Share Info

Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

5 November 2014

Optimis, Senjata Menghadapi Kesulitan

Ilustrasi
Apa biasanya komentar kita, saat menghadapi deadlock dalam meeting, di mana beda pendapat tidak menemukan jalan tengah? Apa respon kita saat pertumbuhan bisnis tidak menggembirakan, sehingga perusahaan harus melakukan efisiensi biaya di sana-sini, termasuk memotong bonus atau fasilitas untuk karyawan? Apa yang kita pikirkan saat klien yang dulunya sangat loyal, kemudian berpaling menggunakan jasa kompetitor?

Kesemuanya ini sering membuat mood kita seolah diselimuti awan kelabu. Sering dengan mudah kita langsung merasa terpuruk, berkeluh-kesah, mencari-cari kesalahan. Situasi ini juga kerap membuat kita merasa mentok atau no way out, bukan?

Kadang, kita tidak bisa menyalahkan individu, bila memang menyaksikan situasi yang buruk. Tetapi, kita memang perlu mawas diri dan bertanya, apakah sikap pesimis, bahkan sinis, ini akan berguna? Bukankah pemikiran adalah awal dari tindakan kita? Begitu kita memulai sesuatu dengan sikap negatif maka kita tidak mempunyai kesempatan untuk memulai sesuatu yang baik.

Dalam bisnis, kejutan seperti mitra bisnis yang tiba-tiba berpaling dan ingkar janji, ketidakberuntungan ataupun keputusan yang salah dan menyebabkan kerugian bisa terjadi, atau malah kadang datang bertubi-tubi. Bayangkan, apa jadinya bila kita sudah kehilangan optimisme? Tidak adanya optimisme, tanpa disadari bisa menyebabkan ekonomi tergerogoti  karena tidak tumbuhnya bisnis baru secara proporsional.

Sikap pesimis juga menyebabkan kita tidak lagi antusias berinvestasi, bahkan mematikan niat untuk berburu orang-orang berbakat. Dan lucunya, dalam situasi seperti itu, banyak ide baru yang direspons secara getir, penuh kesinisan. Bukan saja orang menekankan sikap konservatif, atau “buy in” ide baru lemah, tetapi penolakan tersebut diwarnai agresi. Komentar: “Ah, basi!”, jadi lebih sering kita dengar, misalnya saat ada rekan kerja mengeluarkan ide yang terkesan "biasa-biasa" saja.

Jadi, bisa dikatakan bahwa musuh optimisme bukanlah sekadar pesimisme, tetapi juga kesinisan. Jadi dalam setiap ide atau situasi, yang muncul secara default di dalam persepsi kita adalah pandangan negatif, yang bahkan dibumbui dengan memori-memori lama tentang keburukan situasi. Bukankah ini bisa sangat menghambat kemajuan kita?

Seorang tokoh periklanan, Jay Chiat, sering mengatakan bahwa ketrampilan hidup yang perlu senantiasa dikembangkan adalah untuk menghadapi ancaman kekalahan. Beliau mengatakan  bahwa optimisme adalah satu-satunya senjata menghadapi kesulitan. Itu sebabnya, kita perlu berlatih mental secara rutin untuk melakukan berbagai hal sebaik-baiknya, walau dengan  sumberdaya terbatas.

Kita bisa melihat para entrepreneur sukses jarang terdengar mengkomplen hal-hal yang mereka tidak punya, tetapi justru menghargai apa yang mereka miliki dan apa hasil pemanfaatannya. Dengan begitu kita terbiasa berada di  situasi bawah tekanan, bukan mengeluh, merengek, tetapi siap untuk memunculkan “call for action”.

Disiplin berpikir sebagai dasar optimisme
Optimisme adalah keyakinan bahwa hampir semua masalah dapat diselesaikan dengan kerja keras dan mindset yang tepat. Meski terdengar sederhana, tapi kita tahu betul betapa ini tidak mudah, apalagi karena memang berita-berita buruk datang silih berganti dan lingkungan sekitar kita pun seringkali menyuburkan sikap pesimisme. Itu sebabnya, kita kerap kagum pada orang yang selalu bisa berpikir optimis, padahal kita tahu sendiri bahwa nasibnya tidak seberuntung orang lain.

