Share Info

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

2 July 2015

Al Quran Sudah Memprediksi Pendaratan Manusia Pertama di Bulan

Setiap huruf dalam huruf hijaiyyah memiliki angka nilai tertentu. Dengan kata lain, dalam bahasa Arab setiap huruf merupakan perwakilan nomor. Sejumlah perhitungan dapat dibuat dari dasar ini. Ini disebut sebagai numerologi (abjad) perhitungan atau “hisab al-Jumal.” Banyak Muslim yang telah mengambil keuntungan dari fakta bahwa setiap huruf hijaiyyah mewakili sebuah nomor telah digunakan dalam sejumlah bidang. Ilm’ul Jafr adalah salah satunya.



Jafr adalah ilmu yang mempelajari tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan. Salah satu metode yang digunakan oleh orang-orang yang terlibat dalam ilmu ini adalah membandingkan bentuk-bentuk simbolis dan nilai-nilai numerologi huruf. Perbedaan utama antara “abjad” dan “jafr” metode adalah bahwa bentuk huruf mengacu pada apa yang telah terjadi dan nomor yang diwakili huruf untuk apa yang mungkin terjadi di masa depan.

Metode perhitungan adalah bentuk tulisan yang secara luas digunakan beberapa abad sebelum wahyu Al-Qur’an. Segala sesuatu yang terjadi dalam sejarah Arab ditulis dengan menghubungkan nilai-nilai numerik untuk huruf sehingga tanggal setiap peristiwa tercatat. Tanggal ini diperoleh dengan menjumlahkan nilai-nilai numerik tertentu untuk setiap surat yang digunakan.



Ketika ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an diperiksa dengan menggunakan metode “abjad,” kita akan melihat bahwa sejumlah tanggal muncul sesuai dengan arti dari ayat-ayat tersebut. Ketika kita melihat bahwa hal-hal sebagaimana dimaksud dalam ayat-ayat ini benar-benar terjadi pada tanggal yang dihitung menggunakan metode ini, kita memahami bahwa ada rahasia besar mengenai peristiwa-peristiwa dalam ayat-ayat ini. (Wallohu A’lam).

Seperti kejadian pendaratan manusia di bulan pertama kalinya pada tahun 1969 yang ditunjukkan dalam Al-Qur’an.

“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.” (QS. Al-Qamar:1)

Kata “insyaqqa” (terbelah) yang digunakan dalam ayat di atas berasal dari kata “syaqqa,” yang juga berarti “menyebabkan sesuatu naik, membajak atau menggali tanah.” Seperti dalam QS. ‘Abasa: 26-27,



“Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,”


 Seperti yang kita lihat, kata “syaqqa” dalam ayat di atas tidak digunakan dalam arti “membagi menjadi dua” tapi “membelah tanah, menuai berbagai tanaman.” Ketika dievaluasi pengertian ini, arti kata “syaqqa” dalam ungkapan “bulan telah terbelah” (QS. Al-Qamar: 1) juga dapat menunjukkan pendaratan manusia di bulan pada tahun 1969 dan studi yang dilakukan di daratan bulan. Wallohu A’lam. Bahkan, ada satu indikasi yang sangat penting di sini. Beberapa “abjad” dalam ayat Surat al-Qamar ini juga menunjuk pada angka 1969.

Satu hal penting dimana perlu ditekankan dalam metode ini perhitungan memiliki kemungkinan menghasilkan jumlah yang sangat besar atau tidak relevan.


Pada tahun 1969, astronot Amerika melakukan penelitian di Bulan, menggali tanah dengan berbagai peralatan, dan hasil galian (spesimen) itu ikut dibawa kembali ke Bumi.

Kita harus, bagaimanapun, membuat jelas bahwa pemisahan Bulan ini tentu saja salah satu mu’jizat yang diberikan kepada Nabi SAW. oleh Allah. Keajaiban ini terungkap sehingga dalam sebuah hadits disebutkan:

“Orang-orang Mekah meminta Rasulullah untuk menunjukkan kepada mereka sebuah keajaiban. Ia menunjukkan bulan dibelah menjadi dua bagian sehingga Gua Hira bisa terlihat diantara keduanya.” (HR. Bukhari).

Mu’jizat Rasulullah Saw. mengenai terbelahnya Bulan terungkap dalam ayat tersebut. Namun, karena Al-Qur’an adalah kitab yang tak pernah lekang oleh waktu, mungkin ayat ini juga ditujukan untuk penjelajahan Bulan di zaman kini seperti yang dilakukan pada tahun 1969. Wallohu A’lam Bishshowwaab.  

 

Sumur Zam-zam Pernah Menghilang

Lokasi Sumur Zam-zam
Sumur Zam-zam pernah lenyap dari kota Mekah, dan tanda-tandanya hilang dengan berlalunya hari dan bergantinya malam. Yaqut Al-Hamawi berkata, "Dengan bergantinya hari, sehingga banjir dan hujan membuat telaga Zam-zam lenyap, dan tidak ada tanda-tanda untuk mengetahuinya lagi.".

Sumur Zam-zam rupanya ditimbun dan dihilangkan tanda-tandanya oleh suku Jurhum disaat mereka akan meninggalkan Mekah. Namun, Abdul Muthalib menggali kembali sumur Zam-zam. Ia menggalinya saat ia memangku jabatan sebagai pemberi makan dan minum jamaah Haji. 

Suatu ketika ia didatangi seseorang di dalam tidurnya, lalu orang tersebut berkata, "Galilah Thayyibah (Sumber Kebaikan)". Abdul Muthalib bertanya, "Apa itu Thayyibah?". 
Keesokan harinya ia didatangi lagi dan orang itu berkata, "Galilah Barrah! (Sumber Manfaat).". Abdul Muthalib berkata, "Apa itu Barrah?", keesokan harinya ia didatangi lagi dan orang itu berkata, "Galilah Al-Madhnunnah (Sesuatu yang dikikirkan)?". Abdul Mutholib berkata, "Apa itu Al-Madhnunah?". Lalu orang tersebut berkata, "Galilah Zam-zam!". 
 "Yaitu sumur yang tak pernah kering airnya, dan tak pernah habis, engkau akan dapat memberi minum berapa pun jumlah jamaah haji. Terletak di antara kotoran dan darah (tempat penyembelihan hewan untuk sesajian Ka'bah). Tepatnya di mana seekor gagak yang bersayap putih mematuk (hewan sesajian). Telaga ini nantinya menjadi kebanggaanmu dan anak keturunannya.

Dan Memang burung gagak bersayap putih selalu mematuk hewan sesajian di tempat darah dan kotoran. Lalu keesokan harinya Abdul Muthalib membawa cangkul dan berlindung. Ia berangkat bersama anaknya Al-Harits. Di hari itu anaknya, mereka terus bertakbir dan berkata: "Ini Sumur Ismail".
Orang-orang Quraisy berkata, "Ikutkan kami menguasainya!". Abdul Muthalib berkata, "Aku tidak akan melakukannya, ini khusus untukku. Kalau kalian tidak puas, carilah orang untuk mengadili kita!".


Mereka berkata, "Wanita tukang tenung di bani Sa'ad. "Lalu mereka berangkat menuju wanita tersebut. Di tengah perjalanan mereka dilanda kehausan yang sangat dan mereka nyaris mati.
Maka Abdul Muthalib berkata, "Demi Allah! Sikap pasrah ini kelemahan, kenapa kita tidak berusaha mencari air? Semoga Allah memberi kita Air. Merekapun bersiap-siap berpencar mencari air, dan Abdul Muthalib mulai menunggang kendaraannya. Ketika Ontanya bergerak, terpancar dari bawah kuku ontanya air tawar, sekonyong-konyong Abdul Muthalib bertakbir, dan para sahabatnya ikut bertakbir lalu mereka semuanya meminum air tersebut."

Dan mereka berkata kepada Abdul Muthalib, "Orang yang menginformasikan tentang sumur Zam-zam telah memutuskan perkara kita, Demi Allah! Selama-lamanya kami tidak akan menghujatmu." Lalu mereka kembali dan merelakan Zam-zam dikuasai oleh Abdul Muthalib.    

23 June 2015

7 Fakta Menarik Tentang Khadijah, Istri Nabi Muhammad SAW


Berbicara mengenai wanita dan Islam memang tidak ada habisnya. Seperti yang kita tahu bahwa memang dalam Islam sendiri sudah banyak dituliskan tentang hakikat seorang wanita, bagaimana wanita harus bersikap, apa saja hak serta kewajiban seorang wanita, dan lainnya.

