Share Info

2 December 2010

15 Tanda Anda Bakal Bercerai

Setelah menggali berbagai penelitian yang bicara angka perceraian, jurnalis dan penulis Anneli Rufus menganalisa sekaligus menyimpulkan sejumlah tanda terjadinya perceraian. Jika Anda dan pasangan mendapati satu dari 15 tanda ini, tak perlu berkecil hati. Dengan mengenali beberapa tanda perceraian, Anda dan pasangan bisa lebih bijak menyikapi masalah, bukan?

1. Usia pernikahan

Jika Anda perempuan yang menikah muda, sebelum 18 tahun, peluang perceraian mencapai 48 persen dalam jangka waktu pernikahan 10 tahun.

2. Keinginan memiliki anak
Jika Anda perempuan yang memiliki keinginan lebih kuat untuk punya anak dibandingkan pasangan, ini juga pertanda perceraian. Perbedaan perspektif atau keinginan tentang anak memicu perceraian dua kali lebih besar daripada pasangan yang bersepakat untuk memiliki anak.

3. Jumlah anak perempuan dan lelaki
Jika Anda memiliki dua anak lelaki, peluang perceraiannya mencapai 36,9 persen. Sedangkan dengan memiliki dua anak perempuan, kemungkinan perceraian lebih tinggi, sekitar 43,1 persen.

4. Kadar testosteron
Pria dengan kadar testosteron tinggi kecenderungan perceraiannya juga tinggi, sekitar 43 persen. Sedangkan pria dengan kadar testosteron rendah, peluangnya lebih kecil untuk bercerai.

5. Anak penderita ADHD
Jika anak Anda terdiagnosa menderita ADHD (Attention-Deficit Hyperactivity Disorder), kemungkinan terjadi perceraian sebesar 22,7 persen sebelum anak berusia delapan tahun. Sedangkan orangtua yang memiliki anak sehat tanpa diagnosa ADHD, pernikahannya akan cenderung lebih aman.

6. Kemampuan mengenal dan menerima pasangan
Kemampuan Anda atau pasangan untuk saling menerima atau mengenal lebih dalam memengaruhi kualitas pernikahan. Mereka yang tak saling mengenali individu secara mendalam, cenderung tak langgeng pernikahannya.

7. Foto masa kecil

Perhatikan foto masa kecil Anda. Jika Anda tersenyum, tandanya pernikahan Anda akan langgeng. Sedangkan jika foto saat masih kecil cenderung tanpa ekspresi, ini pertanda tak baik. Anda cenderung lebih mudah bercerai.

8. Bayi meninggal pada usia 20 minggu
Mereka yang pernah mengalami keguguran, dengan bayi meninggal saat usia kandungan 20 minggu, atau meninggal saat persalinan, atau setelah persalinan, memicu problem pernikahan. Kemungkinan perceraian pada pasangan yang mengalami peristiwa buruk ini mencapai 40 persen.

9. Penyakit pada laki-laki dan perempuan
Perempuan yang terdiagnosa kanker memengaruhi hubungan pernikahan. Kemungkinan yang bisa terjadi adalah tingkat perceraian enam kali lebih tinggi. Sebaliknya, pria yang terdiagnosa kanker, tak lantas membuat pernikahan hancur.

10. Beda bangsa
Pernikahan beda bangsa dan hidup berjauhan menjadi penyebab tingginya tingkat perceraian. Sebagai gambaran jika perempuan dari Asia Tengah menikah dengan pasangan beda kenegaraan dan hidup terpisah, tingkat perceraiannya mencapai 98 persen. Sedangkan perempuan Afrika-Amerika yang tinggal terpisah dengan pasangannya kemungkinan perceraiannya tergolong tinggi (72 persen), namun lebih rendah daripada perempuan Asia Tengah dan perempuan yang tinggal di negara bekas jajahan Spanyol atau Hispanik.

11. Karier
Profesi penari atau koreografer lebih tinggi tingkat perceraiannya, mencapai 43,05 persen. Sedangkan ahli matematika, kemungkinan perceraian 19,15 persen dan pelatih hewan 22,5 persen.

12. Petani versus insinyur
Kehidupan di pedalaman sebagai petani memiliki kemungkinan perceraian lebih tinggi, yaitu 7,63 persen, dibandingkan ahli tenaga nuklir, 7,29 persen.

13. Cedera otak
Entah Anda atau pasangan yang menderita cedera otak, pernikahan akan berujung pada perceraian. Namun jumlahnya tak banyak, hanya 17 persen pasangan yang memutuskan mengakhiri pernikahan karena masalah ini.

14. Perempuan Asia lebih bertahan

Perempuan Asia lebih sedikit yang bercerai pada pernikahan pertamanya, hanya 20 persen. Bandingkan dengan perempuan Hispanik (34 persen), Kaukasian (32 persen), dan Afrika-Amerika (47 persen).

15. Karier militer
Perempuan yang berkarier di militer memiliki kecenderungan perceraian 250 persen lebih tinggi. Sebaliknya, pria yang berkarier di militer pernikahannya aman-aman saja.

Faktor ini hanyalah data kasar. Tentunya Anda dan pasangan memiliki cara mempertahankan hubungan pernikahan dengan adanya kompromi dan toleransi. Bagaimana menurut Anda?

[source ; Telegraph]

Bagaimana Mengurus Perceraian Sendiri?

Mengakhiri sebuah pernikahan tentu bukanlah hal yang mudah. Ada begitu banyak aspek yang perlu diperhatikan. Namun, yang terpenting adalah kesiapan dan kemantapan seseorang saat mengambil keputusan untuk bercerai. Tak jarang, keputusan cerai diambil dengan tergesa-gesa dan penuh emosi. Rasa menyesal pun hadir belakangan.

Banyak sekali pasangan yang mengurus sendiri perceraian mereka. Meskipun prosesnya sedikit lebih rumit, namun hal ini tidak mustahil dilakukan. Kuncinya, bekali diri Anda dengan pengetahuan yang cukup dan jangan malu bertanya.

Jika Anda memutuskan tidak menggunakan bantuan dari pengacara maupun LBH di pengadilan, Anda tetap dapat berkonsultasi kepada mereka tentang tata cara perceraian. Peran konsultan hukum juga akan sangat membantu, kalau Anda memutuskan mewakili diri sendiri di depan hakim. Cara yang paling mudah adalah mendatangi pengadilan agama atau pengadilan negeri di wilayah Anda, dan tanyakan tata cara mengurus perceraian kepada petugas yang berjaga.

Sebagai panduan, inilah yang harus Anda lakukan jika hendak mengurus perceraian sendiri:
* Menyiapkan surat-surat yang berhubungan dengan perkawinan. * Membuat kronologis permasalahan.
Penggugat menuliskan kronologis permasalahan rumah tangganya di kertas biasa. Kronologis ini berisi cerita lengkap pernikahan pasangan yang hendak bercerai, dari awal pernikahan hingga penyebab perselisihan sampai akhirnya memutuskan untuk bercerai. Cerita harus dibuat dengan sebenar-benarnya dan detail. Ini untuk memudahkan penggugat dalam menyusun surat gugatan nanti. Usahakan membuat alur cerita yang runtut dan jelas, sehingga hakim juga dapat dengan mudah mengerti alasan-alasan Anda menggugat cerai.

* Membuat surat gugatan cerai.
Dalam surat gugatan cerai, umumnya ada tiga poin yang biasa digugat, yaitu status untuk bercerai, hak pemeliharaan anak, dan hak mendapatkan harta gono-gini. Sebagai contoh, surat gugatan cerai biasanya berisi:

1. Identitas para pihak (Penggugat dan Tergugat)
Terdiri atas nama suami dan istri (beserta bin/binti), umur dan tempat tinggal. Identitas para pihak juga disertai dengan informasi tentang agama, pekerjaan, dan status kewarganegaraan. Hal ini diatur dalam pasal 67 (a) UU No. 7/1989.

2. Posita (dasar atau alasan gugat)
Atau istilah hukumnya adalah Fundamentum Petendi, berisi keterangan berupa kronologis sejak mulai perkawinan Anda dengan suami, peristiwa hukum yang ada (misal, lahirnya anak-anak), hingga munculnya ketidakcocokan antara pasangan yang mendorong terjadinya perceraian. Alasan-alasan yang diajukan dan uraiannya kemudian menjadi dasar tuntutan (petitum). Contoh posita misalnya:

• Bahwa pada tanggal … telah dilangsungkan perkawinan antara penggugat dan tergugat di….
• Bahwa dari perkawinan itu telah lahir … orang anak, yang bernama …, lahir di…., pada tanggal ….
• Bahwa selama perkawinan antara tergugat sering melakukan tindakan kekerasan seperti memukul, dan terjadi pada tanggal….
• Bahwa… dst.
• Bahwa berdasarkan alasan di atas cukup bagi penggugat mengajukan gugatan perceraian.

3. Petitum (tuntutan hukum)
Yaitu tuntutan yang diminta oleh istri sebagai Penggugat agar dikabulkan oleh hakim. Bentuk tuntutan itu misalnya:

Berdasarkan fakta tersebut di atas, maka dengan ini Penggugat memohon kepada Majelis Hakim berkenan memutus sebagai berikut:
1. Menerima dan mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya.
2. Menyatakan perkawinan antara penggugat dan tergugat sah putus karena perceraian.
3. Menyatakan pihak Penggugat berhak atas hak pemeliharaan anak dan berhak nafkah dari tergugat sejak tanggal… sebesar Rp… per bulan sampai Penggugat menikah lagi.
4. Mewajibkan pihak Tergugat membayar biaya pemeliharaan anak (jika anak belum dewasa) terhitung sejak… sebesar Rp… per bulan sampai anak dewasa.
5. Menyatakan bahwa harta berupa… yang merupakan harta bersama (gono-gini) menjadi hak Penggugat.

Setelah gugatan cerai selesai dibuat, fotokopi berkas tersebut sebanyak lima buah. Jadi total Anda mempunyai enam buah berkas gugatan cerai yang nantinya diperlukan saat mendaftar gugatan cerai. Keenam berkas tersebut akan dibagikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengadilan nanti. Satu berkas akan dikirim oleh pengadilan kepada si suami (Tergugat), tiga berkas untuk para hakim, satu berkas untuk panitera pengadilan (pegawai yang bertugas mencatat jalannya sidang), dan satu berkas yang tersisa menjadi pegangan milik Anda.

* Mempersiapkan biaya pendaftaran gugatan.
Siapkan biaya pendaftaran gugatan perkara sekitar Rp 500 ribu – Rp 700 ribu. Biaya pendaftaran ini berbeda di setiap pengadilan, namun umumnya berkisar di angka itu.

* Mendaftarkan gugatan cerai di pengadilan yang berwenang.
Biasanya pendaftaran gugatan dilakukan di ruang administrasi oleh pegawai pengadilan yang bertugas untuk menerima gugatan. Petugas akan memberikan cap atau pengesahan kepada keenam berkas yang diserahkan. Dengan begitu, surat gugatan Anda sudah sah didaftarkan.

* Mempersiapkan saksi-saksi.
Setelah berkas gugatan resmi didaftarkan, pengadilan akan mengirimkan surat gugatan cerai bersama surat panggilan untuk menghadiri sidang pertama kepada pihak suami. Jadwal sidang pertama biasanya jatuh pada dua sampai empat minggu setelah tanggal pendaftaran gugatan cerai.

[source : Tabloid Nova/Astudestra Ajengrastri]

Berapa Sih Biaya Mengurus Perceraian?