Sebetulnya, tidak sedikit riset yang menunjukkan bahwa orang yang berpikir positif mempunyai derajat kesuksesan yang lebih tinggi di pekerjaan, sekolah, bahkan dalam hidupnya. Hasil penelitian pun mengatakan bahwa optimisme ini ditularkan. Orangtua yang optimis, biasanya membesarkan putra-putri yang optimis pula. Jadi, apa yang perlu dilakukan agar kita bisa senantiasa bersikap optimis?

Pertama-tama, kita perlu memperhatikan apakah perbendaharaan kata-kata kita lebih berisi kata-kata magic yang mempengaruhi positifnya pikiran kita, atau sebaliknya, perbendaharaan kata kita justru didominasi kata-kata yang “menjatuhkan”, seperti,”mana mungkin?”, "apa iya?”, atau “ salah siapa?”.

Kita bisa segera melihat bahwa kata-kata negatif yang ada di pikiran atau kita ucapkan, akan membawa pikiran kita ke dalam pembicaraan defensif atau tidak produktif. Andaikan saja kumpulan kata-kata kita selalu menantang kita untuk melanjutkan pemikiran kita, seperti mempertanyakan detail, memikirkan kemungkinan pelaksanaan tindakan, membayangkan berbagai kemungkinan untuk berpikir kreatif dan menyelesaikan masalah, maka tanpa disadari mood kita akan terangkat dan kita pun akan terpengaruh dengan pikiran kita sendiri, terbawa kepada suasana pencarian solusi.

Optimisme sebetulnya juga perlu dibarengi dengan kegiatan berfikir eksploratif yang akhirnya memungkinkan kita untuk menembak jalan keluar yang lebih jitu.

Aturan 24x3
Kita tentu pernah melihat orang yang memotong pendapat orang lain dan seketika menilai ide orang buruk, padahal orang tersebut belum selesai menyampaikan pendapatnya. Tidakkah kita kadang berpikir bahwa komentar negatif itu terlalu dini? Pernahkah kita buang muka saat menemui seseorang yang tidak kita sukai, pada detik-detik pertama? Bukankah bila kita pikirkan lebih lanjut, kita sudah menyia-nyiakan kesempatan positif untuk membina hubungan atau paling tidak menerima informasi?

Berarti, hal yang perlu kita latih juga adalah menahan respon, untuk tidak segera mengomentari, menilai, memutuskan. Sebaliknya, kita perlu mengendapkan lebih dulu informasi yang kita terima untuk memberi waktu kita melihat sisi positif dari setiap situasi.

Seorang pakar mengemukakan kita “Rule 3x24”, untuk melatih kita berpikir dan bersikap optimis. Sebelum kita mengomentari situasi yang kita rasa buruk, maka kita perlu menunggu 24 detik sebelum memberi respon. Mengapa? Karena, bila tidak menunggu 24 detik, kita tidak sempat mencerna apa yang kita tangkap. Ini sebetulnya bukan hal istimewa, namun dasar dari ketrampilan mendengar.

Selanjutnya, kita perlu menggunakan 24 menit untuk memikirkan situasi atau ide tersebut, mengelaborasi dan meng-exercise-nya. Setelah kita olah, bila kita ingin menyampaikan kritik ataupun ketidaksetujuan, alangkah baiknya kita "inapkan" dulu sanggahan kita semalaman, sehingga kita bisa mematangkan ketidaksetujuan kita dalam 24 jam.

Rumus 3 x 24 yang sederhana ini, sebetulnya adalah salah satu cara untuk mengatur pikiran, agar tetap jernih dan obyektif. Kita perlu berlatih dan mendisiplinkan diri untuk bersikap seperti ini, apalagi di zaman komunikasi instan, melalui media sosial, yang sangat-sangat real time ini. Ini mungkin menyebabkan kita seolah-olah lamban, tetapi bukan konvensional dan sinis, tetapi justru obyektif.

10 October 2014

Meredam Rasa Jenuh, Wanita Pilih Selingkuh

Selingkuh karena Jenuh
Menurut sebuah studi yang dihelat oleh biro pernikahan di Inggris, Coffe and Company, ditemukan bahwa jumlah wanita berselingkuh semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Lebih kurang 3.000 responden wanita dilibatkan dalam studi ini. Hasilnya, 20 persen responden wanita mengaku pernah berselingkuh dan sedang berselingkuh. 

