Share Info

3 January 2011

Meningkatkan "Hormon Cinta" Secara Alami


Ada banyak hal menyenangkan yang bisa kita dapat dari hormon oksitosin yang juga diberi nama panggilan "hormon cinta". Konon, hormon ini bisa menginduksi perasaan cinta, rasa percaya, dan kemurah hatian. Dikabarkan pula, hormon ini sudah bisa terpicu sejak hari kelahiran, ketika sentuhan pertama ibu kepada si bayi, juga saat kali pertama si ibu memberi ASI pertama pada anaknya.

Bahkan, kini ada riset dari Perancis yang mengatakan, bahwa memberikan hormon oksitosin pada orang dewasa dan anak yang didiagnosa autistik ringan bisa menjadi terapi berkualitas yang memberi efek menenangkan dan lebih mudah bersosialisasi.

Sentuhan sederhana dan ringan, seperti usapan, tepukan di pundak, atau pelukan antara teman atau pasangan sudah cukup untuk membuat otak memproduksi hormon ini dan mengirimkannya ke sistem tubuh. Ketika ini terjadi, tingkat hormon stres pun akan berkurang, menurunkan tekanan darah, dan memberikan rasa kedekatan.

"Tentunya, ketika Anda merasa lebih kalem, akrab, atau nyaman, maka hal ini akan membantu mengurangi respon stres, yang artinya, baik untuk jantung, terang Debby Herbenick, Ph.D., penulis Because It Feels Good: A Woman's Guide to Sexual Pleasure and Satisfaction, juga wakil direktur Center for Sexual Health Promotion di Indiana University. Jadi, intinya, ada potensi terjadinya rangkaian reaksi kesehatan. Agar si hormon cinta atau rasa bahagia ini bisa terus mengisi hari-hari Anda secara alami, coba lakukan hal-hal berikut:

Bergandengan Tangan
Hanya dengan menyambungkan lengan, bergenggaman tangan, atau menyandingkan lengan di pundak seseorang (tapi tanpa membebaninya) yang Anda kasihi, seperti pasangan, teman, atau anak, akan membantu mendorong otak memproduksi hormon oksitosin. Jangan takut untuk menunjukkan sedikit afeksi, jika Anda tiba-tiba ingin menunjukkan rasa sayang pada pasangan, tunjukkanlah dengan sentuhan. Hanya dengan melakukan hal-hal kecil semacam itu, Andadan si dia sudah akan merasa lebih nyaman.

Melewati Momen Bercinta yang Hebat
Pasangan suami istri yang mencari dorongan oksitosin bisa mencoba mendapatkannya dengan merencanakan momen bercinta yang menyenangkan. Pelukan dan sentuhan saat melakukan foreplay akan menyalakan zat cinta ini, plus, orgasme akan meningkatkan level hormon ini dua kali lipat dari tingkat normalnya. Hal ini akan membuka pintu untuk perasaan rileks dan kesempatan yang lebih luas untuk memiliki ikatan yang kuat dengan pasangan Anda.

Untuk wanita yang belum memasuki masa menopause, oksitosin secara alami akan lebih tinggi di masa ovulasi karena estrogen memperkuat hormon cinta tersebut. Hal ini kemungkinan bisa menjelaskan mengapa ada wanita yang lebih sensitif terhadap sentuhan atau ada pula yang lebih mudah mengutarakan tindakan-tindakan yang menunjukkan afeksi saat memasuki masa ovulasi.

Mengkhayalkan Si Dia
Riset yang dilangsungkan oleh University of North Carolina di Chapel Hill menemukan bahwa wanita yang sudah menikah dan merasa bahagia akan dengan cepat melepaskan oksitosin ketika diminta untuk memikirkan suaminya. Namun, tentunya, upayakan untuk tidak terpisah terlalu lama. Memang, adanya jeda bisa membuat rasa cinta bertumbuh, karena menyadari betapa kehilangannya Anda ketika si dia tak ada. Tetapi, tak bisa dipungkiri, kontak intim dengan orang yang disayangi amat diperlukan.