Jika Anda memilih untuk bercerai dengan didampingi pengacara, waktu Anda tidak akan tersita untuk mengurus surat-surat dan pengadilan. Namun, biaya yang dikeluarkan untuk pengacara tidak sedikit. Meski demikian, pengacara profesional Minola Sebayang mengatakan bahwa para pengacara juga bisa melakukan Prodeo, yaitu memberikan bantuan secara cuma-cuma.

Tidak ada hitungan baku berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar pengacara. Besarnya ongkos sangat tergantung kepada siapa pengacara yang Anda sewa. Semakin terkenal pengacaranya, tentu semakin mahal harganya.

Menurut Minola, uang yang dibayarkan kepada pengacara biasanya melingkupi dua hal, biaya operasional dan biaya fungsional. Yang dimaksud dengan biaya operasional adalah biaya yang diperlukan pengacara untuk transportasi, akomodasi, dan administrasi. Jika biaya transportasi dan akomodasi adalah Rp 500.000 untuk sekali sidang, maka pada kasus perceraian yang umumnya memerlukan 10 kali sidang, klien harus menyiapkan uang sebanyak Rp 5 juta.

Untuk pendaftaran gugatan, biayanya berkisar antara Rp 500.000 dan Rp 1 juta. Adapun biaya untuk pengambilan putusan berkisar pada angka yang sama. Ini belum termasuk uang fotokopi. Sementara itu, biaya fungsional adalah honor pengacara.

“Jika ditotal, bisa mencapai Rp 10 juta. Itu belum termasuk honor pengacara,” kata Minola. Beberapa pengacara, menurut Minola, juga kerap meminta success fee jika kasus yang mereka tangani menang.

Sebagai klien, Anda berhak tahu berapa uang yang Anda keluarkan untuk kuasa hukum Anda. Saran dari Minola, mintalah perjanjian tertulis kepada pengacara sehingga Anda dapat mengetahui untuk apa saja uang tersebut dipergunakan. Hak dan kewajiban kedua belah pihak akan jelas terlihat jika sudah ada perjanjian hitam di atas putih.

“Saya selalu membuat surat serupa. Namanya ruang lingkup pekerjaan dan ketentuan honorarium,” katanya.

Utarakan dengan terbuka seberapa besar kemampuan finansial Anda kepada pengacara. Jika sudah saling merasa enak, maka tanda tangani surat tersebut dilampiri materai.

Trik lain yang sedang ngetren belakangan adalah memakai jasa satu pengacara untuk kedua pihak yang hendak bercerai. Jika memang pasangan tersebut sudah sepakat bercerai, satu pengacara saja sudah cukup untuk mewakili keinginan mereka.

Siasat ini tentunya akan menghemat biaya dan waktu. Sang pengacara akan membuat surat-surat untuk kedua pihak. Namun, di depan sidang, ia akan mendeklarasikan diri mewakili salah satu pihak saja.

“Ini agar tidak ada conflict of interest,” ucap Minola.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang ada di Indonesia. Meski begitu, di Indonesia belum ada LBH yang mengkhususkan diri menangani kasus perceraian. Seperti yang sempat disinggung di atas, LBH akan memelajari terlebih dahulu kondisi ekonomi dan psikologis calon klien. Kasus-kasus luar biasa seperti KDRT tentunya akan mendapatkan perhatian yang lebih khusus.

“Kalaupun ke LBH atau Prodeo, biasanya klien tetap menanggung operasional fee,” Minola mengingatkan.

[source : Tabloid Nova/Astudestra Ajengrastri]

CLBK, Perlukah Dianggap Serius?

Anda bertemu seorang mantan pacar, dan segera menyadari bahwa Anda berdua masih menyimpan perasaan yang sama. Anda teringat kembali dengan masa-masa manis ketika bersamanya, tetapi juga mengkhawatirkan akan mengulang kesalahan yang membuat hubungan Anda dulu berakhir. Bagaimana mengetahui bahwa cinta lama yang bangkit kembali ini (CLBK) perlu dilanjutkan ke arah yang lebih serius, ataukah lebih baik kita melupakan masa lalu saja?