Seperti dikutip AskMen, studi tersebut diatas menguraikan sejumlah alasan yang melandasi wanita berselingkuh:

Meredam bosanTak dimungkiri bahwa menjalani rumahtangga dengan seseorang selama kurun waktu tertentu dapat menyebabkan rasa bosan dan jenuh. Untuk meningkatkan adrenalin dan semangat, sejumlah wanita memilih berselingkuh. Rasa khawatir ketahuan seolah sedang bermain petak umpet, meningkatkan adrenalin sehingga membuat dada berdebar-debar. Situasi yang demikian, untuk beberapa wanita menghadirkan warna dan percikan baru dalam keseharian mereka.
Balas dendam
Menurut ahli hubungan, Seth Meyers, Psy.D, psikolog asal Los Angeles dan pengarang dr Seth's Love Prescription, saat jatuh cinta secara natural membuat pria setia pada satu wanita. Namun, tak sedikit pria yang memutuskan menikah berdasarkan alasan-alasan yang jauh dari rasa cinta. Alhasil, komitmen pernikahan tak menggentarkan mereka untuk terus bertualang mencari peraduan cinta yang baru.


Perlakuan suami yang demikianlah membuat wanita marah dan menyimpan rasa dendam. Seperti yang diungkapkan oleh Bonnie Weil, Ph.D., penulis Adultery: The Forgivable Sin bahwa berselingkuh merupakan cara untuk menyamakan kedudukan.

Ingin merasa cantik dan berartiSeiring berjalannya waktu, kehidupan rumah tangga pasangan suami istri tak ayal bergulir tawar dan berakhir menjadi sebuah rutinitas belaka. Dalam kondisi ini, tak jarang suami yang sering lupa memuji kecantikan sang istri, bahkan upaya memasak sehari penuh, tak meninggalkan kesan istimewa pada suami.

Kondisi seperti ini yang kemudian membuat istri merasa terabaikan oleh suaminya, sehingga ia pun menjadi rapuh secara emosional dan dengan mudah berlari mencari pria baru dengan berselingkuh.



[Source : AskMen]

19 August 2014

50% Pelaku Perceraian Menyesali Keputusan Mereka


Keputusan untuk bercerai selalu sulit diambil dan bagi banyak orang ada banyak alasan untuk mengakhiri sebuah pernikahan.

Tapi, berdasarkan sebuah penelitian, 50 persen pelaku perceraian menyesal telah mengakhiri pernikahan mereka. Studi ini menunjukkan, 54 persen pelaku perceraian merenungkan kembali apakah mereka telah membuat keputusan yang tepat dengan banyak di antara mereka yang masih merindukan atau mencintai mantan pasangannya.

Bagi sebagian lainnya, penyesalan tersebut sangat besar sehingga 42 persen dari mereka berpikir untuk mencoba rujuk kembali yang sebagian besar di antaranya benar-benar mengupayakan hal tersebut dan 21 persen dari jumlah itu masih hidup bersama hingga sekarang.

Hampir separuh dari mereka mengaku lebih bahagia atau lebih kuat dalam hubungan mereka dibandingkan saat sebelum bercerai.

Juru bicara dari penelitian yang melibatkan 2.000 pria dan wanita di Inggris yang telah bercerai atau pisah ranjang setelah bersama setelah lebih dari lima tahun, mengungkapkan: »Bercerai adalah langkah besar dalam setiap hubungan, dan terkadang, kata-kata 'saya ingin bercerai’ bisa terlontar di tengah pertengkaran yang sengit.

»Tapi, begitu kita tenang dan benar-benar memikirkannya, banyak yang menyadari bahwa bercerai adalah hal terakhir yang mereka inginkan, tapi kemudian kita merasa terlalu terlambat untuk mencabut kembali ucapan itu.”

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa satu dari lima pelaku perceraian mengaku langsung menyesal sesaat seusai terjadi perceraian itu sementara 19 persen lainnya baru menyesal sepekan kemudian.
Tapi, bagi sebagian lainnya butuh waktu yang lebih lama, setahun atau lebih, untuk menyadari bahwa sebenarnya mereka tak ingin berpisah dengan pasangan mereka.