Binatang Peliharaan
Pasangan suami istri bisa saja melewati masa-masa yang "kering" dan sulit, namun, adanya binatang peliharaan bisa membantu menjembatani rasa ini dan meredakan ketegangan di antara suami-istri. Karena pelepasan oksitosin dipicu oleh sentuhan, mengelus binatang peliharan juga bisa meningkatkan level oksitosin.

Kenyamanan dari Hal-hal yang Menjadi Favorit
Wangi masakan khas buatan ibu Anda, mendengarkan suara dari orang yang Anda kasihi, terbangun karena mendengar nyanyian burung yang sering hinggap dekat jendela kamar, atau hal-hal lain yang membuat Anda tenang dan senang selalu bisa diandalkan untuk meningkatkan oksitosin. Konon, merasakan, mendengar, mencium, bahkan memikirkan hal-hal yang Anda sukai bisa memicu oksitosin Anda ke tingkat yang lebih tinggi.

[Source : Kompas]

Hormon Cinta Usir Sakit Kepala

Ilustrasi : Sakit Kepala

Hormon oksitosin, si hormon cinta yang muncul setiap kali kita berinteraksi dengan rasa kasih sayang, ternyata bisa dipakai sebagai terapi untuk mengatasi keluhan sakit kepala berulang.

Hormon oksitosin biasanya muncul ketika ibu memberikan ASI kepada bayinya. Hormon ini juga terkait dengan timbulnya rasa saling percaya dan ikatan emosional.

Dalam sebuah penelitian terhadap 40 pasien yang diberikan satu dosis oksitosin dalam bentuk obat hirupan, 50 persennya melaporkan sakit kepala yang mereka rasakan berkurang hingga setengahnya. Bahkan, 27 persen pasien ini mengatakan mreka tidak merasakan sakit lagi satu jam kemudian.

Sebagai perbandingan, hanya 11 persen pasien yang diberi semprotan placebo mengatakan sakit kepala mereka berkurang hingga separuh empat jam pasca diberikan semprotan.

Seluruh pasien dalam penelitian ini adalah penderita sakit kepala kronik dan menderita serangan sakit kepala sedikitnya 15 kali dalam sebulan. Penyakit ini diderita oleh sekitar 6 juta orang Amerika. Menurut David Yeomans, peneliti yang melakukan riset ini, seluruh partisipan studi sebelumnya pernah mencoba terapi lain namun tidak merasakan hasil berarti.

"Pasien-pasien ini sudah mencoba berbagai cara dan tidak ada yang bisa mengusir keluhan mereka," kata Yeomans, peneliti dari Stanford University School of Medicine.

Hormon oksitosin bekerja di dalam sistem saraf dengan cara menghambat dikeluarkannya sinyal rasa sakit. Sayangnya efek dari hormon ini agak lama, yakni 4 jam, jauh lebih lama dibanding terapi sakit kepala lainnya.

Saat ini baru dua terapi yang menunjukkan hasil efektif untuk mengatasi sakit kepala kronik, yang pertama adalah suntikan botox. Terapi tersebut sudah mendapat persetujuan dari FDA pada Oktober 2010 lalu. Terapi lain adalah obat yang disebut topiramate.

Meski kedua terapi itu menunjukkan hasil yang signifikan dibanding dengan placebo, namun tidak semua pasien terbantu dengan terapi itu karena penyakitnya sering kambuh kembali.

Kedua jenis terapi juga menimbulkan efek samping, misalnya topiramete yang memengaruhi efek kognisi dan suntik botox harus diulang setiap tiga bulan sekali. Suntik botox juga memiliki efek samping serius, seperti sesak napas dan kesulitan menelan.

Sementara itu terapi oksitosin tidak menunjukkan adanya efek samping. Namun dampak jangka panjang terhadap terapi ini belum diketahui, selain juga jumlah partisipan studi yang terlalu sedikit. Karena itu penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk mengetahui keamanan si hormon cinta ini untuk mengusir sakit kepala.

