Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang mulia di antara kamu di sisi
Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui Lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujuraat [49]:13).
Sebenarnya
dalam Islam tidak mengenal Hari Kasih Sayang, kasih sayang dalam Islam
terhadap sesama tidaklah terbatas dengan waktu dan dimanapun berada,
baik untuk keluarga, kerabat, dan sahabat yang semuanya masih dalam
koridor-koridor agama Islam itu sendiri. Nabi Saw., bersabda :
“Cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri.” (H.R.
Bukhari). Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan
bermusuhan, namun sangat menjunjung tinggi akan arti kasih sayang
terhadap umat manusia. Rasulullah saw. bersabda : “Janganlah kamu saling
membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu
sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang
muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap sudaranya lewat tiga
hari” (HR. Muslim)
Disini jelas bahwa kita dianjurkan sekali
untuk saling menjaga dan menghargai antar sesama sebagai tanda kasih
sayang yang mesti dihormati. Hal ini untuk menghindari berbagai
keburukan serta dapat mengenal antar sesama untuk memperkuat dan menjaga
tali persaudaraan. Dalam hadits Nabi saw.: “Perumpamaan orang-orang
Mukmin dalam hal kecintaan, kasih-sayang dan belas kasihan sesama
mereka, laksana satu tubuh. Apabila sakit satu anggota dari tubuh
tersebut maka akan menjalarlah kesakitan itu pada semua anggota tubuh
itu dengan menimbulkan insomnia (tidak bisa tidur) dan demam (panas
dingin). (HR. Muslim). Bahkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh
Baihaqi melalui Anas ra. Nabi bersabda : “Tidak akan masuk surga kecuali
orang yang penyayang”, jadi jelas bahwa yang masuk surga itu hanyalah
orang-orang yang mempunyai rasa kasih sayang yang tanpa dibarengi dengan
niat-niat jelek. Rasa kasih sayang yang diniatkan karena Allah, bukan
karena keuntungan dan kesenangan duniawi.
Makna
kasih sayang tidaklah berujung, sedangkan rasa kasih sayang adalah
sebuah fitrah yang mesti direalisasikan terhadap sesama sepanjang
kehidupan di dunia ini ada, tentunya dalam koridor-koridor Islam. Ini
berarti bahwa Islam tidak mengenal waktu, jarak, dan tempat akan sebuah
kasih sayang baik terhadap teman, sahabat, kerabat, dan keluarganya
sendiri.
Rasulullah saw. bersabda, “Man laa yarhaminnaasa laa
yarhamhullaah” Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan
menyayanginya. (H.R. Turmudzi). Dalam hadis tersebut kasih sayang
seorang Muslim tidaklah terhadap saudara se-Muslim saja, tapi untuk
semua umat manusia. Rasulullah saw. bersabda, “Sekali-kali tidaklah
kalian beriman sebelum kalian mengasihi.” Wahai Rasulullah, “Semua kami
pengasih,” jawab mereka. Berkata Rasulullah, “Kasih sayang itu tidak
terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada
sahabatnya (mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia).”
(H.R. Ath-Thabrani).
Bahkan, bukan hanya kepada manusia saja
ajaran Islam yang tinggi ini telah mengajarkan bagaimana kasih sayang
terhadap hewan dan tumbuhan yang harus direalisasikan. Abu Bakar Shiddiq
ra. pernah berpesan kepada pasukan Usamah bin Zaid, “Janganlah kalian
bunuh perempuan, orang tua, dan anak-anak kecil. Jangan
pula kalian kebiri pohon-pohon kurma, dan janganlah kalian tebang
pepohonan yang berbuah. Jika kalian menjumpai orang-orang yang tidak
berdaya, biarkanlah mereka, jangan kalian ganggu.” Sebuah nasihat ini
walau dalam keadaan untuk perang, ajaran Islam tetap memancarkan kasih
sayangnya terhadap manusia, hewan, dan tumbuhan.
Sebuah kisah
lain yang menarik ketika Amr bin Ash menaklukkan kota Mesir , saat itu
datanglah seekor burung merpati di atas kemahnya. Melihat kejadian ini,
kemudian Amr bin Ash membuat sangkar untuk merpati tersebut di atas
kemahnya. Tatkala
ia mau meninggalkan perkemahannya, burung dan sangkar tersebut masih
ada. Ia pun tidak mau mengganggunya dan dibiarkan burung merpati itu
hidup bersama sangkar yang ia buat. Maka kota itu dijuluki sebagai kota
fasthath (kemah).
Jelaslah bahwa ajaran Islam sangat menjunjung
tinggi akan kasih sayang. Kita perlu mencontoh teladan Nabi saw. dan
para sahabatnya yang benar-benar merealisasikan makna kasih sayang yang
tanpa batas itu, tentunya untuk mencapai keridaan Allah semata yang
bukan untuk mencari kesenangan dunia. Maka memang pantas bahwa Islam
dikatakan sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin.
Dalam sebuah
hadits Qudsi, Allah berfirman : “Aku adalah Ar-Rahman. Telah Aku
ciptakan Ar-Rahiim dan Aku petikkan baginya nama dari nama-Ku.
Barangsiapa yang menghubungkannya niscaya Aku menghubunginya (dengan
rahmat-Ku); dan barangsiapa memutuskannya niscaya Aku memutuskan
hubungan-Ku dengannya; dan barangsiapa mengokohkannya niscaya Aku
mengokohkan pula hubungan-Ku dengannya. Sesungguhnya Rahmat-Ku
mendahului kemurkaan-Ku” (Hadits Qudsi, riwayat Bukhari, Ahmad, Abu
Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan Baihaqi)
No comments:
Post a Comment
Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA