Share Info

21 October 2014

Kepuasan Bercinta pada Wanita Terus Meningkat Seiring Usia, Study

Ilustrasi
Manusia dilahirkan untuk hidup berpasangan. Dengan cara demikianlah tercipta keseimbangan antara kebahagiaan lahir dan batin.

Tak heran jika banyak orang yang menghabiskan sejumlah waktu sekaligus tenaga untuk menemukan pasangan jiwanya. Nah, menurut penelitian, salah satu hal paling membahagiakan di dunia ini adalah berciuman dengan orang yang kita cintai.

Namun demikian, rasa cinta yang sempat terbersit di awal hubungan, seringkali menyusut lalu hilang. Apa pasal?

Sebuah studi mengungkap bahwa pasangan yang rutin berpelukan dan berciuman, disinyalir bakal lebih bahagia dan memiliki hubungan yang langgeng. Ini terbukti saat usia Anda dan pasangan berjalan senja dan menua.

Sebanyak 1.000 pasangan dilibatkan untuk memvalidasi teori tersebut. Pasangan ini, rata-rata telah menikah lebih dari 25 tahun, berasal dari Brasil, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Spanyol. Sebagian besar responden tercatat berusia kisaran 40 hingga 70 tahun.

Hasilnya, menurut ketua penelitian, Julia Heiman, Kinsey Institue, Indiana University, AS, pasangan Jepang ditemukan jauh lebih bahagia ketimbang pasangan dari Amerika. Namun, pasangan Amerika masih lebih bahagia dibandingkan pasangan dari Brasil dan Spanyol.

Kendati demikian, pria dan wanita, ditemukan sama-sama merasa bahagia saat pernikahan yang mereka jalani memiliki ritual bercinta yang fungsional dan efektif. Maksudnya, organ intim pria dan wanita masih bekerja dengan baik, meskipun waktu memakan usia dan kekuatan dalam performa seksual.

Selanjutnya, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Sexual Behaviour ini,  juga mengatakan bahwa ungkapan yang mengatakan, kekuatan seksual bercinta pria semakin matang seiring usia, hanya isapan jempol belaka. Sebab, hasil studi justru memperlihatkan bahwa pria lanjut usia (terutama yang memiliki lebih dari satu pasangan) mengalami penurunan kepuasan seks. Sementara itu, kaum hawa justru merasakan kenikmatan dan kepuasan seksual yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

[Source : Everyday Health]

Putus Cinta bikin Tubuh Langsing?

Ilustrasi
Berpisah dari seseorang yang dicintai, bukanlah perkara mudah seperti membalikan telapak tangan. Sebab, seseorang yang tadinya selalu ada mendadak sama sekali hilang, bisa menyebabkan perubahan, baik secara emosi juga kondisi fisik. Salah satunya adalah jadi hilang nafsu makan.

Seperti dikutip Prevention, para ahli menyebut kondisi tersebut dengan istilah Break Up Diet, alias diet putus cinta. Ternyata, kondisi yang demikian dialami oleh banyak orang. Bagi mereka, jangankan ingin mencicipi suatu makan, rasa lapar saja tidak ada.
Marina Pearson dan Debra Smouse, Konsultan Pernikahan, mengatakan bahwa tubuh dan pikiran itu saling terhubung. Jadi, tidak heran bila saat hati sedih maka tubuh pun akan terpengaruh. Kala hati sedang lara, tanpa kita sadari tubuh pun merasakan hal serupa.
Pearson menjelaskan mengenai efek kimiawi yang terjadi kala kita sedang merasa stres dan gundah gulana. Ternyata, saat merasakan hal yang demikian, adrenalin pada tubuh terpacu untuk melepaskan diri dan mengalir ke seluruh tubuh, sehingga meningkatkan kadar kortisol.
Nah, kadar kortisol yang berlebihan dalam tubuh akan meningkatkan gula darah, mengurangi kalsium pada tulang, memicu tekanan darah, massa otot jadi berkurang, lemak kian bertumbuh, bahkan kemampuan akal untuk berpikir turut menyusut.

