Share Info

11 October 2011

Jujur Terhadap Sejarah, Jujur terhadap Diri Sendiri


Nidjo Sandjojo, lelaki kelahiran Wonosobo yang sekarang berprofesi sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi dan memulai kariernya sebagai seorang militer berusaha keras membuktikan kebenaran sejarah. Sebuah bukunya "Abdul Latief Hendraningrat Sang Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945," sebentar lagi akan diluncurkan dan dibedah. Akankah buku ini menghimpun bukti-bukti kuat sekitar misteri dan menghentikan polemik yang terjadi saat ini? Semoga.


InsyaAllah saya akan menjadi moderator dalam acara ini. Sebagai seorang ilmuwan saya sejak awal memang harus independen. Saya harus "berumah di angin" sebagaimana almarhum W.S.Rendra katakan ketika menerima gelar doktor kehormatan di Universitas Gajahmada. Saya juga harus melihat permasalahan ini dari luar, karena bagaimana pun  klaim seseorang atas kebenaran dalam hal yang sama harus pula kita sikapi dengan bijaksana.Harus kita beri tempat selayaknya. Harus kita hormati. Inilah hakekat kehidupan manusia, inilah hakekat mengapa pada akhirnya sebagai orang beriman, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan kalau kita tetap berdiri di jalan yang lurus yang setiap sholat kita selalu sebut,"Ya, Allah tunjukilah kami jalan yang lurus."

Setelah itu bagaimana pula sikap kita terhadap kebenaran palsu? Menurut saya biarkan mereka melakukannya, kewajiban kita hanya menyampaikan. Bukankah bagi Allah SWT mengulurkan tangan kepada orang yang menzalimi kita lebih mulia dari pada orang yang memang telah baik kepada kita. Ketika Nabi Muhammad SAW dilukai, dicerca dan diludahi, apakah dia dendam kepada ummatnya sendiri? Pada waktu itu apa yang tidak bisa beliau lakukan. Tetapi kata beliau: " Ya, Allah maafkan mereka karena mereka tidak tahu." Mulia sekali dan ini pula yang diikuti para pendiri Republik ini. Ketika Soekarno-Hatta berseteru di bidang duniawi, tetapi tetap tersenyum di antara sesamanya. Sekali lagi saya katakan, bukankah, Rahmi seorang gadis cantik itu dicarikan oleh Bung Karno sebagai pendamping Hatta. Bukankah Hatta berkunjung kepada Bung Karno ketika saat-saat dia sakit? Bukankah dalam sejarah orang-orang partai sering berdebat bagai perang, tetapi setelah di luar tertawa, minum kopi bersama sama? Ketika Ahmad Hussein, Ketua PRRI tetap keras angkat senjata, bacalah surat Bung Karno. Dia masih tetap mengatakan "anakku Hussein". Ketika saya bertemu dua kali di Jakarta, beliau katakan langsung kepada saya: "Saya Bukan Pemberontak." Tetapi di pihak lain, maaf di mana saya pernah dulu beraktivitas di "Majalah Veteran", sebahgian besar mengatakan:"Ahmad Hussein Pemberontak." Ini merupakan cara pandang sipil dan militer yang tidak harus lagi tejadi.

Hidup ini memang harus dihayati tidak hitam putih. Dia salah, saya yang benar. Memang pada satu sisi kita harus melengkapi data, tetapi menurut Pak Asvi Warman Adam, tulisan itu tergantung siapa sejarawannya, di mana instansinya. Semakin independen maka semakin independen pula tulisannya. Data itu harus pula dikaji, otentikkah, benar dan kuat kah. Ketika data kita kuat mengapa ada orang lain mengatakan datanya juga kuat? Inilah yang saya maksud semuanya perlu didialogkan dan kepada yang keliru kita arahkan ke jalan lurus. Kita ingatkan, bahwa yang menderita kelak bukan hanya kita yang hidup sekarang ini, tetapi sampai ke anak cucu. Bagaimana bisa anak atau cucu kita bersekolah sering diganggu teman-temannya, ayahmu atau kakekmu pembohong ya? RELAKAH KITA? Mungkin kita bisa mengatakannya tidak rela kalau masih hidup. Tetapi kalau kita sudah meninggal? Kasihan masa depan hidupnya..

Inilah yang saya jaga. Sebuah kehati-hatian, kecuali setelah melakukan sebuah dialog. Kita pun dengan berhati-hati minta yang salah mundur dengan baik.Mudah-mudahan setelah berdialog dengan baik, saling menghormati, setiap orang ingin mengakui kesalahannya. Bentuk dialognya terserah. Apalagi sumber yang seorang lagi sudah tua. Kalau kita tidak memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya, kasihan anak cucunya. Intinya hidup tidak selalu berkata bagaimana saya, tetapi juga bagaimana dia.Bahkan para pejuang kita dulu tidak pernah terpikir memikirkan bagaimana saya? Hidup, pikirannya diserahkannya kepada bangsa dan negara, bagaimana masa depan bangsa dan negara ini.Sejalan dengan kehidupan sejarawan, ilmuwan dan para tokoh agama.

[Source : wikimu.com]

0 Comment:

Post a Comment

Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month