Bila Anda becermin kepada pengalaman orang lain, mungkin akan ada kelompok yang memilih untuk memberikan kesempatan kedua bagi seorang mantan. Bagaimana pun juga, setiap orang bisa melakukan kesalahan, dan patut dimaafkan. Namun kelompok yang lain mengambil pilihan kedua: jika seorang mantan telah menyakiti Anda, atau kepribadian Anda berdua memang tidak pernah bisa saling melengkapi, untuk apa mencobanya lagi?

Perpisahan yang dulu terjadi seharusnya telah memberi Anda waktu untuk berpikir apa yang salah dengan hubungan Anda saat itu. Inilah yang bisa dijadikan pijakan untuk membuat pilihan saat ini. Meskipun begitu, perlu Anda sadari bahwa tidak ada jaminan bahwa kesempatan kedua yang Anda berikan ini akan membuat hubungan menjadi langgeng. Bila masih ada keraguan untuk melanjutkan hubungan, pikirkan hal ini:
1. Seburuk apa situasi yang ditimbulkan akibat perpisahan dulu terhadap hidup Anda?
2. Apakah Anda melihat perubahan yang baik pada sikap mantan kekasih?
3. Apakah hidup Anda akan lebih baik bersamanya?

Bila Anda mampu menjawab semua pertanyaan tersebut dengan jujur, kini saatnya Anda berdialog dengan mantan kekasih mengenai kemungkinan untuk menjalin kembali hubungan yang sempat terputus. Pastikan:

Masih ada cinta di antara Anda. Apakah hanya Anda yang menginginkan hubungan ini, atau hanya dia yang masih merasakan cinta? Hubungan hanya akan terjadi bila diinginkan oleh kedua belah pihak. Jika Anda masih merasa belum yakin, artinya Anda masih membutuhkan waktu untuk memahami perasaan dan keinginan Anda. Hati-hati, jangan mencampuradukkan cinta dengan kebutuhan akan pasangan.

Atasi keraguan. Apa yang membuat Anda berpikir bahwa kali ini hubungan akan berhasil? Berpikirlah dengan jujur, karena keraguan akan menghancurkan semua usaha Anda. Pahami, keraguan apa yang Anda rasakan, dan cobalah untuk mengatasi hal tersebut lebih dulu. Jika Anda memutuskan untuk kembali bersama mantan, miliki keyakinan untuk dapat mengatasi keraguan yang ada.

Hadapi masalah Anda berdua. Bersediakah Anda dan mantan untuk saling memperbaiki diri, dan menghadapi masalah yang pernah Anda alami bersama? Ingatlah, bahwa Anda tidak mungkin meminta orang lain mengubah sifatnya. Akuilah bahwa Anda juga memiliki kesalahan yang menyebabkan putusnya hubungan. Apakah Anda terlalu pasif, posesif, tidak sensitif, tidak mau mendengarkan, atau tidak mampu berempati dengan mantan? Lalu pikirkan, apakah Anda dapat memberikan reaksi yang berbeda jika terjadi masalah seperti itu lagi? Bicarakan dengan pasangan, dan katakan apa yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki hal ini.

Komitmen. Mengakui bahwa Anda memiliki peran dalam masalah adalah bagian dari penyembuhan diri. Membangun kembali fondasi hubungan diawali dengan membuat komitmen untuk mengatasi masalah yang ada satu per satu. Hal ini membutuhkan waktu, sehingga Anda perlu belajar bersabar, namun tetaplah konsisten.

Saat berdialog mengenai apa yang harus diubah dalam hubungan, cobalah untuk tidak saling mengkritik atau pun menyalahkan. Fokuslah pada apa yang menjadi tanggung jawab Anda, dan pastikan pasangan juga melakukan hal yang sama.

[source : Female Kompas]

1 December 2010

Untung-Rugi Berteman dengan Mantan

Banyak orang yang masih berteman dengan mantannya, dan hal ini sangat menyenangkan karena Anda tidak kehilangan orang yang sudah sangat mengenal Anda. Namun berteman dengan mantan kekasih juga sedikit tricky, karena bisa memengaruhi banyak hal di antara Anda. Salah satunya, jika mantan Anda sudah memiliki kekasih baru, dan si mantan masih berteman dengan Anda, kekasih barunya bisa merasa terancam dengan kehadiran Anda.

Bila Anda mengakhiri hubungan karena ada masalah, tentu Anda juga tak bisa berharap terlalu cepat untuk berteman lagi. Anda berdua perlu mendinginkan diri, dan berusaha melupakan dulu segala konflik yang pernah terjadi. Ketika Anda sudah siap, Anda pun perlu mempertimbangkan baik-buruknya membina hubungan pertemanan lagi dengan mantan. Empat kemungkinan di bawah ini bisa dipertimbangkan.

Untung: Ia sudah mengenal Anda
Dia tahu bahwa Anda punya bekas luka di lengan Anda, mengapa atasan Anda begitu dibenci anak-anak buahnya, atau bahwa Anda tidak menyukai hadiah ulang tahun yang pernah diberikan kakak Anda. Meskipun orang senang berkeluh-kesah melalui Facebook atau Twitter, hal ini tidak berarti orang lain tahu sekali siapa Anda. Maka, beruntunglah Anda karena ada orang yang sangat mengenal Anda. Namun jika Anda bisa menjaga agar hubungan tetap bersifat platonis, si mantan ini layak dipertahankan sebagai teman.

Rugi: Ia masih akan menyusahkan Anda
Jika Anda berdua tidak bisa makan bersama tanpa mengungkit-ungkit persoalan masa lalu, atau jika kelakuannya masih membuat Anda kesal, lebih baik Anda tak usah memaksakan diri menjaga hubungan baik dengannya. Biarlah pertengkaran Anda mereda seiring berjalannya waktu, sampai Anda benar-benar ilfil dan bisa berteman lagi dengannya tanpa terpengaruh perilakunya.

Untung: Ia bisa memberikan sudut pandang pria
Anda pasti memiliki sahabat perempuan, dan menikmati masa-masa curhat dan nongkrong bareng bersama mereka. Tetapi kadang-kadang, senang juga lho, membahas sesuatu dengan pria yang tidak memiliki hubungan romantis dengan Anda. Kebanyakan pria tidak akan menutup-nutupi pendapat mereka jika Anda berpakaian terlalu terbuka, mengatakan sesuatu yang menyakiti orang lain, atau mengencani seseorang yang tidak layak mendapatkan Anda. Ketika Anda menghadapi masalah dengan kekasih baru, Anda juga bisa meminta pendapatnya dari sudut pandang pria.

Rugi: Ia ingin kembali pada Anda
Bila Anda berdua memang masih saling mencintai, tentu tak ada yang salah bila Anda kembali sebagai pasangan. Tetapi jika si mantan mengatakan bahwa kekasih baru Anda bukan pria yang baik, apakah ia mengatakannya hanya karena ia masih menyukai Anda? Apakah dia berusaha menggagalkan hubungan baru Anda? Karena ia sudah pernah menjalani hubungan dengan Anda, si mantan pun tahu apa kelemahan Anda. Nah, berhati-hatilah agar Anda tidak terjebak dalam hubungan yang salah lagi.

Pada dasarnya, mantan bisa saja jadi teman baik, atau menjadi orang yang paling Anda hindari di dunia ini. Andalah yang tahu mantan Anda masuk golongan yang mana. Hal ini tergantung pada berapa banyak masalah yang masih mengendap di antara Anda. Bila Anda berhasil mengatasi atau melupakannya, tentu berteman dengan mantan tak akan sulit lagi.

[source : Female kompas]

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month