Share Info

3 December 2010

Mata Rantai

Ada seorang kultivator, dia bermaksud meninggalkan desanya menuju suatu tempat yang sunyi untuk berkultivasi (menempa diri/mental). Dia hanya membawa sehelai kain, lalu naik ke gunung untuk berkultivasi.

Ketika dia hendak mencuci pakaian dia memerlukan sehelai kain yang lain sebagai pengganti, akhirnya dia turun gunung meminta sehelai kain kepada penduduk desa.

Penduduk desa sudah mengenalnya sebagai seorang kultivator yang taat, tanpa banyak bertanya mereka memberinya sehelai kain sebagai pakaian pengganti.

Ketika kultivator ini sampai di gubuknya di atas gunung, dia melihat seekor tikus. Tikus ini sering datang mengganggunya ketika dia sedang bermeditasi, mengigit pakaian penggantinya.

Karena dia telah bersumpah seumur hidupnya tidak akan membunuh mahluk hidup, oleh sebab itu dia tidak menyakiti tikus ini, tetapi dia tidak mempunyai cara mengusir tikus ini, akhirnya dia turun ke gunung meminta seekor kucing untuk dipelihara.

Setelah dia memelihara kucing tersebut, lalu dia berpikir, “Apa yang harus dia makan? Saya tidak ingin dia memangsa tikus tersebut, tetapi tidak mungkin dia seperti saya hanya memakan buah dan sayuran saja.“

Akhirnya dia pergi lagi ke desa meminta seekor lembu betina, sehingga kucing ini bisa meminum susu lembu.

Tetapi setelah beberapa lama berada di atas gunung, dia merasa dia telah membuang terlalu banyak waktu untuk memelihara lembu betina ini. Akhirnya dia turun gunung lagi pergi ke desa, mencari seorang gelandangan yang sangat miskin, dia lalu membawa gelandangan yang tidak mempunyai rumah ini naik ke gunung tinggal bersamanya dan menyuruh dia mengurus lembu betinanya.

Gelandangan ini setelah beberapa lama tinggal di atas gunung lalu mengeluh kepada kultivator.

“Saya tidak sama dengan engkau, saya memerlukan seorang istri, saya memerlukan kehidupan berkeluarga seperti orang biasa,” ujar gelandangan itu.

Kultivator ini setelah mendengar keluhan itu, merasa benar juga tidak mungkin gelandangan ini akan seperti dia hanya berkultivasi.

Cerita ini jika diteruskan, kalian pasti dapat menerkanya, akhirnya apa yang akan terjadi? Mungkin setelah setengah tahun berlalu, seluruh isi desa akan di pindahkan keatas gunung.

Cerita ini sebenarnya terjadi di dalam kehidupan kita semua, timbulnya keinginan bagaikan sebuah mata rantai, dia akan merantai kita terus menerus, selamanya tidak ada kepuasan. Hal yang paling menyedihkan adalah manusia selalu mencari alasan yang tidak masuk akal untuk memenuhi keinginannya.

[source : Erabaru/hui]

Empat Manfaat Pernikahan

Pernikahan tentu memerlukan usaha keras. Jika setelah menikah Anda mendapat kebahagian dalam sebagian besar hidup. Anda dan pasangan akan mendapatkan banyak keuntungan dari segi kesehatan.

“Orang yang sudah menikah dapat memiliki sebuah sistem saling membangun dukungan dan jaringan sosial. Salah satu dari Anda mungkin dapat memberi dukungan pada yang lainnya untuk makan lebih sehat atau saling menyemangati untuk berolahraga atau untuk berhenti merokok, “ jelas Alice Domar, Ph.D, salah satu penulis di Live a Little.

Lalu apa manfaat pernikahan ?

1. Mengurangi resiko terkena penyakit kencing manis atau diabetes.

Wanita dengan catatan glukosa dalam darah tinggi sangat cenderung berakhir dengan diabetes kronis. Resiko lebih besar jika mereka tinggal sendirian dibandingkan jika tinggal dengan pasangan. Hal ini menurut penelitian yang dipublikan dalam jurnal Diabetes Care.

2. Jarang menderita hipertensi.

Para peneliti dari Brigham Young University menemukan bahwa orang-orang yang bahagia dalam pernikahan mereka memiliki tingkat tekanan darah yang bagus, kecuali yang pasangannya melakukan KDRT.

3. Tidak merokok atau minum alkohol berlebihan.

Tidak merokok dan minum alkohol berlebih, jika dibandingkan dengan orang yang tidak menikah, bercerai atau janda.

4. Usia rellatif lebih panjang.

Orang yang tidak menikah 58 persen lebih, memiliki kecenderungan meninggal lebih cepat. Hal ini diungkapkan sebuah studi dalam Journal of Epidemiology and Community Health.

[source : Erabaru/ngrh]

2 December 2010

Ketika Rumah Tangga Tanpa Cinta

Urgennya Cinta Dalam Rumah Tangga

Rumah tangga laksana istana bagi sepasang kekasih. Istana yang akan melindungi mereka dari serangan problematika, istana yang akan menaungi mereka dari panasnya sengatan matahari cobaan, dan istana yang akan memberikan kehangatan saat dinginnya udara rintangan menghempasnya.

Sungguh besar peranan rumah tangga dalam melindungi sepasang kekasih dan gangguan-gangguan eksternal. Akan tetapi, peranan rumah tangga akan semakin maksimal ketika kedua kekasih memiliki ikatan kokoh yang berpondasikan cinta. Karena hakikat ikatan suami istri adalah kerjasama, saling mengasihi, dan saling mencinta. Ketika cinta pudar, maka ikatan mereka pun renggang dan tidak mampu menghadapi cobaan-cobaan yang menghadang.

Bahkan, ikatan suami istri yang tidak berpondasikan cinta akan menumbuhkan hubungan yang tidak dinamis dan melahirkan berbagai persoalan dari dalam rumah tangga mereka. Akhirnya, pertahanan mereka sudah lemah sebelum menghadapi serangan eksternal. Yang akhirnya, jurang perceraian pun tak bisa mereka hindari.

Ibnul Qayyim v berkata dalam menjelaskan urgennya cinta suami istri dalam rumah tangga, “ “Ketika cinta suami istri semakin kuat dan sempurna, maka tujuan dari menjalin ikatan pernikahan semakin sempurna pula.” Tujuan menikah adalah menjaga kesucian dan meraih sakinah.

Cinta dalam rumah tangga ibarat poros kehidupan dan makanan utamanya. Ketika rumah tangga kehilangan cinta, maka suami istri akan merasakan kehidupan yang gersang dari kasih sayang, kelembutan, ketenangan, dan ketentraman. Bahkan, dipenuhi dengan kekakuan dan mereka seperti minyak dan air yang berusaha diletakkan dalam satu bejana.

Perselisihan antara suami istri pasti terjadi. Dan perselisihan antara mereka berdua itu ibarat sepercik api dan akan terus membesar hingga membakar seisi rumah, jika tidak lekas dipadamkan dan cintalah yang akan memadamkannya.

Setelah mengetahui pentingnya cinta dalam rumah tangga, apa sebenarnya cinta dalam rumah tangga itu?

HAKIKAT CINTA DALAM RUMAH TANGGA

Cinta adalah cinta. Itulah definisi yang pas yang kita berikan kepada “cinta”. Tidak ada ungkapan lain yang bisa menjelaskan hakikat cinta kecuali kata “cinta” itu sendiri.

Adapun hakikat cinta dalam keluarga adalah kecenderungan hati kepada kekasih karena adanya kecocokan setelah melihat keindahannya atau kesempurnaan sifat-sifatnya, adanya kecocokan batin dengan kekasih, dan ketika sang kekasih berbuat baik kepadanya, kemudian kecenderungan tersebut melahirkan sesuatu yang luar biasa seperti penyerahan diri kepada kekasih, selalu mengingatnya, menunaikan hak-haknya, selalu mengharapkan pertemuan dengannya, hatinya dipenuhi dengan bayang-bayangnya, dan lain sebagainya, dan akan menuntun mereka menuju terminal akhir yaitu sakinah dalam firman Allah,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (yaitu sakinah.pen), dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” ( Ar Rum :21)

RUMAH TANGGA TAK BERPONDASIKAN CINTA?