[Source : LiveScience]

Cerita tentang Alat Penggorengan Antigores


Tahun Baru 2011 sudah berada di hadapan kita. Saat paling tepat untuk menyisihkan waktu khusus dalam berkontemplasi, introspeksi diri, menilai diri, serta menjadi momen refleksi paling tepat bagi perbaikan perilaku pada tahun-tahun mendatang. Untuk itu, marilah kita menarik pelajaran dari cerita tentang penggorengan antigores di bawah ini:

Suatu saat saya berkunjung ke rumah kakak saya dan saya mengajaknya ke pasar swalayan untuk mencari penggorengan antigores. Saya memilih salah satu penggorengan yang digantung di salah satu sudut gerai. Kakak saya melarang saya mengambil penggorengan tersebut dan mengatakan bahwa merek yang saya pilih kualitasnya tidak baik. Menurut dia, hanya beberapa kali di pakai, lapisan teflonnya akan terkelupas secara bertahap.

Dia tidak hanya menjelaskan tentang kualitas lapisan teflon, tetapi dengan nada penuh percaya diri dia juga menjelaskan bagaimana lapisan teflon dibuat dan bahaya menggunakan penggorengan yang lapisannya mulai mengelupas bagi kesehatan makanan yang digoreng. Tadinya saya terdiam dan mau menuruti nasihatnya, tetapi tiba-tiba saya kesal dan marah, ”Siapa yang minta nasihat dia?” Mengapa dia selalu merasa dirinya benar? Mengapa dia selalu merasa tahu segalanya dan bersikap seperti seorang ahli?

Duh, kesal rasanya ingin saya memukulkan penggorengan yang saya pegang ke kepalanya, tetapi saya tidak berani. Untuk menunjukkan kekesalan saya, saya bergegas ke kasir dan membayar penggorengan yang saya pilih itu.

Namun, apa yang saya alami kemudian, apa yang dikatakan kakak saya itu benar. Tidak seberapa lama penggorengan tersebut mengelupas lapisan teflonnya. Karena ingat akan penjelasan bahaya lapisan teflon untuk kesehatan bila tercampur dengan makanan yang kita masak, saya buang penggorengan tersebut.

Ketika saya menceritakan pengalaman saya kepada sahabat saya, si K (34) dan ibunya (60), K mengatakan, ”Wah, coba aku punya kakak seperti itu, senang sekali, saya bisa belajar banyak dari kakakmu. Saya pasti belajar banyak tentang alat-alat masak yang dilapisi teflon.” Kemudian dengan jujur K berkata, ”Bahwa kalau saya jadi kamu, saya akan menyimak penjelasan kakak, jadi saya bisa belajar banyak tentang manfaat dan bahaya teflon.” Ternyata reaksi K sama dengan reaksi ibunya.

Saat itu, serta-merta saya benar-benar mendapat pelajaran dari reaksi positif K dan Ibu terhadap sikap dan nasihat kakak tersebut sehingga akhirnya saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa saya begitu marah? Mengapa kemarahan saya membuat saya tidak mampu melihat sisi baik dari penjelasan tentang lapisan teflon dari kakak saya?

Ternyata kemarahan saya merupakan salah satu upaya saya untuk menyadarkan kakak bahwa dia tidak selalu harus menunjukkan dirinya lebih pintar, dia jangan terlalu ”sok-tahu”, dan memberi nasihat tanpa diminta. Kemudian saya bicara dengan kakak dan menyatakan kepada kakak untuk mengubah sikapnya, yaitu agar bila tidak diminta, jangan memberi nasihat.