Terlepas dari banyaknya perdebatan yang muncul terkait wanita dalam Islam, seorang penulis, aktivis, konsultan, serta ibu, Yasmina Blackburn menyampaikan 7 fakta menarik tentang Khadijah seperti yang dilansir dari huffingtonpost.com.
1. Khadijah merupakan sosok wanita dan pebisnis yang sukses
Khadijah merupakan anak dari seorang saudagar sukses yang mewarisi kemampuan berdagang ayahnya. Hal ini terbukti Khadijah sukses menjalankan bisnis keluarganya pasca sang ayah meninggal sampai akhirnya bisnisnya menjadi yang paling besar di antara para saudagar lain.

2. Khadijah menolak banyak lamaran pria
Sosok Khadijah yang sukses baik dalam karier dan juga dengan sifat yang baik tampaknya membuat banyak pria terpikat. Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad, Khadijah telah menjanda dari 2 pernikahannya dan juga telah dikaruniai anak. Itulah yang kemudian membuatnya menjadi sosok pemilih dan lebih sabar untuk menunggu lelaki yang tepat.

3. Khadijah meminta Nabi Muhammad untuk menikahinya
Khadijah waktu itu sudah paham betul dengan sifat dan juga kepandaian Muhammad entah dalam hal berdagang dan lainnya. Khadijah merasa jatuh cinta pada Muhammad dan akhirnya melalui temannya dia meminta Muhammad menikahinya. Dan ternyata Muhammad menyetujuinya.

4. Khadijah 15 tahun lebih tua dari Muhammad
Khadijah saat itu berusia 40 tahun saat menikah dengan Muhammad yang usianya masih 25 tahun

5. Khadijah adalah sosok istri yang ideal

Peran Khadijah sangat terlihat ketika dia harus menenangkan sang suami selepas mendapat wahyu pertama yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Saat itu memang hari-hari terasa sulit dan Khadijah berusaha untuk terus memberikan semangat pada sang suami pada masa-masa sulit tersebut.

6. Khadijah adalah perempuan pertama yang memeluk Islam
Khadijah adalah ibu dari agama Islam yang merupakan orang pertama yang menerima Muhammad merupakan Nabi terakhir dan terus berjuang bersama sang suami untuk memperjuangkan Islam.

7. Khadijah senang bersedekah
Dalam Islam kita semua diajarkan bahwa harta itu sebenarnya hanyalah titipan. Khadijah pada masa itu senang membagi hartanya untuk orang miskin dan anak yatim, untuk para janda dan mereka yang sakit. Dia juga membantu gadis yang miskin untuk menikah dan menyediakan seserahannya. 


Misteri Mata Cincin Nabi Muhammad SAW

Demam batu akik tengah melanda masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Pembicaraan orang di warung kopi hingga perkantoran adalah batu akik.

Bahkan, sekarang ini ada selorohan: jika suami terlambat pulang malam jum'at, cari saja di tempat mengasah batu akik.


 
Batu akik habsyi (Ethiopia).
Berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim,
mata cincin Rasulullah Saw berasal
dari Ethiopia

Begitulah antusias animo masyarakat terhadap batu mulia. Hal ini tak lepas dari kebiasaan memakai cincin yang telah lama menjadi budaya di seluruh masyarakat dunia.

Cincin sebagai aksesoris tidak hanya dipakai kaum perempuan saja, tapi juga dipakai oleh laki-laki. Hanya saja, dalam Islam laki-laki diharamkan untuk memakai cincin atau perhiasan yang terbuat dari emas.

Dalam sejarah Nabi pun diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw juga memakai cincin. Rasulullah SAW memakai cincin dengan fungsi sebagai stempel surat dakwah yang dikirim ke berbagai penjuru dunia.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW menulis surat-surat berisi dakwah Islam ke Kisra sang raja Persia, juga kepada Kaisar (Romawi), dan Negus (Ethiopia), dan dis setiap surat tersebut terdapat stempelnya yang merupakan cap dari cincin yang beliau gunakan.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membuat cincin dari perak, dan diukir tulisan Muhammad Rasulullah. Perawi hadits itu mengatakan: Saya melihat putihnya cincin itu di tangan beliau. (HR. Ahmad 12738, Bukhari 5872, Muslim 2092, dan yang lainnya).

Setelah Nabi wafat cincin tersebut digunakan oleh para khulafa’ Ar-Rasyidin sebagai stempel surat.

Lantas seperti apakah sebenarnya cincin Rasulullah Saw tersebut? Dan terbuat dari apakah?

Dari beberapa riwayat dijelaskan bahwa ciri-ciri cincin Rasulullah terbuat dari perak, ada mata cincinnya yang juga terbuat dari perak, logam perak mata cincin Nabi berasal dari Ethiopia.

Bagian mata cincin tersebut berukir tulisan Muhammad Rasulullah yang digunakan sebagai stempel.

Salah satu hadist yang menceritakan tentang cincin Rasulullah adalah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma yang mengatakan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ ، فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ

"Sesungguhnya Rasulullah Saw memakai cincin yang terbuat dari perak yang beliau pakai di tangan kanan, dan mata cincinnya berasal dari Habasyah (Ethiopia)". (HR. Muslim 2094, Turmudzi 1739, dan yang lainnya).

Hadits lain diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan cincin dari perak, dan beliau gunakan untuk menstempel suratnya. (HR. Ahmad 5366, Nasai 5292, dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).



Nabi pun melarang para sahabat untuk membuat cincin dengan ukiran serupa. al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan:


"Karena dalam cincin itu ada tulisan nama beliau, dan status beliau sebagai utusan Allah Swt. Beliau membuat demikian sebagai ciri khas beliau, yang membedakan dengan lainnya. Jika yang lain dibolehkan untuk membuat ukiran cincin seperti itu, tentu tujuan ini tidak terwujud". (Fathul Bari, 10/324).

Lantas terbuat dari apakah mata cincin Rasulullah Saw?
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna mata cincin berasal dari Habasyah sebagaimana disebut dalam hadits di atas, karena memang tidak dijelaskan detailnya.

Imam an-Nawasi menyebutkan beberapa perbedaan pendapat tersebut adalah mata cincinnya berupa batu dari Habasyah, berupa batu akik. Karena tambang batu akik ada di Habasyah dan Yaman.
Adapun warna batu akik tersebut adalah seperti seperti orang habasyah, yaitu berwarna hitam. Menurut Ibn Abdil Bar, inilah pendapat yang lebih kuat.

Pendapat lain sebagaimana dijelaskan oleh riwayat dari Anas yang menegaskan bahwa mata cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perak. Artinya, bukan batu akik.
Ada pula pendapat yang ketiga yang membenarkan kedua pendapat di atas, artinya bahwa terkadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin yang matanya dari perak dan terkadang memakai cincin yang matanya batu akik. (Syarh Shahih Muslim, 14/71).

Al-Hafidz Ibn Hajjar juga menyebutkan beberapa kemungkinan yang lain, mata cincin beliau berupa batu dari habasyah. Mata cincinnya dari perak. Disebut dari Habasyah, karena cirinya. Bisa jadi ciri modelnya atau ciri ukirannya.

Menurut Hilmi Aydin (2005) dalam bukunya "The Sacred Trusts", cincin Rasulullah SAW itu kini berada di Istana Topkapi (Topkapi Palace), atau dalam bahasa Turkinya Topkapi Sarayi Istanbul.

Berdasarkan catatan sejarah, cincin tersebut awalnya berada di Madinah. Ketika Sultan Salim menjadi penguasa Turki Usmani, maka cincin tersebut dipindahkan ke Istanbul. "Ini sebagai simbol kejayaan Islam,"ujarnya.

24 September 2014

Fungsi Kantong Imut di Celana Jeans

Kantong imut
Disadari atau tidak, ternyata celana jins dari merek yang satu dengan merek yang lain memiliki satu kesamaan yaitu memiliki kantong imut yang letaknya di sisi dalam saku depan. 

Pernah Anda berpikir, apakah fungsi kantong imut yang terdapat disetiap celana jins? Seperti yang dilansir dari Bubblews.com, ternyata fungsi kantong imut di depan tersebut berkaitan dengan sejarah penemuan celana jins itu sendiri.

Pada tahun 1850-an silam, di California, Amerika Serikat dilanda demam emas, sehingga tidak sedikit kaum imigran dari berbagai bangsa di Eropa, Cina maupun Afrika yang mencoba mengadu nasib untuk mencari emas di sana. Salah satu dari imigran itu adalah seorang warga Jerman berusia 24 tahun, Levi Strauss.