“Kondisi seperti itu, dalam jangka pendek, bisa memengaruhi sistem imun. Sebab, sistem imun manusia berada di dalam usus, sehingga jangan heran jika akhirnya selera serta nafsu makan menurun,” papar Pearson.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, saat kita memaksa diri untuk makan, bisa jadi kita akan kembali merasakan kepedihan. "Ini karena kita belum siap untuk bangkit dari kesedihan dan kekecewaaan, sehingga kita tak ingin merasakan sakit. Akhirnya, memilih untuk tidak makan," urainya.
Bagi wanita yang mendambakan tubuh langsing, mungkin kondisi ini merupakan kabar gembira di balik sesuatu yang tragis. Namun, perlu diketahui, berat badan yang turun akibat hati bersedih itu sama sekali tidak sehat.
“Salah satu klien saya mendadak kurus setelah bercerai. Dia disarankan oleh dokternya untuk menambah berat badannya, tapi ia ngotot ingin kurus supaya suaminya kembali lagi, karena wanita lain suaminya memiliki tubuh langsing," katanya.

"Berat badan yang turun karena patah hati merupakan efek domino, tapi membiarkan diri kelaparan bukanlah contoh mencintai diri yang positif. Tak peduli cara itu dapat membuat Anda langsing,” jelas Smouse.


[Source : Prevention]

14 October 2014

Tidur Malam Tanpa Cahaya Lebih Menyehatkan

Tidur malam tanpa cahaya lebih menyehatkan
Tidur sangat penting bagi kesehatan manusia. Tanpa kualitas tidur yang baik, seseorang dapat mengalami gangguan kondisi fisik. Untuk itu, tidurlah yang cukup pada malam hari.


Tak sekedar memejamkan mata, kondisi cahaya saat tidur malam hari juga mempengaruhi kualitas tidur. Tidur malam hari tanpa cahaya lampu dinilai lebih menyehatkan karena membuat kualitas tidur lebih baik.

Keadaan gelap dapat memicu produksi zat melatonin atau hormon tidur dalam tubuh yang membuat tidur lebih nyenyak.

"Kalau terang, kualitas tidurnya enggak bagus. Takutnya produksi melatoninnya enggak bagus," kata konsultan utama klinik gangguan tidur RS Mitra Kemayoran, Jakarta, dr Andreas Prasadja di Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (11/10/2014).

Cahaya pun menganggu jam biologis manusia pada malam hari. Malam hari merupakan waktu manusia untuk beristirahat. Bahkan sejumlah penelitian menyatakan bahwa tidur malam tanpa cahaya terang dapat mencegah penyakit kanker.

"Kita curiga, melatonin ini ada efek anti kanker. Tapi ini belum selesai penelitiannya," kata Andreas.

Andreas menjelaskan, berdasarkan penelitian, wanita yang tidurnya kurang dari 7 jam dalam sehari, 47 persen berisiko kanker payudara. Sementara itu pada wanita buta, risiko kanker payudara lebih rendah 50 persen.

"Kita asumsikan yang buta karena enggak lihat cahaya sehingga polanya bagus. Melatoninnya bagus, makanya risiko kankernya rendah," terang Andreas.

Lalu bagaimana dengan kebiasaan Anda untuk tidur dengan cahaya lampu terang? Menurut Andreas, kebiasaan ini sebaiknya ditinggalkan dan segera diatasi. Anda bisa memasang banyak lampu di kamar, misal lampu utama, lampu meja, dan lampu dinding.

Dalam waktu seminggu, matikan lah lampu utama, namun tetap menyalakan lampu kecil lainnya.

Seminggu kemudian, cobalah mematikan lampu utama dan lampu kecil sehingga menyisakan hanya satu lampu yang menyala. Lambat laun, Anda akan terbiasa tidur dalam keadaan gelap.

"Pelan-pelan, seminggu kurangi satu lampu, seminggu kemudian kurangi satu lampu lagi. Jadi bertahap saja. Nanti terasa, loh, kualitasnya lebih enak," kata Andreas.

Selain lampu, cahaya dari handphone juga tidak baik kerena memancarkan cahaya "blue light". Terpancarnya cahaya ini akan dibaca oleh otak manusia sebagai siang hari.

Untuk itu, satu jam sebelum tidur sebaiknya hindari pemakaian handphone. Saat tidur juga tidak perlu gelap total atau membuat pandangan menjadi hitam seluruhnya. Lampu tidur yang membuat cahaya remang-remang, boleh saja dinyalakan.

Selain menyehatkan, mematikan lampu juga menghemat energi.
[Source : health.kompas.com]

10 October 2014

Meredam Rasa Jenuh, Wanita Pilih Selingkuh

Selingkuh karena Jenuh
Menurut sebuah studi yang dihelat oleh biro pernikahan di Inggris, Coffe and Company, ditemukan bahwa jumlah wanita berselingkuh semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Lebih kurang 3.000 responden wanita dilibatkan dalam studi ini. Hasilnya, 20 persen responden wanita mengaku pernah berselingkuh dan sedang berselingkuh. 

