Seakan tak pernah
kehabisan akal, setelah skema perputaran uang ala Mavrodi Mondial
Moneybox (MMM) atau dikenal dengan arisan Manusia Membantu Manusia
goyah, para pendirinya membangun sistem baru. Namanya Local Wisdom (Locwis) Nusantara.
Pendiri Locwis Nusantara adalah Robertus Julyanto, leader
MMM Indonesia. Nama lain yang termasuk dalam struktur manajemen Locwis
adalah Cak Met, yang dikenal sebagai motivator MMM. Pencarian peserta
Locwis cukup gencar di internet. Salah satu partisipan Locwis Nusantara
adalah Veri, yang juga nasabah dari MMM.
Veri mendaftar via situs web www.locwis.com dua pekan lalu. Situs web ini sudah ada sejak satu bulan terakhir.
Ia belum menanamkan uang sepeser pun karena sistem ini baru
beroperasi pada September atau Oktober 2014. "Locwis ini kloningan MMM.
Saat ini, MMM tidak sehat karena PH (provide help) dan GH (get help) sudah sangat timpang. Sepertinya skema Locwis sama dengan MMM,” terang Veri kepada Kontan.
Menurut dia, partisipan di Locwis mencapai 22.058 akun. Veri menyadari bahwa Locwis tergolong money game
yang mirip-mirip arisan berantai. Sistem ini lambat laun akan kolaps.
Maka, dia mengambil posisi di awal untuk meraup keuntungan. Sebab, siapa
yang masuk di awal dan keluar lebih dulu, bisa mendapatkan acuan.
Sebelumnya Veri bergabung di MMM karena diajak temannya. Selama tujuh
bulan, ia mengaku sudah balik modal, bahkan untung. Ia memiliki 10 akun
dengan total modal
Rp 200 juta. Setiap akun mampu memberi profit Rp 2,8 juta-Rp 2,9 juta per dua pekan.
Selain Locwis, satu lagi tawaran arisan berantai beredar, bernama
Sama-Sama Sejahtera System (S3 System). Sistem ini juga menjanjikan
pengembalian modal plus bunga tinggi. "Anggotanya sudah banyak," kata
Herry Gunawan, salah satu anggota.
Sejatinya, arisan berantai ini bukan barang baru. Sebut saja Danasonic made in PT Sapta Mitra Ekakarya yang muncul tahun 1995.
Pengajar investasi dan Ketua Departemen Keuangan Prasetya Mulia
Business School, Lukas Setia Atmaja, menuturkan, masyarakat perlu
mewaspadai tawaran investasi berimbal hasil tak masuk akal. Apalagi,
imbal hasil itu tak dapat dijelaskan sumbernya.
Pastikan juga segala bentuk tawaran investasi diawasi Otoritas Jasa
Keuangan (OJK). Agak sulit memberantas model arisan seperti ini. Salah
satu cara adalah sosialisasi pemerintah agar investor tidak termakan
iming-iming keuntungan semu.
[Source : kompas.com]

No comments:
Post a Comment
Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA