Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

February 29, 2012

Kapan, Ayah Pulang?

February 29, 2012
Ada asa terpendam, ketika seorang anak membekali ayahnya yang hendak bepergian lama dengan sebuah pertanyaan, ”Kapan, Ayah pulang?” Jauh dari lubuk hatinya, ia merindukan satu “penyatuan” dengan orang tuanya. Berharap dapat bermanja serta mendemonstrasikan perkembangan jiwanya setiap saat. Sebuah harapan yang tentu, akan mengiris kalbu setiap orangtua yang tak dapat memenuhinya, sekaligus menjadi sebuah lentera yang mengiringi setiap jejak langkah seorang ayah.

Seorang anak, merupakan “reinkarnasi” genitas yang hadir untuk membangun kembali kedua orangtuanya. Lahir untuk mengubah mimpi-mimpi ayah ibunya menjadi kenyataan. Satu kesempatan untuk menghempaskan masa-masa suram yang tak diinginkannya.

Anaklah yang akan mencipta merah hitamnya sejarah masa depan, yang dapat melengkapi dan/atau mengembalikan citra kedua orangtuanya. Diamanatkan-Nya ia kepada kita untuk mengasuh, membesarkan, serta mendewasakannya.

Seorang anak, ibarat batu uji bagi ke-“orangtua”-an kita. Sarana pendewasaan kita. Pengasah kesabaran kita. Gambaran diri dan kecenderungan kita sebagai orangtuanya.

Anak bukanlah milik kita. Tetapi, Sang Pencipta telah memberi kewenangan kepada kita untuk kembali “menciptanya” menjadi manusia. Kitalah yang berkewajiban mendampinginya hingga ia tak lagi bertanya berulang, ”Kapan, Ayah pulang?”

Aktivitas kehidupan, seringkali mengasyikkan kita pada dunia kita sendiri. Lalu, dunia anak banyak yang kita abaikan. Atau kita gantikan dengan berbagai macam kebutuhan ragawiahnya.

Seringkali pertanyaan, “Kapan, Ayah pulang?”, tidak kita rasakan sebagai satu ungkapan jiwa yang mendamba. Kita jarang menangkap bahwa di balik pertanyaan itu, sesungguhnya adalah permintaan pertanggungjawaban, “Mana amanat dari Tuhan-mu, yang akan engkau penuhkan kepadaku?” sebuah pertanyaan yang menggelisahkan ke-“adam”-an kita, yang tak dapat dijawab segera sesuai yang diharapkannya.

Lalu, ketika pertanyaan yang menguatkan ingatan akan hakikat pem-“bumi”-an kita itu berlalu begitu saja, pada saat itu pula sesungguhnya kita telah kehilangan ladang ibadah yang amat produktif. Satu momentum untuk melakukan evolusi diri pun menjadi terbuang.

Jiwa seorang anak, sampai kapanpun adalah ketulusan. Bening bola matanya tak berpretensi. Ungkapan-ungkapannya tak pernah jauh dari kejujuran. Gerak-geriknya merupakan satu harmonisasi kehidupan yang tak membosankan. Sementara kita dan tindakan-tindakan kita, cenderung syubhat.

Seringkali tak jelas mana ketulusan, mana kepentingan, mana persahabatan dan mana permusuhan. Semuanya nyaris terbungkuskan fatamorgana. Lalu, kita sering merasa bahwa, kita sebagai orangtua selalu dalam posisi yang paling benar, dan karenanya harus dituruti tanpa reserve. Kitalah yang paling kuat, dan karena itu harus dipatuhinya!

Secara bio-fisik, mungkin saja analisa kita itu ada benarnya. Tetapi, satu hal yang harus kita ingat, yaitu bahwa seiring berjalannya waktu, kita bahkan akan jauh lebih buruk dari mereka. Saat kita renta nanti, ketika otot-otot, setumpukan daging, dan tulang belulang penyusun tubuh kita ini merapuh, yang terbuang dari metebolisme tubuh kita ini tak satupun ada yang menyedapkan penciuman.

Maka, ambil yang tersembunyi dari kemurnian jiwa seorang anak. Tangkap makna dari semua gerak-geriknya, audiovisualnya, juga jerit tangisnya. Bila ia tengah marah meronta, mungkin saja karena kediktatoran kita kepadanya –dominasi yang amat sangat dari kita kepadanya. Tatkala ia menangis, tangisnya itu merupakan harapannya untuk selalu bersanding bersama kita –sungguh, menjadi satu wahana bagi kita untuk memahami lebih dalam akan hakikatnya.

Sayangnya, dalam ranah pekerjaan kita seringkali harapan-harapan seorang anak seperti itu sulit untuk dapat kita wujudkan dengan segera. Apalagi, jika kita sebagai seorang pekerja yang memang harus tunduk pada serangkaian tugas pekerjaan yang given. Di mana tak jarang pula kita dihadapkan pada satu manajemen yang tidak begitu mempedulikan sisi-sisi connecting antara orang tua – anak sebagai sebuah kebutuhan yang kontempalatif. Pada yang demikian itu, apa yang bisa kita katakan kepadanya selain, “Maafkan ayahmu, nak!?”

[Source : republika]

0 Comment:

Post a Comment

Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA

ClixSense

Follow me on twitter

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

 

Recent Posts

There was an error in this gadget

Hostgator