Seperti dikutip AskMen, studi tersebut diatas menguraikan sejumlah alasan yang melandasi wanita berselingkuh:

Meredam bosanTak dimungkiri bahwa menjalani rumahtangga dengan seseorang selama kurun waktu tertentu dapat menyebabkan rasa bosan dan jenuh. Untuk meningkatkan adrenalin dan semangat, sejumlah wanita memilih berselingkuh. Rasa khawatir ketahuan seolah sedang bermain petak umpet, meningkatkan adrenalin sehingga membuat dada berdebar-debar. Situasi yang demikian, untuk beberapa wanita menghadirkan warna dan percikan baru dalam keseharian mereka.
Balas dendam
Menurut ahli hubungan, Seth Meyers, Psy.D, psikolog asal Los Angeles dan pengarang dr Seth's Love Prescription, saat jatuh cinta secara natural membuat pria setia pada satu wanita. Namun, tak sedikit pria yang memutuskan menikah berdasarkan alasan-alasan yang jauh dari rasa cinta. Alhasil, komitmen pernikahan tak menggentarkan mereka untuk terus bertualang mencari peraduan cinta yang baru.


Perlakuan suami yang demikianlah membuat wanita marah dan menyimpan rasa dendam. Seperti yang diungkapkan oleh Bonnie Weil, Ph.D., penulis Adultery: The Forgivable Sin bahwa berselingkuh merupakan cara untuk menyamakan kedudukan.

Ingin merasa cantik dan berartiSeiring berjalannya waktu, kehidupan rumah tangga pasangan suami istri tak ayal bergulir tawar dan berakhir menjadi sebuah rutinitas belaka. Dalam kondisi ini, tak jarang suami yang sering lupa memuji kecantikan sang istri, bahkan upaya memasak sehari penuh, tak meninggalkan kesan istimewa pada suami.

Kondisi seperti ini yang kemudian membuat istri merasa terabaikan oleh suaminya, sehingga ia pun menjadi rapuh secara emosional dan dengan mudah berlari mencari pria baru dengan berselingkuh.



[Source : AskMen]

Bagian Tubuh Wanita yang Jangan Disentuh Saat Bercinta

Ilustrasi
Seks yang hebat itu soal spontanitas dan tentunya eksplorasi. Namun, ada beberapa bagian tubuh wanita yang tidak boleh disentuh saat berhubungan seksual. Berikut ini tiga bagian tubuh wanita yang sebaiknya jangan disentuh saat intimasi, seperti dilansir menshealth.
 
Leher rahim
Jika pria mencapai leher rahim pasangannya saat berhubungan seks, rasanya ada yang salah. Kanal sempit yang menghubungkan vagina ke rahim, tempat janin tumbuh, bila tersentuh, maka akan sangat menyakitkan bagi wanita. Ini bisa menjadi tanda bagi pria untuk menggeser posisi dengan penetrasi dangkal, atau bisa juga ini tanda kurang pemanasan.


Kepala klitorisMungkin tampak berlawanan dengan intuisi, tetapi klitoris yang penuh saraf sensitif di ujungnya kadang-kadang mendapat rasa yang terlalu kuat ketika dirangsang secara langsung. Menyentuh kepala klitoris, terutama ketika si wanita benar-benar terangsang, bisa menimbulkan rasa sakit terlalu parah.

Bayangkan saja ketika menelan minuman es dingin dan gigi gemeletuk tidak menyenangkan, kira-kira demikianlah rasa sakit yang dimaksud.

KakiSebuah penelitian dari John Hopkins University menunjukkan bahwa mengenakan kaus kaki dapat meningkatkan potensi orgasme, baik pria maupun wanita. Salah satu hal alasan potensialnya, wanita harus benar-benar santai, bebas dari rasa cemas dan kaki kedinginan untuk orgasme. Tiga hal ini dapat mengganggu kemampuan mereka untuk menikmati seks.

Jadi, jika istri Anda merasa nyaman mengenakan kaus kaki, maka sebaiknya jangan lepaskan kaus kaki mereka. Sebab, siapa tahu, cara tersebut bisa membuat dirinya hangat.

[Source : menshealth]

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month