Share Info

Showing posts with label Sekitar Puasa dan sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sekitar Puasa dan sejarah. Show all posts

23 June 2015

Ternyata Benua Amerika Adalah Negeri Muslim yang Dimurtadkan

Benua Amerika adalah negeri muslim yang dimurtadkan, manakah fakta yang menyebutkan hal tersebut? Islam ternyata ada dalam sejarah benua Amerika dan hubungannya pun termasuk erat. Kalau berkunjung ke Perpustakaan Kongres yang berlokasi di Washington DC, coba cek arsip perjanjian antara suku Cherokee (suku Indian di tahun 1787) dengan pemerintah Amerika. Muhammad Ibnu Abdullah dan Abdel Khak adalah kepala suku tersebut yang bertanda tangan di perjanjian itu. Perjanjian tersebut adalah tentang hak kelangsungan pemerintahan, perkapalan, dan perdagangan oleh suku Cherokee berdasar pada hukum Islam, bahkan termasuk soal cara berpakaian yang auratnya perlu ditutup.
Ternyata Benua Amerika Adalah Negeri Muslim yang Dimurtadkan

Benua Amerika Adalah Negeri Muslim yang Dimurtadkan, Apa Buktinya?

1. Adanya sepotong batu yang ditemukan di daerah Corinto di El Salvador, tepatnya di dalam sebuah gua telah diidentifikasi dan dari situlah kedatangan umat Islam di Amerika Selatan dapat teridentifikasi oleh batu yang diketahui sebagai bantalan prasasti Malaka Haji Malaya pada abad ke-13. Umat muslim tersebut diduga berasal dari salah satu daerah di Indonesia.
2. Ditemukan beberapa koin oleh Pendeta Thaddeus Mason Harris yang ditulis oleh seorang penulis jurnal Amerika yang pada tahun 1787 ketika berkunjung ke beberapa area Massachusetts. Koin itu kemudian oleh Harris diserahkan ke perpustakaan Harvard College untuk diperiksa dan diketahui bahwa koin tersebut berasal dari abad ke-8 dan 9 dan dikenal sebagai Samarqand Dirham. Ada prasasti La ilaha illa-Allah Muhammadun Rasulullah dan Bismillah yang kelihatan ada pada koin tersebut.
3. Prasasti batu lagi-lagi ditemukan dengan bentuk bantalan huruf Cufic H-M-I-D yang diduga berasal dari pasca-650 CE dan ini merupakan salah satu bukti benua Amerika adalah benua yang dimurtadkan. Di bebatuan Nevada, tepatnya di Valley of Fire juga diketahui ada tulisan Arab lainnya.
4. Tulisan Cufic itu ada dan penemuannya ada di White Mountains di tahun 1951 yang lokasinya tidak jauh dari kota Benton di perbatasan Nevada. Tulisan dengan gaya Cufic yang dikenali sebagai tulisan di abad ke-7 ini terdapat kalimat tentang Iblis yang merupakan sumber dari segala kebohongan atau Setan maha mayan.
5. Ada banyak orang yang mencoba meneliti sejarah awal masuknya Islam ke Amerika, mungkin termasuk Profesor Barry Fell seorang dosen yang sudah pensiun dari Harvard University. Ia menekankan bahwa di tahun 650-an, Amerika kedatangan kaum muslim dan tentu ada dasar mengapa sang profesor berani menyatakan demikian, ini karena kaligrafi Cufic. Kalau memang benar, itu artinya pada era Khalifah Utsman, umat Islam telah menapakkan kaki di Amerika.
6. Tulisan “In the Name of Allah” juga ditemukan oleh Profesor Fell dan dianggap sebagai bukti selanjutnya akan Amerika negeri muslim yang dimurtadkan. Jika mengecek dan melihat secara hati-hati akan temuan prasasti tersebut, akan didapati kesimpulan bahwa memang benda tersebut tidaklah bergaya modern Arab dan malah mengandung gaya Cufic yang sangat ada hubungannya dengan gaya tulisan di abad ke-7.
7. Diketahui pula bahwa sebuah daerah di mana orang-orang Arablah penghuninya, diserang oleh Navajos dan Apache asli yang merupakan Athapcan Tribe. Sejumlah sekolah yang dibangun oleh orang-orang Arab dapat memesonakan para pribumi yang buta huruf, dan dari situlah tercipta subyek yang mirip serta binatang mitos hasil dari ubahan bentuk geometris yang kemungkinan dikerjakan dengan bantuan tawanan selama berabad-abad.
Masih ada banyak lagi bukti-bukti mengenai Amerika yang dulunya sebenarnya merupakan negeri Islam melalui penjelasan catatan sejarah. Benua Amerika adalah negeri muslim yang dimurtadkan atau mungkin lebih tepatnya diselamatkan.

26 July 2014

Mengunyah Sejarah Ketupat

Ketupat hadir bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Ia punya makna yang dalam dari sekadar sebuah makanan.
Lebaran belum lengkap tanpa makan ketupat. Saat lebaran tiba, ketupat seolah menjadi menu wajib yang mesti tersedia di meja makan. Namun bagaimana asal-asul sejarah ketupat? Mengulas sejarah ketupat tidaklah semudah mengunyah ketupat itu sendiri.

Ketupat sudah lama dikenal di sejumlah daerah di Indonesia. Ini terlihat dari sejumlah makanan khas yang menggunakan ketupat sebagai pelengkap hidangan. Ada kupat tahu (Sunda), kupat glabet (kota Tegal), coto Makassar, ketupat sayur (Padang), laksa (kota Cibinong), doclang (kota Cirebon), juga gado-gado dan sate ayam. Tapi tetap saja, tanpa ketupat di hari lebaran, terasa kurang afdol.
Menurut H.J. de Graaf dalam Malay Annal, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. De Graaf menduga kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janur dimaknai oleh de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa, yang membangun kekuatan politik dan penyiaran agama Islam dengan dukungan Walisongo (sembilan wali). Ketika menyebarkan Islam ke pedalaman, Walisongo melakukan pendekatan budaya agraris, tempat unsur keramat dan berkah sangatlah penting untuk melanggengkan kehidupan. Di sinilah pentingnya akulturasi. Raden Mas Sahid, anggota Walisongo yang sohor dengan panggilan Sunan Kalijaga, lalu memperkenalkan dan memasukkan ketupat, simbol yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat, dalam perayaan lebaran ketupat, perayaan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal atau sepekan setelah hari raya Idul Fitri dan enam hari berpuasa Syawal.

Lebaran ketupat diangkat dari tradisi pemujaan Dewi Sri, dewi pertanian dan kesuburan, pelindung kelahiran dan kehidupan, kekayaan dan kemakmuran. Ia dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris. Ia dimuliakan sejak masa kerajaan kuno seperti Majapahit dan Pajajaran. Dalam pengubahsuaian itu terjadi desakralisasi dan demitologisasi. Dewi Sri tak lagi dipuja sebagai dewa padi atau kesuburan tapi hanya dijadikan lambang yang direpresentasikan dalam bentuk ketupat yang bermakna ucapan syukur kepada Tuhan.

Dewi Sri tetap dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Beberapa keraton di Indonesia, seperti Cirebon, Ubud, Surakarta, dan Yogyakarta tetap melestarikan tradisi ini. Sebagai contoh upacara slametan atau syukuran panen di Jawa disebut Sekaten atau Grebeg Mulud yang juga berbarengan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad. Dalam upacara ritual semacam itu, ketupat menjadi bagian dari sesaji –hal sama juga terjadi dalam upacara adat di Bali. Di masyarakat Jawa, ketupat sering digantung di atas pintu masuk rumah sebagai semacam jimat atau penolak bala.

Tak heran jika kita melihat sejumlah tradisi di sejumlah daerah, yang berkaitan dengan agama Islam, Hindu, maupun kepercayaan lokal. Di sejumlah daerah ada tradisi unik yang dinamakan perang ketupat. Di Pulau Bangka perang ketupat dilakukan setiap memasuki Tahun Baru Islam (1 Muharam). Di Desa Kapal, Badung, Bali, perang ketupat dimaksudkan untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan. Di Lombok, perang ketupat dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen dan menandai saat mulai menggarap sawah. Tradisi itu masih bertahan hingga kini.

Tradisi lebaran ketupat, yang notabene berasal dari wilayah pesisir utara Jawa, tempat awal penyebaran Islam, tak kuat pengaruhnya di pedalaman. Hanya sejumlah wilayah pesisir utara yang hingga kini menganggap lebaran ketupat, biasa disebut “hari raya kecil”, sebagai lebaran sebenarnya seperti Kudus, Pati, dan Rembang. Secara esensial, tak ada yang membedakan antara lebaran ketupat dengan lebaran pada hari raya Idul Fitri. Keduanya punya makna yang sama.

