Share Info

12 January 2012

Profesionalisme Tinggi

Berita yang gencar dilancarkan oleh media massa tentang sejumlah bupati dan wali kota yang divonis penjara sedikit banyak membuat kita terhenyak. Kaget karena para pejabat itu tega-teganya menilep duit rakyat. Kaget karena kasus korupsi banyak yang selama ini tak tertangani. Buktinya, mereka bisa diadili sekarang. Kaget karena akhirnya pemerintah berani mengambil tindakan tegas. ”Ternyata bisa juga ya,” begitu kita berpikir.

Namun, ada efek psikologis yang menghantui masyarakat. Sekarang banyak orang takut berbuat sesuatu karena khawatir dikatakan korupsi. Orang takut melangkah karena khawatir dibawa ke Gedung Bundar (Gedung Kejaksaan Agung di Jakarta). Orang takut dicap tidak berbuat baik. Takut dicap korupsi. Ada contoh kecil yang saya alami di sebuah kantor pemerintahan. Ketika ditawari pelatihan mereka menolak karena takut dituduh menghambur-hamburkan uang. Yang harus kita lakukan bersama sekarang adalah bagaimana berbuat baik tapi tidak ketakutan. Sebenarnya itu semua tak perlu terjadi seandainya kita berbuat proporsional.

Memasuki 2007 saya ingin mengajak kita semua menata kembali kehidupan kita yang terkait dengan orang banyak. Bagaimana kita lebih taat berakhlak dengan baik. Akhlak yang baik itu tidak hanya dilakukan oleh individu-individu tertentu, kelompok, dan juga pemerintah. Kalau sekarang marak lagi kerusuhan, demo, itu pertanda ke-PR-an kita belum terlaksana dengan baik. Intinya memang bagaimana mem-public relations (PR)-kan kita sendiri. Kalau itu bisa dilakukan, dan berhasil dengan baik, maka akan menjadi seperti virus yang menyebar ke mana-mana. Pesan saya, kita harus menyikapi situasi ini dengan membangun budaya yang nyaman. Kalau kita tak berbuat salah kenapa takut berbuat baik? Sekali lagi, intinya adalah berbuat dengan nurani. Sebab, bagaimana bisa melangkah kalau menghadapi ketakutan?

Untuk itu kita hendaknya mengupayakan profesionalisme, keikhlasan yang tinggi terhadap lingkungan kita, sopan-santun, ramah, tegar menghadapi apa pun, dan tidak terpancing untuk destruktif. Ini dapat disingkat menjadi PRIMA (profesional, ramah, ikhlas, mutu, dan antusias). Bersikap profesional untuk mengasah diri menjadi lebih disiplin, bahkan bertanggung jawab terhadap ligkungan, memberi keteladanan melalui diri sendiri, insya Allah akan diikuti orang lain. Dalam bersosialisasi dengan orang lain, jangan pernah merugikan orang lain. Baik itu antarperusahaan, perusahaan dengan karyawan, perusahaan dengan relasi lain, dan antarsesama.

Kalau tidak profesional, bagaimana kita mendapat kepercayaan dari orang lain? Sebab, dalam hidup ini yang penting bagaimana menghargai orang lain dan menempatkan orang lain pada posisi sehormat mungkin. Lakukan apa yang ingin orang lakukan pada Anda. Kalau tidak ingin dicubit, jangan mencubit dulu. Kalau tidak ingin disakiti orang lain, jangan memulai dengan menyakiti orang.

0 Comment:

Post a Comment

Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month