Share Info

16 August 2012

Musuh Dalam Selimut

Menghabiskan waktu sekitar delapan jam di kantor, besar kemungkinan hubungan profesional di antara rekan kerja berubah menjadi persahabatan yang lebih informal. Berawal dari tukar ide saat rapat, berakhir dengan saling curhat mengenai pekerjaan dan persoalan pribadi. Namun, di dunia kerja apa saja bisa terjadi,  tak terkecuali dikhianati rekan kerja yang sudah kita anggap sebagai sahabat sejati. Kalau sudah begini, mesti bertahan atau putuskan saja pertemanan ini?   

Beda Nilai

Menurut Rima Olivia, konsultan karier dari Uniform - Personal Growth and Career Development Consulting, tindakan ‘menikam’ teman sendiri bisa terjadi karena adanya perbedaan nilai antara kita dan rekan kerja. Kita bisa saja mengatakan bahwa mengadukan kesalahan teman sendiri di depan publik merupakan tindakan yang tercela, karena kita dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai pertemanan, misalnya.

“Sebaliknya, jika seseorang merasa nilai persahabatan tidak sepenting karier atau jabatannya, sehingga mengorbankan rekan kerjanya bukanlah masalah yang harus diperdebatkan, maka dia tidak akan merasa bersalah. Misalnya, dia sering mendengar ungkapan-ungkapan seperti ‘itu biasa dalam bisnis’, ‘hidup itu keras’, dan sebagainya,” tambah Rima.

Taktis dan Strategis

 Walaupun kemarahan sudah di ujung kepala, Rima menyarankan untuk tidak bertindak gegabah. Yang lebih utama adalah menentukan langkah berikutnya. Emosi yang meledak-ledak hanya akan memberikan kepuasan sesaat. Coba dipertimbangkan lagi, jika Anda memilih untuk ‘buka-bukaan’, efek berikutnya akan memperbaiki atau malah memperburuk keadaan? Bagaimana jika respons impulsif Anda itu malah membuat Anda kehilangan dukungan dan menyakiti pihak-pihak lain?

Menurut Rima, saat berhadapan dengan konflik, ada tiga aksi yang bisa dipilih: membalas, diam dulu, atau abaikan. Manfaatkan dengan baik momen antara ‘penyerangan’ dan akan mengambil sikap apa. Anda harus lebih strategis, mengukur ke dalam, dan pikirkan masa depan karier Anda. Berpikir dengan matang sebelum bertindak sangatlah penting.

Jangan salah, diam secara sadar dan penuh perhitungan, itu termasuk action. Mengamati rekan kerja sambil menganalisis mengapa rekan bersikap seperti itu, dan mencari bukti-bukti yang menguatkan posisi Anda, juga merupakan strategi. Setelah itu, Anda bisa memutuskan, apakah masalah ini penting atau tidak. Choose your battle wisely. “Asal tahu saja, dengan Anda tidak mau mengarahkan energi untuk rekan kerja yang telah menikam dan ingin menjatuhkan Anda, itu akan menyebalkan bagi dia,” tambah Rima.

Anda juga harus mengenali kebiasaan Anda saat mengatasi masalah. Jika Anda termasuk people person, yang menganggap pertemanan itu penting dan pekerjaan bisa dicari di tempat lain, mungkin Anda bisa mengabaikan masalah ini dengan mudah. Tetapi, jika Anda memegang teguh profesionalisme dan menjunjung tinggi kebenaran, penting untuk merefleksikan diri: di mana kesalahan Anda sehingga mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman sendiri? Sambil tentu saja mencari fakta-fakta yang mendukung Anda, agar bisa dipertanggungjawabkan jika konflik ini membesar.   
  
Tidak dipungkiri, untuk bisa mencapai kematangan emosional seperti ini, jam terbanglah yang bicara. Makin tinggi posisi seseorang, biasanya  makin kompleks pula masalah yang dihadapi. Tidak hanya disikut kanan-kiri, tetapi juga ‘ditikam’ dari belakang, dan mungkin juga mendapat tekanan dari atas. 
 