Celana Berbahan Kanvas

 Di saat yang lain tengah sibuk berburu emas, dibenak Strauss malah timbul keinginan untuk membuat pakaian yang terbuat dari bahan yang kuat bagi para pemburu emas itu.

Awalnya dia membuat celana berbahan kanvas untuk tenda, namun belakangan Strauss menggunakan bahan dari Genoa Italia, yang dinamai bleu de Genes yang kemudian hingga saat ini akrab disebut dengan blue jeans.

Celana itu memang terbukti sangat kuat dan awet. Selain karena bahannya, celana tersebut terbilang kuat karena memakai semacam paku yang saat ini masih terdapat pada semua celana jins model klasik.

Menyimpan Butiran Emas

 Strauss dan rekannya Jacob Davis kemudian melengkapi celana ciptaannya dengan semacam kantung imut yang berada di atas saku depan, gunanya adalah untuk menyimpan butiran-butiran emas yang mungkin ditemukan oleh para pemburu emas. Berada di sebelah kanan karena untuk mempermudah mereka menaruh emas itu.

Lebih lanjut, setelah ratusan tahun dari penemuan pertama celana jins, para pabrikan celana jins hingga saat ini masih tetap mempertahankan kantong imut tersebut, walaupun memang saat ini fungsinya bukan lagi untuk menyimpan butiran emas lagi.

[Source : Bubblews.com]

Mengaku Presiden Termiskin, Soekarno Royal Terhadap Istrinya

Keluarga Soekarno baru-baru ini menggugat penyerobot tanah milik presiden Indonesia pertama itu di daerah Puncak, Bogor. Sebelumnya saat Megawati Soekarnoputeri menjabat Wakil Presiden, Puri Bima Sakti di Batutulis atau dikenal juga Istana Batutulis yang sempat dirampas Sekretariat Negara dikembalikan kepada keluarga Soekarno atas instruksi Presiden Abdurrahman Wahid.

Soekarno ternyata punya banyak tanah dan properti. Padahal, Soekarno dalam biografinya, mengaku gajinya ketika itu hanya $200 per bulan.

Jumlah yang menurut dia tak cukup memenuhi kebutuhan keluarganya. “Adakah seorang kepala negara lain yang melarat seperti aku dan sering meminjam-minjam dari ajudannya?” kata Soekarno.

Namun itu bukan berarti kehidupan Soekarno morat-marit. Bahkan istri termuda Soekarno, Heldy Djafar, menceritakan sang proklamator itu royal dalam memanjakan dia.

Heldy menceritakannya dalam buku Heldy; Cinta Terakhir Bung Karno.

Berikut ini nukilannya:

Heldy Djafar masih ingat hadiah perhiasan yang pertama dibelikan Soekarno. Sepulangnya dari kunjungan ke Mesir, Soekarno membawakan satu set perhiasan bermata pirus yang ditempatkan di kotak berlapis beledu. “Indah sekali,” kata Heldy.

Soekarno bertemu Heldy pada 1964 ketika ia menjadi barisan Bhinneka Tunggal Ika, yakni deretan perempuan berbaju daerah. Ketika itu mereka menyambut Tim Piala Thomas yang membawa piala ke Istana.

Kepincut dengan gadis 18 tahun ini, setahun setelahnya Soekarno bertandang ke rumah Heldy. Selain mengajak makan ke luar, sang presiden juga memberinya kotak hadiah berisi jam tangan Rolex.

Berstatus kekasih Soekarno, Heldy dibelikan rumah di Jalan Cibatu yang sekarang dikenal dengan Jalan Djoko Soetono. Rumah seluas 600 meter persegi dengan empat kamar plus satu kamar khusus buat Bung Karno.

Selain rumah, Heldy juga mendapat mobil Holden Premier.  Ajudan Soekarno, Zaenal, membujuk Heldy agar mengganti mobil itu dengan versi yang lebih baru. Sesuai saran Zaenal, ia meminta dibelikan mobil Admiral.

“Dik, kau tidak pantas naik Admiral, sebaiknya Mercedes,” kata Soekarno. Esoknya sedan Mercedes-Benz 220S warna hitam sudah terparkir di rumah Jalan Cibatu.

Demi mendekati Heldy, Soekarno juga memanjakan keluarga kekasihnya itu. Kakak Heldy, Ruslan Djafar, mendapat sedan Mercedes-Benz 220 buatan 1964. Di kemudian hari, pada 1966, Soekarno mengurus mereka naik haji.

Selain di rumah Jalan Cibatu, Heldy juga sesekali menemui Soekarno di Wisma Negara yang berada di sisi barat Istana Merdeka. Jika keduanya bertemu atau Soekarno mengirim ajudannya, biasanya Heldy dimanjakan dengan rupa-rupa hadiah. Perhiasan, jam, minyak wangi, berlembar-lembar kain batik, dan bahan kebaya.

Jika pemberian itu dititip lewat ajudan, Soekarno biasanya menuliskan pesannya pada secarik kertas berkop presiden atau sekretariat negara. Jika hanya mengirim uang, ia menulis: “Heldy dear, a little money for the household. Soekarno.”

Kesempatan lain jika disertai hadiah, Soekarno menulis: “Dear Dik Heldy, I am sending you some dollars, Miss Dior, Diorissimo, Diorama,” dan ia menambah, “Of course, also my love. Mas Soekarno.”

Peristiwa G30S pada 30 September 1965 pun tak membuat Soekarno berhenti mencurahkan perhatian buat Heldy. Pada 3 Desember 1965, Soekarno menyuruh Heldy dan keluarganya berjalan-jalan ke Hong Kong dan Jepang. Tak lupa ia memberi uang saku buat plesir itu.

“Kau selama ini tegang menanti dan memikirkan aku, pergilah kau berlibur, tapi jangan lama-lama,” kata Soekarno seperti ditirukan Heldy. “Kalau dirimu senang, aku juga senang, bawalah kakak-kakakmu.”

Sepulang dari Jepang, rupanya ada pemberian besar menantinya. Sembari melihat-lihat foto wisata ke luar negeri itu, Soekarno menyanjung kecantikan Heldy.

“Dik, kau cinta terakhirku, tapi tolong jangan kau mainkan aku,” ujarnya. “Kau mau tidak kuangkat namamu?”

Soekarno mengatakan, ia akan memberikan tanah seluas 4000 meter persegi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Ia menyuruh Heldy membangun gedung Serikat Dagang Kalimantan yang nantinya jadi pusat penjualan dan kegiatan yang berhubungan dengan Kalimantan.

Gedung itu, kata Soekarno, buat simpanan di hari tua Heldy. Ia yakin sebelum jadi bangunannya pun sudah banyak yang akan menyewa ruangannya.

“Nanti aku yang meletakkan batu pertamanya,” kata Soekarno. “Kau menjadi direktris, baru kau di situ diekspos sebagai istriku.”

Pada 11 Juni 1966, Soekarno menikahi Heldy di Wisma Negara. Akad nikah itu disaksikan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Agung Idham Chalid dan Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri, ayah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Lantas dari mana tanah yang dijanjikan Soekarno itu jika dia sering menyatakan tak punya banyak uang. Saudara Heldy, Erham, bercerita, Soekarno meminta Gubernur Jakarta Mayjen Soemarno Sosroatmodjo mencarikan lahan itu.

“Dalam waktu dua minggu sertifikat tanah itu keluar,” kata Erham. “Sayangnya pada 1966 tidak ada investor jadi, ya, sampai sekarang tidak terwujud Kalimantan Center itu.”

26 July 2014

Mangkuk Malapetaka Hiu

Ilustrasi
 “Taplak meja yang terlihat bersih di akhir jamuan makan China menandakan tidak cukup hidangan untuk semua tamu,” ujar Tjong Tjay atau Benny Oei, putra bungsu pengusaha gula Oei Tiong Ham kepada wartawan-cum-penulis James Michener. 

Tulisan Michener, “Chinese Success Story”, yang dimuat majalah Life, 31 Desember 1951, melukiskan kegembiraan Tjong Tjay mentraktir teman-temannya bersantap di restoran Kam Leng di Glodok. Dia biasa memesan tujuh hingga delapan menu umum dengan tambahan menu istimewa seperti sup sirip hiu. “Tak ada yang lebih menyenangkan hati Tjong Tjay selain melihat teman-temannya melahap dan menyendok sajian dengan tumpahan di sana-sini,” tulis Michener.

Bagi komunitas China, hidangan sirip hiu adalah wujud penghormatan tuan rumah kepada para tamu. Keberadaan sirip hiu sebagai jamuan istimewa dipercaya telah berlangsung sejak masa Dinasti Sung. Artikel “The History of Imperial Chinese Cuisines” dalam http://www.china.org.cn/english/imperial/25995.ht menyebutkan, sirip hiu dan sarang burung walet tersaji dalam perjamuan mewah kekaisaran setelah perjalanan besar armada Cheng Ho ke Asia Tenggara pada masa Dinasti Ming. Ia terus menjadi menu kekaisaran hingga masa Dinasti Qing.

Hubungan dagang dengan bangsa lain, termasuk Eropa, memperkuat tradisi kuliner itu. Sirip hiu menjadi komoditas yang mempererat relasi perdagangan dengan China. Kongsi Dagang Belanda (VOC) mengirimnya dalam rangka perdagangan teh secara langsung dengan China sejak abad ke-18. “Selain membayar dengan perak batangan, pejabat VOC di Batavia mengirim benda-benda mahal yang memiliki pasaran di China untuk kekaisaran seperti trepang, sirip hiu dari Hindia Timur, debu mutiara dari Ceylon, dan tekstil celup dari India,” tulis Liu Yong dalam The Dutch East Indie Company Tea Trade with China, 1757-1781.

Pemerintahan komunis pada pertengahan 1900-an, yang menganggap sirip hiu sebagai bagian gaya hidup mewah, sempat menekan konsumsinya di China. Namun anggapan ini tak berlaku bagi para imigran China di berbagai belahan dunia. Mereka membawa selera “imperial” sirip hiu ke tanah baru. Kritikus makanan Amerika pada 1848, Samuel Williams, seperti dikutip Soup Through the Ages karya Victoria R. Rumble, mencatat hiu dan pari dalam daftar bahan makanan komunitas imigran China di Amerika.

Gelombang kedatangan imigran China ke Singapura, dan pertumbuhan ekonomi yang pesat, menjadikan koloni Inggris tersebut sebagai pasar terbesar sirip hiu di Asia Tenggara awal 1900-an. Terbitan berkala Algemeen Landbouwweekblad van Nederlandsch-Indie pada 1930 mencatat ekspedisi kapal uap penangkap hiu dengan sponsor Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran, ke Pulau Lingga, Riau. Ekspedisi ini bertujuan mengeksplorasi potensi bisnis dan kualitas sirip, kulit, dan daging hiu di perairan Hindia Belanda. “Kulit hiu akan dikirim ke Eropa, sementara daging (kering dan asin) dan siripnya ke Singapura,” tulis Manon Osseweijer, “The Toothy Tale”, dalam Peter Boomgaard, A World of Water: Rain, Rivers and Seas in Southeast Asian Histories.

Potensi bisnis hiu, lanjut Osseweijer, membuat penasehat perikanan Belanda, Johan Poortman, menambahkan penangkapan hiu dalam aspek pengamatan untuk pengembangan kerangka kerja perikanan Hindia Belanda. 

Singapura terus menjadi pasar utama ekspor sirip hiu hingga kemunculan Hongkong di pertengahan 1980-an. Dalam waktu singkat, Hongkong meroketkan volume ekspor dan harga sirip hiu di banyak negara, termasuk Indonesia. Debra A. Rose dalam An Overview of World Trade in Sharks and Other Cartilaginous Fishes mencatat lonjakan volume ekspor sirip hiu dari Indonesia ke berbagai negara, termasuk Hongkong: dari 429 ton pada 1986 menjadi 547 ton pada 1987, dengan total nilai dari sekitar 1 juta menjadi lebih dari 2.6 juta USD.

Lonjakan keuntungan bisnis sirip hiu juga mempengaruhi pola hidup nelayan. Menurut penelitian Natasha Stacey dalam Boats to Burn: Bajo Fishing Activity in the Australian Fishing Zone, perpindahan nelayan Suku Bajo ke Pepela, Rote, antara 1989-1994, terdorong oleh perkembangan bisnis sirip hiu. Kehadiran perwakilan bisnis Hongkong dan Ujung Pandang di Pepela, yang bekerjasama dengan pengusaha lokal untuk penyewaan dan kredit perahu serta modal perlengkapan, memberi harapan perbaikan ekonomi sehingga sekelompok nelayan Bajo memutuskan pindah tempat.

Eksploitasi penangkapan hiu terjadi hampir di seluruh perairan di dunia. Situs CNN.com edisi 1 Februari 2011 memperkirakan 73 juta hiu tewas diburu setiap tahunnya. Artikel yang sama menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor hiu terbesar, bersama India, Spanyol, dan Taiwan.

Praktik “penyiripan” dalam penangkapan hiu menyulut kemarahan internasional. Nelayan kerap memotong sirip hiu dalam keadaan hidup lalu melempar tubuh sekaratnya ke laut. Target memenuhi muatan kapal kerap mendorong nelayan melakukan metode “penyiripan”. 

Saat ini, jumlah spesies hiu dengan status terancam punah dialami lebih dari 200 dari sekitar 350 spesies yang terdata. Padahal, seperti pohon oak, gajah, dan manusia, hiu memiliki fitur K-seleksi sejarah hidup (strategi reproduksi dan kelangsungan hidup), dengan ciri antara lain: puncak kematangan seksual yang lama, jumlah keturunan yang terbatas, dan usia kehidupan yang panjang. Karenanya, regenerasi hiu memerlukan waktu. Eksploitasi, penangkapan, dan konsumsi terus-menerus akan menutup kesempatan hiu beregenerasi, lalu mengakhiri eksistensinya.

Kepunahan hiu, yang merupakan predator teratas jaringan makanan, berdampak terhadap keberlangsungan hidup satwa lainnya. Penelitian Stevens, J.D et.al. dalam “The effects of fishing on sharks, rays, and chimaeras (chondrichthyans), and the implications for marine ecosystems” yang dimuat di ICES Journal of Marine Science (2000) memprediksi beberapa skenario akibat kepunahan spesies hiu tertentu. Hilangnya spesies hiu macan (Galeocerdo cuvier) dalam perairan karang terumbu di Hawaii, misalnya, diperkirakan membuat populasi burung laut meningkat, yang kemudian menyebabkan populasi tuna berkurang, dan akibatnya menambah populasi ikan-ikan kecil di dasar laut.

Ironisnya, sirip hiu masih tersaji sebagai menu istimewa hingga abad ke-21. Walaupun mitos seputar kandungan gizi sirip hiu berkembang, kenaikan permintaan pasar lebih disebabkan anggapan dan nilai budayanya sebagai makanan tradisional berkelas yang mencerminkan penghormatan bagi tamu. Harga semangkuk sup sirip hiu di beberapa restoran bergengsi di Hongkong mencapai 100 USD. Sebuah kemenangan bagi hiu terjadi pada Juni 2005 ketika organisasi-organisasi pelindung satwa berhasil mendesak Disneyland Hongkong menghapus sup sirip hiu dari paket menu jamuan makan pernikahan beberapa bulan sebelum pembukaannya.

Perubahan sikap juga dilakukan Fuchsia Dunlop, seorang chef Inggris dengan spesialisasi masakan China, satu-satunya orang Eropa yang mengikuti pendidikan di Sichuan Institute of Higher Cuisine di Chengdu, Sichuan. Dia penulis beberapa buku mengenai masakan China, termasuk memoar Shark′s Fin and Sichuan Pepper: A Sweet-Sour Memoir of Eating in China. Dalam artikelnya di BBC online pada 21 Januari 2010, Dunlop membagikan pengalaman pertamanya menghindari sirip hiu dalam sebuah jamuan makan.

Ketika penyelenggara menegurnya karena tak menyantap sirip hiu, Dunlop sempat resah. Dia tak ingin tuan rumah merasa tersinggung karena dia menolak hidangan yang melambangkan rasa hormat mereka.

“Namun saya sadar, meski menolak sirip hiu mungkin sebuah usaha sia-sia, setidaknya saya dapat mulai berbincang dengan beberapa chef China mengenai batasan moral dan kesadaran lingkungan dalam mengkonsumsi. Saya memutuskan untuk menyampaikan apa yang saya ketahui mengenai sirip hiu dan kegelisahan saya menyantap spesies yang akan punah. Kemudian, terjadi momen senyap penuh kekakuan. Mereka tak pernah mendengar pernyataan seperti ini sebelumnya...”

Di luar dugaan, penyelenggara jamuan memuji kejujuran Dunlop dan mengajaknya berdiskusi lebih lanjut. “Bicara mungkin hanyalah kata-kata, namun bagaimana kita dapat melakukan sesuatu jika tak mulai berbincang bersama?” ujar Dunlop di akhir artikel.

[Source : historia.co.id]

Sejarah Tempe

Tempe
Menelusuri sejarah tempe tak bisa lepas dari bahan bakunya, kedelai. Menurut pakar tempe dari Universitas Gajah Mada, Mary Astuti dalam Bunga Rampai Tempe Indonesia, kata kedelai yang ditulis kadêlê dalam bahasa Jawa ditemukan dalam Serat Sri Tanjung (abad ke-12 atau 13). Selain dalam serat legenda kota Banyuwangi itu, kata kedelai juga dijumpai dalam Serat Centhini, yang ditulis oleh juru tulis keraton Surakarta, R Ng Ronggo Sutrasno pada 1814.


Pada jilid kedua Serat Centhini digambarkan perjalanan Cebolang dari Purbalingga menuju Mataram, kemudian singgah di rumah Ki Amongtrustha, yang menjamu makan malam dengan lauk bubuk dhele. Di Mataram, Cebolang diberitahu bahwa sesaji dalam kacar-kucur, yakni upacara persiapan menikahkan anak, terdapat kacang kawak (lama) dan kedelai kawak, beras kuning, bunga, dan uang logam.


Menurut naturalis Jerman, Rumphius, tanaman kedelai (de cadelie plant) dalam bahasa latin disebut phaseolus niger, kadêlê (Jawa), zwartee boontjes (Belanda), dan authau (Tiongkok). Hasil amatan Rumphius, orang Tionghoa tidak mengolah kedelai menjadi tempe. Tapi, mengolah biji kedelai hitam tersebut menjadi tepung, sebagai bahan tahu, dan laxa atau tautsjian, mie berbentuk pipih. Karena kacang dalam bahasa Tiongkok disebut duo (tao)/to, produk olahannya dinamai dengan awalan tau: tauchu (taoco), tau-hu (tahu), touya (toge), touzi (tauci), dan lain-lain.


Berdasarkan penelitian genetik, kedelai berasal dari Tiongkok, meski tidak ada keterangan apakah jenisnya kedelai hitam atau kuning. Menurut sejarawan Ong Hok Ham dalam “Tempe Sumbangan Jawa untuk Dunia,” Kompas, 1 Januari 2000, kacang kedelai sudah sejak 5.000 tahun lalu dikenal di Tiongkok.


Namun, Mary Astuti mempertanyakannya: jika berasal dari Tiongkok mengapa kedelai tidak pernah disebutkan dalam jenis-jenis komoditas yang diperdagangkan di Jawa. Musafir Tiongkok, Ma Huan yang mengunjungi Majapahit sekira abad ke-13, mencatat bahwa di Majapahit terdapat koro podang berwarna kuning, tanpa menjelaskan kegunaan kacang tersebut. Dia tidak membandikan kacang itu dengan kacang yang ada di negerinya, seperti halnya membandingkan suhu udara di Majapahit dengan di Tiongkok. Ini menunjukkan, kacang yang ditemui Ma Huan belum ada di negerinya.


“Diduga bahwa kedelai hitam sudah ditanam di Jawa sebelum China datang ke Tanah Jawa,” tulis Astuti. “Menurut anggapan orang Jawa zaman dulu kata dêlê berarti hitam. Ada kemungkinan kedelai hitam sudah ada di tanah Jawa sebelum orang Hindu datang dan kemungkinan dibawa orang Tamil.”

Penemuan tempe berhubungan erat dengan produksi tahu di Jawa, karena keduanya dibuat dari kacang kedelai. Tahu sendiri dibawa oleh orang Tiongkok ke Jawa, yang mungkin sudah ada sejak abad ke-l7. “Bukan hanya bahannya yang sama, akan tetapi mungkin juga secara langsung penemuan tempe berkaitan dengan produksi tahu,” tulis Ong.


“Tempe muncul dari kedelai buangan pabrik tahu yang kemudian dihinggapi kapang. Kemudian jadi tempe kedelai,” kata wartawan spesialis sejarah pangan, Andreas Maryoto. “Ini saya kaitkan karena tempe yang lain berasal dari limbah: tempe gembus dari limbah kacang, tempe bongkrek dari limbah kelapa. Bila kemudian tempe kedelai dari kedelai bukan limbah, mungkin itu upgrade saja,” sambungnya.


Ong kemudian mengaitkan perkembangan tempe dengan kepadatan penduduk, baik di Tiongkok maupun di Jawa. Kepadatan penduduk sejak berabad-abad telah mempengaruhi seni masak Tiongkok. Akibat kepadatan penduduk terjadi persaingan ruang antara manusia dan hewan yang memerlukan ladang-ladang rumput luas bagi hidupnya. Akibatnya, seni masak Tiongkok berkisar pada hewan peliharaan rumah seperti babi, ayam, bebek, dan sebagainya.


Keadaan itu tidak jauh berbeda dengan Jawa. Pekarangan menyediakan bahan baku makanan seperti ayam, kambing, sayur-sayuran, pohon kelapa, dan lain-lain. “Baru dalam abad ke-l9, menu hewani akhirnya berubah menjadi tempe. Ini akibat kenaikan jumlah penduduk yang amat tinggi pada abad ke-19, sehingga Pulau Jawa menjadi wilayah pertama yang sangat padat di Asia Tenggara,” tulis Ong.


Di sisi lain, lanjut Ong, meluasnya perkebunan kolonial membuat wilayah hutan menciut dan  membuat para petani sebagai kulinya, mengurangi berburu, beternak maupun memancing. Dampaknya, menu makanan orang Jawa yang tanpa daging. Tanam paksa makin membuat bahan makanan seperti tempe menjadi sangat vital sebagai penyelamat kesehatan penduduk.


“Bisa dikatakan,” tulis Ong, “penemuan tempe adalah sumbangan Jawa pada seni masak dunia. Sayangnya, seperti halnya banyak penemuan makanan sebelum zaman paten, maka penemu tempe pun anonim,” lanjutnya.


Ditilik dari muasal katanya, menurut Astuti, tempe bukan berasal dari bahasa Tiongkok, tapi bahasa Jawa kuno, yakni tumpi, makanan berwarna putih yang dibuat dari tepung sagu, dan tempe berwarna putih. Kata tempe juga ditemukan dalam Serat Centhini jilid ketiga, yang menggambarkan perjalanan Cebolang dari candi Prambanan menuju Pajang, mampir di dusun Tembayat wilayah Kabupaten Klaten dan dijamu makan siang oleh Pangeran Bayat dengan lauk seadanya: “…brambang jae santen tempe … asem sambel lethokan …” sambel lethok dibuat dengan bahan dasar tempe yang telah mengalami fermentasi lanjut.  Pada jilid 12 kedelai dan tempe disebut bersamaan: “…kadhele tempe srundengan…”


“Tempe berasal dari kata Nusantara tape, yang mengandung arti fermentasi, dan wadah besar tempat produk fermentasi disebut tempayan,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia.


Menurut Ong, dalam Encyclopaedia van Nederlandsch Indie (l922), tempe disebut sebagai “kue” yang terbuat dari kacang kedelai melalui proses peragian dan merupakan makanan kerakyatan (volk’s voedsel).

Disebut makanan kerakyatan, kata Maryoto, karena tempe diciptakan oleh rakyat, bukan istana. “Karena itu, muncul istilah ‘bangsa tempe’, sebagai bentuk stigmatisasi dari kalangan priyayi,” ujar Maryoto. “Sekarang tempe tidak lagi sebagai makanan rakyat,” Maryoto menambahkan. “Pamor tempe semakin terangkat ketika gairah kuliner meningkat, sehingga tempe manjadi makanan kita semua.”

Sejarah Tahu, Tahu Sejarah

ORANG-orang Tionghoa datang ke Nusantara dengan membawa keterampilan kulinernya. Salah satu makanan yang paling awal diperkenalkan adalah tahu.

Tahu adalah kuliner tertua yang diperkenalkan orang Tionghoa di Nusantara. Ia menjadi penyelamat masyarakat Jawa di masa krisis asupan gizi.
Sejarawan JJ Rizal mengungkapkan bahwa pada abad ke-10 orang-orang Tionghoa telah menyajikan tahu di Nusantara, meskipun terbatas di kalangan elite. “Jadi tahu lebih tua daripada tempe dilihat dari masa mulai produksinya,” kata Rizal.