Meskipun sepasang kekasih tinggal satu atap, satu rumah, dan satu keluarga, mereka berdua pasti memiliki titik-titik perbedaan, kekurangan-kekurangan, dan tabiat-tabiat yang tidak disukai oleh pasangannya. Terkadang, ada cara makan dan minum, berbicara, tidur, dan seabrek perilaku lainnya yang tidak disukai pasangan.

Oleh karena itu, terkadang ada suami atau istri yang tidak atau belum mencintai pasangannya. Mereka butuh waktu untuk menumbuhkan benih-benih cinta antara mereka berdua. Karena cinta adalah perkara hati yang seseorang tidak memiliki kekuasaan untuk seenaknya mengontrol hatinya. Rasulullah b berkata setelah berusaha adil dalam bermuamalah dengan istri-istrinya, “Ya Allah, inilah kemampuan saya dalam bermuamalah dengan istri, janganlah Engkau mencelaku atas sesuatu yang Engkau miliki dan tidak aku miliki.” Turmudzi berkata dalam menafsirkan hadits ini, “Maksudnya adalah cinta dan kasih sayang.”

JIKA RUMAH TANGGA TAK BERPONDASIKAN CINTA …

Jika rumah tangga anda belum dihiasai pohon-pohon cinta yang menebar kesejukan, maka jangan terburu-buru membuka pintu perceraian atau merasa pesimis dengan kebahagiaan keluarganya. Dia harus ingat, bahwa cinta itu terlahir ketika ada kecocokan setelah melihat keindahan kekasih dan keluhuran sifat-sifatnya, ada kecocokan batin, dan setelah mendapatkan kebaikan dari sang kekasih.

Untuk meraih 3 faktor tersebut, tentu membutuhkan waktu dan usaha-usaha yang harus ditempuh oleh suami istri. Di antara langkah-langkah yang harus ditempuh adalah:

- Seorang suami atau istri harus bisa memahami perbedaan antara mereka berdua yang terkadang saling berbenturan seraya diiringi dengan penunaian hak dan kewajiban kedua belah pihak.

- Seorang suami atau istri harus menjauhi dosa dan maksiat, karena dosa dan maksiat adalah sebab utama timbulnya kebencian dan matinya cinta. Salah seorang ulama salaf berkata, “Ketika aku berbuat maksiat kepada Allah l, aku mendapatkan pengaruh maksiat pada perubahan sifat istriku yang mulai membenciku”. Di antara dosa dan maksiat yang sering di lakukan adalah tidak menunaikan hak dan kewajiban suami istri.

- Suami harus pandai merengkuh hati sang istri dengan berlemah lembut, membuka pintu maaf untuk kesalahan-kesalahan istri khususnya masalah duniawi, menjaga penampilan dan kebersihan, menyempatkan diri untuk duduk mesra, memahami emosional wanita yang terkadang labil, menampakkan cintanya dengan perkataan dan perbuatan, saling membantu untuk beribadah kepada Allah, bercanda dengannya, meluangkan waktu untuk membantu pekerjaan istri, dan tidak mencela atau menyakitinya. Teladan dalam hal ini adalah Rasulullah b. Coba kita perhatikan, bagaimana usaha Rasulullah r dalam menumbuhkan cinta dalam rumah tangga.

Rasulullah b memanggil Aisyah dengan namanya yang paling bagus, beliau berkata kepada Aisyah, “Wahai ‘Aisy!”, dan terkadang memanggilnya dengan “Humaira’.

Imam Muslim v meriwayatkan dari hadits Aisyah ia berkata, “Rasulullah b mencium salah satu istrinya sedangkan beliau b sedang puasa, kemudian Aisyah tersenyum”, maksudnya Rasulullah b mencium dirinya.

Rasulullah mengungkapkan cintanya dengan lisan, Rasulullah berkata kepada Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, aku bagimu seperti Abu Zar’in kepada Ummu Za’in (yaitu dalam cinta).”