Namun, satu hal yang biasanya dipahami oleh orang yang sudah berada di level ini adalah krisis pasti berakhir. Tinggal mencari tahu bagaimana meredamnya, bagaimana mendamaikan apa yang ada dalam hati, dan bagaimana harus bersikap. “Dengan diam yang decisive, diam untuk mengendapkan masalah yang ada sebelum bertindak, orang akan melihat dia sebagai leader yang matang. Jadi, kuncinya bukan selalu perkara sabar atau tidak,” tegas Rima.

Lanjut atau Sudahi?

Setelah terjadi peristiwa yang tidak menyenangkan ini, biasanya hubungan Anda dan rekan kerja menjadi kurang nyaman. Apalagi jika Anda termasuk orang yang tidak tenang sebelum mendapat penjelasan. Setelah rekan minta maaf, perlukah Anda memaafkannya? Atau lebih baik memutuskan persahabatan sama sekali?
Keputusan ini lagi-lagi ada di tangan Anda.  Jika Anda bisa memahami alasan di balik tindakannya dan mau memaafkannya, tentu boleh. Tetapi, jika Anda merasa alasannya terlalu sepele dan tak pantas mengorbankan yang sudah terjalin lama, kemudian Anda memilih untuk tidak berteman dengannya lagi, juga tak masalah.    
Bagaimanapun, di dunia ini tidak ada yang abadi. Tidak ada pula yang mengharuskan untuk melanjutkan pertemanan atau apa pun, karena orang berubah dan berkembang. Banyak hal yang bisa mengakhiri satu pertemanan, misalnya konflik atau tiba-tiba sudah tidak tertarik pada hal yang sama. “Jika mempertahankan sesuatu padahal ada ganjalan, tentunya tidak baik untuk kesejahteraan emosi masing-masing. Pada titik tertentu, seseorang harus mandiri dengan dirinya sendiri,” ungkap Rima.   

Namun, pengalaman pahit ini tentunya jangan pula membuat Anda kapok menjalin pertemanan di kantor. Terbukti, tidak sedikit, kok, persahabatan di kantor yang bertahan hingga puluhan tahun. Memang, kondisi kantor juga ikut memengaruhi pola pertemanan. Jika beban kerja sangat tinggi dan sangat tertekan, hubungan yang tadinya baik-baik saja bisa menjadi memburuk. Anda tidak bisa lagi melihat satu tugas sebagai tugas bersama, melainkan mengapa dia hanya sedikit kerja, sementara Anda sebaliknya. Lama-kelamaan, kenyamanan bekerja bisa terusik juga.

“Dalam organisasi yang sehat dan kadar kepercayaannya tinggi, hal ini bisa diminimalkan,” kata Rima. Misalnya, Anda melihat beban rekan kerja tinggi, otomatis Anda akan membantu karena tahu bahwa dia akan melakukan hal yang sama. Kepercayaan  adalah hal yang dibangun bertahun-tahun lewat reputasi dan catatan perjalanan seseorang. Tapi, ada juga kepercayaan yang tumbuh secara otomatis karena ada chemistry yang baik.

Dalam organisasi yang bersih, rekan kerja yang saling mendukung, dan beban kerja yang terdistribusi merata, potensi terjadinya saling ‘menikam’ antara sesama rekan kerja sangat kecil. Karena, di organisasi semacam itu sudah tertanam pemahaman bahwa kenyamanan situasi di kantor adalah tanggung jawab bersama karyawan. Hal itu mendorong kepercayaan terhadap rekan kerja tumbuh dengan baik.

Meski begitu, Rima mengingatkan Anda untuk tidak memercayai seseorang 100% karena hal itu sama saja dengan naif. Karena, saat Anda memberikan kepercayaan kepada orang lain, risiko dikhianati selalu ada. “Jangan menutup mata dan telinga saat berinteraksi dengan rekan kerja. Walaupun berteman, tetaplah bersikap profesional kepada rekan kerja dan ada formalitas hitam di atas putih untuk setiap kerja sama,” tegasnya.

Tapi, menutup diri juga bukan pilihan baik karena  hanya akan merugikan diri sendiri. “Anda akan menjadi orang yang mudah curiga, tidak bisa sharing atau mendelegasikan tugas. Padahal, saat bekerja, Anda membutuhkan team work untuk bisa sukses,” tandas Rima.

0 Comment:

Post a Comment

Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month