Untuk membuat kakak juga memahami tuntutan saya tersebut, maka saya menjelaskan pengalaman saya dalam peran sebagai seorang adik. Di rumah kami dulu, kakak selalu dinilai paling hebat, semua mengagumi kakak, Bapak-ibu bangga dengan kakak. Kakak dikatakan sebagai kakak yang baik, penolong, dan selanjutnya, sementara sebagai adik, saya selalu berada dalam posisi yang lebih rendah dan harus ditolong.

Terciptalah dinamika relasi, aksi kompetensi-reaksi inkompetensi antara pihak kakak dan pihak saya sebagai adik. Terciptalah aksi-reaksi yang menunjukkan korelasi yang negatif sebagai berikut: aksi kakak semakin tampak kompeten dan reaksi saya semakin tampak tidak kompeten. Walaupun demikian, relasi antara saya dan kakak sebenarnya sangat penting bagi upaya saya untuk justru mendapatkan keseimbangan diri.

Apa yang mungkin dapat membantu saya keluar dari situasi ini? Saya mencoba menganalisis sesuatu yang mungkin tampak aneh, yaitu karena kakak begitu baik dan begitu penolong, ternyata sangat penting dan sangat berarti bagi kehidupan saya. Untuk itu, kecuali saya mengungkap dengan terus terang kepada kakak bahwa saya benci dan iri hati terhadap posisi positifnya dalam keluarga, saya juga iri hati pada kompetensi yang eksesif tersebut.

Kemudian, saya meminta kakak untuk mengubah perilakunya terhadap saya, dengan mengatakan bahwa hal itu tidak berarti bahwa caranya menolong saya saat yang lalu adalah salah atau buruk, tetapi hendaknya kakak juga membantu saya untuk membuat diri saya justru lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Dalam hal ini, saya meminta kakak mau mengubah dinamika aksi-reaksi yang lalu dengan dinamika yang baru.

”Bagaimana caranya?” tanya kakak. Saya mengatakan bahwa saya ingin berperan sebagai penasihat kakak. Ternyata kakak mau juga membagi kesulitannya kepada saya dan ternyata terjadi kenyataan bahwa pendapat dan nasihat saya dihargai kakak.

Dengan berjalannya waktu, saya tidak merasakan lagi perasaan direndahkan dan mulai hari ini saya menghargai nasihatnya tanpa merasa direndahkan dan dilecehkan tidak saja dalam mengatasi berbagai persoalan yang saya hadapi, tetapi juga termasuk nasihatnya dalam memilih penggorengan berlapis teflon.

Ternyata kemarahan saat membeli penggorengan teflon yang lalu bisa menjadi sarana bagi upaya perubahan dinamika interelasi antara kakak dan adik. Korelasi interaksi yang baru tersebut menunjang peningkatan optimasi fungsi mental tiap-tiap pihak yang berrelasi. Mengapa tidak kita lakukan hal yang sama saat menapakkan kaki kita pada Tahun Baru ini?

Selamat Tahun Baru 2011.


[Source : Kompas]


Irfan Bachdim Pilih Tetap di Indonesia


Ekspresi pemain Indonesia, Irfan Haarys Bachdim, usai mencetak gol pada pertandingan Piala Suzuki AFF 2010 melawan Laos di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (4/12/2010). Pertandingan ini berakhir 6-0 untuk kemenangan Indonesia.

Pemain tim nasional Indonesia, Irfan Bachdim, tetap akan merumput di Indonesia dan tidak ada niatan untuk meninggalkan Indonesia. Sebelumnya ada kekhawatiran dari para pencinta tim "Merah Putih" bahwa Irfan akan kembali ke Belanda setelah tak mampu membawa Indonesia menjadi juara Piala AFF 2010.

Irfan merupakan pemain hasil naturalisasi yang mendapat kewarganegaraan Indonesia secara penuh tahun 2010. Irfan Haarys Bachdim yang lahir di Amsterdam, 11 Agustus 1988, saat ini memperkuat Persema Malang di Liga Super Indonesia. Ia tergabung dalam timnas Indonesia asuhan Alfred Riedl untuk Piala AFF 2010. Dalam bermain, ia bisa menempati berbagai posisi, seperti striker, gelandang, ataupun sayap.

”Sudah hampir Tahun Baru. Mari kita lupa turnamen, tapi tolong ingatkan selalu para pendukung yang besar! Aku tidak akan melupakan kamu! INDONESIA!,” kata Irfan dalam akun jejaring sosial Twitter @IrfanBachdim10 yang ditulisnya tadi malam.

Ia menjamin bahwa dirinya tidak akan meninggalkan Indonesia. “Bagi orang-orang yang berpikir saya akan meninggalkan Indonesia! Jangan khawatir saya tetap akan TINGGAL DI SINI!,” ungkapnya menjawab kekhawatiran para penggemarnya di Twitter.

Seperti diketahui, Noval Bachdim, ayah Irfan, merupakan warga negara Indonesia kelahiran Malang yang telah menetap lebih dari 20 tahun di Belanda, sedangkan ibunya Hester van Dijic adalah warga negara Belanda.

Keluarga Bachdim tinggal di kota Amsterdam. Keluarga besar dari ayahnya pernah menetap lama di Lawang, Malang, sejak tahun 1955 hingga memasuki era 1980-an.

Irfan terlahir dari keluarga pemain sepak bola. Bakatnya diturunkan dari ayahnya yang seorang pesepak bola dari klub PS Fajar Lawang pada era 1980-an serta kakeknya, Ali Bachdim, yang mantan pemain Persema Malang, PSAD Jakarta, dan PSHW (Hisbul Wathon) yang mayoritas beranggotakan pemain keturunan Arab.

Ali Bachdim adalah purnawirawan TNI Angkatan Laut, sedangkan neneknya, Siti Rahimah, berasal dari keluarga Elong. Keduanya adalah keturunan Arab-Manado.

[Source : Tribunnews.com]

ESPN: Okto Layak Main di Eropa



Pemain depan Sriwijaya FC Oktovianus Maniani masuk dalam daftar 10 pemain potensial di Asia dan layak bermain di Eropa, dikutip dari tulisan kolumnis ESPN, John Duerden, dalam ESPNsoccernet, Minggu (3/1/2011).

Menurut Duerden, penampilan Okto yang menerobos sayap kiri sangat enak ditonton dalam Turnamen AFF Cup 2010.

Okto menjadi pilihan utama di enam pertandingan, dan hanya absen di laga pamungkas akibat akumulasi kartu kuning. Dengan dribble ciamik dan lari kencang, Duerden menjuluki Okto "Ryan Giggs dari Indonesia". Sayang, kemampuan olah bola belum diimbangi umpan dan tembakan akurat, layaknya legenda Manchester United itu.

Ia melihat Okto harus bisa mengikuti jejak Giggs dan tampil konsisten. Pada usia 20, pemain Sriwijaya FC ini merupakan anggota termuda dalam Pasukan Garuda. Duerden menilainya masih mentah. Tapi justru itu yang membuatnya makin menarik untuk dilihat. Dia yakin Okto bisa meningkatkan kemampuannya berolah bola.

Daftar 10 pemain potensial Asia tulisan Jhon Duerden "Eastern Promise":

  • 1. Deng Zhuoxiang (Shandong, Cina)
  • 2. Ismail Matar (Al Wahda, Uni Emirat Arab)
  • 3. Koo Ja Cheol (Jeju United, Korea Selatan)
  • 4. Kawin Thamsatchanan (Muang Thong United, Thailand)
  • 5. Yasser Al Qahtani (Al Hilal, Arab Saudi)
  • 6. Oktovianus Maniani (Sriwijaya FC, Indonesia)
  • 7. Karim Ansarifard (Saipa, Iran)
  • 8. Jungo Fujimoto (Shimizu S-Pulse, Jepang)
  • 9. Alexander Geynrikh (Pahktakor, Uzbekistan)
  • 10. Firas Al-Khatib (Al Qadsia, Suriah).
[Source : Kompas]

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month