Rasulullah b bercanda mesra dengan istri-istrinya, Imam An Nasa’i meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah x beliau berkata, “Pada suatu hari, Saudah mengunjungi kami dan Rasulullah b duduk di antara kami berdua dan meletakkan kaki beliau di atas pangkuanku dan pangkuannya, aku pun membuat makanan dan aku memerintahkan Saudah untuk memakannya, akan tetapi dia enggan, lalu aku berkata kepadanya, “Makanlah, atau aku akan melumurkannya ke mukamu”, maka aku lumurkan makanan tersebut ke mukanya, kemudian Rasulullah mengangkat kakinya dari pangkuan Saudah agar dia membalas perlakuanku tadi, maka dia pun mengambil makanan dan melumurkannya ke mukaku, dan Rasulullah b tertawa.”

- Sang istri pun harus berusaha merengkuh hati sang suami dengan menyambut kedatangan istri dengan kehangatan, berhias untuknya, bercanda dengannya, memuji dan mensyukuri kebaikannya, bersegera minta maaf kepadanya ketika berbuat salah, taat kepadanya, dan membantu meringankan pekerjaan suami. Di bawah ini beberapa wanita teladan dalam berusaha menumbuhkan benih-benih cinta dan menjaga kelestariannya.

Istri Abu Muslim Al Khaulani ketika suaminya datang, maka dia langsung menyambutnya, menanggalkan pakaiannya dan sandalnya, kemudian menghidangkan makanan kepadanya.

Coba perhatikan bagaimana Shafiyah dan ‘Aisyah bekerjasama untuk meraih kecintaan Rasulullah b. Suatu hari Rasulullah b marah kepada Shafiyah, lalu Shafiyah berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, bersediakah kamu mengambil giliranku agar Rasulullah b meridhaiku?.

- Berdoa kepada Allah agar ditumbuhkan benih-benih cinta di rumah tangganya atau meminta kepada orang-orang shalih untuk mendoakannya. Seorang wanita mendatangi Rasulullah b dan mengeluhkan suaminya, maka Rasulullah b bertanya kepadanya, “Apakah kamu membencinya?”, Wanita tersebut, “Ya”. Lalu Rasulullah berdoa untuk mereka berdua, “Ya Allah satukan hati mereka, tanamkan kecintaan di antara mereka berdua.” Akhirnya mereka berdua pun saling mencintai.

Setelah langkah-langkah di atas di tempuh, dan belum membuahkan hasil, maka jangan langsung menempuh jalan perceraian, akan tetapi masing-masing pihak berusaha memberikan kasih sayang kepada pasangannya, dengan harapan akan tumbuh benih-benih cinta antara mereka berdua.

Hal ini berdasarkan sebuah hadits, seorang lelaki mendatangi Umar bin Khattab ingin bermusyawarah mengenai keinginannya untuk menceraikan istrinya, maka Umar berkata kepadanya, “Jangan kamu ceraikan dia!” Lelaki tersebut menjawab, “Aku tidak mencintainya.” Umar berkata, “Apakah setiap pernikahan itu didasari cinta? Manakah kasih sayangmu? Jika kamu tidak mencintainya maka kasihanilah dia, kecuali jika kamu tidak menginginkannya dan tidak mencintainya dan dia meminta cerai, maka ini adalah perkara lain.”

Jika tidak tumbuh benih-benih cinta juga, bahkan tidak mungkin mempertahankan keutuhan rumah tangganya, maka tidak mengapa menempuh jalan perceraian, dengan syarat setelah menempuh tiga langkah dalam menyelesaikan problematika yaitu nasihat, pisah ranjang, dan pukulan yang mendidik.

Ingatlah … , cinta dalam rumah tangga bisa berpahala jika dibangun di atas cinta karena Allah dan tidak mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Wallahu A’lam.

Oleh: Ustadz Agus Abu Aufa

Ketetapan Hati

Bertahun-tahun silam, ada seorang pemuda dari kota Malang Jawa Timur, berbekal pendidikan kelas 6 SD pun tidak tamat, dia mencoba mengadu nasib ke ibukota, sesampai di Jakarta dia mendapat pekerjaan sebagai seorang salesman di sebuah perusahaan sabun.