Menurut Slamet Mulyono dalam Kamus Pepak Basa Jawa, kata ketupat berasal dari kupat. Parafrase kupat adalah ngaku lepat: mengaku bersalah. Janur atau daun kelapa yang membungkus ketupat merupakan kependekan dari kata “jatining nur” yang bisa diartikan hati nurani. Secara filosofis beras yang dimasukan dalam anyaman ketupat menggambarkan nafsu duniawi. Dengan demikian bentuk ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, bentuk ketupat (persegi) diartikan dengan kiblat papat limo pancer. Papat dimaknai sebagai simbol empat penjuru mata angin utama: timur, barat, selatan, dan utara. Artinya, ke arah manapun manusia akan pergi ia tak boleh melupakan pacer (arah) kiblat atau arah kiblat (salat).

Rumitnya anyaman janur untuk membuat ketupat merupakan simbol dari kompleksitas masyarakat Jawa saat itu. Anyaman yang melekat satu sama lain merupakan anjuran bagi seseorang untuk melekatkan tali silaturahmi tanpa melihat perbedaan kelas sosial. Tapi ceritanya jadi lain ketika terjadi krisis di saat lebaran; jurang sosial pun jadi jelas. Misalnya seperti dikisahkan Rosihan Anwar.
Dalam Sukarno, Tentara, PKI, Rosihan menulis catatan harian bagaimana lebaran pada 1961. Ketika berangkat salat di Kebayoran Baru, di jalan dia melihat banyak becak yang didandani dengan selongsong ketupat. Roshan berpikir para abang becak sedang merayakan lebaran. Tapi seorang sopir jip bercerita bahwa para abang becak mendapatkan selongsong itu dari pasar-pasar yang membuangnya karena tak laku. Beras, yang menjadi isi ketupat, tak terbeli oleh rakyat karena harganya melambung.

Beruntunglah Anda kalau bisa menikmati lezatnya ketupat. Kini, ketupat juga tak harus membuatnya dari janur. Anda bisa makan ketupat tanpa repot-repot menganyam daun janur. Selongsong ketupat bisa diganti dengan bungkus plastik atau tabung kaleng khusus siap beli. Selain harganya lebih murah, plastik lebih mudah didapatkan dan praktis. Tapi sebagian orang tetap menggunakan janur karena citarasanya yang khas dan lebih alami.

30 July 2012

Mezquita de Cordoba, Jejak Islam di Spanyol

Mezquita de Cordoba, atau Masjid Cordoba menjadi salah satu sisa kejayaan Islam pada masa silam di tanah Spanyol. Meskipun bangunannya kini digunakan sebagai katedral, namun arsitektur khas masjid yang megah masih tetap kokoh berdiri.

Mezquita de Cordoba di Spanyol
Masjid ini didirikan pada tahun 784 di bawah pengawasan Emir Abdur ar Rahman I, dan baru selesai dua abad kemudian. Seiring dengan penaklukan Cordoba oleh pasukan Kristen sejak abad ke-13, berdirilah katedral, kapel, dan kamar paduan suara bergaya Baroque di dalamnya.

Yang menjadi daya tarik Mezquita de Cordoba adalah gerbang-gerbang raksasa serta deretan 856 pilar batu jasper, onyx, marmer, serta granit. Pilar-pilar ini konon berasal dari reruntuhan bangunan Romawi yang menjadi asal muasal masjid, yang masuk dalam daftar warisan dunia versi UNESCO pada 1984.

Mezquita de Cordoba

Yang tidak boleh dilewatkan dari masjid ini adalah mihrab berkubah dengan mosaik Bizantium yang didirikan oleh Al Hakam II. Dulunya mihrab ini menyimpan salinan Al-Qur'an asli sehingga menjadikannya salah satu situs keagamaan Muslim terbesar.

Mezquita de Cordoba

Saat musim semi, cobalah berkunjung ke halaman luar masjid, yang kini menjadi Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga. Semerbak wangi orange blossom berpadu gemericik air mancur menjadi alasan mengapa halaman ini dinamakan Patio de los Naranjos atau Halaman Pohon Jeruk.

Mezquita de Cordoba

5 August 2011

Bayi yang Lahir di dalam Ka'bah

Fathima binti Asad, istri Abu Thalib, dalam keadaan hamil tua datang ke Ka’bah untuk berdoa. Dia memohon agar dapat melahirkan bayinya dengan selamat.

Ketika dia sedang asyik berdoa dekat pintu Ka’bah, tiba-tiba dia terkejut melihat dinding Ka’bah retak dan terbuka lebar. Dinding itu terus terbuka dan semakin melebar sehingga Fathimah binti Asad pun tergerak memasuki Ka’bah melalui celah tersebut. Setelah dia berada di dalam Ka’bah, celah itu pun secara ajaib tertutup kembali sehingga kembali normal seperti semula dan Fathimah tertinggal di dalam Ka’bah.

Sebagian orang yang melihat kejadian tersebut segera menceritakan kepada orang lain apa yang dilihatnya. Orang-orang berdatangan setelah mendengar cerita mereka yang menyaksikan kejadian ajaib tersebut dan ingin melihat keajaiban tersebut. Mereka membawa kunci pintu Ka’bah dan berusaha membukanya. Anehnya lagi, pintu Ka’bah tidak jua dapat dibuka.

Nabi Muhammad Saw yang baru pulang dari sebuah perjalanan, melewati tempat kejadian, di mana banyak orang berkerumun di sekitar Ka’bah. Nabi Saw turun dari untanya dan menghampiri kerumunan orang. Beliau melihat beberapa orang berusaha membuka pintu Ka’bah tapi mengalami kegagalan. Nabi Saw meminta kunci tersebut dan mencoba membukanya. Dengan izin Allah, pintu pun dapat terbuka. Fathimah yang berada di dalam segera keluar dan membawa bayinya yang mungil yang baru saja dilahirkan.

Fathimah binti Asad menyodorkan bayinya ke Nabi, dan Nabi menggendong bayi kecil tersebut. Ketika berada di dalam gendongannya, sang bayi membuka matanya. Matanya yang jernih dan berkilat-kilat itu menatap wajah sang Nabi. Wajah Nabi Saw-lah yang pertama kali dilihatnya ketika pertama-tama dia membuka matanya. Dan bayi inilah yang kelak senantiasa membela Nabi Saw. Ibu sang bayi, Fathimah binti Asad, menamai bayinya Haydar (Singa), sementara Nabi Saw menamai bayi tersebut dengan nama ‘Ali (salah satu dari Asma al-Husna: Yang Maha Tinggi) 1]. Imam Ali bin Abi Thalib adalah satu-satunya orang yang pernah lahir di dalam Ka’bah. Di dalam syair-syairnya, Imam Ali sering menyebut dirinya dengan sebutan putra Ka’bah!

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

[Source : qitori.wordpress.com]

16 August 2010

Ramadhan dan Kemerdekaan Hakiki


Ada keistimewaan Ramadhan 1431 H di Indonesia. Yakni bertepatannya Ramadhan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-65, mengingatkan kita dengan kemerdekaan Republik Indonesia yang juga bertepatan dengan bulan Ramadhan. Karenanya Khutbah Jum'at Terbaru ini berusaha membahas Korelasi Ramadhan dengan Kemerdekaan Hakiki.

Harapannya, semoga kaum muslimin menyadari bahwa kemerdekaan dari penjajahan Belanda bukanlah kemerdekaan yang final, dan Ramadhan merupakan momentum bagi perbaikan diri dan bangsa untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnya. Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 3 Ramadhan 1431 H yang bertepatan dengan 13 Agustus 2010 M ini adalah: Ramadhan dan Kemerdekaan Hakiki.

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ
الحَمْدَ
لله،
نَحْمَدُه،
ونستعينُه،
ونستغفرُهُ،
ونعوذُ
به
مِن
شُرُورِ
أنفُسِنَا،
وَمِنْ
سيئاتِ
أعْمَالِنا،
مَنْ
يَهْدِه
الله
فَلا
مُضِلَّ
لَهُ،
ومن
يُضْلِلْ،
فَلا
هَادِي
لَهُ.
وأَشْهَدُ
أنْ
لا
إلَهَ
إلا
اللهُ
وَحْدَهُ
لا
شَرِيكَ
لَهُ،
وأشهدُ
أنَّ
مُحَمَّدًا
عبْدُه
ورَسُولُه.
اللَّهُمَّ
صَلِّى
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى
آلِ
إِبْرَاهِيمَ
إِنَّكَ
حَمِيدٌ
مَجِيدٌ
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى
آلِ
إِبْرَاهِيمَ
إِنَّكَ
حَمِيدٌ
مَجِيدٌ
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آَمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلَا
تَمُوتُنَّ
إِلَّا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ
نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالًا
كَثِيرًا
وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَالْأَرْحَامَ
إِنَّ
اللَّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آَمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلًا
سَدِيدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ
فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا

Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Merupakan nikmat yang sangat besar dan tiada tara, bahwa hari ini kita dipertemukan Allah Azza wa jalla dengan Ramadhan dalam keadaan Islam dan Iman. Dengan pertemuan ini kita mendapatkan kesempatan besar untuk mendapat ampunan dari Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ
صَامَ
رَمَضَانَ
إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ
لَهُ
مَا
تَقَدَّمَ
مِنْ
ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq 'Alaih)

Juga dalam sabdanya yang lain, saat redaksi shama (puasa) diganti dengan qaama (qiyamullail):

مَنْ
قَامَ
رَمَضَانَ
إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ
لَهُ
مَا
تَقَدَّمَ
مِنْ
ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang qiyam (lail) Ramadhan karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq 'Alaih)

Maka ini adalah kesempatan besar, sekaligus nikmat yang agung. Akan tetapi, peluang besar ini juga menjadi sebuah kecelakaan bagi orang-orang yang menyia-nyiakannya sehingga ia keluar dari Ramadhan tanpa ampunan dari Rabb-nya. Maka malaikat Jibril pun mendoakan dengan diamini Rasulullah:

بَعُدَ
مَنْ
أَدْرَكَ
رَمَضَانَ،
فَلَمْ
يُغْفَرْ
لَهُ

Celakalah seorang yang memasuki bulan Ramadhan namun dia tidak diampuni (HR. Hakim dan Thabrani)

Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Ramadhan kita kali ini bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65. Kita pun perlu mensyukuri nikmat kemerdekaan itu. Bahwa kemerdekaan itu kita raih di bulan Ramadhan pada tanggal 17 Agustus 1945, para pendahulu kita pun telah menyatakan bahwa ia merupakan rahmat dari Allah SWT. Di samping itu, sungguh peristiwa ini menjadi penguat bagi salah satu nama bulan Ramadhan. Yakni syahrul jihad. Bahwa Ramadhan adalah bulan di saat kaum muslimin memiliki gairah besar untuk berjihad menegakkan agama Allah, bukan bulan yang memperlemah umat Islam dalam hari-hari yang penuh kelesuan.

Maka sejarah umat bicara. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan dan kaum muslimin menuai kemenangan yang gemilang. 313 pasukan Islam berhasil mengalahkan 1000 pasukan kafir Quraisy yang bersenjatakan lengkap. Kemenangan gemilang pertama yang diraih umat Islam ini kemudian menjadi penguat eksistensi kaum muslimin di Madinah dan pembuka bagi kemenangan-kemenangan Islam berikutnya. Adakah pakar militer saat itu yang bisa memprediksi bahwa Rasulullah dan para sahabatnya bisa memenangkan peperangan? Dan kemenangan jihad ini terjadi di bulan Ramadhan!

Enam tahun kemudian terjadi peristiwa yang jauh lebih besar dan mempesona. Inilah penaklukan paling indah dalam sejarah umat manusia. Penaklukan tanpa korban jiwa. Kemenangan besar tanpa tetesan darah! Sepuluh ribu pasukan Islam yang dipimpin oleh Rasulullah memasuki Makkah dengan tenang, menang tanpa perlawanan. Bukan hanya kemenangan secara fisik yang membuat pasukan Makkah tidak berani memberontak, tetapi juga kemenangan jiwa sehingga keimanan masuk ke jiwa-jiwa mayoritas penduduk Makkah menggantikan seluruh kekufuran dan permusuhan mereka. Maka, tak ada satupun yang membela saat 360-an berhala di sekeliling ka'bah dihancurkan. Tak ada yang meratapi atau melakukan demontrasi saat berhala-berhala itu dilenyapkan. Sebab, sesaat sebelum dilenyapkan dari masjidil haram, Allah telah melenyapkan dari hati mereka. Inilah jihad dan kemenangan besar yang juga terjadi di bulan Ramadhan.