Menurut Suryatini N. Ganie dalam Dapur Naga di Indonesia, tahu mempunyai sejarah panjang di Tiongkok, tempat asalnya sejak 3.000 tahun lalu. Teknologi pembuatan tahu secara cepat menyebar ke Jepang, Korea, dan Asia Tenggara. Tetapi, kapan tahu mulai hadir di Nusantara tidak dapat ditentukan waktunya dengan tepat. Namun, orang Kediri mengklaim sebagai kota pertama di Nusantara yang mengenal tahu, yang dibawa tentara Kubilai Khan pada tahun 1292.

“Saat mengunjungi Kediri,” tulis Suryatini, “kami mendapati tempat berlabuhnya jung-jung Mongol di kota itu sampai hari ini masih disebut dengan Jung Biru. Armada ini mempunyai jung-jung khusus untuk mengurus makanan tentara, termasuk satu yang khusus untuk menyimpan kacang kedelai dan membuat tahu.”

Kata tahu sendiri, menurut Hieronymus Budi Santoso, berasal dari bahasa Tionghoa, yakni: tao-hu atau teu-hu. Suku kata tao/teu berarti kacang kedelai, sedangkan hu berarti hancur menjadi bubur.

“Dengan demikian secara harfiah, tahu adalah makanan yang bahan bakunya kedelai yang dihancurkan menjadi bubur,” tulis Hieronymus dalam Teknologi Tepat Guna Pembuatan Tempe dan Tahu Kedelai.

Pada abad ke-19, orang-orang Jawa dilanda krisis gizi yang luar biasa akibat penerapan sistem cultuurstelsel (Tanam Paksa). Hasil bumi dikuras untuk kepentingan kolonial sampai mereka sendiri kesulitan untuk makan. Saat itulah tahu muncul sebagai pangan alternatif.

“Menurut sejarawan Onghokham,” ungkap Rizal, “tahu bersama tempe, menjadi penyelamat orang-orang Jawa dari masa krisis asupan gizi.”

Sampai sekarang, tahu menjadi makanan penting bagi orang Indonesia. Cara penyajiannnya di tiap wilayah pun bervariasi. Meski begitu, ia tetap menjadi pangan yang populer dan dapat dinikmati kapan saja.

24 February 2014

Kembali Setelah 100 Tahun "Lenyap"

Nadikdik Atol kembali lahir setelah pada tahun 1905 hancur diterjang badai.
Badai tropis atau topan yang terjadi pada tahun 1905 melenyapkan sebuah pulau karang yang ada di perairan Pasifik bernama Nadikdik Atol atau Knox Atol.

Kini, setelah lebih dari seabad lenyap disapu badai, ilmuwan dari Selandia Baru menemukan fakta bahwa pulau itu telah tumbuh kembali.

Murray Ford and Paul Kench, ilmuwan dari University of Auckland di Selandia Baru, memublikasikan temuannya di jurnal Geomorphology.

Dua pakar geologi itu menganalisis foto aerial dari Nadikdik Atol antara tahun 1945 hingga tahun 2010.

Badai yang terjadi pada 30 Juni 1905 memang menyapu bersih vegetasi pulau itu, merusak karang penyusunnya, dan menewaskan 60 penduduknya.

Namun, hanya dalam kurun waktu 60 tahun, tergolong cepat menurut ilmuwan, kini pulau itu tumbuh kembali, memiliki vegetasi lagi, dan stabil.

"Badai itu pastinya mengumpulkan sedimen dalam jumlah besar dan melemparkannya ke atas pulau itu sehingga membantu mengorganisasi lagi," kata Ford.

Efeknya, seperti diberitakan The New Zealand Herald, Kamis (20/2/2014), pulau baru muncul di sebelah pulau sebelumnya.

"Pulau-pulau berubah, bergerak, dan berganti, Anda akan melihat periode erosi di satu sisinya dan akresi di sisi lainnya," ungkap Ford.

Ford tinggal di Kepulauan Marshall, sebelah utara Nadikdik Atol, dan mengatakan bahwa pertumbuhan pulau itu sangat cepat.

"Bukti ilmiah menunjukkan bahwa di samping terjadinya badai seabad lalu, penyesuaian geomorfik pulau itu masih terus terjadi," imbuh Ford.

"Yang bisa dipetik dari hal ini adalah bahwa peristiwa besar bisa menghancurkan pulau, tetapi bisa memicu seri proses yang memungkinkannya kembali," kata Ford.

Menurut Ford, dengan memahami pertumbuhan pulau kecil itu, ilmuwan bisa memperoleh pemahaman tentang bagaimana sebuah pulau terbentuk.


[Source : Geomorphology]

13 February 2014

Kisah Ibu Tien Soeharto dan ramalan penjual batu akik

Ibu Tien Soeharto
Raden Ayu Siti Hartinah atau yang lebih dikenal dengan nama Ibu Tien Soeharto menjadi simbol ibu bangsa Indonesia. Mendampingi orang nomor satu di Indonesia, bukan impian bagi Ibu Tien. Soeharto dan Ibu Tien menikah pada tanggal 26 Desember 1947 di Surakarta. Ibu Tien dikaruniai enam anak, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Sigit Harjojudanto (Sigit), Bambang Trihatmodjo (Bambang), Siti Hediati Hariyadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).

Suatu hari ketika Soeharto masih menjabat Panglima Kostrad, Ibu Tien kedatangan seorang penjual batu akik yang bisa meramal. "Madam, suami madam akan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan presiden yang sekarang," kata si penjual batu akik. Ucapan peramal itu membuat Ibu Tien tertawa. Menurutnya, menjadi perwira tinggi AD saja sudah demikian berat tugasnya.

Pada tahun 1967, Sidang Istimewa MPRS secara aklamasi mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Menurut perasaannya, jabatan Soeharto itu tidak akan lama. Makanya, Ibu Tien Soeharto tidak hadir menyaksikan peristiwa penting dan bersejarah itu. Dia memilih untuk tetap di rumah bersama anak-anaknya.

Istri Presiden Soeharto itu adalah sosok yang berjuang untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Mulai dari batik sebagai busana identitas Indonesia, baik perempuan maupun laki-laki di dunia Internasional.

Selain itu, Ibu Tien menyadari bahwa kekayaan alam dan budaya Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Wanita asal Desa Jaten, Surakarta, Jawa Tengah, terinspirasi untuk membangun sebuah taman yang menyajikan keindahan budaya dan lingkungan alam Indonesia. Niatan Ibu Tien makin diperkuat ketika mengunjungi Disneyland di Amerika Serikat dan taman budaya Timland di Thailand. Proyek Miniatur Indonesia Indah berakhir ketika hasilnya berupa sebuah Taman Mini Indonesia Indah diresmikan pada tanggal 20 April 1975.

Tidak itu saja, Ibu Tien juga prihatin kepada sebagian besar bangsa Indonesia yang masih tertinggal dalam pendidikan. Kemudian dia menggagas untuk membangun perpustakaan nasional, agar orang mudah mendapatkan informasi. Tanggal 8 Desember 1985 pembangunan gedung Perpustakaan Nasional dimulai dalam dua tahap. Tahap pertama selesai Desember 1986 dan tahap kedua selesai Oktober 1988. Sejak itu bangsa Indonesia bisa tersenyum telah memiliki gedung perpustakaan nasional yang pantas dibanggakan.

Mendampingi Soeharto, Ibu Tien mengubah hiasan bangunan istana yang merupakan peninggalan zaman Belanda kemudian diisi dengan berbagai perangkat yang menonjolkan keindonesiaan. Ukiran jati dari Jepara dalam ukuran besar mengisi ruang-ruang istana. Warna merah untuk Istana Merdeka dan warna hijau untuk Istana Negara.

Menu makanan pun tak lepas dari pantauannya, Ibu Tien mengatur untuk menghormati negara asal tamu diseimbangkan antara menu Indonesia dengan menu asing. Agar tamu negara merasa dihormati dan tetap dapat menikmati hidangan khas Indonesia. Dia juga berusaha memperkenalkan Indonesia via tamu negara yang datang. Contohnya, Perdana Menteri Jepang berkunjung, souvenir yang diberikan adalah satu set kursi ukiran Jepara.

Selanjutnya diputuskan bahwa cendera mata haruslah benda-benda hasil kerajinan Indonesia. Kalau tamu itu kepala negara, maka akan diberi keris emas buatan Bali sedangkan istrinya akan diberi liontin emas. Dalam perkembangannya, souvenir untuk tamu negara diubah menjadi sendok garpu dari perak buatan Yogyakarta.

Biasanya kue tart menjadi sajian utama ketika merayakan ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Ternyata Ibu Tien tidak suka, karena tidak ada unsur Nusantara dalam gelaran itu. Akhirnya, pemotongan kue tart diganti dengan pemotongan tumpeng. Kemudian lukisan penghias dinding istana yang dianggap tidak cocok dimasukkan ke museum istana. Diganti dengan lukisan-lukisan para pelukis Indonesia dari berbagai aliran.

Walaupun Istana Negara sudah ditata ulang dan dipercantik, tetapi tidak ada satu ruang pun yang tersisa untuk Ibu Negara. Ibu Tien memilih ruangan duduk belakang di rumahnya Jalan Cendana sebagai kantornya.

Perhatian Ibu Tien terhadap masalah kesehatan cukup besar. Tingginya angka kelahiran dan juga tingkat kematian ibu-anak pada saat persalinan membuatnya berpikir untuk membangun rumah sakit khusus. Di samping itu, kelahiran anak merupakan harapan baru bagi Indonesia masa depan yang lebih maju dan mampu bersaing dengan bangsa lain.

Pada tahun 1974 dimulailah pembangunan Rumah Sakit Anak dan Bersalin yang terletak di Jalan S Parman Jakarta. Peresmian RSAB dilaksanakan bertepatan dengan Hari Ibu tahun 1979.

Hari Minggu 28 April 1996 sekitar pukul 05.10 WIB, Indonesia berkabung. Ibu Tien meninggal di RSPAD Gatot Subroto.

13 November 2013

Oswald Lepas Cincin Kawin Sebelum Tembak JFK

Dalam banyak foto yang dipublikasi, pembunuh John F. Kennedy, Lee Harvey Oswald, digambarkan mengenakan cincin kawin saat ia dan istrinya, Marina, meninggalkan Belarus pada awal tahun 1960-an menuju Amerika Serikat. Cincin itu terjual dalam sebuah lelang tahun ini seharga US$ 108 ribu. Yang menarik, selama pelelangan, beredar kopi surat yang ditulis Marina tentang cincin itu. "Pada saat ini, dalam hidup saya, saya tidak ingin memiliki cincin Lee. Saya ingin melepaskan masa lalu saya yang menghubungkan dengan peristiwa 22 November 1963."

Dalam surat itu ia menulis bahwa cincin, yang memiliki ukiran kecil palu dan sabit, itu dibeli oleh Oswald di Minsk pada tahun 1961, sesaat sebelum pasangan tersebut kembali ke AS. Cincin itu tergeletak di meja ketika Oswald berangkat untuk membunuh Presiden.

Menurut versi resmi sebagaimana ditetapkan oleh Komisi Warren, Lee Harvey Oswald membunuh Presiden Kennedy pada 22 November 1963 di pusat Kota Dallas. Oswald kemudian ditembak oleh J.D. Tippit.

Cincin kawin ditemukan pada tahun 2004 di dalam map di firma hukum Forth Worth. Pengacara Forrest Markward mewakili Marina, menyusul pembunuhan Kennedy. Setelah beberapa tahun, cincin itu kembali melalui pos kepada Marina dalam amplop bertuliskan 'Departemen Keuangan Secret Service'.

Dua tahun setelah pembunuhan JFK, janda Oswald, Marina, menikahi Kenneth Porter dan mereka pindah ke Texas sekitar 10 tahun kemudian. Keluarga ini menetap di Rockwall, 20 mil dari Dallas.

Di sini dia membesarkan dua anak hasil pernikahannya dengan Oswald, June dan Rachel. Dengan Porter, ia memiliki seorang putra bernama Mark.

Hingga kini, Marina sulit percaya mantan suaminya adalah seorang pembunuh. Sahabatnya, Keya Morgan, menyatakan kepada National Enquirer bahwa Marina tidak pernah percaya cerita resmi tentang pembunuhan itu. "Dia selalu bilang Lee Harvey Oswald mencintai Presiden Kennedy," katanya. Marina pernah menceritakan padanya, ketika mendengar bayi prematur Kennedy, Patrick, meninggal pada 7 Agustus 1963, Oswald menitikkan air mata.

Janda Pembunuh JFK Yakin Oswald Korban Konspirasi


Marina Oswald Porter (dulu dan sekarang)
Hidup Marina Oswald Porter yang dulu dikenal ceria berubah sejak 50 tahun yang lalu. Tepatnya setelah serentetan tembakan terdengar di Dallas Dealey Plaza dan John F. Kennedy roboh di pangkuan istrinya, di atas kendaraan terbuka.

Marina adalah janda Lee Harvey Oswald, mantan marinir yang disalahkan atas pembunuhan Presiden Amerika Serikat yang paling populer pada era modern itu. Pemberitaan tentangnya hanya muncul sekali pada 1977.

Segera setelah pembunuhan itu, ia yang saat itu ibu dari dua anak mengatakan kepada Komisi Warren, yang menyelidiki pembunuhan, bahwa sang suami yang saat itu berusia 24 tahun adalah pelaku tunggal.

Tapi, setelah membaca beberapa buku dan ribuan teori konspirasi tentang penembakan itu, dia--seperti kebanyakan warga AS--berubah pikiran. Dia sekarang percaya bahwa kebenaran pembunuhan Kennedy telah disembunyikan oleh sebuah skenario tingkat tertinggi di AS.

Teman dekat dan pembuat film dokumenter, Keya Morgan, menyatakan Marina percaya suami pertamanya adalah korban konspirasi yang dirancang CIA dan mafia. Nenek dari beberapa cucu ini yakin hingga kini ponselnya masih disadap oleh Secret Service.

Morgan mengatakan kepada Daily Mirror bahwa Marina telah menghabiskan setengah abad hidupnya dalam ketakutan. "Ulang tahun adalah pengingat tentang apa yang terjadi. Hidupnya sekarang seperti episode menakutkan dari Twilight Zone, di mana setiap hari dia dipaksa untuk menjawab pertanyaan yang sama tentang saat yang paling traumatis dalam hidupnya," katanya.

Ia mengatakan ketakutannya secara serius merusak kesehatannya, menyebabkan gangguan defisiensi imun dan stres. Ia juga menjadi pribadi yang tertutup.

Oswald bertemu Marina Prusakova ketika tinggal di Minsk pada tahun 1961. Mantan Marinir AS ini membelot ke Uni Soviet dua tahun sebelumnya, tetapi kemudian berubah pikiran.

Enam minggu setelah bertemu Marina, mahasiswi fakultas farmasi berusia 19 tahun, keduanya memutuskan menikah. Tahun berikutnya, Oswald membawa istri barunya dan putri 4 bulan mereka kembali ke Amerika.

Pasangan ini menetap di Dallas, tetapi masih terus berjuang untuk menemukan tempat yang pas untuk melanjutkan hidup. Keduanya hidup terpisah ketika Presiden Kennedy ditembak mati pada 22 November 1963.

Malam sebelum pembunuhan, dia ingat suaminya pulang membawa senapan ke rumah dan memasukkannya ke dalam lemari di garasi. Keesokan harinya, ia melihat senapan itu tak ada lagi. 


[Source : tempo.co]

Kesaksian Dokter yang Pertama Menangani JFK


Robert McClelland masih ingat detik-detik menjelang kematian Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy, yang ditembak di Dallas pada 22 November 1963. Ia adalah salah satu dari dua dokter yang masih hidup yang berjuang untuk menyelamatkan suami Jackie Kennedy itu.

"Sangat mengerikan melihat Presiden Kennedy berbaring telentang di atas tandu dengan lampu ruang operasi bersinar di atas kepalanya yang berdarah," kenang Dr McClelland, sekarang 84 tahun. "Aku masih merasakan seolah-olah itu terjadi hari ini. Wajahnya keabu-abuan  matanya terbuka dan kepalanya berlumuran darah. Aku tidak punya waktu untuk memakai sarung tangan. Aku mengoperasinya dengan tangan telanjangku."

Ia tengah berada di suatu tempat saat mendengar JFK tertembak. Ia kemudian mengebut menuju Parkland Memorial Hospital di Dallas.

Dia ingat bagaimana  saat dia menerobos kerumunan polisi dipandu agen Secret Service dan staf rumah sakit. Di ruangan itu, ia melihat Jackie duduk di kursi di luar ruang operasi dan setelan wol Chanel-nya berlumuran darah.

Setelah masuk ruang operasi, ia bergabung dengan Dr Kenneth Salyer, seorang ahli bedah junior saat itu. Salyer kemudian menjadi salah satu spesialis terkemuka di dunia kraniofasial.