Saat itu, film-film action kungfu dari Hongkong dan Taiwan sedang gencar masuk ke Indonesia. Karena merasa punya bekal ilmu kungfu, body menawan dan wajah yang oke, pemuda itu pun punya mimpi dan mencanangkan tekadnya, ingin menjadi seorang bintang film laga di Indonesia. Pengorbanan yang tidak tanggung-tanggung-pun dilakukan dengan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Namun sayang, nasib baik belum memihak kepadanya, kenyataan tidak seindah impian, kegagalan pun harus ikhlas diterimanya.

Waktu terus berjalan, kegagalan yang lalu tidak menyurutkan langkahnya. Impian menjadi bintang film tambah menguat, bahkan target lebih besar ditancapkan, yakni ingin menjadi bintang film kungfu di Hongkong, persiapanpun dilakukan dengan lebih baik, Dari latihan fisik lebih keras dan doa pun mengiringi surat lamaran dengan foto-foto action yang di kirim ke perusahaan Eterna Film di Hongkong.

Tidak beberapa lama kemudian, surat balasan datang, memberitahu bahwa ia diterima menjadi bintang film di Hongkong.

"Ya Tuhaaann... impianku jadi kenyataan!" teriaknya kegirangan. berita gembira itu pun langsung menyebar. Segala persiapan dia lakukan.

Saat menikmati kegembiraannya, tiba-tiba sebuah surat datang kembali. Beritanya sungguh menyedihkan. Akibat cuaca buruk yang berkepanjangan,terpaksa syuting film harus ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan...perasaan sedih spontan menyelimutinya..tubuhnya lemas, lunglai karena tidak ada kepastian kapan akan berangkat. Kegembiraan pun langsung berubah menjadi kemuraman.

"Apakah ini pertanda memang aku tidak ditakdirkan jadi bintang film di Hongkong?"keluhnya dalam hati. Batin pemuda itu terus bergejolak, antara tetap bertahan dengan impian besarnya untuk jadi bintang film atau menyerah

Perasaan pemuda itu tidak menentu. Pikirannya goncang. Tarikan kuat di hatinya untuk terus bertahan bertarung sangat keras dengan godaan untuk menyerah. Tiba-tiba, dia ingat kata-kata motivasi yang sering diajarkan oleh ayahnya,

" Selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar." sontak, kata pepatah motivasi itu langsung kembali membangkitkan semangatnya. "Aku harus bertahan. Aku pasti bisa menjadi bintang film di hongkong, Aku tidak boleh menyerah dan tidak akan menyerah! Ketetapan hatiku tidak akan goyah!!!"

Tiga bulan kemudian.. dengan ketetapan hati yang dilandasi kebulatan tekad untuk tetap bertahan itu, akhirnya panggilan untuk berangkat main film datang. Pemuda itu berhasil menggapai impiannya, menjadi bintang film Hongkong yang mengambil lokasi syuting di Taiwan.

Sungguh, kemenangan perang batin yang luar biasa, Keyakinan kuatnya untuk menjadi bintang film terjawab sudah. Proses perjuangan yang dilandasi ketetapan hati itu akhirnya mengkristal, menjadi sebuah kekayaan mental dan menjadi karakter bagi pemuda tadi, sehingga berguna di kemudian hari dan menjadi bekalnya meraih sukses di berbagai bidang yang dia tekuni.

Sobatyang budiman,
Ketetapan Hati, mutlak dimiliki bagi setiap orang yang ingin meraih kesuksesan. Kualitas dan kapasitas manusia untuk bertahan dalam badai kehidupan sangat ditentukan oleh keuletan dan ketetapan hati yang dimiliki. Saat kita telah memilih untuk bertahan, hati nurani pun pasti akan ikut berbicara. Dan, jika diperkuat dengan tindakan nyata, maka kekuatan ketetapan hati seperti itu akan didengar oleh Tuhan. Dan Tuhanpun pasti akan membantu mewujudkan impian kita melalui cara-Nya, yakni dengan cara yang terbaik dan sering tidak terduga-duga.

Dan, inilah sebuah kebahagiaan sekaligus kebanggaan bagi saya, Sebab, orang yang mengalami dan yang paling tahu tentang kisah tersebut, yakni pemuda tadi, adalah saya sendiri Andrie Wongso.

