Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

February 28, 2013

Melepaskan Rasa Bersalah

February 28, 2013
Perempuan selalu dikelilingi oleh berbagai tekanan. Tekanan akibat begitu banyaknya peran yang harus dimainkan, mulai dari peran sebagai ibu, istri, teman baik, hingga sebagai wanita karier. Normal sebenarnya jika kadang kala kita tak bisa berkonsentrasi penuh terhadap semua peran itu. Tapi kebanyakan perempuan akan langsung menyalahkan dirinya saat satu kesalahan kecil terjadi.

Dalam dunia psikologi, menurut James J. Messina, PhD, psikolog yang sudah 35 tahun menangani konsultasi untuk masalah pribadi dan keluarga, perasaan bersalah adalah emosi negatif yang pada titik tertentu dibutuhkan untuk hadir. Tapi dengan catatan, emosi negatif ini membantu kita untuk introspeksi diri. Cara sederhana untuk mengubah emosi negatif menjadi momen mematangkan karakter diri adalah dengan melepaskan rasa itu pergi. Ingin tahu caranya, coba lakukan hal-hal berikut:

Akui bahwa setiap orang punya keterbatasan. Ini adalah salah satu ciri manusia, di samping memiliki kelebihan, kita pasti punya keterbatasan. Baik dari sesuatu yang terukur seperti uang dan waktu, maupun yang tak terukur seperti kesabaran. Sangat penting untuk bisa menerima keterbatasan yang ada di dalam diri kita. Penerimaan ini akan membuat kita mengerti bahwa tidak semuanya bisa kita lakukan sendiri. Jadi berhentilah memaksakan diri sendiri dan jangan malu untuk minta tolong.

Jangan lupa untuk memberikan kebahagiaan pada diri kita. Berapa di antara kita yang tetap memikirkan pekerjaan di kantor ketika akhir pekan? Atau ketika mencoba untuk istirahat, yang melayang-layang di kepala justru selusin pekerjaan yang seharusnya dilakukan. Sudahlah. Bagaimana pun juga kita tetap butuh istirahat. Jangan bebani kebebasan ini dengan target-target yang justru akan lebih baik dikerjakan setelah kita beristirahat. Dari sinilah akan lahir rasa bersalah yang tak masuk akal. Cobalah untuk memaknai setiap momen menyenangkan yang bisa kita berikan pada diri sendiri.

Sesekali mendahulukan kepentingan pribadi bukanlah dosa. Saat kita tengah memerlukan semangat, tak salah untuk menolak curhatan teman yang baru putus cinta. Terlebih jika masalah yang kita hadapi cukup pelik hingga butuh waktu untuk menyendiri. Jangan menjadi merasa bersalah ketika cerita putus cinta itu tidak bisa kita dengar sekarang. Karena bagaimana kita bisa memberikan semangat pada teman jika diri kita sendiri butuh pertolongan.

0 Comment:

Post a Comment

Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA

ClixSense

Follow me on twitter

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

 

Recent Posts

There was an error in this gadget

Hostgator