya.

Pertemuan terjadi, berbagai khatbah, seruan, dan ajakan tegas ia lontarkan. Namun sang kakak tak bergeming, terlihat tenang, sampai akhirnya menjulurkan tangan dengan satu buku tebal. “Jika ada waktu, tolong dibaca, buku ini namanya Al-Qur’an,” hanya satu kalimat yang terlontar dari sang kakak.
Singkat cerita, Aisyah-san, yang saat itu masih menggunakan nama Katholik, mulai penasaran dan mencoba membaca Al-Qur’an dalam terjemahan bahasa Inggris.
Ada getaran aneh saat membacanya. Semakin dibaca, semakin ia dibuat seolah menangis oleh kalimat-kalimat yang tersusun indah dalam Al-Qur’an. Hingga tak lama hidayah itu datang. Aisyah bersama suaminya yang orang Jepang serta putranya yang masih berumur 10 tahunan mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Kembali ke Jepang sebagai muslim, cobaan datang. Perusaahan suaminya tiba-tiba bangkrut, rumah yang ditempatinya terpaksa harus dijual, suami masuk rumah sakit, sehingga tak ada penghasilan. Tabungan semakin lama semakin menipis, hingga ia harus ikut berperan menopang kehidupan keluarga dengan bekerja di sebuah pabrik. Teman sesama penginjil mulai mencibir dengan kata-kata “Miskin karena berIslam!” Aisyah terseok dalam keteguhan. Berusaha menyakinkan hati bahwa inilah saatnya ia membuktikan kekuatan imannya. Ia tak ingin kalah dalam cobaan.
Hingga waktu bergulir dan Ramadhan pun menyapa setiap muslim di antero bumi mana pun, termasuk Aisyah-san sang mualaf. Kali pertama berpuasa, Aisyah-san dibuatnya menangis. Tidak, bukan mengangis karena menahan beratnya lapar dan haus. Tapi menangis karena keharuan. Dalam puasa, ia seolah merasakan bahwa dirinya tak sendirian, masih banyak orang lain yang mengalami ujian lebih berat dari
dirinya. Orang-orang yang diuji dengan kemiskinan sampai sulit untuk memperoleh sandang, pangan, dan papan. Aisyah-san menangis karena kebahagiaan. Bahagia bisa mendapatkan hidayah dari agama yang sangat menyantuni para fakir miskin. Hingga ada satu bulan istimewa, yaitu Ramadhan, khusus untuk melatih merasakan keadaan mereka yang hidupnya serba kekurangan, berbagi sama rasa. Setiap Ramadhan menyapa, air matanya tak bisa terbendung oleh tangisan bahagia, terharu, dan bahkan syahdu. Begitu pun tahun ke-4 Ramadhan kali ini, mata Aisyah-san masih selalu terlihat menangis. Tidak hanya karena tangisan keharuan dan kebahagiaan dapat merasakan Ramadhan, bulan senasib sepenanggungnya, tapi juga tangisan akan kekhawatiran. Khawatir akan amal-amalnya dalam berpuasa dihinggapi hal-hal yang justru mengugurkan ibadah puasa. Tangisan karena ketakutan akan dosa-dosa yang mungkin belum terampuni. Tangisan karena ibadah-ibadah sunnah ataupun qiyamul lail yang tidak sempurna. Tangisan karena belum fasihnya dalam bertadarus Al-Qur’an. Tangisan berupa rasa kehilangan saat berpisah dengan Ramadhan. Serta tangisan akan sebuah kerinduan, “Masih bisakan tahun depan merasakan Ramadhan lagi?”

Air mata Ramadhan Aisyah-san, merupakan tangisan seorang hamba yang ingin lebih mendekatkan diri pada Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ramadhan baginya adalah salah satu masa uji coba atas kesungguhannya memeluk Islam. Bulan untuk memperdalam keimanan di tengah berbagai cobaan hidup selama menjalani kehidupannya di Negeri Sakura. Bulan pembuktian cintanya pada Sang Kekasih sejati, Allah SWT. Insya Allah.

[Source : salam-online.web.id]

0 Comment:

Post a Comment

Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month