Kuatkan tekad, tetapkan hati. Raih kesuksesan !! sebab Success is my right!!!

by : Andrie Wongso

Kisah si Tikus Desa

Alkisah, ada dua ekor tikus bersahabat. Karena keadaan, yang satu tinggal di desa sedangkan yang lain tinggal di kota. Suatu hari, tikus kota berkunjung ke desa sahabatnya. Oleh tikus desa, tikus kota dibawa keliling desanya, disuguhi makanan terbaik ala desa sambil bercerita, "Sahabat, desaku memang sepi tetapi hawanya begitu sejuk dan suasananya damai. Makanan pun tersedia dimana-mana di sepanjang lumbung pak tani. Bagaimana menurut pendapatmu?"

Dengan gaya perkotaannya tikus kota menjawab, "Jujur saja sobat, aku sungguh tidak mengerti kenapa kamu betah tinggal di tempat seperti ini. Begitu sepi, dingin, dan seakan-akan tidak ada kehidupan yang berarti. Makanan terbaikmu, rasanya pun juga terlalu hambar bagi lidahku. Sekali waktu datanglah ke kota. Aku akan tunjukkan kepadamu kehidupan yang layak, nikmat, mewah, dan megah. Engkau akan tahu betapa jelek, kotor, dan tidak layaknya tempat tinggalmu ini."

Mendengar cerita tentang kota yang begitu menawan, si tikus desa tertarik untuk ikut ke sana. Setibanya mereka di kota, dengan bangga dibawanya tikus serta berkeliling menikmati indahnya gedung-gedung tinggi, lampu-lampu yang menghiasi sepanjang jalan, keramaian manusia dan kendaraan yang berlalu lalang. Hingga akhirnya mereka sampai ke liang lubang di sebuah rumah mewah kediaman manusia.

"Ayo masuklah. Memang rumah majikanku besar, indah, dan selalu hangat di dalamnya, berbeda sekali dengan rumah desamu kan?" Setelah berkeliling, perut pun terasa lapar. Sambil bercakap-cakap, mereka mengendap-endap memasuki ruang makan. Sungguh hebat makanan di atas meja, banyak dan beragam serta memancarkan aroma yang begitu mengundang selera.

Saat hendak menyantap makanan. Tiba-tiba, "gubrak!" terdengar suara daun pintu dibuka dengan kasar disusul dengan teriakan menggelegar dari orang yang datang itu. Tikus kota spontan berbalik arah dan berteriak "Cepat lari, cepat !" sesegera mungkin mereka pun berlari menyelamatkan diri ke lubang pengaman menghindari caci maki dan kemarahan si penghuni rumah.

Dengan jantung yang masih berdegup kencang karena kaget dan ketakutan, si tikus desa berkata tegas, "Aku mau pulang. Seindah dan semegah apapun di kota, di sini bukanlah tempatku. Ternyata desaku yang sepi dan tenang jauh lebih enak untuk tempat tinggalku. Selamat tinggal sahabat."

Sobat yang budiman,

Pepatah mengatakan "Rumput tetangga lebih hijau dibanding rumput di halaman sendiri." Kadang kita hidup selalu dengan perbandingkan! Melihat orang lain serasa lebih enak, lebih hebat, lebih kaya, lebih indah dibandingkan diri sendiri. Jika kehebatan orang lain menjadi acuan kita, maka tentulah perasaan tidak bahagia yang senantiasa menyelimuti kita.

Seperti saat ini, setelah berlebaran di kampung halaman, biasanya terjadi urbanisasi besar-besaran. Kembali ke kota dan banyak yang membawa serta sanak saudara dan teman untuk mengais rejeki di kota. Sesungguhnya, jika kaum muda mau menggali potensi yang ada di kampung halaman mereka masing-masing, maka banyak masalah yang akan terpecahkan. Dan banyak prestasi yang bisa diciptakan, desa menjadi maju dan kota tidak perlu pengap karena bertambahnya penduduk yang tidak sesuai dengan perencanaan kota. Sehingga pemerataan pun terjadi. Dengan demikian kehidupan akan selaras penuh keharmonisan.

by : Andrie Wongso

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month