Menariknya, sebanyak 56 persen pelaku perceraian mengakui bahwa perceraian telah membuat mereka lebih menghargai pernikahan mereka sementara 46 persen mengatakan perceraian telah membuat mereka lebih menghargai pasangan mereka daripada sebelumnya.

10 Alasan Utama Menyesali Perceraian

1.         Merindukan mantan pasangan.
2.         Merasa seperti orang yang gagal.
3.         Masih mencintai mantan pasangan.
4.         Menyadari sikap mereka yang tak masuk akal.
5.         Merasa kesepian.
6.         Menyadari »rumput tetangga tak selalu lebih hijau.”
7.         Mantan pasangan menemui pasangan yang baru.
8.         Menyadari mereka tak lebih baik saat hidup sendiri.
9.         Merusak hubungan mereka dengan anak-anak mereka.
10.       Kehidupan anak-anak mereka terkena dampaknya.

10 July 2014

Studi: Pria Lebih Mudah Berkonflik Dibanding Perempuan

Konflik yang kerap terjadi di jalan, di kantor, atau bahkan di lapangan pertandingan olahraga, ternyata bisa dipicu oleh faktor kehadiran kaum laki-laki. Menurut penelitian, pria sudah memiliki insting untuk agresif terhadap siapa pun yang mereka anggap sebagai 'orang luar'.

Dalam kehidupan awal manusia di Bumi, konflik dan kekerasan antarlelaki bisa meningkatkan status dan lebih mudah mendapat pasangan. Namun, sejalan dengan perkembangan manusia dan teknologi, bentuk kekerasan dan konflik ini bisa berubah menjadi perang dalam skala besar.

Sebaliknya, kaum perempuan dianggap lebih 'lembut dan bersahabat'. Sifat ini dikembangkan kaum Hawa dengan tujuan bisa meredakan konflik dengan cara damai agar bisa melindungi anak-anaknya.

Kesimpulan ini ditarik dalam sebuah studi dalam Philosophical Transactions of the Royal Society B. Studi ini merupakan paparan bukti evolusi hipotesa 'pejuang laki-laki'.

Studi ini juga menjelaskan mengapa lelaki lebih bisa dalam menjalin ikatan kelompok dan akan memiliki hubungan kuat dengan anggota di dalamnya. Terutama jika saat itu mereka tengah bersaing dengan kelompok lain.

Evolusi hubungan lelaki dengan rekan sesama anggota kelompok dan dengan 'pihak luar' menjadi penyebab perang antara negara atau pun kerajaan di masa lalu. Sedangkan di masa modern, pertikaian ini bisa terlihat dalam perang antar kelompok suporter olahraga.

"Solusi konflik yang sudah menjadi masalah umum dalam masyarakat sekarang ini tetap sulit dipahami. Salah satu alasannya karena kita sulit mengubah pola pikir yang sudah berevolusi selama ribuan tahun," kata Prof Mark van Vugt sebagai pemimpin studi ini.

3 December 2013

Hindari 10 Kata Ini Saat Bertengkar

Hindari kata-kata kasar saat bertengkar
Pertengkaran seringkali tak bisa terhindarkan dalam hubungan. Karena tingkat emosional yang tinggi, beragam kata-kata kasar bisa terlontar begitu saja dari mulut Anda. Sekalipun sedang marah, Anda tidak boleh kehilangan kontrol diri. Jagalah ucapan Anda karena kata-kata kasar ini pasti akan menyakitkan hati orang yang Anda sayangi. Karena ketika sudah terucap, kalimat ini tak bisa Anda tarik lagi.

Patti Stanger, ahli percintaan, pemilik biro jodoh premium “Millionaire’s Club”, dan bintang reality show “Millionaire Matchmaker” mengungkapkan, ada 10 kalimat yang harus dihindari saat Anda sedang marah atau adu mulut dengan pasangan. Meredam kalimat-kalimat ini akan membantu menyelamatkan hubungan Anda.

1. Sumpah serapah

Hindari mengucapkan kata-kata makian, atau kutukan saat bertengkar dengan si dia. Cobalah untuk membalik kondisi, Anda pasti tak mau ada orang yang memaki atau mengutuk Anda kan? Selain itu, Anda pasti akan marah jika ada orang lain memaki-maki orang yang Anda cintai ini kan? Nah, karena itu jangan lakukan hal yang sama padanya untuk alasan apapun.

2. Julukan yang kasar

Sama seperti sumpah serapah, hindari memberinya nama julukan yang kasar. Misalnya, "si bego" dan “si matre” dan lain-lain. Ingatlah, Anda beradu mulut dengan orang ini karena Anda mencintainya dan akan selalu mencintainya. Tidak sepantasnya jika hanya karena satu-dua kesalahan yang dilakukannya Anda lantas memberinya label yang bernada merendahkan.

3. "Kamu selalu..." atau "Kamu tidak pernah..."

Sudah pulang kerja larut malam, rumah berantakan, si kecil belum makan, lalu si dia malah meminta Anda membuatkan teh manis dan mi rebus. Kesal pastinya. Tapi daripada marah, mengapa tak membicarakan masalah ini baik-baik dengannya? "Jangan langsung naik darah karena ia sering malas dan tidak pernah membantu Anda sama sekali di rumah. Kalau memang ia selalu bersikap buruk dan tidak pernah membantu, Anda seharusnya tidak berhubungan dengannya, dan saya yakin bukan itu inti permasalahannya," ungkap Patti.

4. Sedikit-sedikit minta putus
"Saya tahu bahwa pertengkaran hebat dapat mengakibatkan putus cinta atau perceraian, dan itu wajar saja. Tapi Anda tidak boleh mengambil keputusan itu ketika bertengkar," tambahnya. Perpisahan, baik perceraian atau putus cinta, adalah langkah besar dalam suatu hubungan yang akan mengubah drastis hidup Anda dan pasangan. Anda harus tenang dan rasional ketika mengambil keputusan ini. Karena sekali Anda mengatakannya, Anda tak bisa mengembalikan kata-kata tersebut.

5. Anda benci teman-temannya
Pertengkaran yang terjadi antara Anda dan pasangan adalah masalah pribadi Anda berdua. Ketika sumber masalah terletak pada kehidupan pribadi Anda, jangan mengambinghitamkan teman-temannya. Ini jelas bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan bagaimana Anda tidak menyukai teman-temannya. Perkataan Anda tentang mereka akan membuat kehidupan sosial Anda jauh lebih rumit.

6. Anda benci keluarganya
Jangan sekalipun Anda mengungkapkan rasa tidak suka Anda pada keluarganya saat sedang bertengkar. Mungkin saja orangtuanya atau mertua Anda menjengkelkan, tapi saat sedang marah bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan kekesalan Anda. Persoalan keluarga adalah hal rumit dan sensitif, salah bicara satu kata saja tentang orang-orang yang dicintainya, bisa-bisa malah membuat ia tak lagi cinta pada Anda.

7.  Membenarkan ucapan mantannya
Tak salah kok jika Anda mengenal baik mantan pacarnya dan bertanya tentang sifat-sifatnya. Yang salah adalah ketika Anda membenarkan ucapan mantan kekasihnya tentang sifat buruknya. Sebaiknya, jangan memihak mantannya untuk hal-hal yang sensitif. Semua hal yang diucapkan dalam sebuah pertengkaran adalah hal sensitif. Ia dan mantannya putus karena sebuah alasan, dan Anda tentu tidak ingin segera berstatus "mantan" karena hal bodoh yang Anda katakan.

8. Mencibir passion dan mimpinya
Ingatlah untuk fokus pada topik pertengkaran, dan tidak saling menyerang. Jika Anda bertengkar karena masalah keuangan, jangan mengungkit-ungkit karya fotografi atau lukisannya yang tidak bernilai seni, band-nya yang tidak punya depan, mimpinya untuk berbisnis Anda anggap sebagai hal bodoh, atau passion-nya yang lain. Fokuslah pada permasalahan yang sebenarnya, dan carilah solusinya untuk mengatasi hal ini.