650 tahun kemudian juga terjadi peperangan yang dikenal dengan nama Ain Jaluth. Pasukan Islam melawan pasukan Tartar. Dua tahun sebelumnya Tartar di bawah pimpinan Hulako Khan telah menyerang Baghdad. Maka, bulan-bulan berikutnya adalah masa penderitaan dan kekalahan kaum muslimin, jatuhnya Baghdad, serta terbunuhnya khalifah. Hingga akhirnya jihad dikumandangkan yang terkenal dengan sebutan Perang Ain Jaluth. Kaum muslimin berhasil menuai kemenangan atas Tartar. Dan ini juga terjadi pada bulan Ramadhan.

Masih banyak sejarah jihad yang dimenangkan kaum muslimin di bulan Ramadhan.
Pada Ramadhan tahun 15 Hijrah, terjadi perang Qadisiyyah dimana orang-orang Majusi di Persia ditumbangkan. Pada Ramadhan tahun 53 H, umat Islam memasuki pulau Rhodes di Eropa. Pada bulan Ramadhan tahun 91 H, umat Islam memasuki selatan Andalusia. Pada Ramadhan tahun 92 H., umat Islam keluar dari Afrika dan membuka Andalusia dengan komandan Thariq bin Ziyad.

Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Jika Ramadhan telah menjadi bulan jihad, maka mari kita berdiri untuk memandangi wajah negeri ini. Sudahkah ia merdeka secara hakiki? Dan sudahkah kita mendapatkan kemerdekaan hakiki sebagai umat Islam Indonesia?

Kemerdekaan pertama yang harus dimiliki oleh manusia adalah kemerdekaan dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Jika seorang manusia masih dicekam ketakutan kepada sesama manusia, atau makhluk lain, lalu bisakah ia disebut merdeka? Padahal manusia sama derajatnya di sisi Allah. Yang membedakan hanyalah ketaqwaannya.

إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ
اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa (QS. Al-Hujurat : 13)

Jika dengan sesama manusia saja tidak boleh menghamba, maka bagaimanakah kiranya orang yang menghamba kepada makhluk lain selain manusia yang kedudukannya lebih rendah. Baik itu makhluk hidup, makhluk ghaib, maupun materi seperti harta dan kekuasaan.

Kemerdekaan pertama adalah kemerdekaan aqidah. Bahwa kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya pada Allah. Bertauhid dengan benar. Sehingga seorang mukmin tidak lagi memiliki kekhawatiran dan ketakutan, ia merdeka!

وَلَا
تَهِنُوا
وَلَا
تَحْزَنُوا
وَأَنْتُمُ
الْأَعْلَوْنَ
إِنْ
كُنْتُمْ
مُؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran : 139)

Kemerdekaan beraqidah ini tentu saja berimplikasi pada kemerdekaan menjalankan syariat. Maka jika Islam hendak dilaksanakan secara kaffah tetapi justru dihalangi dan dibatasi, sesungguhnya kemerdekaan hakiki belum kita peroleh.

Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Kemerdekaan hakiki berikutnya mensyaratkan kemerdekaan ekonomi dari riba dan kemiskinan sistemik. Maka kita lihat, selain membangun masjid, Rasulullah di Madinah juga membangun pasar. Para pebisnis Islam seperti Abdurrahman bin Auf juga bergerak untuk memerdekakan ekonomi Madinah dari dominasi ribawi Yahudi. Akhirnya, kehidupan ekonomi membaik. Pelaksanaan zakat yang menjadi salah satu rukun Islam juga mendukung perekonomian umat, mengurangi kesenjangan dan menciptakan keharmonisan hubungan dalam bermasyarakat.

Ketika ekonomi terjajah, mudah sekali seseorang atau sebuah negara sekalipun didikte untuk mengikuti segala kemauan pihak yang berkuasa secara ekonomi. Jika keputusan-keputusan hidup kita atau kebijakan negara ini kemudian tidak mandiri melainkan diintervensi asing karena ketergantungan ekonomi, sudahkah kita merdeka? Pada hakikatnya belum. Karena merdeka berarti tidak dipengaruhi oleh siapapun dan bebas menentukan jalan hidup agar sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Kita jadi merenung, kalau begitu ada benarnya ungkapan:

كاد
الفقر
أن
يكون
كفرا

Hampir saja kemiskinan menyebabkan kekufuran

Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Kemerdekaan hakiki juga berarti kita merdeka untuk memperbanyak kebaikan sekaligus merdeka dari anasir-anasir negatif atau kemaksiatan. Hari ini kita mendapatkan fakta bahwa, muslimah yang berjilbab sebagian masih kesulitan bekerja di tempat publik dengan alasan jilbabnya; entah itu rumah sakit atau yang lainnya. Masih ada instansi-instansi yang tidak memberikan kesempatan luas kepada kaum muslimin untuk melaksanakan shalat tetap pada waktunya. Sebaliknya, kita seakan dibanjiri dengan berbagai kemaksiatan yang sebagiannya tidak bisa kita hadang karena masuk dalam wilayah privasi dan menerobos dalam keluarga kita. Media elektronik yang kaya dengan kemaksiatan namun miskin pendidikan, lokalisasi dan perjudian yang dilindungi, serta pergaulan bebas yang bahkan difasilitasi dengan penjualan kondom secara legal benar-benar membuat kemerdekaan tidak mencapai hakikatnya.

Belum lagi ketika hak umat untuk hidup sejahtera harus terampas karena praktik korupsi yang meraja lela. Baru beberapa hari yang lalu, koran-koran nasional memberitakan bahwa korupsi di berbagai daerah demikian parah, hingga masuk kategori menggurita. Lalu yang dirugikan tentu saja adalah umat, rakyat kecil yang senantiasa taat membayar pajak. Tentu banyak hal yang menjadi catatan hingga kita sampai pada kesimpulan bahwa kemerdekaan sejati belum menjadi milik kita, umat Islam Indonesia.

Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Lalu apa yang bisa kita perbuat untuk meraih kemerdekaan hakiki? QS. An-Nisa ayat 97 memberikan ibrah kepada kita mengenai orang yang berdiam diri dalam keterjajahan.

إِنَّ
الَّذِينَ
تَوَفَّاهُمُ
الْمَلَائِكَةُ
ظَالِمِي
أَنْفُسِهِمْ
قَالُوا
فِيمَ
كُنْتُمْ
قَالُوا
كُنَّا
مُسْتَضْعَفِينَ
فِي
الْأَرْضِ
قَالُوا
أَلَمْ
تَكُنْ
أَرْضُ
اللَّهِ
وَاسِعَةً
فَتُهَاجِرُوا
فِيهَا
فَأُولَئِكَ
مَأْوَاهُمْ
جَهَنَّمُ
وَسَاءَتْ
مَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, (QS. An-Nisa' : 97)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan asbabun nuzul ayat ini. Bahwa ada sebagian orang makkah yang berislam secara sembunyi-sembunyi. Namun mereka tidak ikut hijrah ke Madinah. Maka saat perang Badar, mereka dipaksa oleh kafir Quraisy untuk ikut berperang di pihak mereka. Saat melihat orang dari kelompok ini terbunuh, sebagian sahabat yang tahu hendak mendoakan mereka, namun Allah SWT menurunkan ayat ini.

Artinya apa? Kita tidak boleh berdiam diri dalam kelemahan. Kita tidak boleh menyerah dalam kondisi yang tidak ideal. Maka bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat bagi kita untuk bangkit. Bangkit dalam aqidah Islam yang benar, bangkit untuk menjalankan Islam. Bangkit untuk menunjukkan semua potensi kita. Bahwa kita bisa. Bahwa kita, dengan identitas keislaman kita, siap mencapai kemerdekaan hakiki. Mencapai hidup yang mulia dan berazam mendapatkan ridha dan surga-Nya.

وقل
رب
اغفر
وارحم
و
انت
خير
الراحمين

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِي
أَرْسَلَ
رَسُولَهُ
بِالْهُدَى
وَدِينِ
الْحَقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّينِ
كُلِّهِ
وَلَوْ
كَرِهَ
الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ
أنْ
لا
إلَهَ
إلا
اللهُ
وَحْدَهُ
لا
شَرِيكَ
لَهُ،
وأشهدُ
أنَّ
مُحَمَّدًا
عبْدُه
ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلا
تَمُوتُنَّ
إِلا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ } [آل
عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلا
سَدِيدًا * يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ
فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Ramadhan menjadi momentum yang luar biasa bagi kita untuk menjadi pribadi yang merdeka dan bangsa yang merdeka pula. Di saat kita dimudahkan Allah melalui Ramadhan ini dengan segala kebaikan yang terbuka seluas-luasnya dan keburukan menjadi minimal, saatnya kita datang kepada Allah dengan jiwa yang bersih dan hati ikhlas. Kita buka Al-Qur'an, kita pelajari, kita aktif dalam taklim, kita mulai bergabung dengan dakwah. Dan bersamaan dengan tekad kita memperbaiki diri, kita pun turut berupaya memperbaiki umat. Kita bergerak menuju seruan Allah untuk berislam secara kaffah:

يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آَمَنُوا
ادْخُلُوا
فِي
السِّلْمِ
كَافَّةً
وَلَا
تَتَّبِعُوا
خُطُوَاتِ
الشَّيْطَانِ
إِنَّهُ
لَكُمْ
عَدُوٌّ
مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 208)

اللَّهُمَّ
صَلِّ
وسَلِّمْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
وسَلّمْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى
آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى
آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
فِي
العَالَمِيْنَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنْ
خُلَفَائِهِ
الرَّاشِدِيْنَ،
وَعَنْ
أَزْوَاجِهِ
أُمَّهَاتِ
المُؤْمِنِيْنَ،
وَعَنْ
سَائِرِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنْ
المُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
إِلَى
يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ
اجْعَلْ
جَمْعَنَا
هَذَا
جَمْعًا
مَرْحُوْمًا،
وَاجْعَلْ
تَفَرُّقَنَا
مِنْ
بَعْدِهِ
تَفَرُّقًا
مَعْصُوْمًا،
وَلا
تَدَعْ
فِيْنَا
وَلا
مَعَنَا
شَقِيًّا
وَلا
مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالعَفَافَ
وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
أَنْ
تَرْزُقَ
كُلاًّ
مِنَّا
لِسَانًا
صَادِقًا
ذَاكِرًا،
وَقَلْبًا
خَاشِعًا
مُنِيْبًا،
وَعَمَلاً
صَالِحًا
زَاكِيًا،
وَعِلْمًا
نَافِعًا
رَافِعًا،
وَإِيْمَانًا
رَاسِخًا
ثَابِتًا،
وَيَقِيْنًا
صَادِقًا
خَالِصًا،
وَرِزْقًا
حَلاَلاًَ
طَيِّبًا
وَاسِعًا،
يَا
ذَا
الْجَلاَلِ
وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَوَحِّدِ
اللَّهُمَّ
صُفُوْفَهُمْ،
وَأَجْمِعْ
كَلِمَتَهُمْ
عَلَى
الحَقِّ،
وَاكْسِرْ
شَوْكَةَ
الظَّالِمِينَ،
وَاكْتُبِ
السَّلاَمَ
وَالأَمْنَ
لِعِبادِكَ
أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ
رَبَّنَا
احْفَظْ
أَوْطَانَنَا
وَأَعِزَّ
سُلْطَانَنَا
وَأَيِّدْهُ
بِالْحَقِّ
وَأَيِّدْ
بِهِ
الْحَقَّ
يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ
رَبَّنَا
اسْقِنَا
مِنْ
فَيْضِكَ
الْمِدْرَارِ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الذَّاكِرِيْنَ
لَكَ
في
اللَيْلِ
وَالنَّهَارِ،
الْمُسْتَغْفِرِيْنَ
لَكَ
بِالْعَشِيِّ
وَالأَسْحَارِ.

اللَّهُمَّ
أَنْزِلْ
عَلَيْنَا
مِنْ
بَرَكَاتِ
السَّمَاء
وَأَخْرِجْ
لَنَا
مِنْ
خَيْرَاتِ
الأَرْضِ،
وَبَارِكْ
لَنَا
في
ثِمَارِنَا
وَزُرُوْعِنَا
وكُلِّ
أَرزَاقِنَا
يَا
ذَا
الْجَلاَلِ
وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا
آتِنَا
في
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
رَبَّنَا
لا
تُزِغْ
قُلُوْبَنَا
بَعْدَ
إِذْ
هَدَيْتَنَا،
وَهَبْ
لَنَا
مِنْ
لَدُنْكَ
رَحْمَةً،
إِنَّكَ
أَنْتَ
الوَهَّابُ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ
لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ،
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
الأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ
الدُّعَاءِ.

عِبَادَ
اللهِ :إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيْتَاءِ
ذِي
القُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ

sumber : http://muchlisin.blogspot.com/2010/08/khutbah-jumat-ramadhan-dan-kemerdekaan.html

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month