Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

July 04, 2012

Imaji dalam Sexting

July 04, 2012
Kita mungkin heran, godaan lewat sebaris kata, tanpa gambar apa pun, kok, bisa, langsung membangkitkan gairah, ya? “Sexting adalah bentuk rangsangan seksual dengan cara membaca. Tujuannya adalah membangkitkan gairah seks bagi yang mengirim maupun yang menerima pesan. Kaum pria, saat melihat, mendengar, dan membaca sesuatu yang mengarah ke seksual, imajinasinya akan langsung bermain. Apalagi, pria yang sudah menikah, kan sudah hafal lekuk tubuh istrinya. Meski tak melihat langsung, hal ini akan makin memperkuat imajinasinya,” kata dr. Ryan.
Menurutnya lagi, teks juga bisa memicu rangsangan seksual pada wanita, terutama jika kata-katanya sangat ‘menjurus’. Bahkan, SMS yang berisi rayuan pun bisa menjadi awal yang membuatnya bergairah. Rayuan yang seksual, misalnya memuji keseksian bokongnya, sudah pasti akan merangsang gairahnya. Tapi, bukan berarti rayuan yang tak beraroma seksual tak bisa melakukan hal tersebut. Hal itu tergantung pada karakter masing-masing orang. 

Bagi orang-orang yang pemalu, ternyata sexting bisa sangat membantu untuk lebih berani mengungkapkan keinginan. Bahkan, bisa menjadi sarana untuk mengajak pasangan bercinta, tanpa perlu merasa malu. Soalnya, pasangan tak bisa lihat wajah yang bersemu merah akibat malu. 

Dian, misalnya, yang sebetulnya penasaran dengan seks oral. Tak pernah dilakukan oleh suami, tak pernah pula dibahas. Saat sedang chatting via Yahoo! Messenger, ia menulis, “Hon… hmm… aku ingin tahu rasanya oral pleasure….”   

 “Waktu mengetik tentang hal itu, rasanya saya ingin ditelan bumi, karena malu banget. Tapi, untungnya, suami menanggapi dengan sangat positif,” kata Dian, senang.
Menurut pandangan dr. Ryan, keterbukaan pasangan berperan penting dalam sexting. Kalau pasangan suami-istri sudah saling terbuka soal seks, maka sexting akan sangat membantu. “Misalnya, lewat sexting, mereka membuat rencana baru untuk bercinta di tempat yang tidak biasa, atau mencoba posisi baru. Itu artinya mereka mengeksplorasi kehidupan seksual mereka. Tapi, jangan sexting melulu dan realisasinya nggak ada, ya,” pesan dr. Ryan.

Lalu, apakah ada dampak negatifnya? Dokter Ryan tak melihat ada efek buruk. Hanya, ia mengingatkan, frekuensinya perlu diatur. “Seharusnya, komunikasi langsung tetap jadi yang utama. Ada sentuhan, intonasi suara, tatapan mata, dan kedekatan emosi yang tak bisa digantikan oleh sexting. Jadi, lebih baik sexting digunakan sebagai aksesori dalam kehidupan seksual, bukan sebagai pakaian utama,” tuturnya.
[Source : femina.co.id]

0 Comment:

Post a Comment

Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA

ClixSense

Follow me on twitter

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

 

Recent Posts

There was an error in this gadget

Hostgator