9. Berharap tidak pernah bertemu dengannya
Pertengkaran bisa menjadi semakin panas dan emosional, tapi tak perlu bereaksi berlebihan. Misalnya mengungkapkan bahwa Anda menyesal pernah mengenalnya, dan berharap tidak pernah bertemu dengannya. Kata-kata ini sangat menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya. Ingatlah bahwa selama ini Anda memiliki waktu-waktu bahagia bersama. Dan jika Anda tak pernah bertemu dengannya, mungkinkah Anda bisa mengalami saat-saat bahagia tersebut? Mengatakan kepadanya bahwa hubungan Anda sia-sia malah membuatnya merasa jauh lebih sedih, kesal, dan memperburuk kondisi hubungan Anda.

10.  Anda berharap dia mati
Patti mengungkapkan bahwa kata-kata ini adalah kata yang paling buruk dan berlebihan dalam sebuah hubungan. "Tidak peduli betapa marahnya Anda padanya, saya tahu, Anda tidak berharap dia mati. Setelah Anda mengatakan sesuatu sekeji itu, wajar saja jika ia merespon dengan perkataan keji lainnya," jelasnya. Anda pasti tidak ingin ia mengatakan hal yang sama kejinya, apalagi jika hal itu terucap dari orang yang Anda pikir selama ini mencintai Anda. Ujung-ujungnya, kata-kata keji ini hanya akan membuat Anda berdua merasa tersakiti satu sama lain.


[Source : Sony Entertaiment Television]

13 September 2013

Menebak Perasaan Seseorang dari Tulisan Tangannya

Mungkin Anda sering menebak-nebak perasaan pasangan karena takut mau bertanya. Melalui tulisan tangan, Anda bisa menebak apa yang sedang dirasakan seseorang saat itu. Bagaimana caranya? Seperti yang dikutip dari buku 'Kaya dengan GraphoSelling' karya Yosandy LS, hal ini bisa diketahui dengan memintanya menulis. Untuk itu, sediakan kertas polos dan pulpen standar. Ingat, harus pulpen standar, hindari memakai boxy atau faster. Kemudian minta orang tersebut menulis hingga setengah halaman. Jika sudah, bacalah perasaannya dengan tahap-tahap berikut ini.

1. Ketebalan Tulisan Tidak Teratur
Coba perhatikan ketebalan tulisannya teratur atau tidak, apakah dia menulis ditekan atau sedikit mengambang? Atau bahkan tidak teratur, ada tulisan yang tebal tapi sebagian menipis. Jika ketebalan tulisan tidak teratur berarti penulisnya sedang mencemaskan sesuatu. Semakin gelisah perasaan penulisnya, tebal-tipisnya tulisan semakin terlihat. Umumnya, penulis sedang merasa gelisah, tegang, stres, atau kemungkinan terpengaruh obat-obatan atau minuman beralkohol.

2. Tulisan Sangat Tipis
Jika penulis menggoreskan pulpen tanpa ditekan sehingga tidak merasakan efek pulpen di bagian belakang kertas saat diraba berarti ia sedang dalam keadaan sakit atau lemah. Ia sedang merasa lesu, lelah, atau tidak bersemangat. Jika memang terbiasa seperti itu menandakan bahwa sang penulis memiliki mempunyai sifat penakut, tidak bisa sendirian, serta penurut.

3. Tulisan Tidak Terlalu Tipis
Bila seseorang menulis dengan pulpen tanpa ditekan, tidak merasakan efek pulpen di bagian belakang kertas saat diraba, tapi tulisannya masih terlihat tebal tandanya sang penulis kurang bergairah menggapai tujuan, entah masalah pekerjaan atau lainnya. Umumnya, seseorang dengan yang cara menulis seperti ini memiliki pemikiran cerdas dan kreatif. Sayangnya, ia tidak bisa beradaptasi saat harus ada di tengah-tengah penulis yang memiliki tulisan tebal.

4. Tulisan Tebal
Jika seseorang menulis dengan menekan pulpennya tapi tidak terlalu 'jeplak' di bagian belakang kertas itu tandanya ia sedang bersemangat. Ia memiliki semangat kuat untuk mengerjakan suatu hal. Jika tulisannya selalu tebal seperti ini berarti ia memiliki sifat tegas, gigih, ambisius, egois, mau berjuang, dan tingkat libidonya tinggi.