Dalam otobiografinya yang baru dirilis, 'A Life That Matters', Dr Salyer mengatakan prioritasnya adalah untuk mengembalikan fungsi pernapasan Presiden dengan memasukkan tabung ke tenggorokannya dan masuk ke paru-parunya. "Seluruh sisi kanan dari tengkorak Presiden Kennedy cedera parah," katanya mengingat. "Bagian sisi kanan otaknya telah hancur juga dan ada sebuah lubang menganga di tengkoraknya."

Karenanya, memasukkan tabung melalui hidung Presiden sangat tidak mungkin. "Jadi kami terfokus hanya pada luka tembak kecil di leher Presiden," katanya.

Dengan memperbesar ukuran luka, mereka akhirnya mampu memasukkan pipa napas ke dalam paru-paru JFK. "Meskipun tidak satupun dari kami berbicara tentang hal itu, tapi kami masing-masing paham, apapun yang mungkin kami lakukan untuk membantu Presiden akan sia-sia," katanya.
Cedera, katanya, benar-benar fatal. Namun meski otaknya telah hancur, jantungnya masih berdetak. "Pasien kami terluka parah, tapi dia juga Presiden Amerika Serikat dan kami wajib untuk mencoba setiap prosedur heroik untuk menyelamatkannya," katanya.

Tepat pukul 13.00, setelah setiap monitor terpasang ke tubuh Presiden menunjukkan grafik datar, Dr Kemp Clark, kepala bagian bedah saraf, mengumumkan dengan suara tercekat, "Tuan-tuan, Presiden Kennedy telah meninggal."

John Fitzgerald Kennedy lahir di Brookline, Massachusetts, 29 Mei 1917, adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-35. Pada 1960, ia dipilih menjadi Presiden Amerika Serikat dan termuda kedua setelah Theodore Roosevelt untuk jabatan presiden. Kennedy menjadi presiden setelah dilantik pada 20 Januari 1961. Jabatan kepresidennya terhenti setelah terjadi pembunuhan terhadap dirinya pada 1963.

Ia tewas oleh terjangan peluru saat melakukan kunjungan ke Dallas pada 22 November 1963. Kennedy roboh saat mobil terbuka yang membawanya melintas di kerumunan orang yang menyambut kunjungannya. Pada 25 November 1963, jenasahnya dimakamkan di Arlington, Washington. Sebanyak 800 ribu orang ikut berkabung di jalanan Washington saat iring-iringan jenazahnya melintas menuju pemakaman.

[Source : mailonline]

3 October 2013

Membongkar Rahasia di Balik Tulisan Tangan Kartini


Saat itu tahun 1880-an menjelang pergantian abad 20. Pemikiran Multatuli menjadi dentuman rasa berdosa orang Belanda bahwa mereka bisa kaya raya diatas bangkai orang-orang Hindia yang dipaksa kerja rodi untuk membangun infrastruktur jalan dan perkebunan-perkebunan swasta di seluruh tanah Sumatera dan Jawa. Yang menjadi perhatian disini adalah program akumulasi modal perkebunan adalah kerjaan kelompok liberal, kemudian setelah kaum liberal kehilangan suara pada tahun 1880-an mereka malah seakan-akan menyalahkan kelompok konservatif terhadap kekejiannya sendiri di masa lalu. Kaum liberal kemudian menggunakan tangan kelompok Sosialis yang sedang naik daun. 


Pertarungan di Parlemen Belanda yang kemudian melahirkan banyak nama di harian-harian Belanda macam Van Dedem, Van Kol ataupun Van Deventer menjadikan sebuah sodoran baru perlawanan politik kelompok liberal untuk membangun benteng baru yaitu : “Akumulasi Budaya”. Kaum liberal menganggap kelompok konservatif secara perlahan memenangkan akumulasi modal setelah mendapat dukungan angkatan bersenjata dan keluarga kerajaan, sementara kelompok liberal mendapatkan penghinaan atas suara Multatuli dari sinilah kemudian Kartini menjadi besar karena pertarungan politik di parlemen Belanda antara kelompok liberal garis keras yang didukung kelompok sosialis dengan kelompok konservatif. 

Kegelisahan Kartini adalah kegelisahan penasaran ingin tau, bukan kegelisahan perlawanan. Ia hanya bertanya dalam surat-suratnya tentang diskriminasi-diskriminasi yang terjadi. Pemikiran Kartini belum sampai pada pemahaman bahwa yang terjadi atas diskriminasi seksual wanita adalah persoalan diskriminasi modal yang menggunakan kekerasan rasial sebagai program politik kolonial. Kartini tanpa sadar merindukan peradaban kolonial tersebut, bahwa wanita Indonesia harus masuk ke dalam sistem pendidikan barat agar mengerti bagaimana dunia bekerja tanpa sedikitpun ia mengeritik soal modal yang menjadi landasan peradaban masyarakat. Di titik persoalan lama, Kartini menggugat tentang kekolotan agama, kekerasan struktur feodal Jawa terhadap penindasan elite dengan bawahan dan segala bentuk diskriminasi sosial yang menghancurkan perempuan dan perasaan alam bawah sadar anak-anak, tapi Kartini belum sadar bahwa yang membuat semua itu adalah sistem permodalan asing bernama Kolonialisme. 

Di satu pihak kegelisahan Kartini dimanfaatkan kelompok liberal untuk menghardik kelompok konservatif dan ini menghasilkan kemenangan luar biasa, modal budaya bisa diraih kelompok liberal untuk memperluas akumulasi modal mereka, dengan masuknya sistem pendidikan barat maka kelompok liberal akan mendapatkan sebarisan tenaga terdidik yang bisa dibayar murah dan kelak dalam pemikiran mereka akan diciptakan cendikiawan creol yang status sosialnya disamakan dengan orang Belanda sehingga ketika Hindia disatu masa berdiri sendiri maka kaum creol terdidik inilah yang akan memegang Hindia. 

Di tahun 1920-an ketika nama Kartini naik daun setelah kematiannya yang tragis dan Pane menerjemahkan surat-suratnya, nama Kartini kemudian digunakan oleh kaum pergerakan untuk membangun saluran suara perempuan. Disini surat-surat kartini tidak lagi ditafsirkan sekedar gugatan wanita Jawa terhadap diskriminasi seksual tetapi oleh kaum pergerakan dikonversi menjadi gugatan modal. Dan Sukarno-lah yang menguasai ini dengan baik, Sukarno selalu mendengung-dengungkan apa yang ditulis dalam surat Kartini adalah sebuah perlawanan perempuan terhadap sistem, sebuah pembongkaran sistematis. Konversi pemikiran Kartini yang penasaran ingin tau saja, menjadi Kartini yang menggugat peradaban sepenuhnya adalah hasil kerja politik Sukarno. Disini Sukarno mampu membangun imajinasi seorang Ibu yang berpikiran maha raksasa mampu menandingi pejuang-pejuang emansipasi Amerika atau Eropa yang sedang naik daun di tahun 20-an. 

Sampai pada masa Sukarno berkuasa citra Kartini yang Rebel menjadi semakin sosialistik, apalagi saat anak Kartini. Kolonel Susalit terlibat dalam peristiwa Madiun 1948 adalah Sukarno yang menyelamatkannya sendiri demi sebuah citra Ibu Bangsa. Sukarno menggambarkan wanita Indonesia adalah seorang Kartini bertangan Sarinah, seorang berpikiran bangsawan tapi bertindak sebagai wanita yang mau masuk ke dalam lumpur masyarakat seperti Sarinah. Citra Kartini Rebel inilah yang kemudian dipatahkan oleh Suharto. 

Di jaman Suharto surat Kartini tidak lagi menjadi penting, tapi Baju Kartini menjadi sebuah simbol modal luar biasa untuk menjadikan wanita Indonesia masuk ke dalam sistem Suhartorian. Semua lini harus terkooptasi ke dalam Sistem Suhartorian termasuk Kartini itu sendiri, citra Kartini yang rebel menurut imajinasi Sukarno menjadi Kartini yang bangsawan Jawa, bercitra anggun dan berbakti kepada suami, Kartini yang enggan berpikiran memberontak, yang tak paham persoalan-persoalan buruh, yang tak sensitif terhadap ketidakadilan. Kartini dalam konteks Suhartorian menjadi Kartini dengan alam kenyamanan, citra Kartini dikembalikan ke Keraton Kadipaten Mayong Jepara, menjadi sebuah figur yang lembut, selembut ibu-ibu dharma wanita.

[Source : http://kluget.com/]

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month