Share Info

12 May 2011

Blues di Antara Gambang Kromong

Oleh Purwanto Setiadi

Sebuah poster untuk mengenang Benyamin Sueb terpasang di Internet. Poster itu begitu pas melukiskan wajah Benyamin, mewakili auranya sebagaimana selama ini dikenal: rambut hitam berombaknya, wajahnya yang merekah dengan ledakan tawa, kumis tipisnya... Jari telunjuknya menuding seorang perempuan berdandan menor yang tengah duduk memegang cermin; lembar-lembar kertas sobekan kalender harian melayang-layang di sekitar perempuan itu.

Sang kreator, yang menyebut dirinya “bibibawbawbaw” itu, menggambarkan poster itu sebagai “visualisasi syair dalam lagunya [Benyamin] berjudul ‘Nanke Lande’”. Di salah satu kuplet lagu ini, Benyamin menyanyikan:

Nangke lande matengnye kena paku
Dimakan gajeh giginye pade ngilu
Ade jande lame ga laku-lak
u
Saban hari die ngaca melulu.

Blak-blakan, jahil, menggelitik... dan banyak lagi karakter senada yang jadi ciri khas seniman kelahiran Jakarta, 5 Maret 1939, ini dalam bermusik — juga kemudian sebagai komedian dan aktor.

Sebagai penyanyi, karier yang pertama kali ditekuninya, dia sudah identik dengan gambang kromong. Dia boleh disebut sebagai figur yang berperan mengangkat gambang kromong, musik “pinggiran” yang lekat dengan warga Betawi, ke tataran yang lebih luas.

Popularitas yang dia peroleh dari bergambang kromong itu teramat gigantis sampai hampir menutupi kegiatan dia lainnya yang tak kalah memikat: bahwa dia pun menyanyikan sejumlah lagu dalam irama blues dan rock. Bahkan sempat menjadi proyek khusus.

Pada 1970-an, kala masih berduet dengan Ida Royani, Benyamin menyanyikan “Kompor Meleduk”. Menyimak lagu yang syairnya diawali dengan teriakan “Aaaah… nya’ banjir!” ini, sulit ditepis bahwa coraknya adalah rock. Seperti umumnya lagu rock (yang sebenarnya bermula dari blues), tulang punggungnya adalah serangkaian melodi yang menjadi tema utama, biasanya dari gitar. Orang menyebutnya riff, atau ostinato dalam musik klasik.

Intro lagu itu, berupa riff nada-nada D-C-A (dalam kunci D7), mestinya sudah seketika menghamparkan suasana bluesy. Tapi bisa saja orang tak mengenalinya. Apalagi jika kemudian yang didengar adalah lirik dalam dialek Betawi:

Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk
Ruméh ané kebakaran garé-garé kompor mleduk

Ané jadi gemeteran wara-wiri keserimpet
Rumah ané kebanjiran garé-garé got mampet

Sejak memutuskan menerjuni gambang kromong (karena band pertamanya, Melody Boys, terkena ganyang larangan anti lagu ngak ngik ngok atau musik Barat pada pertengahan 1960-an) Benyamin memang cenderung disalahpahami. Orang lebih menganggapnya bergurau atau melucu saja melalui lagu-lagunya. Padahal sebenarnya dia merekam dan menceritakan peristiwa atau kejadian yang berlangsung di tengah masyarakat.

Tentu saja dengan caranya sendiri, yang kerap merupakan ekspresi spontan. Sesekali ada juga kritik. Atau, sentilanlah (tanpa sentilun), kalau kata “kritik” tak bisa diterima. Misalnya dalam “Digusur” atau “Pungli”.

Lagu “Pungli” (1977) malah mendapat penghargaan dari Soedomo, Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, karena dianggap membantu program Operasi Tertib kala itu.

Maka, sebagai sesuatu yang di luar jalur, wajar bila kesengajaan menyusupkan anasir blues dan rock di antara lagu-lagu gambang kromong kerap dianggap tak terdeteksi radar. Atau, paling tidak, diidentifikasi sebagai salah satu yang “aneh” aransemennya.

Sebenarnya, jika dilacak ke belakang, munculnya blues dan rock, atau aliran lain di luar gambang kromong, bukan tanpa dasar. Ketika masih bersama Melody Boys dan biasa tampil di klub malam dan hotel, Benyamin sudah harus akrab dengan aneka irama. Band mana pun, di tempat hiburan seperti itu, memang mau tak mau harus menguasai banyak jenis musik.

Bergabung dengan Naga Mustika, setelah harus banting setir agar bisa bertahan, tak serta-merta menjauhkan Benyamin dari suasana modern dari musik-musik itu. Orkes gambang kromong yang dipimpin Suryahanda ini berkonsep modern, setidaknya di antara instrumen yang memperkuatnya biasa didapati di kelompok-kelompok musik masa kini. Misalnya gitar elektrik, organ, dan bas. Peluang untuk bereksperimen menjadi sangat terbuka, karenanya.

Pada 1960-an dan 1970-an, ketika begitu banyak musik berbasis blues, juga soul, sedang menjadi tren, Benyamin pun menyerapnya. Idiom dan watak musik-musik yang ekspresif itu ternyata berjodoh dengan watak budaya Betawi. Bisa dimaklumi bila Benyamin menyusupkannya ke dalam karya-karyanya.

Minatnya pada blues dan rock sempat menjadi dasar dibentuknya Al Haj pada 1992. Inilah band yang menghimpun musisi-musisi kondang kala itu: Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Editya.

Harry Sabar, seperti dikutip Theodore K.S. dalam “Benyamin Sueb, Legenda Betawi” (Kompas, 27 Februari 2004), menuturkan Benyamin waktu itu “ingin menyanyi lagu rock sebagaimana Ahmad Albar dari God Bless”. Al Haj merilis satu album berisi sepuluh lagu berjudul Biang Kerok.

Sejauh ini, album itulah yang diketahui menjadi penutup diskografi Benyamin, yang selama karier bermusiknya telah menghasilkan lebih dari 70 album. Tiga tahun sebelum meninggal karena serangan jantung, Benyamin menyanyikan lagu-lagu dalam irama yang menurut sejarah, bertumpu pada nyanyian sedih para keturunan warga Afrika di Amerika.

[Source : yahoo.com]

0 Comment:

Post a Comment

Silahkan anda meninggalkan komentar yang tidak berbau SARA

Link Exchange

Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

Berbagi Informasi

Sport

Translate

Blog Archive

Pageviews last month