5. Tulisan Sangat Tebal
Berbeda bila tulisannya sangat tebal dan tercetak jelas di balik kertasnya. Jika ia menulis dengan pulpen terlalu ditekan berarti ia sedang dalam keadaan stres dan cemas. Anda perlu bertanya dengan hati-hati atau menjaga jarak jika orang tersebut menulisnya sangat ditekan bahkan hingga merobek kertasnya. Tekanan seperti ini menunjukkan bahwa ada masalah serta ketidakjujuran dari penulisnya.

21 June 2013

Jangan katakan 7 hal ini pada teman yang jomblo!

Tutup Telinga sambil tutp mata
Lain kali, jika Anda ingin mengomentari atau memberi nasihat pada teman Anda yang masih jomblo, jangan terburu-buru. Perhatikan ucapan Anda sehingga teman yang masih jomblo tidak tersinggung. Jangan sampai Anda mengatakan atau menanyakan beberapa hal di bawah ini:

1. "Kenapa kamu belum nikah?"
Pertanyaan ini bisa jadi membuat para jomblo kesal. Jawaban mereka kemungkinan adalah "Itu bukan urusanmu." Pertanyaan semacam ini terlihat kasar karena berasumsi bahwa teman Anda tak bahagia dengan status jomblonya, dan mereka akan lebih bahagia jika menikah. Padahal sebenarnya bisa jadi mereka sangat menikmati kesendirian mereka. Jadi sebaiknya hindari pertanyaan seputar menikah dan sejenisnya.

2. "Apa kamu pernah mencoba kencan online?"
Pertanyaan ini membuat teman Anda terlihat putus asa. Banyak orang yang menyarankan hal ini pada teman mereka seolah-olah ini adalah hal baru. Ini membuat para jomblo terlihat tak punya kesempatan mendapatkan pasangan di dunia nyata hingga dia harus mencarinya di dunia maya. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan keberhasilan untuk menemukan pasangan di dunia maya dan nyata tak jauh berbeda.

3. "Jangan terlalu pilih-pilih."
Komentar semacam ini terasa seperti tamparan bagi para jomblo. Hal ini menunjukkan bahwa Anda sebagai teman tak mempercayai pilihannya. Dia memiliki hak untuk memilih orang seperti apa yang akan dijadikan pasangan atau membuatnya tertarik. Akan lebih baik jika Anda bertanya pasangan seperti apa yang diinginkannya daripada mengajari kriteria seperti apa yang harusnya dia inginkan.

4. "Kau akan menemukan pria impian kalau kau tidak mencarinya."
Ini komentar yang tidak menyenangkan. Di satu sisi ini menunjukkan bahwa teman Anda sedang mati-matian mencari pasangan padahal bisa saja dia sedang bersantai dan tidak memikirkan tentang mencari pasangan. Di sisi lain, jika teman Anda benar-benar sedang mencari pasangan, maka komentar semacam ini akan mematahkan semangatnya. Seolah-olah Anda mengatakan bahwa dia harus duduk manis, menunggu jodohnya datang dengan sendirinya.

5. "Apa yang terjadi pada hubungan dengan mantanmu?"
Pertanyaan ini mungkin yang paling menyakitkan bagi teman Anda. Apapun penyebabnya, perpisahan dengan pasangan atau putus adalah hal yang bisa menyebabkannya sedih, bahkan jika dia yang menyebabkan putusnya hubungan mereka. Untuk itu, lebih baik tak menggali-gali ke masa lalu dengan menanyakan mantannya atau hubungan-hubungan di masa lalunya.

6. "Kau harus memakai baju ini, lebih banyak keluar, menata rambut seperti ini/itu, memakai lebih banyak make up, dsb."
Sekali lagi, mungkin ini dikatakan untuk memberi saran bagi para jomblo yang menjadi teman Anda. Namun saran seperti ini bisa menyinggung mereka. Seolah-olah mereka jomblo karena mereka melakukan sesuatu dengan salah atau kurang dalam banyak hal. Banyak orang jomblo yang tak merasa melakukan hal yang salah, dan kebanyakan dari mereka benar. Jadi, jangan sok tahu dengan memberikan berbagai macam saran hanya karena Anda sudah berpasangan.

