Share Info

24 September 2014

Mengaku Presiden Termiskin, Soekarno Royal Terhadap Istrinya

Keluarga Soekarno baru-baru ini menggugat penyerobot tanah milik presiden Indonesia pertama itu di daerah Puncak, Bogor. Sebelumnya saat Megawati Soekarnoputeri menjabat Wakil Presiden, Puri Bima Sakti di Batutulis atau dikenal juga Istana Batutulis yang sempat dirampas Sekretariat Negara dikembalikan kepada keluarga Soekarno atas instruksi Presiden Abdurrahman Wahid.

Soekarno ternyata punya banyak tanah dan properti. Padahal, Soekarno dalam biografinya, mengaku gajinya ketika itu hanya $200 per bulan.

Jumlah yang menurut dia tak cukup memenuhi kebutuhan keluarganya. “Adakah seorang kepala negara lain yang melarat seperti aku dan sering meminjam-minjam dari ajudannya?” kata Soekarno.

Namun itu bukan berarti kehidupan Soekarno morat-marit. Bahkan istri termuda Soekarno, Heldy Djafar, menceritakan sang proklamator itu royal dalam memanjakan dia.

Heldy menceritakannya dalam buku Heldy; Cinta Terakhir Bung Karno.

Berikut ini nukilannya:

Heldy Djafar masih ingat hadiah perhiasan yang pertama dibelikan Soekarno. Sepulangnya dari kunjungan ke Mesir, Soekarno membawakan satu set perhiasan bermata pirus yang ditempatkan di kotak berlapis beledu. “Indah sekali,” kata Heldy.

Soekarno bertemu Heldy pada 1964 ketika ia menjadi barisan Bhinneka Tunggal Ika, yakni deretan perempuan berbaju daerah. Ketika itu mereka menyambut Tim Piala Thomas yang membawa piala ke Istana.

Kepincut dengan gadis 18 tahun ini, setahun setelahnya Soekarno bertandang ke rumah Heldy. Selain mengajak makan ke luar, sang presiden juga memberinya kotak hadiah berisi jam tangan Rolex.

Berstatus kekasih Soekarno, Heldy dibelikan rumah di Jalan Cibatu yang sekarang dikenal dengan Jalan Djoko Soetono. Rumah seluas 600 meter persegi dengan empat kamar plus satu kamar khusus buat Bung Karno.

Selain rumah, Heldy juga mendapat mobil Holden Premier.  Ajudan Soekarno, Zaenal, membujuk Heldy agar mengganti mobil itu dengan versi yang lebih baru. Sesuai saran Zaenal, ia meminta dibelikan mobil Admiral.

“Dik, kau tidak pantas naik Admiral, sebaiknya Mercedes,” kata Soekarno. Esoknya sedan Mercedes-Benz 220S warna hitam sudah terparkir di rumah Jalan Cibatu.

Demi mendekati Heldy, Soekarno juga memanjakan keluarga kekasihnya itu. Kakak Heldy, Ruslan Djafar, mendapat sedan Mercedes-Benz 220 buatan 1964. Di kemudian hari, pada 1966, Soekarno mengurus mereka naik haji.

Selain di rumah Jalan Cibatu, Heldy juga sesekali menemui Soekarno di Wisma Negara yang berada di sisi barat Istana Merdeka. Jika keduanya bertemu atau Soekarno mengirim ajudannya, biasanya Heldy dimanjakan dengan rupa-rupa hadiah. Perhiasan, jam, minyak wangi, berlembar-lembar kain batik, dan bahan kebaya.

Jika pemberian itu dititip lewat ajudan, Soekarno biasanya menuliskan pesannya pada secarik kertas berkop presiden atau sekretariat negara. Jika hanya mengirim uang, ia menulis: “Heldy dear, a little money for the household. Soekarno.”

Kesempatan lain jika disertai hadiah, Soekarno menulis: “Dear Dik Heldy, I am sending you some dollars, Miss Dior, Diorissimo, Diorama,” dan ia menambah, “Of course, also my love. Mas Soekarno.”

Peristiwa G30S pada 30 September 1965 pun tak membuat Soekarno berhenti mencurahkan perhatian buat Heldy. Pada 3 Desember 1965, Soekarno menyuruh Heldy dan keluarganya berjalan-jalan ke Hong Kong dan Jepang. Tak lupa ia memberi uang saku buat plesir itu.

“Kau selama ini tegang menanti dan memikirkan aku, pergilah kau berlibur, tapi jangan lama-lama,” kata Soekarno seperti ditirukan Heldy. “Kalau dirimu senang, aku juga senang, bawalah kakak-kakakmu.”

Sepulang dari Jepang, rupanya ada pemberian besar menantinya. Sembari melihat-lihat foto wisata ke luar negeri itu, Soekarno menyanjung kecantikan Heldy.

“Dik, kau cinta terakhirku, tapi tolong jangan kau mainkan aku,” ujarnya. “Kau mau tidak kuangkat namamu?”

Soekarno mengatakan, ia akan memberikan tanah seluas 4000 meter persegi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Ia menyuruh Heldy membangun gedung Serikat Dagang Kalimantan yang nantinya jadi pusat penjualan dan kegiatan yang berhubungan dengan Kalimantan.

Gedung itu, kata Soekarno, buat simpanan di hari tua Heldy. Ia yakin sebelum jadi bangunannya pun sudah banyak yang akan menyewa ruangannya.

“Nanti aku yang meletakkan batu pertamanya,” kata Soekarno. “Kau menjadi direktris, baru kau di situ diekspos sebagai istriku.”

Pada 11 Juni 1966, Soekarno menikahi Heldy di Wisma Negara. Akad nikah itu disaksikan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Agung Idham Chalid dan Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri, ayah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Lantas dari mana tanah yang dijanjikan Soekarno itu jika dia sering menyatakan tak punya banyak uang. Saudara Heldy, Erham, bercerita, Soekarno meminta Gubernur Jakarta Mayjen Soemarno Sosroatmodjo mencarikan lahan itu.

“Dalam waktu dua minggu sertifikat tanah itu keluar,” kata Erham. “Sayangnya pada 1966 tidak ada investor jadi, ya, sampai sekarang tidak terwujud Kalimantan Center itu.”

0 Comment:

Post a Comment

Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month