7. "Mungkin kau memang lebih baik menjomblo."
Anda tidak bisa meramal masa depan teman Anda, dan Anda juga tak tahu apa yang diinginkan teman Anda. Bukan berarti karena mereka mandiri kemudian mereka tak mau berpasangan. Mereka mungkin tak membutuhkan banyak bantuan karena terlalu mandiri, namun mereka bisa jadi berkeinginan untuk berpasangan. Jangan mengatakan hal ini kecuali teman Anda sendiri yang berpikir bahwa mereka lebih suka tetap menjomblo atau tak ingin berpasangan.

Itulah beberapa kata yang tak seharusnya diucapkan pada teman Anda yang sedang menjomblo. Orang yang jomblo belum tentu membutuhkan saran Anda, jadi jangan sok tahu untuk memberikan nasihat, kecuali mereka memang memintanya dari Anda.

[Source : shine.com]

30 April 2013

Mitos Unik Seputar Kepala Botak

Ilustrasi
Mengungkap Mitos Unik Seputar Kepala Botak Menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat, hampir dua dari setiap tiga orang mengalami kebotakan ketika memasuki usia 60. Mereka yang mengalami rambut rontok di area tertentu itu mayoritas laki-laki.

Di luar negeri, para penderita kebotakan bisa menghabiskan jutaan rupiah per tahun demi mengembalikan kepercayaan diri. Mereka menempuh berbagai perawatan mulai tradisional hingga pada teknologi modern.

Kondisi itu menunjukkan bahwa masalah kebotakan menciptakan krisis percaya diri, terutama bagi mereka yang peduli penampilan. Kondisi semakin buruk saat dihadapkan pada sejumlah mitos, seperti dikutip dari Health US News:

1. Rambut rontok warisan genetis dari ibu

Mitos itu tidak sepenuhnya benar. Gen kebotakan yang utama adalah pada kromosom X yang didapatkan pria dari ibu mereka. Namun, faktor lain juga ikut berperan. Penelitian menunjukkan bahwa pria yang memiliki ayak botak lebih mungkin berisiko mengalami kebotakan.

2. Botak pertanda tua

Meski umumnya menyerang di usia tua, namun masalah rambut rontok ini bisa menyerang siapa saja. Bahkan, mereka yang masih berada di rentang usia 20-30 tahun. Bagi anak muda, ini menjadi masalah yang benar-benar memperburuk kepercayaan diri. Kebotakan di usia muda menjadi masalah psikologis, bukan penanda fisik yang menua.

3. Penutup kepala mempercepat kebotakan

Tutup kepala tidak membuat rambut rontok. Namun, jaga kebersihan topi Anda dan pastikan ruang udara agar rambut masih bisa bernapas. Topi yang kotor dan jenis penutup kepala yang pengap dapat menyebabkan infeksi kulit kepala yang pada gilirannya dapat mempercepat rambut rontok.

4. Depresi dan stres picu kerontokan

Pernyataan tersebut belum sepenuhnya benar. Menurut Dermatologis, Gary Hitzig, stres fisik dan emosional tidak pernah meyebabkan kehilangan rambut. Jika rambut memang rontok, ia akan tumbuh kembali.

5. Cegah kerontokan berhenti memakai gel

Tidak perlu panik, jika Anda sering menggunakan gel rambut atau hairspray. Produk tersebut tidak dapat membuat kepala Anda botak. Begitu pula dengan penggunaan sampo, keramas terlalu sering, dan ketombe. Itu semua tidak berpengaruh terhadap kerontokan rambut.

6. Paparan matahari mempercepat kepala botak

Mitos itu tidak benar. Berjemur matahari juga tidak perpengaruh terhadap kerontokan rambut.

7. Suplai karbohidrat membuat rambut rontok

Seorang dematolog asal Klinik Cleveland, Wilwa Bergfeld, mengatakan karbohidrat dan daging merah memberikan nutrisi yang bermanfaat untuk kulit kepala. Penelitian Bergfeld yang terakhir menunjukkan bahwa kekurangan zat besi terkait erat dengan rambut rontok. Pengobatan dengan mengkonsumsi suplemen zat besi dapat mengembalikan pertumbuhan.

[Source : http://anehcuy.blogspot.com]

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month